Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 110 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Di dalam kamar Yulian berkali-kali memijat kepalanya yang merasa begitu pening, setelah makan malam ia pun meminum obat pereda nyeri di bagian kepala. Dan Khadijah-yang melihat Yulian tengah memikirkan sesuatu seketika menghampiri nya.


“Ada apa, Hubby? Nampaknya... Hubby memikirkan banyak hal yang tidak Neng ketahui. Coba cerita sama Neng,” ucap Khadijah setelah berada di depan Yulian.


“Sungguh! Bukan Hubby tidak mau cerita kepada Neng. Tapi, sebagai kepala rumah tangga Hubby harus bisa menyelesaikan setiap masalah tanpa melihat Neng ataupun anak-anak. Berikan saja Hubby waktu sebentar saja untuk berpikir.” Yulian mengulas senyum tipisnya.


“Apa Hubby tudak pernah menganggap keberadaan Neng? Neng tahu... jika kita tiada nanti Hubby akan hidup se-surga dengan Aisyah, bukan Neng.” Khadijah mendorong kursi rodanya keluar dari kamar.


Yulian terdiam, tetapi ia mampu menangkap ucapan Khadijah. Kembali kepalanya berdenyut, hingga membuatnya harus memijat pelipisnya berulangkali.


‘Ya Allah... apalagi ini? Kenapa harus bertubi-tubi?’ batin Yulian.


Setelah cukup reda rasa nyeri di kepalanya Yulian pun keluar dan mencari keberadaan Khadijah. Seluruh ruangan sudah ditelusuri oleh Yulian, tetapi ia tidak menemukan keberadaan Khadijah di dalam rumah itu.


“Tidak mungkin Dia akan pergi jauh,”


Yulian mencari di halaman depan tetapi hasilnya sama, tidak bertemu dengan Khadijah. Hingga Yulian pun menyerah, langkah kakinya mulai runtuh dengan langkah pelan menuju ke kamarnya. Namun, langkah itupun terhenti saat bayangan Khadijah sekelebat ada di depan foto Aisyah.


“Aisyah, aku tahu ... aku hanyalah istri kedua dari mantan suamimu. Aku juga sadar diri jika aku tak mampu dan tak akan pernah mampu meraih rembulan-yang begitu indah dengan cahaya yang sempurna.”


Air mata pun meluruh dan membasahi cadar Khadijah. Bahu Khadijah bergetar hebat saat mengingat masa lalu-masa yang membuatnya harus mengalami semua hal pahit itu.


Yulian yang berada di belakang membiarkan Khadijah menumpahkan rasa unek-unek nya yang memenuhi rongga dada. Dan Yulian merasakan nyeri yang begitu menusuk, tetapi bukan di kepalanya-melainkan di hatinya yang terdalam.


‘Ya Allah... bodoh sekali aku mengatakan hal itu di depannya tadi. Kenapa aku tidak bisa berpikir panjang lebih dulu agar Khadijah tidak merasa terluka.’


Yulian merutuki kebodohan- yang tanpa sadar sudah diperbuatnya hingga menyakiti hati Khadijah dengan lisannya.


Dan sudah satu jam sudah berlalu, tetapi Khadijah masih setia berada di depan foto Aisyah dan mencurahkan rasa yang menyesakkan jiwanya. Yulian pun juga masih setia berdiri di belakang, rongga dada Yulian terasa tercekat saat mendengar isak tangis Khadijah yang belum mereda.


Hening...


Kesunyian malam seakan menemani mereka saat tak saling tegur sapa. Isak tangis Khadijah pun mulai mereda hanya sesekali masih terdengar sesenggukan dari sisa tangisnya. Dan setelah usai mencurahkan rasa yang menyesakkan Khadijah hanya memandang dengan diam foto Aisyah yang berada di depannya.


“Maafkan, Hubby! Hubby tidak sengaja mengatakan hal itu, tanpa sadar sudah melukai hati Neng.”


“Awalnya Hubby hanya ingin menunjukkan cinta sejati kepada Ahtar. Seorang Ayah... Hubby tidak mau jika anak lelakinya menyakiti hati seorang wanita. Dan Hubby juga tidak mau jika Ahtar salah dalam memilih pasangan. Hanya itu saja, Neng. Hubby tidak bermaksud lain.”


Yulian membujuk rayu Khadijah agar amarah yang sempat memuncak telah luluh lantah bersama cinta yang bersemayam di hati.


Yulian memajukan langkahnya hingga berdiri tepat di depan Khadijah, lalu ia berjongkok agar sejajar dengan kursi roda Khadijah. Dan setelah itu Yulian menyeka air mata Khadijah yang masih tersisa di pipi.


“Dengarkan Hubby baik-baik, Neng! Hubby tidak akan pernah tahu kita ke depannya nanti bagaimana, kita bisa se-surga atau tidak. Tapi yang satu hal yang perlu Neng tahu. Hubby sayang sama Neng.”


“Mungkin saat Hubby mengajukan khitbah status Hubby memang seorang duda, tapi untuk menyembuhkan luka dan menemukan cinta yang tepat... cinta yang bisa diyakini untuk sehidup semati itu... terasa sulit, Neng.”

__ADS_1


“Jika suatu saat nanti Hubby yang diambil lebih dulu, Hubby akan merelakan Neng untuk mencari cinta yang bisa membawa Neng ke surga. Dan untuk saat ini, Neng hanya milik Hubby bukan milik yang lainnya. Bahkan untuk menuju surga itu Hibby harus bisa membimbing Neng juga sebagai istri Hubby, karena Hubby tidak mau jika Neng merasa kesulitan masuk surga nanti.”


Yulian mengecup kening Khadijah, memberikan seluruh cinta yang tersisa... cinta yang tumbuh begitu saja dari dalam sanubarinya. Hingga akhirnya bujuk rayu dari Yulian mampu meluluh lantahkan amarah Khadijah, bukan amarah tetapi lebih tepatnya kesadaran diri.


Setelah berdamai dari kesunyian dan keheningan Yulian membawa Khadijah ke kamar. Karena malam yang sudah begitu larut Yulian pun segera meminta Khadijah untuk lekas beristirahat.


Yulian merebahkan tubuh Khadijah di atas ranjang setelah sesaat berada dalam gendongan. Setelah itu Yulian membentangkan selimut hingga menutupi dada Khadijah.


“Cepat tidur, sudah malam. Dan Neng harus ingat, jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi.” Yulian mematikan lampu yang memiliki cahaya terang, lalu menyalakan lampu tidur yang memiliki cahaya temaram.


Saat Yulian hendak melangkah dengan cepat tangan Khadijah menahannya. Dan membuat Yulian membalikkan tubuh lalu kembali menatap Khadijah yang masih diselimuti rasa sedih.


“Ada apa, Neng?”


“Hubby mau kemana? Apa Hubby tidak mau menemani Neng tidur malam ini?” Khadijah berbalik bertanya.


Sejenak Yulian terdiam, bukan maksud tak ingin menemani Khadijah tidur dalam satu ranjang tetapi, Yulian ingin menepi sejenak dan merenungkan masalahnya dan juga masalah Ahtar.


“Hubby hanya ingin duduk di sofa sebentar saja, Neng. Hubby... belum mengantuk, obat pereda nyerinya kurang manjur.”


Sontak candaan Yulian membuat Khadijah menarik dua ujung bibirnya hingga membentuk senyuman yang indah. Mata yang sembab dan wajah yang sayu kini sedikit tersegarkan dengan tawa.


“Kenapa Neng senyum begitu? Senang ya kalau suaminya pening begini, hmm?”


Yulian mendekat, wajahnya bertatapan hanya satu inci saja dengan wajah Khadijah. Tatapan mata elang Yulian menajam, seolah siap menerkam mangsa yang ada di depannya itu. Dan tatapan itupun mampu membuat Khadijah merasa malu, seketika Khadijah menundukkan wajahnya.


Yulian manoel pipi Khadijah dan semakin membuat Khadijah merasa malu saja.


“Jangan begitu, Hubby! Neng malu tahu, kalau Hubby lihat wajah Neng yang lengket karena air mata tadi.” Khadijah segera memalingkan wajahnya.


“Lalu, Neng mau Hubby bagaimana? Masa tak boleh menatap wajah istri sendiri. Lagian salah sendiri sudah tahu wajahnya jelek kalau nangis masih tetap saja menangis.”


Yulian terkekeh, akhirnya ia merasa tak canggung lagi saat berdua dengan Khadijah. Begitu juga dengan Khadijah, meskipun belum melupakan sepenuhnya tetapi kini canda tawa terus saling beradu. Membuat malam yang seharusnya di jadikan beristirahat tetapi malam itu tidak.


Yulian dan Khadijah memutuskan untuk saling mencurahkan rasa di dalam hati masing-masing, bahkan mereka bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah Ahtar dengan dua wanita tanpa menyakiti hati mereka.


Akhirnya Yulian menyerah, otaknya sudah merasa buntu dan pikirannya sudah mentok tak mampu berpikir lebih jernih lagi setelah masalah bertubi-tubi hadir dalam hidupnya. Karena itu menyangkut masa depan, hati dan juga persahabatan antara Yulian sendiri dengan Tristan.


“Bagaimana kalau kita mantapkan hati Ahtar terlebih dahulu dengan jalan sholat istikharah. Kita pastikan melalui jalur langit, minta Ahtar untuk melakukan sholat itu setiap malam. Dan juga... puasa senin dan kamis. Karena bagi orang yang menjalan puasa sunah itu akan mendapatkan cinta dari Allah SWT.” Khadijah menjentikkan jarinya.


Yulian tersenyum tipis, ia merasa beruntung memiliki pendamping hidup yang Allah hadirkan di hidupnya. Meskipun sebagai istri kedua tetapi Khadijah wanita yang tidak tamak akan harta, hanya mau menikah dengan Yulian-yang bergelimang harta, bahkan gelarnya saja CEO yang memiliki beberapa perusahaan di beberapa negara dan berbagai kota.


“Baiklah! Hubby akan membicarakan hal itu kepada Ahtar besok pagi. Dan Hubby akan mencari tahu siapa Zuena sampai Ahtar mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.” Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah.


Di atas balkon dengan malam yang dipenuhi dengan kemerlip cahaya bintang dan juga lampu yang temaram, membuat malam itu terasa begitu indah daripada malam-malam sebelumnya.

__ADS_1


Khadijah merasa damai saat tubuh tegap Yulian mendekapnya. Bahkan rasa nyaman itupun didapatkan oleh Khadijah saat ia menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Yulian. Dan di bawah selimut yang tebal-yang menyelimuti tubuh keduanya kini dalam heningnya malam serta lampu yang temaram Yulian dan Khadijah mulai terpejam.


...****************...


Jam dua malam Yulian terbangun, ia memutuskan untuk menunaikan sholat tahajud. Meminta kepada Allah SWT dari setiap masalahnya, agar Allah SWT memudahkan segala urusannya di dunia dan juga di akhirat kelak.


“Ya Allah Ya Tuhanku... hamba tahu Engkau tak akan salah dalam memilih pundak hamba-Mu yang pantas untuk Kau uji saat ini. Dan hamba pun juga tahu jika Engkau akan mempermudah segala urusan hamba-Mu yang bersungguh-sungguh.”


“Ya Allah... Sebagai seorang Ayah hamba tak ingin gegabah dalam memutuskan siapa jodoh putra hamba yang Engkau tuliskan dalam buku abadi-Mu. Berikanlah jodoh yang terbaik untuk putra hamba, Ahtar.”


Yulian mengaminkan doanya. Setelah itu berlanjut membaca mushaf sejenak untuk mendamaikan hati yang risau dan gundah gulana.


Tidak sampai satu juz Yulian membaca mushaf itu, karena ia harus meneliti data pekerjaannya yang sudah lebih dari lima hari tidak di cek.


”Sepertinya aku perlu kopi hitam pekat tetapi rasanya manis kalau ditambah gula,” ucap Yulian yang diselingi dengan kekehan geli.


Masalah yang datang bertubi-tubi bisa membuat otak Yulian sedikit miring, untung saja Khadijah tidak melihat sisi yang lain Yulian. Karena sudah lama sekali Yulian tidak bersikap bak anak remaja saja.


Kopi yang sudah dibuat oleh Yulian sendiri diletakkan di atas meja, lalu ia kembali menatap layar laptop dan merajuk di sana. Sesekali ia menyeduh kopi hitam manis itu untuk menghilangkan rasa kantuk. Dan untuk menghilang akn kesunyian menjelang subuh Yulian menyalakan musik yang mengalun indah.


“Alhamdulillah, Ya Allah! Akhirnya selesai juga.” Yulian menutup laptopnya.


Yulian meregangkan ototnya yang merasa kaku, lalu ia pun berselonjor di atas sofa dan seperti manusia pada umumnya, mata Yulian tidak mampu menahan kantuk yang mendera. Karena setiap pukul 03.00 hingga pukul 04.00 manusia akan merasa sangat mengantuk dan tidak bisa menahannya lagi.


Suara adzan subuh telah dikumandangakan dan Khadijah terbangun setelah mendengar suara adzan meskipun terdengar begitu lirih, karena jarak antara masjid dengan rumahnya yang cukup jauh.


Khadijah meraba sisi kanannya, tetapi ia tidak menemukan Yulian yang tertidur di sampingnya. Dan itu membuat Khadijah merasa bingung karena ia tidak bisa bangun jika tidak dibantu.


“Hubby!” panggil Khadijah pelan.


“Hubby!” panggil Khadijah lagi.


“Hubby!”


“Hubby!”


Beberapa kali Khadijah berteriak memanggil Yulian, tetapi tak ada sahutan dari Yulian. Namun, Khadijah melihat bayangan seseorang yang berasal dari balkon.


“Siapa di sana? Apa itu Hubby, ya?”


Tidak ada suara yang menjawab pertanyaan Khadijah itu. Tetapi bayangan itu semakin mendekat, hingga cahaya sinar lampu yang temaram mampu memberikan penerang sedikit dan Khadijah mampu menangkap wajah pemilik bayangan itu.


“Mau apa datang kesini? Jangan macam-macam!” ancam Khadijah.


Langkah orang itu semakin dekat, membuat Khadijah histeris sendirian. Rasa takut mulai menyeruak, air mata mulai membasahi pipi Khadijah. Dan beberapa kali Khadijah berteriak memanggil Yulian, Cahaya, Arjuna, Ahtar dan Hafizha. Semua nama anggota keluarganya ia panggil untuk dimintai pertolongan, karena kedatangan orang itu bagaikan ancaman bagi Khadijah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2