
Degup jantung Khadijah seketika tidak beraturan. Khadijah tiba-tiba merasa speechless, rasa yang membuat tubuhnya berubah menjadi dingin_sedingin es.
“Kenapa, Neng? Tangannya kok dingin,” kata Yulian.
Tanpa disengaja Yulian menyentuh tangan Khadijah hingga merasakan dinginnya di sana. Hal itupun membuat Yulian merasa khawatir, takut saja jika Khadijah akan sakit setelah bekerja seharian penuh dan membuatnya kelelahan.
“Tidak, kok. Neng tidak apa-apa hanya... Neng merasa senang saja. Bahkan sangat senang dengan perlakuan Hubby yang seperti ini.” Tidak segan lagi Khadijah mengungkapkan rasa senang yang ada di hatinya.
Yulian mengusap kepala Khadijah, lalu mengangkat bibirnya hingga membentuk senyuman. Yulian merasa jika Khadijah begitu menggemaskan. Dan rasa cinta yang tumbuh begitu saja kini semakin menguat, Yulian tidak ingin kehilangan wanita yang berhasil mendiami hatinya itu.
“Neng, Hubby sangat mencintai Neng. Mau tidak mendampingi Hubby sampai akhir hayat?” tanya Yulian.
Demi mendengarkan jawaban Khadijah, Yulian melekatkan telinganya, menatap begitu dalam permata nya itu.
“Iya, Hubby. Neng mau, Neng akan setia mendampingi suami Neng ini sampai hembusan napas terakhir.”
Yulian bernapas lega mendengar suara lembut Khadijah, di mana Khadijah menyatakan ketulusan itu dari dalam hatinya. Dan takdir, hanya Allah lah yang tahu bagaimana ke depannya nanti tentang kisah rumah tangga dan kisah cinta mereka. Karena cinta di dunia hanyalah sementara.
“Ya sudah, kita istirahat yuk! Besok Hubby mau ajak kalian semua ke sesuatu tempat.”
Khadijah mengerutkan alisnya, menatap Yulian yang masih bermain rahasia dengannya. Dengan tatapan itu bukan berarti Yulian akan mengatakan kemana ia akan mengajak anggota keluarganya. Karena itu masih akan menjadi tempat rahasia.
Malam yang panjang telah membuat Yulian dan Khadijah terlelap dalam tidur mereka. Dan tangan Yulian tidak terlepas, bertahan dengan melingkarkan di pinggang Khadijah. Hingga menimbulkan rasa nyaman tersendiri bagi seorang Khadijah. Tanpa mereka sadari cahaya matahari mulai teebit dari timur, dan cahaya itu sudah mulai memasuki sela-sela gorden di kamar mereka. Membuat keduanya seketika terbangun, lalu bergegas menuju ke kamar mandi hendak mengambil air wudhu.
“Neng saja deh yang lebih dulu,” kata Yulian mengalah.
“Maaf ya, Hubby. Neng dulu yang masuk.”
Pagi yang konyol bukan? Pasalnya pasangan yang bisa dibilang tidak muda itu, tidak pernah meninggalkan sholat sunah tahajud, bahkan tidak pernah sampai bangun kesiangan. Tetapi, pagi itu justru mereka bangun paling akhir daripada yang lain.
__ADS_1
“Neng mau masak dulu ya, Hubby. Tolong! Jagain Abizzar,” pinta Khadijah.
Yulian mengangguk, dan dibiarkannya Khadijah menuju ke dapur berperang dengan beberapa peralatan dapur.
‘Ya Allah, maafkan aku sebagai hamba-Mu yang lalai. Dan anehnya... kenapa baru kali ini juga aku bangun kesiangan. Apa ini karena efek kelelahan setelah acara kemarin ya?’
Satu jam telah berlalu, Khadijah kembali lagi ke kamar dan akan memandikan Abizzar yang memang belum mandi. Sedangkan Yulian, ia sudah berada di bawah tengah menyeduh secangkir kopi hangat bersama papa Adhi dan Alex. Dalam perkumpulan mereka obrolan bergulir begitu saja, bahkan Alex menyatakan jika akan ke Surabaya pagi itu juga, tepatnya pada pukul 08.00 pagi.
“Kenapa tidak menginap di sini satu atau dua hari lagi saja, Pa?”
“Maafkan Papa, Yulian. Papa tahu kalian juga ingin bersama dengan Papa, tapi Papa rasa sudah saatnya Papa harus mengunjungi makam Mama kalian. Ada rasa rindu juga di sini.” Alex menunjukkan sisi dada bidangnya.
Yulian dan Papa Adhi tertawa, mereka sangat tau bagaimana perpisahan kala itu terjadi karena masalah yang rumit. Dan mungkin kini saatnya waktu akan berubah masa demi masa yang terus berganti. Bumi saja terus berputar, dengan seiringnya waktu yang terus berjalan Alex juga ingin berubah, menjadi hamba Allah yang taat.
“Saya berterimakasih karena Anda sudah menampung saya selama dua hari di rumah ini,” ujar Alex dengan sopan.
Ketiganya kembali tertawa pelan. Obrolan yang mengundang canda tawa itupun harus segera dihentikan setelah bik Irah menemui ketiganya untuk memberitahu jika santapan untuk sarapan pagi sudah siap.
Semua anggota keluarga memasuki ruang makan bersama, mengambil duduk dan mengambil piring yang diletakkan di atas meja. Setelahnya diisi dengan nasi putih, sayur dan lauk pauk yang disediakan di sana.
Dan inilah khas orang Indonesia, tidak akan memulai aktivitas tanpa mengisi perut dengan asupan nasi serta gizi yang layak.
“Neng, sana gih siap-siap. Hubby mau mengajak Neng dan yang lain pergi ke suatu tempat.”
“Mau kemana, Hubby? Terlihat rahasia banget,” ketus Khadijah.
“Jangan marah begitu dong, Neng. Kan, mau kasih kejutan, jelas rahasia dong. Yang penting, sekarang Neng bersiap saja, gih!” pinta Yulian.
“Baiklah! Tidak masalah jika Hubby tidak mau memberitahu. Kalau begitu Neng akan ganti baju dulu, sekalian Abizzar.”
__ADS_1
Tidak perlu menunggu waktu lama lagi, Khadijah hanya menurut saja ketika Yulian memintanya untuk segera bersiap. Dan pilihan Khadijah tepat pada baju gamis lebar dan panjang berwarna brown, di bawah gamis itu ada sedikit motif bunga yang indah, sehingga mampu mempercantik gamis tersebut. Tidak lupa juga dengan jilbab yang menjulang berwarna hitam, serta cadar yang selalu berwarna hitam juga.
“Bunda sudah selesai sekarang. Dan setelah itu giliran Abizzar, okay!”
“I... ya, Nda.” Abizzar mengangguk.
Di usia dua tahun Abizzar belum juga bisa bicara dengan lancar, tetapi saat orang yang mengobrol dengannya, Abizzar mampu menangkap pertanyaan ataupun setiap lontaran kata yang diucapkan.
Khadijah segara mengganti baju Abizzar dengan baju yang lebih pantas, lebih layak untuk dipakai saat akan jalan-jalan.
Dua puluh menit sudah berakhir, Khadijah dan Abizzar sudah berpakain dengan amat rapi. Setelah itu Khadijah menggendong Abizzar menutuni anak tangga dan mencari keberadaan Yulian.
“Neng sama Abizzar sudah siap, Hubby.” Khadijah pun menghampiri Yulian yang berdiri di garasi.
“Ok. Jadwal pertama kita ke makam Aisyah dan keluarganya. Bagaimana, apa Neng mau!?” tanya Yulian memastikan.
“Baiklah. Tidak akan Neng tolak, apapun yang akan Hubby lakukan Neng setuju saja,” jawab Khadijah dengan kesederhanaan yang dimiliki.
Jadwal pertama tak lain adalah mengunjungi makam Aisyah dan keluarganya yang sudah berjejer di baris yang sama.
Semua masuk ke dalam mobil, karena Yulian tidak ingin membuang waktu dengan percuma. Dan setelah tiba di tempat pemakaman Yulian membacakan doa untuk Aisyah dan keluarga besarnya.
‘Ya Allah... lapangkanlah diri dan hati ini dalam setiap menerima cobaan dari-Mu. Dan semoga saja Engkau juga melapangkan jalan Aisyah menuju surga yang selalu diharapakan dan dirindukan oleh pemilik batu nisan Aisyah Fadilah. Amin...’ Monolog Yulian.
Sesekali Yulian mengusap puncak batu nisan milik Aisyah. Dan rasanya Yulian ingin memeluk, tetapi rasa itu harus bisa Yulian genggam dengan sendiri saja. Karena Yulian akan selalu sadar dan berusaha untuk melindungi Khadijah beserta isinya.
‘Assalamu'alaikum, Aisyah. Maafkan aku jika aku baru datang dalam pemakaman mu, ya! Aku doakan semoga saja kamu bisa melewati masa sulit di alam kubur dan dimudahkan dalam setiap perjalanan mu menuju surga. Karena kamu adalah wanita baik dan paling baik sedunia Aisyah.’
Bersambung...
__ADS_1