
Kembali Yulian dihadirkan dalam masa labil, di mana dirinya begitu ingin menghamburkan pelukan kepada Khadijah untuk menenangkannya, tetapi di sisi lain hatinya tersadar itu sulit untuk dilakukannya. Karena Yulian begitu merasa sadar bahwa kenyataan akan sebuah dosa jika itu dilakukannya.
’Sentuh atau tidak? Kalau aku menyentuh bahunya ... takut dosa. Tapi kalau aku tidak menyentuhnya ... bagaimana cara untuk menenangkan hatinya? Ya Allah, kenapa sungguh sulit hanya sekedar ingin menenangkannya saja.’ batin Yulian.
”Kenapa begitu saja kok susah sih, Yulian? Kayak anak muda saja, yang tidak berpengalaman.” Ngalamat penulis tepok jidat melihat kelakuan Yulian yang sangat labil.
Setelah melihat preman sudah diringkus oleh polisi, akhirnya Khadijah berusaha untuk berdiri dan mencoba menenangkan hatinya dengan lafadz dzikir yang tiada hentinya diucapkan. Dan Khadijah tidak tahu jika ada Yulian yang berada di belakangnya, sehingga Khadijah tetap berperilaku biasa saja seraya melihat polisi yang membawa preman ke kantornya.
’Aku ... merasa tidak asing dengan lelaki itu? Tapi ... siapa ya?’ tanya Khadijah dalam hati.
Khadijah melihat Abdullah yang tengah membantu polisi membawa preman masuk ke dalam mobil berwarna biru putih itu. Dan Khadijah berusaha untuk mengingat dalam penerawangan nya tentang Abdullah, akan tetapi Khadijah masih belum mengingat betul bahwa itu asisten Yulian.
’Bayangan? Bayangan siapa yang ada dibelakangku? Mungkinkah itu ... salah satu preman tadi?’ tanya Khadijah dalam hati.
Khadijah melihat bayangan Yulian yang masih berdiri di belakangnya. Dan untuk memastikan bayangan siapa itu, Khadijah memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya lalu, Khadijah berusaha untuk memberi pukulan dengan begitu keras ke tubuh pemilik bayagan tersebut.
”Aaawww...”
Yulian merintih kesakitan saat ujung tombaknya telah diberi pukulan oleh Khadijah. Mata Khadijah seketika terbelalak lebar setelah mengetahui bahwa pemilik bayangan tersebut tak lain adalah Yulian. Seketika Khadijah merasa panik saat melihat Yulian masih terus memegangi ujung tombaknya dengan meraung kesakitan.
”Maafkan aku, aku ... tidak sengaja melakukannya. Karena aku pikir ... itu tadi bayangan salah satu preman tadi.”
Yulian tidak bisa berkata apapun, hanya mampu merasakan sakit yang luar biasa saat ujung tombaknya tak kunjung mereda. Nafas Yulian tersengal-sengal karena ia mencoba menahan rasa sakit di bagian paling ujung.
”Tidak apa-apa. Tapi lain kali, jangan diulangi lagi.” Khadijah mengangguk pelan.
Yulian meminta Khadijah untuk ikut dengannya, tapi Khadijah masih dalam keinginan yang sama yaitu, menjauh dari keluarga Yulian. Namun, kali ini Yulian berusaha dengan sangat keras untuk mengubah pendirian Khadijah itu. Akan tetapi, sekeras apapun Yulian berusaha, hasilnya akan tetap sama.
__ADS_1
”Aku katakan kepadamu sekali lagi. Jangan pernah kamu mengajakku pada masa yang sudah ku hindari sedari dulu, Yulian. Biarkan angin tetap berhembus, meskipun badai telah datang. Seperti halnya aku, biarlah Hafizha tetap menjalani kehidupannya meskipun aku ada di sini. Jangan sampai Hafizha tahu siapa aku!”
”Aku tahu, tapi sampai kapan kamu akan tetap menghindari Hafizha seperti ini?”
”Entahlah! Mungkin ... kalau bisa seumur hidupku, jangan sampai Hafizha tahu bahwa aku lah wanita yang sudah melahirkannya.”
”Tapi Hafizha berhak tahu siapa ibu yang sudah mengandungnya, melahirkannya, menyusuinya saat pertama kali dan wanita yang selalu mendo'akannya dengan air mata, meskipun kamu tidak merawatnya, tapi kamu tetap seorang ibu baginya.” pekik Yulian.
Khadijah terdiam dengan jiwa yang bergetar. Ada rasa yang membuat nafasnya tercekat. Terasa begitu sesak, tak ada kata lain selain iya pada akhirnya.
-------
”Katakanlah! Dimana aku bisa menunggumu?” tanya Yulian setelah keluar dari dalam mobil.
”Tunggulah disini! Aku akan masuk ke dalam dan merapikan pakaianku.”
”Kalau kamu sudah tahu ini malam, kenapa kamu tetap memaksaku? Seharusnya kamu membiarkan aku tetap tinggal disini saja, ajaklah Hafizha sesekali kesini untuk menemuiku. Mudah, kan?”
Sungguh, sifat egois yang begitu melekat pada dua manusia itu membuat Abdullah mengusap wajahnya gusar. Prustasi dan amarah benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Karena sedari tadi ia hanya mendengar perdebatan dan kegigihan yang menunjukkan keogoisan pada diri masing-masing. Dan saat mereka berada di area di mana Khadijah tinggal, perdebatan itu kbali terjadi. Membuat Abdullah merasa pusing, lalu pergi dengan melajukan mobilnya.
”Abdullah, kenapa kamu pergi?”
”Abdullah...”
”Abdullah...”
Beberapa kali Yulian berteriak memanggil Abdullah, tetapi tak dihiraukan sama sekali oleh Abdullah. Dan Abdullah terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Yulian, ia berdiri mematung di posisi yang sama bersama Khadijah.
__ADS_1
’Bagaimana ini? Aku tidur dimana malam ini? Masa iya aku pulang harus jalan kaki?’ tanya Yulian dalam hati.
Khadijah berusaha untuk mengetuk pintu kamar sahabatnya. Karena kunci pintu kamar Khadijah telah dibawa oleh sahabat nya itu. Namun, karena malam sudah terlalu memekik peraduan, maka sahabat Khadijah tidak mendengar apapun selain dunia mimpi yang dirasakannya.
”Bagaimana sekarang? Aku tidak bisa masuk ke dalam kamarku,”
”Dan aku pun juga tidak bisa pulang ke rumahku. Bagaimana nasib kita malam ini?”
”Hanya masjid yang menjadi tempat kita ber singgah malam ini ... Karena itu tempat umum.” Yulian menatap Khadijah, lalu mengangguk mengiyakannya.
Keduanya memutuskan berjalan untuk menuju ke sebuah masjid. Cukup lama mereka berjalan, menelusuri jalanan yang panjang tanpa berjalan bersisihan. Karena Yulian berjalan di depan Khadijah, begitupun sebaliknya... Khadijah berada di belakang Yulian.
’Ya Allah, kenapa aku kembali dalam masa itu? Masa yang terasa begitu sulit untuk melupakan cinta pada pandangan pertama terhadapnya. Dan setelah sekian lama aku mampu melumpuhkan ingatanku tentang rasa yang tidak seharusnya, justru kini telah kembali Engkau pertemukan aku dengannya. Kenapa?’ gumam Khadijah.
’Ya Allah, kenapa setelah sekian lama aku tidak merasakan rasa itu selain kepada Aisyah, tapi kini kurasakan kembali saat Engkau pertemukan aku dengannya? Dulu ... aku tidak menginginkan kehadirannya karena cinta bagiku tetap untuk Aisyah, akan tetapi ... haruskah aku membuka hati untuk menerima kehadirannya?’ gumam Yulian dalam hati.
Dua insan yang tengah berjalan di bawah langit yang sama, di atas bumi yang sama dan berpijak dalam satu langkah yang sama, kini kedua nya tengah mengadukan rasa yang sama kepada Tuhan. Mungkinkah keinginan mereka juga sama? Bersatu dalam membina rumahtangga yang sakral?
Sesampai di masjid, Yulian dan Khadijah memutuskan untuk segera beristirahat. Di mana Yulian berada di sisi kanan serambi masjid, sedangkan Khadijah di sisi kiri serambi masjid. Dan tidak lama kemudian keduanya terlelap dalam keheningan malam.
”Yulian dan Khadijah semoga saja kalian tidak khilaf, ya!” Doa penulis.
-------
’Maafkan aku Yulian dan Khadijah, karena aku sudah melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan kepada kalian. Bukan maksudku untuk menjerumuskan kalian ke lubang dosa, tapi untuk menurunkan ego kalian, maka ini adalah satu-satunya cara yang harus dilakukan.’
Abdullah sejenak menghentikan mobilnya, tetapi selang satu jam kemudian ia melajukannya kembali dan memutar arah. Abdullah menelusuri jalan untuk mencari keberadaan Yulian dan Khadijah. Lalu, berhenti setelah Abdullah melihat Yulian dan Khadijah tengah meringkuk dalam rasa dingin yang menerpa malam.
__ADS_1