
Suasana seketika menegang, tatapan Yulian menajam saat bergantian menatap Ahtar, Humaira dan Zuena. Sedangkan yang lainnya hanya mengintip saja dibalik tembok, karena merasa penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Yulian kepada ketiga anak muda itu.
“Pertanyaan pertama akan Abi tujukan kepadamu, Ahtar. Karena kamu adalah seorang lelaki.”
“Iya, Abi.” Ahtar mengangguk dengan mantap.
“Apa maksud dari perkataan kamu waktu itu yang menyatakan jika hatimu memilih Zuena?”
Sejenak Ahtar terdiam. Pertanyaan itu membuat Ahtar berada di posisi sulit, karena ada dua hati yang harus dijaga nya.
“Jujur, Ahtar bukan hanya berkata semata. Karena sebelumnya Ahtar pernah bermimpi. Di mana mimpi itu Ahtar dipertemukan dengan seorang wanita tanpa mengenakan hijab. Namun berhati lembut, dan meskipun Ahtar tidak melihat dengan jelas bagaimana wajah wanita itu... Ahtar yakin jika Dia... Zuena.”
Ahtar menjawab dengan lantang, seperti bagaimana ia pernah menjawab pertanyaan itu saat bicara empat mata dengan Yulian. Akan tetapi kejujuran Ahtar membuat Zuena dan Humaira jelas terkejut, apalagi Humaira seketika mendapatkan pernyataan yang menyakiti hatinya hingga ke relung jiwa.
‘Apa... Ahtar ini lelaki yang setiap malam hadir dalam mimpiku?’ gumam Zuena dalam hati.
“Apa hanya dengan mimpi kamu bisa yakin jika cinta itu jatuh pada Zuena? Bagaiamana jika wanita tanpa hijab itu bukan Zuena?”
Yulian terus melontarkan pertanyaan yang membuat Ahtar mengeluarkan keringat yang bercucuran di punggungnya. Baju koko yang dikenakan Ahtar seketika basah, untung Zuena dan Humaira tidak melihat hal itu.
“Dari dasar hati dan sanubari. Mungkin akan mustahil saja bagi Abi dan semuanya, karena sebelumnya tak ada pengenalan bahkan pertemuan di antara kami. Tapi Ahtar merasa yakin jika jodoh yang didatangkan dari Allah SWT adalah... Zuena.” Ahtar terus berusaha menjawab dengan kejujuran hatinya.
“Maafkan Ahtar jika sebelumnya sudah lancang kepada Abi. Tapi Ahtar ingin bertanya, kenapa Abi bisa yakin bahkan rela dibawah derasnta hujan untuk memenangkan hati Bunda? Sedangkan selama itu Abi tidak sulit untuk jatuh cinta lagi.” Ahtar mengulas senyum.
Yulian seketika terkejut mendengar pertanyaan itu. Sedangkan Khadijah yang berada dibalik tembok menunggu jawaban Yulian dengan seribu rasa penasaran.
‘Kenapa nih anak malah mengungkit hal itu? Tapi... sebagai orang tua yang baik aku wajib mengajarkan kejujuran kepadanya agar kelak bisa membimbing istri dan anak-anaknya masuk surga.’ Yulian bermonolog dalam hati.
Sejenak Yulian menghembuskan napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Ahtar. Karena Yulian tahu betul jawaban yang akan diberikan akan panjang dan lebar. Bagaikan dongeng sebelum tidur.
‘Kenapa lama banget sih Hubby jawabnya. Janga-jangan... Hubby tidak bisa jawab lagi pertanyaan Ahtar. Terus kemaren hanya pura-pura saja berjuangnya, begitu?’ batin Khadijah.
“Abi akan jawab, dan kalian bertiga tolong dengarkan baik-baik bagaimana perjuangan Abi meyakinkan Bunda Khadijah.”
Humaira dan Zuena yang menunduk seketika mendongakkan kepala mereka lalu, menatap Yulian yang masih duduk di depan mereka.
“Sekian lama Abi mencoba mencari wanita untuk ibu sambung Hafizha. Tapi hasilnya tetap nihil, tak ada satupun yang membuat hati Abi terpikat layaknya anak muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Dan abi tidak mau mencari wanita yang sembarangan, karena Abi mau wanita itu mampu memberikan kasih sayangnya yang tulus terhadap anak-anak Abi, termasuk kamu Ahtar.”
“Abi terus meminta kepada Allah melalui sholat istikharah, hingga Abi dipertemukan dengan yang namanya cinta sesungguhnya. Cinta yang harus Abi perjuangkan tetapi, Abi akan memperjuangkan dengan layak yaitu... mengkhitbahnya.”
__ADS_1
Khadijah berdecak kagum dalam hati setelah mendengar jawaban Yulian. Atas ijin Allah Yulian memantapkan hatinya untuk mengajukan khitbah kepada Khadijah. Meskipun harus berliku sebentar, tetapi akhirnya Yulian mampu meyakinkan hati Khadijah untuk menerima khitbahnya.
”Dan abi sekarang bertanya, apa kamu mau mengajukan khitbah kepada Zuena wanita pilihanmu, Ahtar? Dan bagaimana perasaan Humaira? Apa kamu memikirkannya juga?”
Ahtar terdiam, ia belum pernah memikirkan tentang pengajuan khitbah kepada Zuena. Dan Ahtar juga belum meminta maaf bahkan bertutur sapa dengan Humaira setelah hari itu.
Namun, Ahtar akan menjawab dengan lantang dan penuh kemantapan untuk meyakinkan Yulian jika keputusannya akan jatuh pada Zuena.
“Ahtar siap. Dan sebelum itu, Ahtar ingin bicara dengan Humaira.”
Mendengar namanya disebut Humaira pun menahan tangis dan kembali menunduk. Karena Humaira tidak ingin jika Ahtar tahu betapa hancurnya hatinya itu.
“Maafkan aku sebelumnya, Humaira. Karena aku sudah melukai hatimu, menorehkan luka yang amat dalam di sana. Tapi kamu harus tahu, bahwa cinta tak mudah dipaksakan. Dan cinta itu datang dari hati.”
“Humaira, aku hanya bisa mendoakanmu semoga saja kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada aku. Kamu... wanita yang baik, insyaAllah kamu akan mendapatkan lekaki yang baik pula. Karena jodoh itu akan hadir sesuai dengan cerminan diri kita.”
Humaira mengangguk, segera ia mengusap ujung pelupuk matanya yang hampir basah. Humaira mencoba untuk tegar, menahan perih hatinya yang kian menyiksa. Apalagi saat menatap Zuena, Humaira sadar akan banyak kekurangannya yang tidak secantik Zuena.
“Terimakasih atas jawaban bang Ahtar dan doanya. Humaira akan menerima keputusan bang Ahtar dengan lapang dada. Semoga Zuena memang wanita yang tepat untuk mendampingi kehidupan bang Ahtar hingga tua nanti.” Humaira berusaha untuk mengulas senyum di hadapan Yulian dan semuanya.
Yulian ikut mengulas senyumnya dan mengagumi ketangguhan hati Humaira yang dapat dipastikan berpotek-potek ria. Setekah mendengar jawaban Humaira yang mampu menerima dengan lapang dada, kini saatnya ia melontarkan pertanyaan kepada Zuena.
“Zuena, jika saja Ahtar membawa rombongan keluarganya dan menghadap kedua orang tuamu untuk memgajukan khitbah, apakah kamu mau menerima khitbah Ahtar?”
Zuena diam, Zuena tak yakin menerima khitbah Ahtar. Sedangkan Zuena tahu ia bukanlah warga yang memeluk agama Islam, melainkan Kristen. Bahkan Zuena tahu betul bagaimana ayahnya, tak mudah untuk luluhkan hatinya.
“Maaf Abi Yulian, Zuena... masih harus berpikir kembali. Zuena minta waktu untuk merenungkan semuanya.” Zuena menatap Yulian dengan penuh harap.
“Baiklah! Abi dan Ahtar akan memebeikanmu. waktu selama dua minggu. Karena selama itu Abi akan pergi ke Lebanon untuk mengerjakan proyek di sana.” Yulian memebeikanmu anggukan kecil kepada Zuena, hingga membuat Zuena tersenyum.
Sesekali Yulian sudah mengamati jam yang melingkat di pergelangan tangannya. Dan lima belas menit lagi Yulian harus melakukan penerbangan bersama Tristan ke Lebanon.
Yulian mengecup kening Khadijah sebelum masuk ke badan pesawat. Dan tidak lupa Arjuna, Cahaya, Ahtar, Hafizha, Garda dan Abizzar menyalami Yulian. Sedangkan Alex tak ikut mengantar Yulian ke Bandara, karena kesehatannya masih harus dijaga secara totalitas.
“Jaga hati dan pandanganmu, Ahtar. Jangan sampai kamu melakukan zina apapun, termasuk zian mata terhadap Zuena bahkan zina hati.” Yulian menepuk pundak Ahtar.
“Iya, Abi.” Ahtar mengangguk.
Yulian, Tristan, Arumi dan Humaira masuk ke badan pesawat setelah mengucap salam. Humaira sengaja ikut, karena ia ingin menata hatinya yang berpotek setelah cintanya tak terbalas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
“Ahtar!”
“Ahtar!”
Setiba di rumah seketika Khadijah dan rombongan dikejutkan dengan suara teriakan yang memanggil Ahtar dengan begitu keras. Dan untuk memastikan Ahtar segera masuk ke dalam rumah mencari pusat suara berada.Dari belakang disusul oleh Khadijah, Arjuna, Cahaya, Garda, Hafizha dan Abizzar ikut masuk ke dalam untuk memastikan.
Ahtar nampak terkejut melihat Zuena sudah menangis histeris. Bahkan Ahtar semakin dibuat terkejut mendapati Adam yang tidak sadarkan diri di samping Zuena dan Abdullah.
“Adam,” pekik Ahtar.
Ahtar segera mendekat, memeriksa kondisi Adam yang detak jantungnya sudah melemah, begitu juga dengan dengut nadinya. Dan dengan segera Ahtar menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirim ambulans ke rumahnya malam itu juga.
“Hafizha, bang Ahtar mohon tenangkan Zuena untuk tidak merasa khawatir kepada Adam. Yakinkan Zuena juga bahwa bang Ahtar akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong Adam, itupun atas ijin Allah.”
“Baik, Bang.” Hafizha mengangguk, ia segera mendekati Zuena dan merengkuhnya.
Tidak lama kemudain mobil ambulans pun tiba, tim medis segera mengeluarkan branker dan memindahkan tubuh Adam ke atas branker itu. Dengan siaga Ahtar masuk ke dalam mobil ambulans dan memasang infus serta alat bantu pernapasan ke hidung Adam.
“Bunda di rumah saja temani Abizzar, biar Arjuna ikut dengan Ahtar ke rumah sakit.”
“Tapi... Bagaimana dengan Zuena nanti, Nak? Kasihan Dia jika menangis seperti itu,”
“Bunda tenang saja, Hafizha akan selalu menemani Zuena nanti di rumah sakit. Bunda harus ingat bagaimana pesan Abi, jika terjadi sesuatu dengan Bunda pasti Juna yang akan dimintai pertanggungjawaban Abi karena... Juna anak tertua.” Arjuna mengangguk, meyakinkan Khadijah bahwa semua akan baik-baik saja.
Khadiajh mengangguk, lalu semua masuk ke rumah setelah mengantar Adam masuk ke mobil ambulans. Dan dengan dibantu Alex Khadiajh beristirahat di kamarnya. Setiba di kamar Khadiajh merebahkan tubuhnya bersama Abizzar yang akan tidur bersamanya.
“Bunda, jangan sedih ya! Bunda harus kuat, seperti apa kata Abi tadi.” Sebelum tidur Abizzar berceloteh panjang.
“Iya sayang, Bunda akan kuat saat jauh dari Abi seperti... Abizzar. Ya sudah, sekarang tidur ya, Nak.” Khafijah menarik selimut tebal yang menutupi tubuhnya dengan tubuh Abizzar hingga batas dada.
Khadijah pun terlelap mengikuti Abizzar yang sudah dari tadi tertidur. Begitu juga dengan yang lainnya, sudah mengukir mimpi di alam berbeda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adam langsung dilarikan ke ruang UGD setiba di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan darurat. Ahtar dengan siaga segera mengganti pakaiannya dengan berbalut snelinya, tanda pengenal jika Ahtar adalah dokter ahli bedah jantung.
“Lakukan pemeriksaan dengan benar, Sus. Jika pasien harus menjalani operasi, maka segera siapkan!” pinta Ahtar.
Saat Ahtar sibuk menyelamatkan Adam diri uang UGD, ada Zuena yang masih menangis tiada henti di ruang tunggu bersama Hafizha. Hafizha terus berusaha menenangkan hati Zuena yang tengah merasakan khawatir dengan kondisi sepupunya itu.
“Kak Zuena yang tenang, ya! Ada Allah yang akan menyelamatkan kak Adam. Kita terus berdoa saja ya kak, semoga kak Adam baik-baik saja,” ucap Hafizha seraya mengusap lembut lengan Zuena.
__ADS_1
Satu persatu perawat keluar dari ruang UGD, akan tetapi Ahtar tak kunjung ikut keluar. Bahkan setelah beberapa perawat yang keluar tadi satu menit kemudian kembali masuk ke ruang UGD. Hal itu membuat Zuena semakin merasa khawatir dan kegelisahan yang tak menentu.
Bersambung...