Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 37


__ADS_3

Setelah Jennifer pergi dari kafe itu tidak lama kemudian Khadijah memutuskan untuk ikut meninggalkan kafe. Akan tetapi Yulian menahan dan mencekal lengannya agar Khadijah berhenti untuk melangkah. Setelah itu, Yulian menghampiri Khadijah dan berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, di mana tidak sesuai dengan kenyataan seperti apa yang sudah dilihat oleh Khadijah tadi.


”Tunggu, Khadijah! Aku bisa jelaskan semuanya, ini semua hanya salah paham.” Khadijah pun berbalik.


”Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku juga sadar diri, kamu tidak bisa menepati apa yang sudah kamu katakan sendiri di hadapanku.”


”Kamu salah paham, Khadijah. Kita bicarakan semuanya di rumah. Tidak pantas rasanya jika kita membicarakan semuanya disini.”


Yulian menarik pinggang Khadijah hingga tak ada jarak di antara mereka. Lalu, Yulian dan Khadijah berjalan dengan beriringan, jika dipandang oleh orang lain mereka terlihat pasangan yang romantis dan harmonis. Tapi kenyataannya, mereka masih terbelenggu akan masalah yang baru. Api cemburu masih berkobar di hati Khadijah, sehingga tercipta suasana hening saat masih dalam perjalanan menuju pulang.


’Ya Allah, baru juga mau mulai meluluhkan hatinya lebih dalam. Dan ini ... justru timbul masalah baru. Apa ini ujian yang sudah Engkau buat untukku?’ batin Yulian saat sesekali memandang ke arah Khadijah yang acuh terhadapnya.


Yulian sesekali menghela nafas panjang saat mengingat Jennifer melakukan hal yang tidak seharusnya. Dan penyesalan selalu datang di akhir, yang membuat Yulian hanya pasrah.


Setelah beberapa jam kemudian mereka pun sampai di rumah. Dan Khadijah langsung masuk ke kamarnya tanpa mengatakan satu kata patah pun kepada Yulian. Kembali membuat Yulian menghela nafas yang terasa berat di dalam dada.


'Sabar Yulian, kamu pasti bisa meluluhkan hatinya.’ batin Yulian.


Yulian ikut masuk ke dalam rumah dan segera menuju ke kamar untuk menyusul Khadijah yang masih merajuk. Yulian mengatasi masalah itu dengan rasa sabar yang selalu ditanamkan oleh Yulian dalam dirinya. Dan kali ini ia harus berjuang lebih keras lagi agar hati Khadijah luluh lalu membuka hati untuk mencintai.


Terlihat Khadijah tengah memandang pemandangan di luar dari balik jendela kaca yang berada di kamarnya. Yukian yang melihatnya pun seketika menghampiri lalu mengudarakan suaranya.


”Hubby minta maaf jika sudah membuat Ira kecewa. Tapi hal ini tidak pernah terduga sebelumnya ... karena Hubby tidak pernah berniat untuk menjadi lelaki yang suka ingkar janji ... dan pertemuan tadi sungguh tidak direncanakan sama sekali.”


Khadijah masih terdiam seraya memandangi pemandangan yang berada di luar ruangan.

__ADS_1


”Tidak apa-apa jika, Ira tidak mempercayai apa yang sudah dikatakan Hubby dengan segala kejujuran yang ada.” Yulian mengusap lembut kepala Khadijah, lalu mencium kening Khadijah.


”Bukan Ira tidak Mempercayai apa yang dikatakan Hubby. Tapi ... Ira hanya merasa wanita yang tidak pernah tahu malu dan kurang pandai dalam bersyukur. Seharusnya Ira memiliki rasa syukur yang cukup, karena sudah menjadi istri dari seorang suami seperti Hubby. Dan seharusnya Ira juga tidak boleh mengharapkan sesuatu hal yang lebih.”


Yulian merasa hatinya perih saat mendengar ungkapan hati Khadijah. Dan untuk mengobati rasa perih itu Yulian menatap lekat sepasang mata kebiruan itu. Bahkan tatapan keduanya saling mengunci satu sama lain. Sehingga tercipta suasana hening, tetapi hanya sejenak saja karena Yulian mengudarakan suaranya untuk membuat Khadijah tidak memiliki pemikiran bahwa dirinya adalah lelaki yang ingkar akan janjinya.


”Ira, tidak baik jika kamu memiliki pemikiran seperti itu. Apalagi saat ini Hubby sudah menjadi suami SAH kamu, jadi tidak baik jika istri berkata sedemikian rupa.”


”Jika kamu ingin mendapatkan pembuktian cinta dari ku, maka aku akan melakukan apa yang seharusnya aku berikan. Apa kamu sudah siap melakukannya sekarang juga?”


”Dan Hubby tidak ingin menjadi lelaki yang munafik, jika pada kenyataannya Hubby menginginkan HAK Hubby sebagai suamimu, apa kamu akan memberikannya?”


Yulian tidak bisa lagi mengatur desiran yang sudah menjalar keseluruh tubuhnya. Hasrat yang terpendam telah meraung-raung ingin segera dipuaskan. Benteng pertahanan Yulian seakan ingin diruntuhkan begitu saja. Namun, ia segera mengendalikan sepenuhnya hasrat yang membuncah dada saat melihat Khadijah hanya diam termangu.


’Kamu benar, aku belum memberikan kewajibanku sepenuhnya sebagai istri. Tapi itu aku lakukan karena aku butuh waktu untuk menanamkan cinta tanpa ada rasa bersalah terhadap Aisyah.’ batin Khadijah.


Menitihlah air mata yang dibendung sedari tadi. Khadijah tidak tahu lagi ingin mencurahkan segala penat kepada siapa. Hanya Allah lah Tuhan yang mampu mengatur takdir yang lebih indah. Sehingga Khadijah mengadu kepada-Nya dalam sujudnya.


--------


”Aku bisa jelaskan semuanya, jadi ... dengarkan dulu penjelasanku ini, Arumi.”


”Aku akan dengarkan, katakanlah segera!”


Tristan menceritakan semuanya kepada Arumi siapa Jennifer. Wanita yang ingin menarik perhatian Yulian setelah merasakan benih-benih cinta telah tumbuh di dalam hatinya. Namun, Jennifer tidak tahu siapa Yulian. Di mana Yulian adalah lelaki yang sangat menjaga perasaan wanitanya, Khadijah yang kini menjadi istrinya.

__ADS_1


”Benar-benar wanita itu, ganjen sekali sih. Memangnya nggak lihat tampang apa? Wajah sok cantik, pakaian terbuka gitu ... terus mana ada lelaki yang menginginkannya.” Celoteh Arumi sambil memanyunkan bibirnya.


Seketika Arumi terdiam saat bibir Tristan menempel di bibir Arumi yang masih tertutup dengan cadar. Namun, ciuman itu mampu dirasakan oleh Arumi. Nikmat, itu sudah pasti, iya kan?


”Dan yang aku takutkan sekarang ... bagaimana nasib Yulian. Kita tidak tahu seperti apa Khadijah, apakah Dia mampu menjaga rasa cemburunya ... seperti Aisyah?”


”Entahlah! Semoga saja mereka tidak bertengkar hebat,”


--------


Waktu telah berlalu begitu cepat, hingga sore pun telah tiba. Yulian yang sedari tadi berada di ruang kerja kini berpindah ke kamar. Dan Yulian kembali bertemu dengan Khadijah yang tengah berganti baju. Karena Khadijah sore itu habis melakukan aktivitas di kamar mandi dan hendak menjalankan ibadah sholat ashar.


”Aaaa...”


”Kenapa berteriak, hmm? Apa ini memang sudah waktunya?” tanya Yulian menatap tajam Khadijah.


Yulian membuat Khadijah merasa terpojok saat sudah berada di sisi tembok dan tidak bisa berlari dari penjara Yulian. Yulian menajamkan tatapannya dan seakan mata elangnya siap untuk menerkam mangsanya kala itu juga. Tapi Yulian masih berada dalam kewarasan, sehingga ia hanya mencium kening Khadijah dan mengusap lembut puncak kepala nya.


”Aku masih dalam kewarasan ku. Aku akan menjaga benteng pertahanan yang kamu buat, tapi jika kamu masih meragukan cintaku ... maka, jangan salahkan aku jika aku merobohkan bentengmu itu, Humaira ku.” Khadijah merasakan jantungnya telah berdegup begitu kencang.


Yulian meredam hasratnya di bawah kucuran air shower saat belum ada penawarnya. Dan dalam kucuran air shower itu Yulian tengah menggerutu pada dirinya sendiri.


’Mengapa sesulit ini untuk meluluhkan hatinya? Apa benar tidak ada cinta untuk ku di sana? Apa aku harus berjuang lebih keras lagi?’


Yulia terus menikmati kucuran air shower yang membasahi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2