Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 23


__ADS_3

”Aku tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan hati kamu, Khadijah.” Teriak Yulian yang memekik telinga Khadijah.


Seketika derap langkah kaki Khadijah terhenti setelah mendengar suara Yulian yang seolah mengaharapkan cinta. Lalu, Khadijah berbalik menatap Yulian yang saat itu tengah menatapnya. Sehingga tatapan di antara mereka mengunci satu sama lain.


’Apa benat kamu menginginkan cinta itu, Yulian? Mustahil rasanya jika ... kamu melupakan rasa cintamu kepada Aisyah begitu saja.’ batin Khadijah.


’Khadijah, mungkin ... memang belum bisa aku melupakan perasaanku terhadap Aisyah begitu saja, tapi aku akan mencoba untuk membuka hati dan mencintaimu.’ batin Yulian.


Di bawah langit yang mendung ada dua insan yang tengah baradu pandang, mengutarakan isi hati dalam sebuah isyarat. Hati yang terpaut seakan memberikan intruksi untuk saling menyatu. Namun diri yang masih memiliki sifat ego telah menguasai keduanya.


Awan hitam mulai mengepul di atas sana, seolah mengundang gerimis untuk hadir dan membasahi kota Edinburgh di sore itu. Air hujan perlahan turun dengan derasnya, tetapi Yulian masih setia berdiri mematung menatap Khadijah yang kini hilang dalam pandangannya.


’Yulian, kamu harus bertahan disini menanti cintanya. Seperti apa yang pernah dikatakan Kyai Hasyim. Anggap saja ini adalah awal mula untuk memulai cinta.’ Ujar Yulian dalam hati.


Ribuan air hujan telah berhasil membasahi tubuh Yulian. Lima belas menit sudah Yulian berada di bawah kucuran air hujan, sehingga rasa dingin telah menerpa tubuhnya. Namun, rasa itu tidak dihiraukan olehnya, karena atas dasar pengorbanan ia melakukan hal itu untuk Khadijah.


--------


Dibalik jendela ada Khadijah sedang melihat Yulian yang masih berdiri di bawah derasnya air hujan. Rasa khawatir dan gelisah telah beradu menjadi satu, membuat Khadijah hanya berjalan mondar-mandir saja di dalam sana. Dan pikiran nya pun dipenuhi tentang Yulian, pelupuk matanya ada bayangan Yulian yang menari-nari di sana.


”Kalau kamu merasa khawatir, maka kamu harus datangi Dia.” Khadijah seketika menatap Rahma.


”Buat apa juga aku mendatangi Dia? Biarkan saja,”


”Jangan sungut begitu, Khadijah. Binar matamu mengatakan bahwa ada cinta di sana. Cinta untuk lelaki itu. Lihatlah! Apa kamu yakin jika kamu tidak mengkhawatirkan Dia yang kehujanan seperti itu?”

__ADS_1


”Aku ... aku tidak mencintainya, Rahma. Dan Dia pun juga tidak mencintaiku, hanya satu wanita yang dicintainya, Aisyah.” Khadijah bergetar saat mengatakan kenyataan yang pernah diketahuinya.


”Tapi Aisyah sudah meninggal, Khadijah. Siapa tahu Dia ingin membuka hatinya dan mencintaimu. Tidak ada salahnya kamu menemuinya. Ikutilah kata hatimu, Khadijah.” Khadijah menunduk, memikirkan kerisauan yang ada dalam hatinya.


Tubuh Yulian sudah mulai menggigil, merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang rusuknya. Pandangannya pun mengabur, hingga ia tidak mampu menangkap wajah Khadijah yang hadir menemuinya. Dan perlahan tubuh Yulian limbung, jatuh ke bawah. Khadijah yang melihatnya pun merasakan khawatir yang luar biasa. Namun, tidak ada yang mampu dimintai tolong untuk membantu mengangkat tubuh Yulian. Karena hujan yang begitu deras membuat semua orang bermalas-malasan untuk melakukan aktivitas di luar sana. Sedangkan Abdullah, ia memilih untuk berlindung di dalam mobil. Sehingga tidak tahu apa yang terjadi di luar sana dengan Yulian.


”Yulian, bangun!”


Suara Khadijah bergetar, tetapi ia tidak bisa melakukan apapun. Rasa khawatir begitu membuncah dada, membuat Khadijah tidak memiliki pilihan lain selain memapah Yulian untuk masuk ke rumahnya. Jelas terlihat begitu susah bagi Khadijah, karena tubuh Yulian lebih tinggi daripada Dia.


”Rahma...”


”Rahma...”


Beberapa kali Khadijah berteriak memanggil nama Rahma yang berada di dapur. Dengan segala rasa yang membuncah dada Khadijah harus melakukan sesuatu hal untuk membantu Yulian tersadar dari pingsannya.


”Kamu harus membuka bajunya dulu, Khadijah. Jika tidak, demamnya tidak akan turun dan Dia tetap merasa kedinginan. Bisa-bisa kamu malah menambah rasa sakitnya karena masuk angin.” Bola mata Khadijah seketika terbelalak, membulat dengan sempurna.


”Tidak mungkin, Rahma. Jangan mangada-ngada kamu! Kamu kan tahu, kita itu bukan makhram.”


”Tapi ini darurat, Khadijah. Siapa yang akan membantu kita? Lihatlah! Di luar sana masih hujan begitu deras.”


”Aku tahu, tapi...”


”Tapi apa lagi?”

__ADS_1


”Mau ganti pakai baju apa? Aku cuma punya baju gamis semua, masa iya aku gantikan dengan baju gamis.”


Tawa Rahma pun pecah mengingat bahwa tidak ada pakaian untuk laki-laki. Karena mereka hanya memiliki baju gamis saja, mengingat mereka terlalu memperdulikan aurat. Sehingga tidak ada pakaian lain selain itu. Tapi tidak mungkin juga jika, Yulian harus berganti pakaian dengan baju gamis. Bukankah... itu terlihat begitu lucu?


Setelah terjebak akan situasi yang menegangkan, akhirnya masalah itupun dapat diselesaikan. Sehingga Khadijah bernafas lega, kini demam Yulian pun sudah mulai menurun. Namun, Yulian masih tak kunjung sadar. Dan Khadijah selalu setia menunggu di sisinya, sesekali Khadijah juga mengganti kompres Yulian yang sudah mulai dingin.


”Aku sudah menghubungi Arjuna dan Ahtar. Mungkin ... sebentar lagi akan datang kesini dengan dokter kami.” Khadijah mengangguk, mengiyakan perkataan Abdullah.


Ya... saat hujan deras yang mengguyur kota Edinburgh sore itu, Khadijah harus terpaksa keluar dan menuju ke mobil Yulian yang terparkir di seberang jalan untuk menemui Abdullah. Khadijah pun menjelaskan apa yang terjadi dengan Yulian. Dan dengan sergap Abdullah membantu Yulian untuk mengganti pakaian yang basah dengan pakaian yang dibawanya.


Beberapa jam kemudian Ahtar pun datang dengan seorang lelaki yang mengenakan seragamnya lengkap, dengan stestoskop yang melingkar di lehernya. Lalu, dokter itu memeriksa keadaan Yulian yang masih belum sadarkan diri juga.


”Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Pak Yulian. Hanya terlalu lelah dan guyuran air hujan yang deras telah membuat kekebalan tubuhnya melemah, itu saja.”


”Baik, Dok. Terima kasih.”


Ahtar mengantar Dokter kembali ke rumah sakit, sedangkan Abdullah masih menunggu Yulian sadarkan diri. Dan Khadijah membawa dua cangkir kopi hangat untuk diberikan kepada Abdullah dan Ahtar. Namun ia tidak tahu jika Ahtar tidak akan kembali ke sana, karena malam itu Ahtar akan melakukan penerbangan dan kembali ke Korea.


”Ternyata ... semuanya sudah berubah. Ahtar sudah tumbuh dewasa, bahkan sebentar lagi akan menjadi dokter.”


”Kamu benar, semua sudah berubah. Begitupun dengan Yulian, karena Dia ingin membuka hatinya untuk menanamkan cinta dari wanita lain. Dan wanita itu ... kamu Khadijah.” Sontak Khadijah terkejut.


Suasana terasa begitu hening, hanya kucuran air hujan yang masih mampu terdengar di luar sana. Khadijah pun hanya terdiam dalam kebisuan. Karena ia tengah memikirkan apa yang memenuhi otaknya, yaitu perasaan Yulian seperti apa yang dikatakan Abdullah kepadanya.


’Aku ... merasa takut jika aku sudah jatuh hati padamu, tapi rasa itu tidak terbalas dengan sempurna.’ batin Khadijah.

__ADS_1


Khadijah sejenak menatap wajah Yulian yah masih terpejam. Namun perlahan kedua matanya mengerjap pelan, lalu terbuka dengan sempurna. Namun, Yulian belum tersadar dengan sempurna.


__ADS_2