
Deg...
Yulian terdiam, ia mencoba mencerna kembali pertanyaan yang dilontarkan Hafizha. Dan setelah memahami arti pertanyaan itu, Yulian segera mengalihkan apapun yang ada di dalam pikiran Hafizha saat itu tentang kehidupannya.
“Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu, Hafizha? Kamu kan, tahu sendiri dari kecil kamu Abi yang merawat. Bagaimana bisa kamu bukan anak kandung Abi, hmm?”
“Jangan bohong Abi. Hafizha memang dari kecil bersama Abi, tapi Abi tidak pernah sekalipun menceritakan masa itu. Masa di mana Abi ataupun Umi menggendong Hafizha, memberi asi dan sebagainya.”
“Dan kenapa... saat pertama kali Hafizha bertemu dengan Bunda Khadijah, Hafizha merasakan ada yang berbeda. Dulu memang Hafizha masih kecil, jauh sebelum Bunda dan Abi menikah. Tapi Hafizha bisa merasakan kenyamanan saat berada di dekatnya dan merasa sedih saat melihat kepergiannya meninggalkan rumah ini.”
Amarah Hafizha sudah mulai tersulut, rasa tidak terima pun selalu membuatnya melontarkan pertanyaan yang mencubit dan menohok untuk Yulian. Dan setiap derai air mata yang mengalir dengan derasnya membuat Yupian tidak bisa menatap Hafizha, ingin Yulian mendekat dan mendekap tubuh Hafizha yang sudah bergetar hebat untuk memberikan pelukan sebagai penenang.
Namun, saat Yulian mencoba untuk melangkah dan mendekat tetapi Hafizha justru semakin mundur.
“Jangan dekati, Hafizha! Dan Hafizha hanya perlu jawaban Abi yang sejujurnya,”
Tes...
Air mata kembali menetes saat Yulian tak kunjung mengudarakan suaranya.
“Hafizha,” panggil Yulian dengan suara lirih.
“Ayo! Abi. Jawab pertanyaan Hafizha sekarang!” teriak Hafizha.
Suara Hafizha begitu memekakkan telinga, membuat Cahaya, Ahtar, bik Inem dan juga Khadijah mendengar suaranya. Bahkan seketika mereka menuju ke ruang keluarga, kecuali Khadijah. Karena ia tidak bisa berjalan, hingga hanya menajamkan pendengarannya dan memastikan ada apa.
“Hafizha, rendahkan suaramu saat berbicara dengan Abi. Ingat! Yang ada di depan kamu itu Abi... orang tua kita yang patut untuk kita hargai.” Ahtar mendekati Hafizha dan meminta Hafizha untuk tenang.
“Bang, jika saja Abi menjawab pertanyaan Hafizha dengan jujur... Hafizha juga tidak akan berteriak dengan tidak sopan,” cecar Hafizha.
Yulian menghela nafas beratnya, ia tidak mau jika kedua anaknya itu akan berdebat dan beradu mulut hingga menyulut api kemarahan dari dalam diri masing-masing. Dan akhirnya, Yulian pun meminta Hafizha untuk duduk di sofa saat ia ingin menjawab pertanyaan Hafizha.
“Duduklah! Abi akan menceritakan semuanya dengan sejelas-jelasnya.” Yulian memberanikan diri untuk menatap mata sendu Hafizha yang sudah lembab karena air mata.
Hafizha pun menurut, ia mengambil duduk dan di samping kanannya ada Cayaha sedangkan samping kirinya ada Ahtar. Bik Inem yang merasa tidak ingin mendengar masalah pribadi majikannya, pergi kembali ke dapur untuk melanjutkan tugasnya di sana.
“Pertama... Memang benar adanya jika kamu bukanlah putri kandung Abi dengan Umi mu. Dan Abi yakin, Alex yang menemui mu di sekolah tadi sudah menceritakan akan hal itu kepadamu.”
__ADS_1
Deg...
Bagaikan disambar petir yang amat besar dan menakutkan. Bagaikan batu besar tengah menghantam Hafizha dengan sekuat mungkin. Air mata pun semakin deras membasahi pipi Hafizha.
“Jadi... benar jika, Hafizha adalah anak... haram?” tanya Hafizha.
Tes...
Kini air mata Yulian yang luruh, hatinya tercubit dengan ucapan Hafizha sebagai anak haram. Karena bukan itu yang Yulian maksud dalam ucapannya.
“Kenapa Abi diam lagi? Hafizha ingin tahu siapa Hafizha sebenarnya, jadi... mohon dengan sangat berikan jawaban kepada Hafizha.” Bahu Hafizha bergetar hebat, ia pun menangis dalam pelukan Cahaya.
Kembali Yulian menghela nafas panjang yang amat terasa berat dan juga membuat dadanya merasa begitu sesak. Sudah lama sekali Yupian mengubur dan menutupnya dengan begitu rapat, tetapi yang namanya kebenaran pasti akan terungkap.
“Kamu... bagi Abi bukanlah anak haram, jadi... jangan pernah bertanya apapun tentang bagaimana kehidupan kamu di masa lalu sayang.” Yulian menyeka air matanya, perlahan mendekati Hafizha yang masih duduk di samping Cahaya.
Ketika tangan Yulian ingin meraih Hafizha dan merengkuh nya dalam dekapan, tangan Yulian pun ditampik. Bahkan amarah dalam diri Hafizha semakin tidak terkendali, terus melontarkan pertanyaan dan Hafizha terus berprasangka buruk di masa lalu tentang Khadijah dan juga Alex.
“Buk...”
Saat keadaan masih riuh dan kacau tiba-tiba mereka mendengar suara seperti benda jatuh yang berasal dari kamar Khadijah. Seketika semua mulai panik, bahkan mereka berlari kecil menuju kesana untuk memastikan apa yang terjadi.
“Bunda,” pekik Cahaya dan Ahtar bersamaan.
Terlihat Khadijah sudah tergeletak di lantai, ia jatuh dari atas kasur ketika mencoba untuk turun dari ranjangnya itu. Seketika Yulian dan Ahtar membantu Khadijah untuk kembali lagi merebahkan di atas kasur. Namun, Khadijah menolak akan hal itu.
Di atas kursi rodanya Khadijah mencoba untuk mendekati Hafizha yang masih diam di ruang keluarga sendirian. Yulian pun hanya bisa menatap Khadijah yang terus mendorong kursi rodanya itu dengan kegigihan yang ingin menjelaskan kepada Hafizha. Dan Khadijah berpikir jika ia ingin memberikan ruang untuk Khadijah bersama Hafizha.
“Kita cukup lihat dari sini saja. Biarkan mereka bicara secara empat mata, karena itulah yang dibutuhkan mereka saat ini.” Yulian mencegah Ahtar yang hendak ke ruang keluarga.
“Tapi... Bagaimana kalau nanti Hafizha marah sama Bunda, Abi?”
“Tetap saja kita lihat dari sini, jika nanti Hafizha melakukan hal bodoh maka... kita kesana.” Pandangan Yulian menajam, melihat bagaimana Hafizha akan bersikap kepada Khadijah.
Khadijah pun mencoba untuk menyapa Hafizha, mencoba meraih tangan Hafizha yang sudah berdiri setelah tahu Khadijah berada di belakangnya.
“Maafkan Bunda, Hafizha! Mungkin ini memang kesalahan Bunda yang tidak bisa menjaga diri Bunda dengan baik,”
__ADS_1
“Dan lahirnya Hafizha adalah sebuah kesalahan Bunda, begitu kan?”
“Hafizha sekarang tidak tahu harus berbuat apa Bun. Hafizha akan malu bertemu dengan teman-teman Hafizha jika mereka tahu bahwa Hafizha adalah anak haram dari kesalahan yang sudah diperbuat Bunda di masa lalu.”
“Belum lagi jika mereka semua tahu Ayah kandung Hafizha sebenarnya... Kakek Hafizha sendiri,” teriak Hafizha dengan kemarahan yang memuncak.
Tangis Hafizha semakin menjadi, hatinya merasa begitu hancur. Jelas kenyataan itu tidak diterima oleh nya, karena dari kecil ia hanya melihat kasih cinta yang diberikan Yulian saja tanpa tahu siapa ibu yang melahirkannya.
“Maafkan, Bunda! Kamu boleh marah sama Bunda, tapi Bunda mohon... jangan marah sama Abi mu,”
Hafizha menatap tajam Khadijah yang duduk di kursi roda, binar mata Hafizha mengartikan sebuah kebencian yang mendalam. Dan tatapan itu menusuk Khadijah hingga relung jiwanya.
Khadijah berusaha mendekati Hafizha lagi, mencoba meraih tangannya dan menggenggam untuk selalu bersama. Namun, lagi-lagi Hafizha menjauh bahkan menepis tangan Khadijah sekuat tenanganya dan membuat Khadijah terjatuh.
“Hafizha,” teriak Yulian.
Yulian, Ahtar dan Cahaya yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka seketika berteriak ketika melihat Khadijah terjatuh dan tersungkur di lantai.
Yulian menatap Hafizha dengan tatapan yang amat tajam. Dan dua mata itu saling beradu, menelisik diri masing-masing. Yulian mengelakkan erat tangannya, merasa geram dengan tingkah Hafizha yang sudah keterlaluan.
”Apa Abi? Hafizha salah apa? Lihat! Dia adalah wanita yang sudah membuang Hafizha dari bayi. Dan Hafizha sendiri tidak tahu apa selama ini Dia mencari keberadaan Hafizha,”
Tes...
Api kemarahan yang berkobar di hati Hafizha seolah sulit untuk dipadamkan. Dan Hafizha merasa jengah dengan kebohongan yang selama ini ditutup rapat oleh Yulian. Bahkan Hafizha enggan menatap mata Yulian dan Khadijah. Hingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.
“Hafizha,” teriak Yulian.
Rasa khawatir semakin mengeruak ke dasar sanubari saat Yulian melihat Hafizha berlari hingga keluar gerbang. Ahtar dan Yulian seketika menyusul keluar, tetapi saat berada di luar gerbang Yulian dan Ahtar kehilangan jejak Hafizha.
“Di mana kamu, nak? Mengapa semua ini harus terjadi malam ini, Ya Allah?”
“Lebih baik sekarang Abi masuk dan tenangkan Bunda. Ahtar akan mencoba mencari keberadaan Hafizha dengan mengendarai motor.” Ahtar merogoh kunci motornya di dalam saku.
Yulian mengangguk, lalu ia kembali masuk menemui Cahaya yang sedang menemani Khadijah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Motor telah dilajukan dengan kecepatan amat pelan untuk menemukan keberadaan Hafizha saat menelusuri setiap ruas jalan di perumahan elit. Namun, Ahtar masih belum menemukan keberadaan Hafizha meskipun setiap jalanan kota di Edinburgh terlihat sepi pada pukul 21.00.
Bersambung....