
Hening...
'Sebenarnya aku ingin tinggal disini lebih lama, tapi ... tak akan pernah mungkin dan tak akan pernah bisa terjadi.' Batin Khaira.
Khaira terus menundukkan pandangannya seraya menggenggam erat ujung jilbabnya yang memang lebar. Rasa canggung pun telah dirasakannya, ingin menangis, tetapi tertahan. Hingga rasa sesak di dada yang mengguncahnya.
”Accalamu'alaikum, Abi...”
Teriak Hafizha yang memecahkan keheningan dan rasa canggung antara Yulian dengan Khaira. Dan setelah kesadaran Yulian kembali ia dengan sigap melentangkan kedua tangannya untuk menyambut Hafizha. Lalu, Yulian merengkuh Hafizha dalam pelukan hangatnya. Yang mampu memberikan kenyamanan dalam setiap hal.
”Waw ... lacanya enak ini, Bi!” ucap Hafizha saat menatap meja makan yang sudah dihiasi dengan berbagai hidangan.
”Izha sudah lapar, ya?”
Khaira bertanya kepada Hafizha walaupun itu hanya sekedar basa-basi saja, semata hanya ingin menghilangkan rasa canggung yang melandanya dan dijawab dengan anggukan semangat oleh Hafizha. Dan tidak lama kemudian disusul oleh bik Inem serta Abdullah yang ikut hadir untuk sarapan bersama. Lalu, acara sarapan pagi pun telah dilaksanakan dengan penuh khidmat.
----------
Khaira sudah siap untuk segera pergi dari rumah Yulian. Semua baju yang semula dibawanya telah dimasukkan kembali ke dalam koper kecil miliknya. Lalu, Khaira keluar dari kamar tamu dan mencari keberadaan Yulian untuk kembali berpamitan dengannya. Karena bagaimana pun seseorang yang bertamu wajib untuk berpamitan sebelum pergi.
”Assalamu'alaikum,”
Khaira telah menemukan keberadaan Yulian yang tengah merajuk dengan laptop yang ada dihadapannya saat berada di ruang keluarga. Lalu, Khaira mengucapkan salam dengan sopan untuk menyapa Yulian. Dan seketika itu pula Yulian menoleh ke sisi kanan, di mana Khaira tengah berdiri seraya menundukkan pandangannya. Karena melihat Khaira membawa koper Yulian segera menghentikan aktivitasnya.
”Wa'alaikumsalam. Khaira?” tanya Yulian untuk memastikan dengan apa yang dilihatnya.
”Maafkan saya, saya harus pergi sekarang. Karena ... ini bukan rumah saya. Lagi pula ... saya sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru.”
”Aku tahu, ini memang bukan rumah kamu. Dan aku juga tahu, mungkin ada rasa tak enak hati bagimu, Khaira. Begitupun denganku, aku tidak memiliki hak apapun untuk melarangmu ingin pergi dari sini dan ... aku pun juga tidak berhak untuk memintamu tetap tinggal.”
__ADS_1
Hening...
Sejenak keheningan melanda di antara keduanya. Ada hati yang merasa sesak dari sebuah perpisahan, tetapi ego masing-masing tetap menguasai hati mereka. Sehingga mengeras dan beku ... tidak mudah meleleh begitu saja hanya dengan sebuah pertemuan singkat di antara keduanya.
-------
Arumi telah disibukkan dengan beberapa proses pemotretan gamis yang akan lounching beberapa hari lagi, termasuk dengan model yang akan memakai gamis tersebut. Karena model yang biasanya tidak bisa hadir untuk sesi pemotretan, sehingga membuat Arumi merasa pusing.
”Lebih baik aku sekarang pergi ke rumah Yulian, aku sudah mentok tidak memiliki ide siapa yang akan menjadi model pada gamis ini.”
Arumi bergerak menuju ke rumah Yulian dengan didampingi asistennya, karena ia tidak mau hanya berdua saja saat berada di rumah Yulian nanti. Jika itu terjadi makan akan menimbulkan sebuah fitnah yang besar dari para tetangga di sana. Karena kebanyakan tetangga Yulian menganut agama Yahudi, dan itu membuat Arumi tidak ingin merusak agama Islam di mata mereka semua.
”Luisa, bisakah kamu mempercepat laju mobilnya? Karena saya takut kita tidak bisa bertemu dengan Yulian.” Pinta Arumi kepada Luisa, asistennya.
”Baiklah, Bu.”
------
”Tok ... tok ... tok, assalamu'alaikum.”
Sesampai di kediaman Yulian tidak lupa bagi Arumi dan Luisa mengetuk pintu seraya mengucap salam. Karena itu adab seorang islam ketika bertamu di rumah siapapun. Meskipun itu sanak saudara terdekatnya sekalipun. Dan tidak lama kemudian bik Inah membuka pintu lalu, meminta Arumi dan Luisa untuk masuk ke dalam setelah Arumi bertanya tentang keberadaan Yulian.
-------
”Baiklah. Sebelumnya maafkan saya jika, saya sudah banyak merepotkan Anda. Dan maaf, saya tidak terbiasa memanggil nama Anda secara langsung. Saya permisi! Assalamu'alaikum,”
Khaira memembalikkan tubuhnya lalu melangkah secara perlahan menuju pintu utama rumah itu. Tetapi, saat melewati foto Aisyah berada langkah itu pun terhenti. Sejenak Khaira memandang foto itu lagi sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan rumah mewah milik Yulian.
”Maafkan aku Aisyah, aku harus pergi lagi. Tapi ... kamu tidak perlu khawatir, aku akan mendoakan kamu dalam setiap penghujung sujudku.” Dari balik cadar nya, Khaira menarik kedua ujung bibirnya dengan sempurna.
__ADS_1
Langkah kembali dilanjutkan, sedangkan Yulian masih enggan untuk mengejar Khaira yang semakin jauh dari pandangannya. Namun, tidak lama kemudian Yulian melangkahkan kakinya setelah ia tahu ada Arumi dan Luisa yang menunggunya di ruang tamu.
”Assalamu'alaikum, Arumi-Luisa. Ada apa kalian kemari?” tanya Yulian to the point.
”Wa'alaikumsalam, Yulian. Kami datang kesini ingin meminta pendapat kamu tentang model gamis yang sebentar lagi akan diadakan sesi pemotretan. Karena ... model yang biasanya tidak bisa hadir.” Terang Arumi tanpa basa-basi.
Hening...
Yulian tampak berpikir siapa yang akan dijadikannya dalam hal itu. Sedangkan ia sendiri tidak mengenal siapa yang cocok untuk menjadi model seperti apa yang dijelaskan oleh Atumi kepadanya. Karena jelas, Yulian tidak pernah dekat dengan seorang wanita setelah kepergian Aisyah, selain Arumi itu sendiri.
”E ... aku ... justru tidak tahu siapa yang pas untuk dijadikan model,” celetuk Yulian dengan cengiran.
Setelah mendengar jawaban Yulian, Arumi dan Luisa seketika menepuk jidatnya dengan pelan seraya mengucap istighfar. Dan kembali mereka dibuat buntu oleh Yulian, karena percuma saja melapor kepada Yulian. Yulian tidak akan bisa membantu mereka dalam sesi pemotretan.
--------
”Umii...”
Langkah Khaira tiba-tiba terhenti setelah mendengar teriakan Hafizha yang memanggilnya. Namun, Khaira tidak mampu memberanikan dirinya untuk berbalik dan menatap wajah mungil Hafizha.
”Deg...”
”Mungkinkah ... Hafizha memanggilku? Akh ... aku rasa tidak. Mungkin itu hanya...” batin Khaira.
Tangan mungil Hafizha yang merengkuh jemari Khaira telah membuyarkan lamunannya. Lalu, Khaira segera membalikkan tubuhnya untuk bertemu pandang dengan Hafizha. Hati Khaira begitu menyeruak saat tatapan mereka bertemu. Perlahan air bening keluar dari sepasang mata Hafizha.
”Umi jangan pelgi ya!” rengek Hafizha.
Khaira hanya terdiam menatap Hafizha yang menangis pilu. Begitupun dengan hati Khaira yang merasakan kepiluan. Tapi ... ia tetap harus pergi meninggalkan rumah itu untuk selamanya. Bahkan Khaira berdoa kepada Tuhan untuk tidak dipertemukan kembali dengan Yulian ataupun keluarganya. Hanya nama Aisyah yang masih tersimpan di dalam hati, bayangan Aisyah pun masih melekat di dalam pelupuk matanya.
__ADS_1