
Yulian dan Tristan merasa terancam ketika melihat tatapan istri mereka dengan tatapan tajam. Namun, Yulian dan Tristan berusaha bersikap sewajarnya saja. Merayu dan memberikan perhatian kecil sesampai di rumah sakit. Akan tetapi, sikap Yulian dan Tristan telah diabaikan oleh Khadijah dan Arumi. Dan hal itu membuat Yulian dan Tristan bertanya dalam. hati masing-masing tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Arumi dan Khadijah, mereka berdua berpura-pura dan seolah tidak tahu apa yang dilakukan oleh suami mereka saat berada di mall.
”Kenapa merajuk, hmm? Marah kenapa, katakanlah!”
”Tadinya aku hanya ingin menjadi istri yang selalu memiliki pemikiran po... si...tif... dan tidak posesif terhadap suami. Tapi kenapa Hubby ganjen bangat sama kasir di mall tadi?”
Khadijah benar-benar merajuk, dan sesampai di rumah Khadijah mengungkapkan apa yang menjadi alasannya merajuk. Yulian pun seketika merasa terkejut dengan alasan Khadijah.
’Bagaimana Khadijah bisa tahu kalau aku di mall tadi? Apa Dia juga tahu kalau aku ... beli baju itu untuknya?' Yulian bertanya-tanya dalam hati.
Dengan segera Yulian memberikan Khadijah perhatian untuk membujuk rayu agar tidak merajuk lagi kepadanya. Karena malam itu Yulian ingin melakukannya lagi, seperti malam yang membuat candu saat hasrat tak mampu ditahan.
”Khadijah, memangnya apa yang kamu lihat saat di mall tadi? Ganjen? Tidak mungkin aku melakukan hal itu dengan perempuan selain kamu. Bukankah aku katakan jika kamu tidak percaya padaku, maka aku akan menunjukkan cinta yang seutuhnya kepadamu.”
Kali ini fixs, Yulian modus sama Khadijah. Bilang saja mau itu lagi.
”Lalu apa tadi, ketawa ketiwi sama kasir yang aduhai gitu? Memangnya beli apa juga di mall?”
’Yulian, kenapa kamu tidak menyadari kalau mata Khadijah benar-benar tajam, setajam silet. Masa iya kalau aku menunjukkan baju itu di hadapannya sebagai pembuktian. Tapi ... bagaimana kalau semakin marah nanti?’ batin Yulian.
Yulian gelisah karena tidak bisa meluluhkan hati Khadijah yang tengah merajuk karena kobaran api cemburu yang menyeruak. Namun, satu hal yang terpikir dalam otak Yulian agar Khadijah tidak merajuk lagi.
”Mau ajak kemana? Kenapa juga ditarik-tarik seperti ini? Sakit tau,”
Yulian menarik lengan Khadijah dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Dan Yulian tidak lupa mengunci pintunya, dengan segera Yulian menyalakan shower dan dibawah kucuran air dingin Yulian dan Khadijah membasahi tubuh mereka. Bahkan Yulian mengunci mata Khadijah dan membuat Khadijah terpenjara dalam tekanan tangan Yulian.
__ADS_1
”Kita lakukan semuanya bersama-sama agar kamu yakin dan percaya, bahwa hanya kamu yang menjadi wanitaku satu-satunya.”
Khadijah tidak bergeming, tetapi jantungnya benar-benar merasakan degupan yang begitu kencang. Ada desiran hebat yang menjalar ke semua tubuhnya saat Yulian memberanikan diri untuk memberikan kecupan lembut di bibir Khadijah. Dan cadar Khadijah yang sudah tidak menutupi wajahnya membuat Yulian semakin leluasa untuk memberikan kecupan di bibirnya.
’Tuhan, aku ... khilaf.’ batin Yulian.
’Sungguh, serangannya tidak pernah aku duga. Dan ini benar-benar membuatku merasa ketagihan. Tuhanku ... maaf jika aku tidak bisa menolaknya.’ batin Khadijah.
Khadijah dan Yulian menikmati akan hal indah yang dipenuhi dengan kelembutan. Dan tanpa sadar mereka sudah dua jam berada di dalam sana dengan air dingin yang masih mengucuri tubuh mereka sampai benar-benar merasa basah. Bahkan saking lamanya membuat mereka terserang penyakit yang menular, yaitu flu.
”Huacih...”
”Huacih...”
Beberapa kali keduanya bersin-bersin karena flu tengah melanda. Namun, rasa itu tidak dihiraukan oleh mereka, hanya minum obat flu ringan saja sebelum berangkat ke rumah sakit. Namun, setiba di rumah sakit mereka terus saja bersin-bersin secara bergantian. Dan hal itu membuat Arjuna, Cahaya, Arumi serta Tristan terus memandangi mereka secara bergantian.
”Iya, maafkan kami.” timpal Khadijah membenarkan.
”Sudah terlihat jelas kalau kalian lagi flu. Tapi kami heran, sedangkan hujan saja tidak turun ... bagaimana bisa flu menyerang?”
Ehm, mereka tidak tahu saja kalau hujannya datang dari kucuran air dingin di kamar mandi. Wkwkwk...
Mendengar pertanyaan Tristan seketika Yulian dan Khadijah saling pandang. Ingin rasanya mereka tertawa, tapi tidak mungkin. Karena mereka tahu betul bagaimana flu itu bisa melanda mereka secara bersamaan. Kucuran air dingin dari shower membuat Yulian dan Khadijah merasakan sensasi yang luar biasa. Bahkan keduanya menikmati setiap belaian dan kecupan yang mereka lakukan bersama.
”E ... ya mana kami tahu, tiba-tiba saja flu menyerang kami. Kalau kalian merasa risih kami bisa pergi dari sini.”
__ADS_1
Seketika Khadijah memberikan cubitan di pinggang Yulian. Sehingga membuat Yulian merasakan sakit dan meraba pinggangnya.
”Kenapa dicubit sih?” protes Yulian.
”Habisnya ... Hubby bicaranya begitu sih. Masa iya tidak jagain Cahaya.”
”Kan, cuma bercanda saja.” Yulian mengelak.
”Tapi benar juga apa yang dikatakan Abi, Bunda. Lebih baik Abi dan Bunda pulang dan beristirahat saja. Nanti takutnya kalau disini malah tidak bisa beristirahat dan tidak bisa jagain Garda kalau sudah pulang nanti.” Tukas Arjuna.
Ingin rasanya Yulian jungkir balik dan salto saat itu juga setelah mendengar pembelaan dari Arjuna. Dan Yulian kembali berpikir untuk melanjutkan adegan tadi sore di atas ranjang setelah sampai di rumah. Namun, kenyataannya gagal total. Karena setiba di rumah Hafizha merajuk tidak mau tidur bersama bik Inem, dan hanya mau bersama Khadijah saja.
’Yah, ternyata rencanaku tidak sesuai dengan ekspetasi. Dan ini namanya ... belum beruntung.’ batin Yulian.
Yulian menatap sendu langit-langit di kamarnya. Meratapi kesendirian tanpa kehadiran Khadijah di sisinya. Ingin rasanya ia nangis guling-guling karena rencananya telah gagal. Bahkan baju yang sudah dibelinya belum sempat diberikan kepada Khadijah sebagai kejutan. Dan rencananya harus di undur lagi, entah kapan waktu yang tepat untuk melakukan hal romantis bersama Khadijah lagi. Bayangan tadi sore saat berada di kamar mandi terus menari-nari di pelupuk matanya. Hingga di jam berapa Yulian pun tertidur dengan sendirinya.
”Jam dua?”
Nada dering alarm yang berada di ponsel Yulian berbunyi tepat di jam dua malam. Sejenak Yulian menggeliat kan matanya, setelah kesadarannya cukup terpenuhi, segera ia beranjak dari tempat tidurnya. Lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan muka.
”Allahu akbar,”
Yulian mengucapkan takbir seusai membentangkan sajadah nya. Dengan khusu' Yulian melakukan sholat tahajud. Mengadu penuh cinta kepada Allah SWT atas segala rasa yang begitu membuncah dadanya.
”Ya Allah Ya Tuhanku ... aku tak ingin kehilangan wanita sholehah seperti Khadijah. Maka dari itu, perbesar rasa sabar ku dan perluas rasa syukurku di atas segalanya yang engkau berikan kepadaku. ” Do'a pun telah dilangit kan dan di aamiin kan oleh Yulian.
__ADS_1
Setelah melakukan sholat tahajud, Yulian memutuskan untuk merebahkan kembali tubuhnya dan memejamkan mata yang masih merasa kantuk.