Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 62


__ADS_3

Obrolan pun bergulir dengan tenang dan damai, tanpa adanya amarah yang tersimpan dari dalam diri Yulian terhadap William, walaupun Yulian tahu William sudah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Jika saja Khadijah tidak segera dilarija ke rumah sakit dan segera melakukan operasi caesar, maka bisa saja nyawa Khadijah dan Abizzar akan melayang saat itu juga.


“Itu bukannya ... Abi? Tapi ... dengan siapa itu?” gumam Ahtar.


Ahtar melihat Yulian yang masih berusaha meluluhkan hati William saat berada di taman rumah sakit. Karena merasa penasaran Ahtar pun menghampiri keberadaan Yulian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Saya minta maaf sudah membuat kesalahan yang amat besar terhadap Anda, Pak. Dan saya siap untuk dilaporkan ke polisi malam ini juga.”


“Saya rasa Abi saya tidak akan melaporkan kamu ke kantor polisi. Seperti apa yang sudah saya katakan tadi, cukup berkata jujur dan hanya Allah yang akan menghakimi perbuatan mu. Benarkan, Abi?”


Yulian mengangguk, akhirnya Ahtar mampu meluluhkan hati William dengan begitu mudah. Sedangkan sebesar apapun usahanya tadi tidak membuahkan hasil sama sekali. Dan kebijakan, kelembutan serta rasa sabar yang dimiliki Ahtar mampu membuat William mengatakan sejujurnya yang menjadi motif pencurian yang sudah dilakukan dengan rekannya beberapa hari lalu.


“Apa kamu ingin pulang? Jika iya, aku akan mengantarmu.” Tawar Ahtar.


“Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri. Sekali lagi saya mohon maaf ... dan saya juga tidak sengaja membuat istri Anda terluka.” William menundukkan pandangannya.


“Tidak perlu terlalu banyak minta maaf, kawan. Inilah takdir yang sudah digariskan Allah untuk semua umat-Nya. Dan yang perlu kamu lakukan cukup do'a kan Bunda serta adik saya. Kamu pun juga bebas bagaimana cara melakukan do'a mu. Karena aku tahu ... kamu Yahudi.” Ahtar mengulas senyum.


Cukup kita tahu wahai pembaca jelas sifat dan sikap Ahtar telah mewarisi sikap dan sifat Aisyah. Meskipun Yulian memiliki akan hal seperti itu, tapi lebih kenyataan dan kental jika Ahtar memiliki hati baik seperti Aisyah di kala dulu, hanya saja wajah Ahtar yang tampan rupawan mirip seperti Yulian.


Ahtar terus memaksa William untuk mengiyakan permintaannya yang ingin mengantar William pulang. Sehingga sekeras apapun William menolak, akan mengangguk juga. Sedangkan Yulian, ia kembali masuk ke dalam ruang ICU.


“Neng Khadijah, kapan kamu akan memberikan senyummu untuk Hubby mu lagi? Hubby mu ini sudah merindukanmu.”


Yulian merasa begitu sesak saat melihat Khadijah tak kunjung sadar pasca operasi caesar. Yulian kembali melangkah menuju ke ruang khusus bayi, karena ia ingin melihat bagaimana Abizzar saat malam itu.


Air mata menetes begitu saja, membasahi pipi Yulian yang kering. Rasa perih begitu menyatakan hatinya di kala tangisan Abizzar pecah dan memekik telinganya. Di usia kandungan tujuh bulan Abizzar memang harus segera dikeluarkan dari perut Khadijah, dan dilahirkan ke dunia adalah tujuan Abizzar selama ini bertahan di rahim Khadijah.


“Maafkan Abi, nak! Abi memang tidak becus menjagamu dan juga Bundamu. Kamu harus kuat berada di dalam ruangan itu untuk beberapa waktu sampai berat badanmu naik. Abi akan memberikan yang terbaik untuk kamu, Nak.” Ujar Yulian lirih.


Yulian menyeka air matanya yang masih tersisa. Ia sebagai seorang suami dan ayah harus kuat untuk menghadapi ujian yang diberikan Allah kepadanya. Untuk meredam segela pikiran yang terkecai Yulian mencari ketenangan dan tak ada tempat selain mushola untuk mengadu segala keluh kesah yang terpendam.


Yulian mengambil air wudhu untuk melakukan sholat malam. Dan dua rakaat pun telah ia lakukan dengan khusu', tak lupa pula melangitkan do'a untuk kesembuhan Khadijah dan putranya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


“Bisakah kita berteman, kawan? Kebetulan aku tidak memiliki teman di Edinburgh, karena semua temanku hanya ada di Korea, Jakarta dan Medan.” Ahtar nyengir.


“Emm... memangnya kamu mau berteman denganku? Bukannya kamu tahu aku seorang lelaki berandal, pencuri dan banyak hal buruk yang pernah aku lakukan.”


“Aku mau berteman dengan siapapun, meskipun aku tahu siapa kamu. Tapi ... aku hanya manusia biasa, dan setiap manusia tak pernah luput dari dosa serta kesalahan yang mungkin saja akan diulang lagi. Namun, Allah itu Maha Baik, akan memaafkan hamba-Nya yang benar-benar bertaubat.”


Ahtar menghentikan mobilnya setelah memasuki pelataran tanpa gerbang itu. Terlihat rumah yang sederhana tetapi layak untuk disinggahi. Tidak lama kemudian keluarlah seorang nenek dari dalam rumah itu.


“William, darimana kamu? Siapa Dia?” tanya Nenek Rosmiana.


“William ... dari rumah sakit, Nek. Dan ini teman William.”


Ahtar menyodorkan tangannya untuk mencium punggung tangan nenek Rosmiana. Dan nene Rosmiana meminta Ahtar untuk masuk ke dalam rumahnya yang begitu sederhana.


“Masuklah Ahtar, itupun jika kamu tidak merasa jijik dengan rumahku.”


Tidak mungkin jika Ahtar akan menolak permintaan William dan nenek Rosmiana. Dan Ahtar pun masuk mengekori William dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Alhamdulillah,” pekik semua orang.


“Perutku kenapa kosong, Hubby? Dimana anak kita?” tanya Khadijah setelah kesadarannya telah sempurna.


Mau tidak mau akhirnya Yulian menceritakan apanyang terjadi setelah kejadian yang menimpanya kala itu. Dan hal itu membuat Khadijah menangis, ia merasa goyah, hatinya hancur mendapati kelahiran putranya yang hanya dua kilo saat dilahirkan.


“Tapi Bunda tidak perlu khawatir, jika Bunda sudah pulih dan sudah memberikan ASI ekslusif untuk Abizzar maka ... berat badan Abizzar akan cepat bertambah.”


Khadijah mengangguk dengan pelan.


“Hubby, siapa namanya?” tanya Khadijah setelah merasa cukup tenang.


“Abizzar Cahya Atmajaya, itulah nama anak kita, Neng.”


”Nama yang bagus.” Khadijah mengangguk. “Kapan Bunda bisa melihatnya, Juna?”


Arjuna memberitahukan kepada Khadijah kapan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Abizzar. Di mana waktu pagi saat cahaya matahari mulai memancarkan cahayanya, siang dan juga malam sesudah adzan magrib. Waktu itulah yang pas juga untuk memberikan ASI ekslusif untuk Abizzar.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kenapa banyak sekali data pasien untuk hari ini?” gerutu Ahtar saat meneliti data pasien yang sudah masuk.


Dengan mengucapkan basmalah Ahtar memulai pekerjaannya dengan memeriksa pasien. Dan berakhir dengan kata alhamdulillah setelah sore tiba.


”Setelah dari sini aku mau langsung ke rumah sakit Bunda di rawat. Dari kemaren aku belum melihat keadaan Bunda.”


Ahtar merapikan meja ruangannya, lalu memasukkan beberapa data pasien ke dalam tasnya yang harus dipelajari tentang kasus penyakit jantung yang diderita pasien itu sendiri.


Ahtar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Namun tiba-tiba saja mobilnya disalip oleh seseorang yang tengah mengendarai motor CBR seribu cc. Bahkan pengendara itu kebut-kebutan di jalan dan juga meleyot-leyot saat mengendarai motor itu. Sehingga membuat Ahtar terkejut seketika.


“Astaghfirullah hal azim, Ya Allah ... jantungku mau copot saat motor itu hampir saja terlindas mobil di sampingnya. Untung saja pengendara itu dengan cepat menghindar, jika tidak ... dapat dipastikan akan hancur.”


“Lagian sih, mengendarai motor kok kayak jalan nenek moyangnya saja, sesuka hatinya.” gerutu Ahtar.


Mobil pun telah diparkir kan di tempat parkir yang sudah disediakan. Dengan langkah sedikit berlari Ahtar menuju ke ruang ICU.


“Maaf Pak, Bapak sedang mencari siapa ya?”


‘Bapak, apa tampang wajahku sudah tua? Bisa-bisanya dipanggil Bapak.’ batin Ahtar.


Ahtar mengikuti titah suster itu, akhirnya setelah menelusuri lorong rumah sakit ruangan Melati tiga dapat ia temukan juga. Ahtar segera mengucapkan salam setelah membuka pintu ruangan Khadijah. Dan semua orang pun menjawab salam Ahtar. Di mana di antara mereka Arumi, Tristan, Cahaya, Juna dan juga Yulian itu sendiri.


“Kenapa muka kamu kusut begitu, Dek?” tanya Juna setelah Ahtar memeluknya.


“Itu tadi kak, Ahtar sebel saja saat di jalan ada pengendara motor yang ugal-ugalan saat mengendarai motornya itu. Terus di tambah lagi suster manggil aku dengan, Pak. Memangnya wajahku sudah setua Abi dan Om Tristan apa?”


Perkataan Ahtar sungguh menohok Yulian dan Tristan. Ingin rasanya Yulian kesal, tetapi pada kenyataannya ia memang sudah tuwir. Dan sedangkan para tetua wanita dan Cahaya hanya terkekeh geli.


“Mungkin benar sebutan mereka dek, kan sudah waktunya kamu menikah dan menua dengan pasanganmu.” pekik Cahaya.


“Boro-boro nikah, Kak. Wanita yang jatuh hati sama Ahtar saja tidak ada, mau menikah sama siapa coba.” Ahtar mencebik.


Obrolan mereka seketika terhenti saat seorang suster membawa Abizzar masuk ke dalam ruangan itu untuk diberi jatah ASI.


Dengan usaha yang amat tinggi dari seorang Khadijah, Abizzar akhirnya merasa kenyang. Setelah kurang lebih lima belas menit berada di ruangan Khadijah, kini Abizzar harus kembali lagi masuk ke inkubator.

__ADS_1


‘Apa aku harus mengatakan tentang Humaira kepada Ahtar? Jika Humaira memang memiliki perasaan yang berbeda denganya?’ batin Khadijah.


Khadijah tidak melepaskan pandangannya yang ditujukan kepada Ahtar. Dan tanpa disadari Yulian mengetahui hal itu, lalu menghampiri Khadijah dan duduk di samping brangker.


__ADS_2