Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 142 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Antar memutar bola matanya dan berusaha untuk menangkap apa yang di maksud oleh Zuena. Bahkan Antar mengedarkan pandangannya ke arah jalan raya dan sekitar rumahnya. Hingga akhirnya Antar mampu menemukan keberadaan Zuena yang berada di ujung jalan. Meskipun malam itu gelap, tetapi cahaya lampu yang temaram mampu membuat Antar merasa yakin jika itu memang Zuena.


‘Aku yakin itu Dia. Tapi, jika aku kesana sendiri bagaimana dengan pandangan tetangga dan yang lainnya?' Ahtar bermonolog dalam hati.


Zuena yang berada di ujung jalan ia pun menatap ke arah Ahtar dan dalam waktu bersamaan Ahtar juga sedang menatap Zuena.


“Dokter Ahtar, sekarang Anda bisa melihat saya, bukan?” tanya Zuena sembari tersenyum.


“Tapi, saya mohon jangan datang kesini untuk menghampiri saya dengan siapapun. Karena, saya tidak mempunyai waktu lama untuk berada di sini.”


Suara Zuena terdengar parau dalam pendengaran Ahtar, membuat Ahtar merasa khawatir jika saat ini Zuena sedang menangis. Dan saat Ahtar berdua kembali tiba-tiba dadi seberang Zuena menghentikan.


“Maaf Dokter Ahtar, saya harus pergi sekarang. Dan saya tidak akan pernah kembali lagi dalam kehidupan Anda. Masalah tentang Anda yang ingin mengkhitbah saya, lupakan! Saya benar-benar minta maaf, karena saya merasa tidak pantas.”


Ahtar yang mendengar nya pun membulatkan kedua matanya. Dan saat Ahtar ingin mencegah kepergian Zuena melalui benda pipih itu, justru Zuena sudah mengakhiri panggilan itu.


‘Dimana Zuena? Kenapa tidak ada di sana? Cepat sekali perginya?’ Ahtar bertanya dalam hati.


‘Ya Allah... cobaan apalagi ini yang Engkau kirimkan kepada hamba-Mu yang sangat rapuh ini? Mungkinkan ini sebuah tanda jika Zuena bukanlah jodoh yang Engkau kirimkan kepadaku Ya Allah? Lalu, siapa jodohku dan dimana Dia?’


Ahtar mengusap wajahnya kasar, lalu ia pun kembali masuk ke dalam rumah. Sejenak Ahtar menatap jam yang menempel di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 03.15 WIB. Di mana sebentar lagi waktu subuh akan tiba.


“Ahtar, kamu sudah kembali? Bagaimana dengan Zuena?”


Ahtar terdiam... lalu meghela napasnya secara kasar. Dan ingin rasanya ia mengatakan obrolannya dengan Zuena beberapa saat lalu yang hanya melalui benda pipih meskipun sebenarnya jarak keduanya cukup dekat. Akan tetapi, Ahtar merasa takut jika, Khadijah akan lebih merasa bersedih dan kecewa mendengar kepergian Zuena untuk selamanya. Dan entah mau kemana, Ahtar pun tidak tahu.

__ADS_1


“Ahtar sudah memberitahu Zuena, Bun. Tapi, Dia tidak bisa hadir... hanya menitipkan pesan kepada Bunda supaya Bunda menjadi Ibu yang lebih kuat lagi.” Ahtar memberikan alasan alibinya.


“Tolong sampaikan kepadanya, Nak. Kalau Bunda akan lebih kuat lagi, dan katakan kepadanya juga rasa terimakasih Bunda.”


Ahtar mengangguk, lalu Ahtar pergi ke kamar mandi hendak menyegarkan tubuhnya. Dan ketika akan melakukan sholat subuh nanti Ahtar harus sudah bersih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Nyonya, bik Irah buatkan bubur dulu ya buat Nyonya dan yang lain,” bisik bik Irah.


“Iya, Bik. Tapi tidak perlu banyak-banyak, takutnya nanti tidak kemakan malah mubadzir.”


Bi Irah mengangguk, tanda jika ia mengerti. Dalam keadaan hati yang masih diselimuti duka yang mendalam membuat Khadijah tidak mendapatkan selera makannya dengan seutuhnya. Hanya air mata lah yang membuat Khadijah merasa cukup tenang, bukan mengumbar kepedihannya kepada semua orang.


“Hubby, baru saja sebentar kamu pergi. Belum juga di makamkan, tetapi diri ini sudah merasa kesepian.” Khadijah memghela napas beratnya.


“Khadijah,” panggil Arumi ketika masih di ambang pintu.


Ketika jam. sudah memasuki waktu sholat subuh Tristan, Arumi dan Humaira telah tiba di kota Medan. Dan tak akan pernah ketinggalan jiga dengan sahabat Yulian... Abdullah bersama sang istri serta anaknya juga ikut ke Medan. Mereka semua ingin mengantar jenazah Yulian hingga ke pemakaman. Meskipun rasa tidak percaya masih menyelimuti mereka semua. Karena kabar duka itu begitu mendadak, bahkan Tristan maupun Abdullah tidak memiliki sebuah firasat apapun. Dan semua tekah terjadi seperti mimpi buruk.


“Arumi, mas Yulian sudah tidak ada lagi di dunia ini. Hiks... Hiks...” Tangis Khadijah kembali pecah saat berada di pelukan Arumi.


“Yang sabar, Khadijah! Semua sudah takdir Allah, meskipun sulit untuk kita percayai tetapi, ini semua tidak bisa kita hindari. Doa kan saja agar Yulian masuk di surga-Nya Allah.” Arumi mengusap punggung Khadijah untuk memberikan kekuatan.


Sholat subuh telah dijalankan, setelahnya semua kembali melanjutkan pemakaman Yulian. Dan tepat pada pukul 07.00 pagi, jenazah Yulian diangkat untuk menuju ke tempat pemakaman. Ahtar, Arjuna, Tristan dan Abdullah berperan mengangkat jenazah tersebut, sedangkan Khadijah, Cahaya, Hafizha, Humaira dan Arumi berada di belakang jenazah sembari membawa foto Yulian yah terlihat begitu tampan dan gagah dengan baju bernuansa putih itu.

__ADS_1


‘Takdir kematian. Itulah sesuatu hal yang tidak bisa kita hindari meskipun kita tidak menginginkannya. Dan takdir dalam kisah cinta di dunia yang kita inginkan dengan kata ‘selamanya’, itulah hal yang begitu mustahil untuk tetap bersama. Lagi dan lagi, aku merasa tertampar dengan semesta yang tidak mau bersahabat dengan keinginanku.’ Khadijah terus bermonolog dalam hatinya dalam setiap langkah saat menuju ke tempat pemakaman.


Tidak membutuhkan perjalanan yang lama, rombongan penggiring jenazah pun akhirnya sampai di tempat pemakaman. Dan sudah menjadi keputusan keluarga Yulian termasuk, Khadijah. Jika makam Yulian akan disandingkan dengan makam Aisyah.


“Ahtar, adzan kan Abi mu!” pinta papa Adhi. yang diangguki oleh Ahtar.


Setelah jenazah Yulian dimasukkan ke dalam. liang lahat, Ahtar pun menyusul masuk ke dalam hendak meng-adzan kan Yulian sebelum Yulian benar-benar terkubur dan melebur dengan hundukan tanah yang akan menutupinya nanti.


Tanah mulai menutupi tubuh Yulian yang berada di dalamnya. Dan setelah itu semua yang ada di sana menaburkan bunga. Lalu, mereka meninggalkan acara pemakaman Yulian yang telah usai. Dan tepat pada tanggal 20 Maret tahun 2023 Yulian telah menghembuskan napas terakhirnya. Sosok lelaki yang baik hati, sopan, tidak pernah memandang status derajat dengan yang lainnya dan lelaki yang telah mengayomi keluarganya kini, telah menutup usia.


“Abi, yang tenang di sana! Ahtar akan berusaha ikhlas menerima kepergian Abi yang secepat ini.” Ahtar mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Yulian Atmajaya.


Ahtar pun berdiri, lalu berganti dengan Arjuna yang berjongkok dan mengusap batu nisan itu seraya berkata, “Abi, Arjuna akan berusaha untuk menjadi Abang, suami dan ayah yang baik untuk keluarga kita. Doakan Arjuna dari sana ya Abi, begitu juga dengan Arjuna yang akan selalu mendoakan Abi dari sini.


“Abi!” teriak Hafizha.


Hafizha menghamburkan dirinya di atas makam Yulian, rasanya begitu berat bagi remaja itu untuk meninggalkan tempat pemakaman. Bahkan mengucapkan kata-kata perpisahan kepada Yulian saja Hafizha tidak sanggup, lidahnya serasa begitu kelu.


“Dek, kita harus ikhlas. Sabar!” bisik Cahaya.


Cahaya mencoba merengkuh Hafizha dan mengajaknya untuk kembali berdiri. Dan mereka pun berusaha untuk menegarkan hati dan membuka diri untuk kembali melanjutkan hidup. Tetapi, tidak dengan Khadijah. Karena ia masih begitu enggan untuk meninggalkan makam yang masih basah itu. Dan semua yang ada di sana mencoba mengerti, memberikan ruang untuk Khadijah meluapkan kesedihannya sebelum pergi meninggalkan kisah lama.


“Hai, suamiku! Assalamu'alaikum. Aku disini mencoba untuk mengikhlaskan kepergianmu, dan InsyaAllah... orang yang meninggal secara mati syahid maka, orang itu akan diampuni dosanya dan akan masuk surga. Semoga saja itu benar terjadi, agar kamu di surga bisa bertemu dengan kekasih sejatimu... Aisyah.”


“Aku bahagia akhirnya kalian bisa bersatu lagi. Dan aku sebagai istri keduamu ingin mengucapkan rasa terimakasih karena, kamu sudah hadir dalam hidupku dan memberikan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Terimakasih karena, kamu telah menepati janji mu yang akan mencintaiku sampai hembusan napas terakhirmu. Terimakasih, Hubby.”

__ADS_1


“Ana uhibbuka fillah.”


Bersambung...


__ADS_2