
Doa memohon keselamatan telah dipanjatkan oleh Yulian, kembali ia berserah kepada Allah tentang masalah yang kini tengah dihadapinya. Dan ia tidak mau jika kehilangan keluarganya hanya karena Alex yang kembali melakukan kejahatan.
“Allahumma inna nas aluka salamatan fiddiini wa 'aafiyatan fil jasadi waziaadatan fil'ilmi wabarakatan firrizqi wataubatan qablal maut warahmatan 'indal maut wamaghfiratan ba'dal maut allahumma hawwin'alainaa fii sakaraatil maut wa najjata minanaari wal'afwa indal hisaab.”
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan ketika beragama, kesehatan badan, limpahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datangnya maut, rahmat pada saat datangnya maut, dan ampunan setelah datangnya maut.”
Setelah mengaminkan doa nya, Yulian membaca surat An-Nasr. Surat yang hanya memiliki tiga ayat, yang berati pertolongan.
“Bismillahir-rahmanir-rahim...”
[Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.]
“Iza ja'a nasrullahi wal-fath.”
[Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan]
“Wa ra'aitan-nasa yadkhulu-na fi dinillahi afwaja...”
[Dan Engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah]
“Fa sabbih bihamdi rabbika wastagfirh, innahu kana tawwaba...”
[Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat]
“Shadaqallahul-adzim...”
[Maha benarlah Allah yang Maha Agung]
Bacaan pun telah diakhiri dengan hamdalah. Setelah itu Yulian merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan kedua matanya setelah membaca doa sebelum tidur.
Malam yang begitu indah bagi seorang Ahtar saat menatap langit yang begitu cerah, bahkan kemerlip bintang dan terangnya cahaya rembulan membuat Ahtar merasa sangat senang. Sejenak ia ingin melepas rasa penat tentang kehidupan yang terkadang membuatnya merasa lelah.
“Ya Allah, aku hanya ingin membahagiakan istriku kelak. Dan aku hanya ingin mencintainya sebagaimana Engkau mentakdirkan Dia untukku. Tapi... kenapa tak kunjung datang juga?”
Ahtar mendesah, mengingat Humaira memang tidak ada rasa apapun yang membuat hatinya bergetar sedikitpun. Namun, ada rasa yang berbeda saat Ahtar tidak sengaja menabrak seorang wanita.
Ahtar mencoba menepis akan hal itu dan ia hanya ingin menikmati malam yang menenangkan. Bahkan ia pun tidak tahu pada pukul berapa ia tertidur.
__ADS_1
“Halo, Dokter Jhonson. Ada apa Anda menghubungi saya?” tanya Yulian melalui benda pipih dalam genggamannya.
“Halo, Pak Yulian. Saya hanya ingin meminta Anda untuk datang ke rumah sakit menemui saya. Nanti jam delapan pagi saya tunggu Anda di ruangan saya.”
Obrolan pun diakhiri, dan anggap saja Yulian bercakap dengan dokter Jhonson menggunakan bahasa Inggris.
Setelah mendapat kabar dari dokter Jhonson Yulian segera menyelesaikan aktivitas nya yang masih merajuk di depan layar laptop. Karena proposal yang akan diajukan kepada Mr. Thompson sedikit ada kekurangan yang harus dibenahi olenya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan ritual di kamar mandi, cukup lima belas menit saja. Dan Yulian sedikit merasa kesusahan saat ia menyiapkan pakaian kantornya. Karena selama menikah dengan Khadijah Yulian selalu dibantu oleh Khadijah dalam menyiapkan segala hal.
“Tidak apa sedikit terlambat, paling tidak bisa langsung bertemu dengan Tristan di kantor nanti.”
Pagi yang begitu riweh bagi seorang Yulian yang sudah ber ketergantungan dengan istri. Akan tetapi selama Khadijah masih di rumah sakit Yulian harus bisa kembali bersikap mandiri, seperti saat ia masih menduda dulu.
“Abi, mau kemana? Ke kantor atau ke rumah sakit dulu?” tanya Arjuna yang mendapati Yulian sudah berpakaian rapi.
“Abi mau ke kantor terlebih dahulu, hanya ingin menyerahkan proposal ini kepada Om Tristan. Setelah itu mau langsung ke rumah sakit, Dokter Jhonson mau bicara sama Abi.” Terang Yulian kepada Arjuna yang didengar oleh Cahaya dan Hafizha.
‘Apa... ini waktu yang tepat untuk bertanya kepada Abi? Ya Allah... tapi kenapa diri ini tidak siap menerima kenyataannya?’ Hafizha bermonolog dalam hati.
Niat itupun kembali diurungkan oleh Hafizha, karena ia takut hancur dan tidak bisa menerima kenyataan pahit jika dirinya adalah anak haram. Namun, rasa penasaran itu kian membuncah dadanya, sehingga ia memutuskan untuk bertanya kepada Yulian sebelum berangkat ke kantor.
“Mau bicara apa sama Abi, nak? Tapi saat ini... Abi tidak punya banyak waktu, bagaimana kalau nanti malam saja? Maaf ya sayang, Abi berangkat dulu. Assalamu'alaikum,” ucap Yulian.
Yulian pun masuk ke dalam mobil saat Hafizha belum sempat mengajukan pertanyaan itu. Hal itu membuat Hafizha harus kembali menyimpan rasa penasarannya.
‘Sabar Hafizha, pasti ada waktu untuk bertanya.’
Hafizha masuk ke dalam mobil karena harus kembali bersekolah. Dan tidak lama kemudian disusul oleh Arjuna yang akan pergi ke rumah sakit.
“Selamat pagi, Dokter Ahtar!” sapa Faruq.
“Pagi juga, Faruq. Kamu... rajin sekali ya masih pagi sudah kerja saja.” Ahtar menatap Faruq yang sedang membawa kain pel.
“Beginilah Dok, namanya juga mencari rejeki. Kalau tidak rajin tidak dapat uang tambahan dan juga... pahala. Ya sudah Dok, saya kerja lagi.” Faruq kembali melanjutkan pekerjaannya, mengepel lantai yang kotor.
Ahtar masuk ke dalam ruangan Khadijah, memastikan kondisi Khadijah pagi itu. Dan sesampai di dalam ruangan Ahtar mendapati Khadijah dengan wajah berseri, meskipun tertutupi dengan cadar tetapi tetap terlihat. Apalagi ketika Khadijah tersenyum, membuat matanya menyipit seperti bulan sabit.
__ADS_1
“Bunda cantik banget pagi ini, Abi... pasti begitu beruntung mendapatkan istri secantik Bunda.” Ahtar mengagumi kecantikan yang terpancar dari Khadijah.
“Kecantikan itu akan selalu ada dalam setiap wanita, Ahtar. Tinggal wanita itu mampu menyembunyikan kecantikannya atau akan mengumbar kecantikannya.”
Hening...
Ahtar hanya diam setelah mendengar ucapan Khadijah, karena ia memang tidak mengerti apa yang Khadijah maksud. Bagaimana mau mengerti mengenal wanita saja belum pernah, apalagi merasakan jatuh cinta.
“Maksud Bunda, apa?”
“Maksud Bunda... kecantikan yang dimiliki wanita muslimah akan selalu dijaga dengan menutup auratnya. Sedangkan kebanyakan wanita saat ini sudah mengumbar kecantikannya.” Khadijah menerangkan kembali tentang kebanyakan wanita di era jaman sekarang.
Buat para pembaca jangan ada yang tersinggung ya! Salam dari mbak yang nulis.
Ahtar kembali terdiam, memikirkan apa yang dijelaskan Khadijah dengan apa yang menjadi mimpinya dalam setiap malam.
Di saat keheningan menemani Ahtar dan Khadijah saat itu pula Yulian dan dokter Jhonson masuk ke dalam ruangan.
“Selamat pagi, Dokter Ahtar dan Nyonya Khadijah!” sapa dokter Jhonson.
“Selamat pagi, Dok!” balas Khadijah bersamaan dengan Ahtar.
“Saya periksa dulu sebentar ya, Nyonya Khadijah. Jika pagi ini baik, maka Nyonya Khadijah sudah diperbolehkan untuk pulang.” Papar dokter Jhonson kepada Khadijah.
Khadijah mengangguk, dokter Jhonson pun memeriksa keadaan Khadijah pagi itu. Stetoskop yang menempel di leher dokter Jhonson diletakkan di atas dada Khadijah. Bukan hanya itu saja, tekanan darah Khadijah juga ikut diperiksa. Dan setelah usai diperiksa, cukup baik kondisi Khadijah pagi itu. Sehingga dokter Jhonson menyatakan bahwa Khadijah sudah diijinkan untuk pulang.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa pulang juga,” pekik Khadijah degan mengucap rasa syukur.
Yulian mengusap puncak kepala Khadijah, lalu membereskan semua barang-barang yang akan dibawa pulang. Ahtar pun ikut membantu Yulian membereskan beberapa barang, setelah sudah Ahtar meminta ijin untuk menerima panggilan telepon dari Hafizha.
“Assalamu'alaikum, bang Ahtar.” Hafizha mengucap salam dari seberang.
“Wa’alaikumsalam, Dek. Ada apa menelpon di jam segini, apa sudah waktunya kamu istirahat sekolah, Dek?” tanya Ahtar.
Jam masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, di mana jam pelajaran sekolah Hafizha biasanya masih berlanjut. Akan tetapi entah kenapa Hafizha mengubungi Ahtar.
Hening, tidak ada suara dari seberang sana sebagai jawaban atas pertanyaan Ahtar. Membuat Ahtar merasa tak tenang saja, apalagi selang berikutnya suara yang asing bagi Ahtar tengah mengudara.
__ADS_1
Bersambung...