Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 113 “Tahajud Cinta"


__ADS_3

“Iya, Abi Yulian. Apa yang dikatakan Dokter Ahtar itu benar. Tadi saya memang berada di depan ruangan Dokter Ahtar hendak meminta rekaman medis Adam. Hanya itu saja,” sela Zuena memberi pembelaan.


Yulian manggut-manggut, berusaha untuk percaya dengan yang diucapkan Ahtar dan Zuena. Karena Yulian juga yakin jika Ahtar tak akan berbohong kepadanya.


Hening...


Pelayan pun datang dengan membawa makanan dan minuman yang mereka pesan. Hingga keheningan telah terpecahkan, lalu obrolan pun dilanjut setelah acara makan dan menyeduh kopi selesai. Karena Yulian akan selalu menerapkan untuk tak banyak bicara dalam hal makan.


Setelah lima belas Yulian usai menyantap sarapan paginya, begitu juga Ahtar dan Zuena. Setelah itu Yulian kembali melanjutkan intimidasi terhadap Zuena.


“Zuena, kamu... tinggal dimana, Nak?”


Deg...


Zuena terdiam, ia tak bisa menyatakan dimana ia tinggal saat ini. Karena sebelumnya ia sudah dipesan oleh ayahnya untuk sekali menjaga rahasia tentang kehidupan dan tempat tinggalnya.


“E... saya... saya hanya tinggal di kos saja, Abi.” Zuena memjewab dengan alibinya saja.


“Boleh Abi berkunjung kesana? Sekaligus Abi mau mengundang kamu dan juga Adam untuk acara makan bersama di rumah Abi.” Yulian mengulas senyum.


Kembali Zuena dibuat terdiam oleh Yulian. Karena sebenarnya ia pun tidak tinggal di kos seperti yang diucapkan. Dan Zuena tinggal di sebuah apartemen bersama Adam dan juga kelima pengawalnya.


“Tapi Abi, tempat kos Zuena itu sangat rusuh. Biar Zuena dan Adam saja yang langsung ke rumah Abi. Itupun jika kami masih diundang,” ucap Zuena dengan cengiran.


“Nak, meskipun tempatnya rusuh ataupun kotor jika, niat Abi ingin silaturahmi maka Abi akan tetap bertandang ke tempat tinggalmu.”


“Sesama muslim itu dianjurkan untuk saling bersilaturahmi, bahkan bukan hanya sesama muslim saja. Kita hidup itu hanya sementara di dunia dan kita mati pun juga tidak bisa berjalan sendiri, pasti ada manusia yang lain_yang akan membantu kita untuk dimakamkan.”


“Bukan hanya itu saja, kita juga membutuhkan doa dari mereka semua agar perjalanan kita di akhirat dipermudah untuk menuju surga.”


“Dan Abi justru akan bahagia dan merasa senang bisa bertandang ke kos mu itu, Nak.”

__ADS_1


Yulian berusaha ingin mencari tahu tentang siapa Zuena, karena ia tidak mau jika Ahtar akan tersesat dalam hal cinta.


Zuena adalah wanita yang terlihat baik, memiliki paras wajah yang cantik rupawan, bola mata kebiruan dan bulu mata yang lentik. Bahkan tubuhnya bak model, yang memiliki lengkuk tubuh yang indah dan juga berkulit putih.


Jika Ahtar adalah seorang lelaki yang memburu nafsunya, maka ia tidak akan lagi melindungi marwahnya sebagai seorang lelaki setelah melihat betapa cantiknya Zuena dengan bibir merah merona yang membelah dua.


“Baiklah Abi! Zuena akan memberikan alamat tempat kos Zuena nanti.”


Yulian mengangguk saja, sedangkan Ahtar ia hanya mendengar tanpa mengudatakan suara. Bahkan yang ia tatap bukan Zuena dan juga bukan Yulian, justru data pasien yang harus ia tangani mulai besok pagi. Karena ia harus kembali bekerja setelah dua hari berada di rumah.


“Abi, apa masih ada yang ditanyakan lagi dengan Ahtar? Jika tidak ada Ahtar mau bertemu Bunda sebentar.” Ahtar menunjukkan layar ponselnya yang tengah menerima pesan dari Khadijah.


“Ok baiklah! Kamu pergi saja tidak apa, begitu juga dengan kamu Zuena. Bukan maksud Abi untuk mengusir kamu, Nak. Tapi jika kamu memiliki kepentingan yang lain Abi mengijinkan kamu untuk pergi.”


“Oh, tidak kok Abi. Zuena tidak ada kepentingan yang lain. Nanti saja bertemu sama Dokter Ahtar lagi untuk meminta rekaman medis Adam.”


Bukan maksud Zuena ingin cari perhatian kepada Yulian, tetapi ia sudah terlanjur merasa nyaman dengan sikap lembut Yulian terhadapnya. Sikap yahh seharusnya ia dapat dari Ayahnya, tetapi justru di dapat dari orang lain. Dan akhirnya Zuena pun tetap tinggal di kantin dan kembali melanjutkan obrolannya dengan Yulian. Sedangkan Ahtar ia sudah jauh melangkah, bahkan punggungnya tak terlihat lagi dalam pandangan Zuena.


“Silahkan! Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui dari Abi, itupun jika Abi bisa menjawabnya.” Yulian mengulas senyum.


Zuena yang sudah mendapatkan ijin dari Yulian seketika ia melontarkan pertanyaan yang menumouk dalam pikirnya, bahkan memenuhi otaknya.


“Kenapa Abi mengijinkan Zuena untuk memanggil dengan sebutan Abi? Sedangkan Zuena bukanlah anak kandung Abi.” Pertanyaan yang sederhana, tetapi begitu berarti bagi Zuena.


“Nak, Abi itu senang jika akan ada banyak anak muda yang menganggap Abi ini Ayah mereka. Karena itu tandanya Abi adalah orang tua yang mampu membimbing mereka ke jalan yang lebih baik. Walaupun Abi sendiri juga belum tentu menjadi seorang hamba yang baik.”


“Kenapa kamu mempertanyakan hal itu, Zuena? Apa... kamu tidak suka memanggil dengan sebutan itu?”


“No. I really like that nickname, tapi... Apa keluarga Abi menyetujui jika Zuena dan Adam memanggil dengan panggilan seperti itu?”


Yulian tertawa, hal itu pun membuat Zuena menatap Yulian dengan tatapan aneh. Dan Yulian menyadari akan hal itu, hingga ia pun memebeikan jawaban kepada Zuena jika tidak ada yang marah dengan panggilan itu. Bahkan Yulian meminta Zuena untuk memanggil Khadijah dengan panggilan Bunda.

__ADS_1


Obrolan terus berlanjut dengan sesekali ditemani dengan canda yang mengundang tawa.


Yulian menyadari jika Zuena tidak memiliki kehidupan yang indah, seperti tak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya saja. Dan itu terlihat begitu jelas saat Zuena tertawa dengan keras.


‘Ada apa denganmu, Zuena? Kenapa... aku merasa kamu sedang menyembunyikan kesedihanmu?’ tanya Yulian dari hati.


Yulian tidak mau langusng bertanya, karena ia ingin menjaga hati Zuena meskipun, Yulian ingin tahu banyak jal tentang siapa Zuena. Kayak kah jika dijadikan menantu suatu hari kelak jika, memang benar-benar Ahtar berjodoh dengan Zuena.


“Zuena, lain waktu kamu bisa hubungi Abi jika membutuhkan sesuatu. Sekarang Abi harus kembali ke ruangan mertua Abi. Kamu... tidak apa kan, jika Abi tinggalkan sendiri?”


“Tidak kok, Abi.” Zuena menggelengkan kepalanya.


Yulian masuk dengan mengucap salam, dari dalam Khadijah menyambut kedatangan Yulian sembari menjawab salam. Dan seketika Khadijah meraih punggung tangan Yulian untuk memberi salam.


Terlihat dalam ruangan itu jika Hafizha, Ahtar dan Arjuna begitu lelah. Bahkan mereka tidur setelah membentangkan ambal di lantai ruangan itu yang cukup luas.


“Ternyata sudah siang ya, Neng. Hubby... baru sadar,” ucap Yulian basa-basi.


Karena terlalu asik mengobrol dengan Zuena, Yulian bisa lupa dengan waktu. Dan siang itu sudah memasuki pukul 11.00.


“Memang sudah siang, Hubby. Maaf ya... Neng sampai lupa tidak menyiapkan makanan untuk Hubby dan anak-anak sarapan sekaligus makan siang.” Khadijah menatap Yulian lengkap saat Yulian berada di sampingnya.


“Jangan sedih seperti itu, Neng. Tenang saja, Hubby tadi jiga sudah makan kok. Dan untuk makan siang Hubby sudah memesan dari restoran sekitar sini. Palingan sebentar lagi jiga di antar.” Yulian megusap puncak kepala Khadijah.


Seperti kata Yulian, pintu diketuk dari luar. Setelah Yulian membukanya ada seorang lelaki yang mengantarkan pesanannya dari restoran_yang ia pesan tadi.


Yulian membangunkan Hafiz hamidun, Antar dan Arjuna secara bergantian. Tetapi tidak meminta mereka untuk makann siang, karena Yulian ingin ketiga anaknya itu menunaikan sholat dzuhur terlebih dahulu sebelum menyantap makan siang mereka.


Tepat pukul 12.29 Yulian menjadi seorang imam dalam sholat dzuhur yang digelar secara berjamaahberjamaah di ruangan itu. Sedangkan Ahtar dan Arjuna satu shaf di belakang Yulian, sedangkan Hafizha dan Khadijah sebagai makmum yang berbaris di bagian dua shaf di belakang Yulian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2