Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 43


__ADS_3

Matahari mulai menyingsing, menyambut pagi dengan cahayanya yang menghangatkan. Seperti sebelumnya, Yulian melakukan olahraga ringan di ruang samping. Mengenakan kaos tanpa lengan dengan celana pendek dan tidak lupa dengan sepatunya. Sungguh menakjubkan, pemandangan pagi membuat satu wanita diam-diam berdecak kagum. Bahkan tidak berkedip sekali saat menatapnya.


”Berkedip atuh Neng,”


Suara bik Inem benar-benar menganggetkan Khadijah yang tengah memandangi Yulian sedang berolahraga.


”Apa sih bik Inem ini, saya cuma...”


”Cuma terpukau ya neng.”


Seketika Khadijah merasa malu saat bik Inem memergokinya yang terpukau akan ketampanan Yulian, yang berotot dan memiliki kharisma khas lelaki maco. Hal itu memang tidak pernah diketahui oleh Khadijah. Karena Yulian yang suka olahraga pagi, setelah menikah dengan Khadijah belum pernah melakukan kembali rutinitas paginya seperti biasanya.


”Tuan Yulian memang seperti itu, tapi beberapa hari terakhir tidak melakukannya. Dan setelah berolahraga pagi, Dia menyeduh kopi hangat atau teh hangat.” Tutur bik Inem yang sedikit memberi kode kepada Khadijah.


Khadijah dengan segera menuju dapur dan membuat secangkir teh hangat untuk Yulian. Dan setelahnya, Khadijah membawa cemilan ringan sebagai teman saat minum teh yang sudah ia buat. Yulian yang merasa kehadiran Khadijah seketika menghentikan olahraga ringannya. Lalu menghampiri Khadijah dan keringat yang membasahi rambutnya membuat Khadijah semakin merasa terpesona akan ketampanan dari sosok Yulian.


”Kenapa mandangnya seperti itu, hmm?”


”Tidak, kok. Emm ... boleh ngomong sesuatu tak?”


”Ngomong ya tinggal ngomong, masa minta ijin begutu saja. Apa mau minta kiss pagi?”


Seketika Khadijah memberi tabokan di lengan Yulian. Yang membuat Yulia meringis karena kesakitan.


”Sakit, loh.”


”Biarin, salah sendiri beg...”


Tanpa meminta ijin terlebih dahulu Yulian langsung memberikan kecupan di bibir Khadijah yang sudah terbalut dengan cadarnya, sehingga seketika Khadijah menghentikan ucapannya karena merasa terkejut.


’Serangannya kenapa secara dadakan lagi,’ batin Khadijah.


’Trip kedua untuk membuatnya semakin jatuh hati kepadaku.’ batin Yulian.


Terlihat wajah Khadijah memerah, karena merasa malu apalagi setelah memberikan kecupan di bibirnya, Yulian melepas kaos yang dipakai saat berolahraga. Sehingga Khadijah harus kuat iman untuk memandangnya. Hanya bisa menelan salivanya sendiri saat merasa tidak kuat, karena Khadijah ingin memeluk tubuh Yulian tanpa kaos seperti itu.

__ADS_1


”Katanya mau ngomong, kok diam saja?”


”Emm ... bagaimana kalau panggil sayangnya bukan Humaira. Neng saja, kan lebih cantik begitu. Kalau Humaira kepanjangan, terus nama Khadijah jadi ilang, nggak kesebut. Kalau neng kan, nanti bisa ... neng Khadijah.”


Yulian terkekeh geli mendengar keinginan Khadijah. Dan Yulian mengiyakan permintaan Khadijah tanpa memberi penolakan apapun. Sehingga membuat Khadijah merasa bahagia walaupun sangat sederhana.


Setelah melakukan sarapan pagi bersama, Yulian bersiap untuk pergi ke kantor. Sedangkan Khadijah ia bersiap untuk ke rumah sakit bersama bik Inem dan Hafizha yang diantar oleh Abdullah. Karena Yulian tidak mau jika Khadijah harus naik taxi untuk ke rumah sakit. Sedangkan mobilnya saja ada tiga yang terparkir di garasi. Dan kini Yulian memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri.


”Abi berangkat dulu, ya!”


Khadijah mencium punggung tangan Yulian dan Yulian membalas dengan memberi kecupan di kening Khadijah. Setelah itu berlanjut ke Hafizha, tak lupa putri kecil itu ingin diperlakukan sama seperti Khadijah.


”Assalamu'alaikum, kalain hati-hati di jalan!”


”Wa'alaikumsalam, iya, Abi.”


Lambaian tangan telah dilakukan Hafizha sampai mobil Yulian keluar dari gerbang. Dan berlanjut mereka yang masuk ke mobil untuk menuju ke rumah sakit.


Abdullah siap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan saat berada di dalam perjalanan Hafizha selalu berceloteh dengan riang, dan dengan telaten Khadijah selalu menjawab pertanyaan Hafizha. Sehingga membuat perjalanan yang mereka lakukan tidak terasa sepi, karena ada Hafizha yang selalu ceria.


Setelah beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dengan segera Khadijah, bik Inem dan Hafizha menuju ke ruangan Cahaya. Sedangkan Abdullah, ia lebih memilih menunggu di mobil saja.


”Yulian,” panggil Tristan pelan.


Yulian yang merasa namanya telah dipanggil seketika menghampiri Tristan. Dan Tristan pun menarik lengan Yulian lalu membawanya masuk ke ruangan yang tertutup. Tidak ada yang bisa masuk ke ruang tersebut kecuali mereka berdua.


”Tristan, ini masih pagi. Jangan bilang kalau kamu mau ngajak mojok aku.”


Seketika Yulian bergidik ngeri saat membayangkan hal yang tidak bisa dijangkau olehnya. Sedangkan Tristan, ia memberi tabokan keras di punggung Yulian.


”Jangan gila kamu ya, Yulian. Aku masih waras.”


Tristan tidak menghiraukan Yulian yang meringis kesakitan.


”Sadis jadi teman kamu. Sakit ini,”

__ADS_1


”Salah sendiri bilang mojok kayak gitu.”


Yulian terkekeh geli melihat ekspresi wajah Tristan yang terlihat sebal. Namun, terselip di wajah Tristan yang sedang lesu, seolah ada masalah yang ingin dicurahkan nya kepada Yulian.


”Katakan mau apa kamu mengajakku kesini? Sepertinya ada masalah,”


”Huh...! Aku hanya bingung bagaimana cara membuat Arumi tidak marah lagi.”


Yulian menautkan alisnya, lalu memandang Tristan dengan tatapan yang sulit diartikan.


”Apa kalian belum baikan setelah masalah di mall kemaren?”


Tristan hanya mengangguk saja dan seolah tubuhnya ikut lemas. Jika perempuan, dapat dipastikan Tristan akan ambruk saat itu juga. Sayangnya ia harus menegakkan tubuhnya, karena masalah itu hanyalah masalah sepele.


”Ya ampun, bagaimana kamu ini, Tristan. Masa masalah begitu saja kamu tidak bisa handle sih. Coba kamu cari cara dengan memberikan hal yang romantis, seperti kado misalnya. Jangan terlalu oon jadi lelaki.”


’Ngenes sekali sih Yulian, kebangetan jadi sahabat. Masa dibilang oon.’ batin Tristan.


Setelah meberikan saran kepada Tristan Yulian memutuskan untuk pergi ke ruangannya. Karena ada beberapa berkas yang harus diperiksa sebelum mengajak Khadijah ke Medan.


Yulian terus berkutat di depan laptopnya. Ada yang menarik perhatiannya saat melihat yang indah menurutnya. Dan hati seorang kakek tidak bisa dipungkiri, Yulian langsung memesankan keranjang bayi yang bermotif super boy. Bahkan Yulian meminta kepada seseorang untuk mendesain salah satu kamar yang akan menjadi tempat khusus untuk Garda tidur dengan keranjang yang sudah siap diantar ke rumahnya.


”Sudah, sekarang aku akan menyusul Khadijah ke rumah sakit.”


Yulian siap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena hari yang sudah berganti sore, membuat perjalanan Yulian terjebak macet. Meskipun tidak sepanjang saat berada di Jakarta, tapi tetap saja mengalami kemacetan di saat jam kerja sudah meminta para karyawan maupun karyawati pulang ke rumah mereka masing-masing.


”Halo, Assalamu'alaikum,”


”Wa'alaikumsalam, Neng. Ada apa? Apa kalian sudah pulang?”


”Belum, Hubby. Ini masih di rumah sakit, ada Arumi juga disini.”


”Terus kenapa telpon? Apa perlu sesuatu yang harus dibeli?”


”Eh, iya. Neng mau pesan belikan es krim ya. Soalnya Hafizha merajuk sedari tadi dan neng tidak bisa antar keluar untuk beli. Bisa kan, Hubby belikan es krim nya?”

__ADS_1


”Iya, Hubby akan segera kesana.”


Percakapan pun berakhir dengan ucapan salam. Dan Yulian mampir sebentar ke sebuah mall lalu membeli es krim kesukaan Hafizha. Setelah selesai Yulian kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah sakit sebelum es krim itu akan meleleh.


__ADS_2