Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 33


__ADS_3

Risalah hati yang tak ingin berpaling, satu nama yang ingin tertanam di dalam hati. Wanita yang sulit ditebak, membuat Yulian harus menanamkan kesabaran yang luar biasa agar bisa berperang dalam keegoisan keduanya. Memberikan perhatian kecil meskipun tidak diminta dan menurunkan ego untuk mengerti bagaimana keinginannya.


”Mau pulang ke rumah kapan? Atau masih nyaman di hotel?” tanya Yulian memastikan, karena ia tidak ingin jika Khadijah merasa tidak nyaman berada didekatnya.


”Emm ... terserah Hubby saja.” Jawaban yang ambigu, membuat Yulian hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


’Ini dia sifat wanita yang tak aku sukai. Bilangnya terserah, tapi ketika lelaki memilih ini itu pasti salah. Sulit ditebak, dan membuatku pusing.’ batin Yulian.


’Sabar saja ya, Yulian. Berilah pengertian kepada Khadijah. Mungkin ... ini titi awal untuk kamu memulai perjuangan dengan berbesar hati.’ Pesan mbak penulis untuk Yulian.


Yulian pun memutuskan untuk tetap tinggal di hotel selama satu pekan. Karena ia ingin mengenal Khadijah itu bagaimana, agar tahu betul bagaimana cara mendamaikan hatinya di saat api kemarahan telah melanda nya. Meskipun Khadijah mengenakan pakaian tertutup, tapi yang namanya sifat seorang wanita tetap memiliki sifat manja dan membutuhkan perhatian.


”Bagaimana kalau kita berfoto di sana? Di depan gedung itu.” Khadijah mengiyakan permintaan Yulian dengan mengangguk.


Mereka pun melangkahkan kaki untuk menuju ke depan gedung Istana Holyroodhouse. Setelah itu mereka membidik beberapa gambar mereka dengan sempurna dalam setiap ekspresi yang ditampilkan. Di mana Yulian merengkuh pinggang Khadijah hingga mendekat, sangat dekat. Dan Khadijah meletakkan kedua tangannya ke bahu Yulian. Sungguh membuat jantung mereka berdisko ria di dalam sana saat mata telah terkunci.


”Ana uhibbuki fillah.” Yulian mengungkapkan perasaan nya melalui kata yang romantis.


”Ana uhibbuka fillah.” Khadijah menjawab perasaan Yulian dengan pipi kemerahan, karena merasa malu.


Kedua nya pun tersenyum, menikmati indahnya rembulan di kala malam yang kian melarut. Mereka sengaja menghabiskan waktu di luar ketika sang rembulan berada dalam peraduan malam. Dan dengan seiringnya waktu yang terus berjalan akhirnya mereka mulai saling menerima dan saling menepis kan rasa ego, bahkan Yulian sudah mengenal seluk beluk Khadijah itu bagaimana.


”Hubby ... aku mulai mengantuk.” Khadijah beberapa kali sudah menguap.

__ADS_1


”Ya sudah, kita masuk saja dan beristirahatlah.” Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah lalu mencium keningnya.


Mereka kembali ke hotel dengan tangan yang selalu bergandengan. Tak hentinya bibir mereka selalu mengembang, karena Yulian memberikan perhatian dan kebahagiaan kepada Khadijah pada malam itu. Meskipun sudah hampir satu minggu berlalu, tetapi hubungan suami istri yang sebagaimana rupa belum di dapatkan oleh Yulian. Karena Khadijah masih belum memberikan keistimewaannya sebagai wanita. Namun, dengan sabar Yulian terus menanti di mana hari itu tiba. Khadijah akan menyerahkannya dengan sendirinya dan memberikan kepuasan saat hasrat yang kian menggebu dalam jiwa keduanya.


”Mau dibacakan surat apa sebelum tidur, hmm?”


”Mau ... surat Al-Insyirah saja ya, Hubby.” Yulian mengangguk pelan.


Yulian mulai membacakan Khadijah surat Al-Insyirah seraya membelai lembut rambut Khadijah yang terurai. Dan tidak lama kemudian Khadijah pun mulai memejamkan kedua matanya setelah rasa kantuk tak mampu ditahan lagi. Setelah melihat mata Khadijah yang sudah terpejam, Yulian mulai mencari posisi ternyaman untuk segera ikut ke dunia mimpi. Dan selimut tebal telah menghangatkan mereka malam itu.


Hampir setiap di sepertiga malam Khadijah dan Yulian melakukan sholat tahajud dengan penuh cinta. Dan sesekali mereka membaca mushaf bersama, itu pun kalau mereka tidak merasakan kantuk yang begitu mendera. Dan kali ini merek memutuskan untuk membaca mushaf bersama, surat Al-Insyirah ayat lima dan enam. Di mana ayat itu yang harus kita ingat sebagai hamba Allah.


”Hubby akan membaca surat Al-Insyirah ayat lima terlebih dahulu dan setelah itu ayat ke enam.” Khadijah mengangguk, lalu mendengarkan dengan seksama bacaan surat Al-Insyirah yang hendak dibaca oleh Yulian.


” Bismillahirrahmanirrahim. Fa inna ma'al-'usri yusra', artinya ... karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Surat Al-Insyirah ayat lima dan artinya.


”Seperti itulah bunyi surat Al-Insyirah ayat lima dan enam. Di mana kita sebagai hamba Allah harus mengingat akan ada kemudahan dalam setiap kesulitan. Dan sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Kita tidak boleh melupakan ayat itu dengan cuma-cuma. Seperti halnya ... ketika ada masalah apapun itu, kalau kita tetap berusaha dan berdo'a maka Allah akan memberikan kemudahan.” Khadijah berdecak kagum di dalam hati setelah mendengar penjelasan Yulian yang begitu mudah untuk dimengerti olehnya.


Khadijah terpaku akan indahnya suara merdu Yulian dan ia juga terpesona akan ketampanan Yulian yang kian mendamaikan hatinya saat menatap mata teduh itu. Bagaimana Khadijah tidak merasakan akan hal itu, sedangkan Yulian selain CEO ternama, ia juga memiliki keahlian sebagai seorang lelaki. Mampu menghafal ayat suci Al-Quran dan surat beserta artinya. Bukan hanya Khadijah saja yang terpukau dengan Yulian, bahkan penulis dan pembaca pun ikut terpukau. Merasa iri dengan Khadijah yang menjadi istrinya.


Setelah membaca surat Al-Insyirah, mereka memutuskan untuk kembali tidur karena jam masih menunjukkan pukul tiga malam. Tidak mungkin mereka akan begadang, sedangkan Khadijah saja belum siap memberikan kewajibannya kepada Yulian.


’Ya Allah, aku begitu beruntung menjadi wanita yang memiliki suami sepertinya. Aku bahagia ... Ya Allah.’ batin Khadijah.

__ADS_1


’Ya Allah, selalu tanamkan lah kesabaran di dalam hatiku untuk menghadapi istri seperti Khadijah. Meskipun, ia belum siap memberikan kewajibannya, maka aku akan selalu sabar untuk menantinya.


Keduanya kembali terpejam. Dan setelah mendengar suara adzan subuh berkumandang, Khadijah bangun terlebih dahulu. Lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Dan seusai berwudhu, Khadijah melihat Yulian yang masih terpejam rapat dalam tidurnya. Sehingga ada rasa tak tega dalam hati Khadijah untuk membangunkannya. Sedangkan Yulian sendiri ia lupa untuk menyalakan alarmnya.


’Aku jadi tidak tega untuk membangunkannya. Begitu pulas tidurnya, mungkin Dia juga lelah.’ batin Khadijah.


Dan subuh itu Khadijah melakukan sholat sendirian dan membiarkan Yulian terlelap dalam tidurnya. Namun itu salah, ketika jam sudah menunjukkan pukul lima lebih, Yulian uring-uringan.


”Humaira ku, seharusnya tadi kamu membangunkan Hubby untuk melakukan sholat. Kalau seperti ini kan, bisa telat sholat nya.”


”Ya maaf, Hubby. Tadi rasanya tak tega saja membangun Hubby karena ... melihat tidurnya pulas banget. Gitu saja kok marah.”


Sejenak Yulian menghela nafas panjang ketika melihat Khadijah memanyunkan bibirnya. Akan tetapi, Yulian masih mau menjalankan sholat subuh yang hampir habis waktunya. Dan setelah dua rakaat subuh sudah dijalankan, Yulian menghampiri Khadijah yang merajuk di dekat jendela.


”Humaira nya Hubby, jangan marah ya! Tadi itu ... Hubby tidak marah, tapi hanya mengingatkan saja. Selelah dan selelap apapun Hubby tidur ... tolong Humaira bangunkan ketika jam sholat sudah tiba.” Khadijah mengangguk, tetapi bibirnya masih dimanyunkan ke depan.


”Kesini sebentar! Duduk dan dengarkan Hubby!”


Yulian menarik lengan Khadijah dan memintanya untuk duduk di muka kasur.


”Hubby hanya tidak ingin Humaira masuk neraka. Memangnya Humaira nya Hubby ini mau masuk neraka? Tidak, kan?”


Khadijah hanya menggelengkan kepala.

__ADS_1


” Makanya, kalau mau jadi istri yang sholehah untuk suami, bangunkan Hubby dan ingatkan Hubby akan sholat. Mau, kan?”


Khadijah mengangguk, lalu mengulas senyum di bibirnya. Dan Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah, lalu mengajak Khadijah untuk sarapan di luar setelah satu minggu hanya sarapan di hotel saja.


__ADS_2