Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 104 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Ahtar masih menelusuri setiap jalanan malam di kota Edinburgh, tetapi ia pun masih tak kunjung menemukan keberadaan Hafizha. Hingga membuat pikirannya terkecai, rasa khawatir dan amarah seolah menjadi satu.


‘Dek... kamu dimana sekarang? Kenapa aku gagal menjaganya, Ya Allah...’


Ingin rasanya Ahtar menyerah, menghentikan laku motornya untuk berhenti sejenak dan menenangkan pikirannya di sebuah Masjid. Karena bagi Ahtar hanya pertolongan Allah SWT yang akan mempertemukannya dengan Hafizha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kamu tidak apa-apa kan, Neng?” tanya Yulian dengan rasa khawatir yang membuncah.


“Seharusnya Hubby tidak usah peduli kan Neng, seharusnya Hubby kejar saja Hafizha,”


“Neng, mana bisa Hubby tidak peduli sama Neng? Lagipula ada Ahtar yang mencari Hafizha, Hubby yakin Ahtar bisa menemukan keberadaan Hafizha.”


Yulian menciba menenangkan Khadijah dengan merengkuh nya ke dalam dekapan yang menghangatkan. Dan Khadijah pun menangis tergugu dalam dekapan Yulian.


“Neng yang tenang, ini sudah takdir Allah SWT. Mungkin... ini memang sudah saatnya Hafizha tahu tentang masa lalunya. Dan Hubby yakin, Hafizha akan luluh dengan seiringnya waktu.” Yulian mengusap punggung Khadijah dengan lembut.


Khadijah memberikan anggukan kecil, mempercayai setiap yang diucapkan Yulian. Setelah Khadijah merasa cukup tenang, Yulian memintanya untuk istirahat kembali. Akan tetapi, Khadijah menolak, ia ingin melihat Hafizha kembali pulang.


“Neng, dengarkan Hubby! Jangan seperti ini, keadaan Neng belum memungkinkan untuk terlalu banyak berpikir. Jaga kesehatan Neng, Hubby mohon! Ingat, masih ada Abizzar yang harus mendapatkan kasih sayang dari Neng.”


Sontak Khadijah menatap Yulian, Khadijah merasa hatinya tercubit dengan setiap yang diucapkan Yulian. Khadijah juga membenarkan hal itu, ia tidak ingin mengulang masa lalu dalam kehidupan Abizzar.


Khadijah mengangguk, Yulian mulai membelai rambut Khadijah yang tidak memakai hijab. Hingga Khadijah pun mulai tertidur. Dan setelah Yulian memastikan Khadijah sudah terlelap, Yulian mencoba menghubungi Ahtar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ya Allah, berikanlah aku petunjuk-Mu.” Ahtar mengusap gusar wajahnya.


Untuk mendamaikan hatinya Ahtar masuk ke dalam Masjid lalu mengambil air wudhu dan berdzikir di sana. Setelah setengah jam akhirnya Ahtar mendapatkan ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Setelah itu ia kembali melajukan motornya dan mencari Hafizha.


“Tolong,” teriak seseorang.


“Tolong...”


“Tolong...”


Ahtar mendengar samar suara seorang wanita yang tengah meminta tolong. Dan ia pun menghentikan motornya laku mencari pusat suara itu yang terdengar mengkhawatirkan.


Terlihat di jalanan yang cukup gelap, tidak ada cahaya lampu sebagai penerang nya. Hingga Ahtar tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di sana. Hanya bisa mendengar suara seorang gadis yang tengah di kepung oleh beberapa lelaki dengan pakaian bak preman.


“Berhenti!” teriak Ahtar dengan lantang.


“Bang Ahtar,” pekik Hafizha.


Ahtar mendekat, begitupun dengan kelima preman itu yang menghadang Ahtar semakin maju. Sedangkan Hafizha berlari menuju di mana Ahtar berdiri.


“Hafizha, ternyata itu kamu,” pekik Ahtar.


Hafizha mengangguk. Seketika ada rasa lega dalam hati Ahtar sudah menemukan Hafizha, tetapi ia harus melawan kelima preman itu sebelum meninggalkan tempat yang begitu sepi pada saat jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam.


“Hafizha takut, Bang.” Tubuh Hafizha bergetar.

__ADS_1


“Kamu sekarang mundur dan cari tempat untuk sembunyi. Abang akan mencoba melawan mereka.” Ahtar mengangguk kecil, meyakinkan Hafizha untuk melakukan perintahnya.


“Tapi, Bang...”


“Pergilah, cepat!”


Hafizha mengangguk, ia berlari mencari tempat untuk bersembunyi agar preman itu tidak lagi mengincarnya. Di balik sebuah bangunan rumah yang kosong Hafizha bersembunyi, tetapi masih bisa menyaksikan Ahtar berkelahi dengan kelima preman itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kepala Yulian seketika berdenyut nyeri saat nomor Ahtar tidak bisa dihubungi. Sudah kelima kalinya Yulian mencoba menelepon Ahtar tapi hasilnya sama-sama nihil, tidak ada jawaban sama sekali dari Ahtar.


“Halo, assalamu'alaikum, Abi,” ucap Arjuna dari seberang.


“Waalaikumsalam, Nak. Emm... Apa saat ini kamu sedang sibuk?”


“Tidak Abi, kebetulan Juna baru saja selesai menjalani operasi. Jadi, sekarang sedikit santai.”


“Bolehkah Abi meminta tolong kepadamu?”


“Apa Abi?”


Yulian pun menjelaskan semua apa yang sudah terjadi di rumah kepada Arjuna. Dan setelah mendengar cerita itu Arjuna seketika berangkat, melajukan mobilnya dan mencari keberadaan Hafizha serta Ahtar yahh tidak kunjung pulang ke rumah.


‘Ya Allah, rasanya hamba cemas sekali memikirkan putra dan putri hamba di luar sana. Jagalah mereka dalam perlindungan-Mu.’ Batin Yulian.


Yulian tiada hentinya melangitkan doa, meminta kepada Allah SWT untuk selalu memberikan perlindungan kepada anak-anak nya.


“Prakkcaahh.”


“Ada apa dengan Ahtar? Kenapa bisa fotonya jatuh dan pecah, sedangkan tidak ada angin ataupun yang sengaja menjatuhkannya.”


“Ya Allah... tetaplah lindungi Ahtar, putra hamba.”


Yulian tidak bisa tinggal diam, ia membangunkan Cahaya yang sudah tertidur bersama Garda dan Abizzar sejak pukul 22.00 malam tadi.


Yulian mengetuk pelan pintu kamar Cahaya yang tidak ditutup rapat, sebagai mertua yang tidak jelalatan Yukian menjaga Cahaya dan menghormati layaknya seorang mertua kepada menantunya.


“Ada apa, Abi? Apa... Hafizha dan Ahtar sudah pulang?” tanya Cahaya setelah membuka pintu.


“Belum.” Yulian menggeleng. “Abi cuma mau kamu menjaga Bunda juga. Abi... merasa tidak tenang.”


“Baiklah! Abi. Nanti Cahaya akan minta bantuan bik Inem saja untukemkaga Garda dan Abizzar, biar Cahaya menemani Bunda di kamar.” Cahaya pun menyetujui permintaan Yulian.


Yulian lagsung menuju ke kamar Abdullah, memintanya untuk menemani mencari Hafizha dan Ahtar yang sudah sejak tadi tidak pulang.


“Kita harus lewat jalur mana, Yulian? Sungguh, aku tidak tahu kemana perginya Hafizha tadi.” Abdullah bimbang, karena jalan pun sudah nampak sepi.


“Kita ambil jalan saja ke kanan. Jika kita tidak menemukan mereka maka, kita putar balik saja.” Yulian menunjuk ke arah jalan kanan.


Tidak membutuhkan waktu yang lama lagi, Abdullah segera melajukan mobilnya ke arah jalan kanan. Pandangan Yulian dan Abdullah hilir mudik mencari keberadaan Hafizha di sekitar jalanan yang sudah sepi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


‘Gawat, mereka kenapa membawa pisau semua? Ya Allah, bagaimana jika aku akan mati konyol ditangan mereka?’ ucap Ahtar dalam hati.


Ahtar mendesah, beberapa kali mengusap wajahnya gusar dan hanya bisa meminta perlindungan kepada Allah SWT dari segala keburukan dan kejahatan yang akan preman itu lakukan terhadapnya.


Ahtar sejenak menutup kedua matanya sebelum memulai kembali perkelahian dengan kelima preman itu. Dengan tangan kosong Ahtar akan melawan kelima preman itu yang sama-sama menggenggam pisau.


Satu detik...


Dua detik...


“Joss.” Tinjuan Ahtar mendarat di perut salah satu preman itu.


“Bruaakk,”


Ahtar menjatuhkan kembali tubuh salah satu preman itu hingga mengenai gerobak yang sudah lapuk dan gerobak itupun hancur tertindih oleh tubuh preman itu.


Satu persatu Ahtar mampu melumpuhkan keempat preman itu dan kini tinggal lah satu preman lagi. Dengan wajah yang nampak beringas dan terlatih, preman itu berani one to one menghadapi Ahtar.


‘Ya Allah... kurang satu lagi,’ batin Ahtar.


Preman itupun menatap tajam wajah Ahtar, setiap gerak-gerik yang dilakukan Ahtar saat memberikan perlawanan selalu ditangkis olehnya. Dan seolah preman itu siap menerkam mangsanya yang sudah berani merecohkan rencananya.


“Ssrrrttt.”


“Argghhh,”


Pisau itupun menusuk perut Ahtar hingga menggoreskan luka yang membuat darah keluar dari perutnya seketika. Preman itu melihat sembari tersenyum semirk saat pisau berhasil membuat tubuh Ahtar limbung.


“Bang Ahtar,” teriak Hafizha.


Tangis pun seketika pecah, Hafizha tidak bisa lagi menahan diri untuk tetap bersembunyi di balik gedung kosong itu.


Hafizha berusaha untuk memanggil Ahtar sebelum Ahtar benar-benar hilang kesadaran.


“Dek, ma-afkan Bang A-ahtar. A-bang ti-dak bisa men-jaga-mu dengan baik, tapi... sa-tu hal yang Abang min-ta sama kamu. Ja-ngan marah sama Abi dan Bunda.”


Bagi Ahtar semua terasa gelap dan kesadarannya pun telah hilang. Hingga membuat Hafizha tergugu seraya mendekap tubuh Ahtar yang sudah tidak sadarkan diri.


Saat itu pula preman yang sudah menusuk Ahtar ingin kembali membawa Hafizha untuk melayaninya. Namun, hal itu bisa dicegah.


“Pergi sekarang! Aku tidak mau melihat wajahmu ada di sini.” Suara lantang seorang wanita membuyarkan niat buruk preman itu.


“Siapa kamu? Apa kamu mau sok jagoan seperti laki-laki ini? Tapi sayang, Dia sudah tiada di tanganku. Ha... Ha... Ha...” Tawa preman itu menggema.


Wanita itu merasa geram, hingga perkelahian pun telah terjadi antara keduanya. Sedangkan Hafizha tidak mempedulikan lagi apa yang terjadi, yang hanya dipedulikan tak lain adalah Ahtar. Namun, Hafizha juga tidak bisa berbuat apapun untuk menolong Ahtar.


“Bang Ahtar, bangun! Hafizha janji, Hafizha akan mendengarkan penjelasan Abi dan Bunda tanpa amarah sedikitpun. Tapi Bang Ahtar harus bangun sekarang. Hiks... Hiks... Hiks...”


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi wanita itu untuk melumpuhkan preman yang begitu menjengkelkan.


“Aku sudah menghubungi ambulans, kita tunggu bersama.” Wanita itu mengusap pundak Hafizha dengan lembut.


Hafizha tetap diam, tetapi bukan berarti ia acuh kepada wanita yang sudah menolongnya. Hanya saja rasa khawatir masih begitu dalam dirasakannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2