
Aku harus mempertanyakan masalah ini kepada Abi, dan Bunda Khadijah... apakah benar ibu kandungku?’ tanya Hafizha dalam hati.
Dengan langkah sedikit berlari Hafizha menuju ke ruangan Khadijah agar segera sampai di sana. Rasa penasaran seketika menyelimuti Hafizha, dirinya serasa bergetar dan seolah tidak sanggup jika apa yang dikatakan Alex adalah kebenarannya.
Pertanyaan-pertanyaan bermunculan dalam pikirannya, memenuhi seisi kepalanya. Dan air mata seakan tidak bisa dibendung lagi, tetapi Hafizha terus berusaha untuk menyimpan air matanya.
‘Hafizha, kamu harus bisa kuat. Sabar... ini bukan saatnya kamu mengajukan pertanyaan itu kepada Abi dan Bunda Khadijah.’
Hafizha menyaka air mata yang mengembun di pelupuk matanya, bayangan Alex dan setiap perkataan yang diucapkan Alex terus berputar dalam pikiran Hafizha. Dan untuk menenangkan hatinya Hafizha mengambil air wudhu dan berdiam diri sejenak di mushola rumah sakit. Setelah itu ia menjalankan sholat ashar dan mengadukan semua isi hatinya kepada Allah SWT.
“Ya Allah... hamba tahu hanya Engkau yang membuat skenario kehidupan hamba-Mu ini. Dan hamba yakin, Engkau juga akan mempermudah hamba menjalani setiap cobaan dari-Mu. Ya Allah... perbesar hati hamba jika memang hamba bukanlah putri dari Abi dan Umi. Aamiin.”
Setelah cukup tenang Hafizha kembali ke ruangan Khadijah. Dan Hafizha berusaha untuk terlihat baik-baik saja agar tidak ada yang curiga jika ia baru saja bertemu lagi dengan lelaki bernama Alex.
Hafizha mengucapkan salam sesudah membuka pintu ruangan Khadijah. Terlihat di sana sudah ada Ahtar yang ikut menjawab salam Hafizha.
“Darimana, Dek?” tanya Ahtar.
‘Ya Allah, apa bang Ahtar dan bang Juna juga bukan kakak hamba? Ya Allah... berikanlah hamba jawaban yang pasti atas pertanyaan ini.’ Hafizha bermonolog dalam hati.
“Dek, kok bengong saja sih? Ada apa?” Ahtar kembali bertanya.
“Ah tidak kok, Bang. Izha hanya mengingat... ada yang belum Izha beli bukunya.” Hafizha menjawab dengan alibinya saja agar Ahtar tidak merasa curiga dengannya.
“Besok bisa beli lagi, karena sekarang kita harus kembali pulang. Sudah sore, bahkan hampir malam.” Yulian mengusap puncak kepala Hafizha yang membuat Hafizha merasa nyaman.
Hafizha pun mengangguk, lalu Yulian dan Hafizha berpamitan hendak pulang. Dan saat Hafizha menyalami Khadijah, ada rasa yang tidak bisa dibohongi yaitu rasa cinta. Bahkan Hafizha merasa ada yang berbeda saat netranya menatap manik Khadijah yang hampir sama dengannya, memiliki manik kecoklatan.
Deg...
__ADS_1
‘Sama. Apa ini pertanda dari-Mu Ya Allah?’
Yulian dan Hafizha meninggalkan Khadijah bersama Ahtar. Karena malam itu giliran Ahtar yang akan menjaga dan menemani Khadijah, sedangkan Yulian harus membagi waktunya dengan Abizzar. Karena seorang ayah juga tidak tega jika membiarkan Abizzar terus menerus di urus sama Cahaya.
[Jaga diri baik-baik, jangan sampai lupa minum obatnya dengan tepat waktu. Jika memerlukan sesuatu bilang saja sama Ahtar, jangan sungkan. Hubby... akan selalu merindukanmu, Neng.]
Saat masih berada di perjalanan Yulian mengirim sebuah pesan kepada Khadijah. Dan saat itu juga Hafizha tiada hentinya terus menerus menatap Yulian karena ia ingin mendapatkan bukti kemiripan dengan Yulian, itupun jika memiliki kemiripan. Akan tetapi Hafizha tidak melihat hal itu, membuat Hafizha merasa tertampar. Dan ia harus siap mental jika saja kenyataan yang akan terungkap adalah ia putri dari Khadijah dan Alex.
‘Ya Allah, kenapa hidupku menjadi serumit ini? Jika benar kenyataannya seperti yang dikatakan orang tadi, hamba hanya bisa berharap Abi Yulian dan kakak-kakak hamba akan tetap menyayangi hamba.’
Hafizha berusaha untuk bersikap tenang, menyembunyikan rahasia yang belum terungkap. Dan sesekali Hafizha melukiskan senyum saat Yulian mengarahkan pandangan ke arahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Jika Bunda membutuhkan sesuatu maka... jangan sungkan bilang sama Ahtar. Dan Ahtar akan selalu duduk di sini untuk menemani Bunda.” Terang Ahtar saat berdiri di samping brankar.
“Iya, Ahtar. Mana mungkin juga jika Bunda sungkan sama putra Bunda sendiri. Tadi... Abi mu juga mengirim pesan yang sama persis dengan yang kamu katakan.”
Ahtar yang sudah terbiasa menangani pasien, sesekali Ahtar membenarkan selang infus yang masih menempel dengan setianya di punggung tangan Khadijah.
“Ahtar, apa kamu juga terbiasa berdekatan dengan pasien wanita seperti saat kamu memeriksa Bunda seperti ini?”
“Tidak, Bun.” Ahtar menggelengkan kepalanya. “Ahtar itu dokter kordiologi, kebanyakan pasien Ahtar kaum lansia. Jadi... biasa sedekat ini jika pasien Ahtar kakek-kakek ataupun nenek-nenek.”
Khadijah terkekeh mendengar ucapan Ahtar. Dan dalam hatinya Khadijah berdecak kagum setelah menelaah sikap dan sifat Ahtar yang patut diacungi jempol. Karena mengingat jaman sekarang kalangan anak muda yang semarak, bertingkah tidak sopan, mempermainkan banyak wanita di sana-sini, berkunjung di tempat diskotik bahkan meminum minuman yang mengandung alkohol. Sangat disayangkan sekali kehidupan mereka yang hanya mengandalkan kekayaan kedua orang tua mereka.
“Sudah malam, Ahtar. Apa kamu tidak mau makan dulu?”
“Sebenarnya sih belum lapar, Bun. Tapi tenang saja, Ahtar tadi sudah pesan makanan melalui grabfood. Mungkin sebentar lagi akan datang.” Terang Ahtar dengan begitu santai.
__ADS_1
“Jangan sampai telat makan, jika kamu jatuh sakit maka... akan ada wanita yang mengkhawatirkan kamu, Ahtar.” Khadijah berusaha memancing perasaan Ahtar kembali saat bayangan Humaira melintas di pelupuk matanya.
“Tak akan ada, Bun. Palingan wanitanya juga Bunda sama Hafizha. Iya, kan?”
“Itu pasti, Nak. Bunda akan selalu mengkhawatirkan anak-anaknya di kala sedang jauh, sakit atau menyimpan masalah sendirian.”
“Oh iya... berhubung kita hanya berdua saja bolehkah jika Bunda bertanya?”
Ahtar mengangguk dengan pasti. Karena dengan adanya obrolan ringan semacam itu akan membuatnya semakin dekat dengan Khadijah, wanita yang kini menjadi ibu sambungnya. Dan Ahtar akan selalu mengingat janjinya kepada Aisyah.
“Apa kamu benar-benar tidak memiliki perasaan apapun dengan Humaira, Nak?”
“Tidak Bunda, cinta akan hadir dengan sendirinya dalam hati kita. Cinta pun tidak bisa untuk dipaksakan sesuai dengan keinginan kita. Dan Allah juga sudah memiliki dua hal yang harus dilakukan seorang hambanya jika tengah merasa khawatir akan jodoh yang tidak kunjung datang.”
“Dengan sholat tahajud rasa khawatir dalam diri kita akan hilang dan dengan sholat istikharah kita akan dipermudah dan diperjelas persoalan pekerjaan, jodoh, jual beli, pendidikan, dan lain sebagainya.” Terang Ahtar yang panjang tetapi mudah dimengerti oleh Khadijah.
Khadijah manggut-manggut, membenarkan dan menyetujui apa yang diucapkan oleh Ahtar. Sebagaimana dirinya yang melakukan hal sama sebelum menerima khitbah dari Yulian dan meyakinkan hatinya untuk memutuskan menjadi istri seorang CEO terbesar, lelaki yang dulu pernah ia cinta dalam pandangan pertama.
Tidak lama kemudian ponsel Ahtar berdering, pengantar makanan telah menghubunginya untuk memebeutahukan jika makanan yang sudah dipesan Ahtar sudah tiba dan Ahtar ditunggu di lobi untuk mengambil makanan tersebut.
“Pesan apa, Dok?” tanya Faruq yang tidak sengaja melihat Ahtar melakukan transaksi.
“Pesan makan enak, Faruq. Kamu mau?”
“Ya... itupun jika Dokter Ahtar mau kasih.”
Ahtar pun terkekeh, lalu ia memberikan satu kotak makanan yang sudah di pesannya tadi. Karena Ahtar memesan makanan lebih dari lima kotak.
Tidak mungkin kan, jika Ahtar rakus?
__ADS_1
Bersambung...