Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 143 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Hari demi hari telah berganti, Khadijah dan anak-anak nya selalu disibukkan dengan pengajian yang mereka gelar sampai hari ke-tujuh meninggalnya Yulian. Dan hari ini adalah hati tepat di mana Yulian telah meninggalkan semuanya, yaitu pada hari ke-tujuh.


“Hafizha, kamu bisa bantu Bunda untuk datang ke pesantren saja. Pergilah bersama Abang mu, Ahtar.”


Pagi itu, Khadijah dan papa Adhi merencanakan bagi makanan untuk anak yang belajar di pesantren dan juga anak panti. Dan para pembaca jangan bertanya lagi tentang banyaknya uang yang keluar dari keluarga mereka. Karena itu sudah jelas banyak, dan hal itu tak akan pernah sebanding dengan apa yang Allah berikan kepada Yulian sebelumnya. Dan di atas langit masih ada langit, kita sebagai manusia tidak boleh sombong.


“Baik, Bun. Hafizha akan bantu bang Ahtar.” Hafizha mengangguk.


Setelah memberi titah kepada Hafizha, lalu Khadijah berlanjut menemui Arjuna dan Cahaya. Tugas yang sama telah diberikan kepada mereka, memberikan makanan kepada anak panti. Dan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama lagi untuk menunda tugas itu, karena mengingat waktu yang berjalan selalu berharga mereka pun langsung melesat ke tempat tujuan dengan dua mobil yang berbeda.


“Zuena.Ya Allah, entah kenapa pikiran ini terus dipenuhi dengan gadis itu? Semoga saja Dia selalu dalam lindungan Engkau. Dan jika benar putra hamba tidak berjodoh dengan gadis itu, semoga Engkau menggantikannya dengan sosok yang baru.” Monolog Khadijah sebelum masuk ke dalam rumah.


Semenjak malam itu, ketika Ahtar sudah menceritakan semuanya kepada Khadijah, Khadijah mencoba mengerti bagaimana perasaan Ahtar saat itu. Pastinya akan hancur, kecewa dan kembali bimbang karena cinta yang tak terbalas. Akan tetapi, Khadijah tak pernah berhenti untuk selalu membuat hati Ahtar tegar dan terus bersabar. Meskipun saat ini hati Khadijah sendiri masih terluka dan kesedihan masih ia rasakan tetapi, janji yang pernah ia ucapkan dan amanah dari Yulian membuat Khadijah harus menjadi wanita yang kuat untuk keluarganya.


“Nyonya, kita mau buat makanannya berapa untuk acara nanti malam?” tanya bik Irah memastikan.


“Bagaimana kalau kita buatnya tiga ratus makanan saja bik? Nanti kita undang tetangga, santri dan kerabat. Sepertinya itu sudah banyak.”


Bik Irah manggut-manggut, tanda jika sudah mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Khadijah. Setelah itu bik Irah kembali ke dapur dan memasak apa yang harus di masak dalam acara tujuh hari kepergian Yulian. Dan bik Irah pun tak sendirian, ada Arumi, Humaira, beberapa Ibu-ibu tetangga dan tak ketinggalan dengan Khadijah itu sendiri.


“Khadijah, sebaiknya kamu makan dulu ya! Setahu aku kamu belum makan dari semalam.” Arumi menyentuh bahu Khadijah yang berusaha untuk kokoh.


“Saya tidak lapar, Arumi. Nanti saja, jika saya sudah lapar saya akan makan.” Khadijah menerbitkan senyum tipisnya.


Sekeras apapun Khadijah berusaha untuk tegar, tetapi raut wajahnya yang masih suka melamun, murung, sendu dan tak banyak bicara, membuat yang lainnya merasa iba dengan cobaan yang menimpanya.


“Baiklah!”


Arumi menghela napas panjang, serasa sulit membuat Khadijah untuk tersenyum seperti biasanya. Dan Arumi juga tahu bagaimana cinta dua insan itu_selalu harmonis, romantis dan pasangan yang patut untuk dicontoh.


“Arumi, aku mau pamit ke makam mas Yulian dulu, ya! Nanti kalau anak-anak sudah pulang dan mencariku katakan saja kepada mereka jika aku ke makam.”


Tepat di hari ke-tujuh Yulian tiada Khadijah ingin mengunjungi makam Yulian sekaligus makam Aisyah dan keluarga Aisyah.


“Apa perlu Humaira atau aku temani kamu kesana, Khadijah?” tanya Arumi memastikan. Karena Arumi tidak ingin jika Khadijah akan kembali bersedih saat berada di makam nanti.


“Tidak perlu. Aku bisa kok, kamu disini bantu yang lainnya saja.” Khadijah mengulas senyum, ia berusaha agar Arumi tidak mengasihani nya yang berlarut dalam rasa kehilangan, meskipun pada kenyataannya itu memang masih dirasakan Khadijah.

__ADS_1


Khadijah mengendarai mobilnya sendiri, dan tidak membutuhkan waktu yang lama lagi akhirnya Khadijah pun tiba di makam, tempat yang menjadi tujuannya untuk mengunjungi Yulian dan Aisyah.


“Assalamu'alaikum, Hubby. Neng pagi ini datang mengunjungi Hubby, Neng... rindu. Hubby apa kabar di sana? Neng disini dan juga anak-anak selalu mendoakan Hubby di surga. Dan pastinya... Hubby sudah bertemu dengan Aisyah, kan? Neng senang, meskipun kita berbeda dunia tetapi, Neng yakin kebahagiaan akan selalu Hubby dapatkan di surga bersama Aisyah.”


“Dan jika Hubby bertanya Neng cemburu atau tidak? Jawaban tidak, karena Neng tahu bagaimana pun juga kekasih Hubby di surga adalah Aisyah.”


“Hubby, Neng disini kesepian tanpa Hubby. Tapi, setiap kesedihan yang Neng rasakan anak-anak dan sahabat kita selalu menguatkan serta menghibur Neng agar Neng kembali tertawa. Tawa lepas tanpa adanya beban... kerinduan.”


“Hubby, Neng pamit dulu ya! Neng harus menyiapkan acara ke-tujuh hari Hubby tiada. Dan lain waktu lagi Neng akan datang lagi bersama anak-anak. Assalamu'alaikum.”


Setelah mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Yulian di sana, Khadijah mencurahkan unek-unek yang ada dalam hatinya. Dan setelah merasa lega, Khadijah pun berpamitan pada makam Yulian dan juga mencium batu nisan itu. Lalu, Khadijah berganti mengunjungi makam Aisyah.


“Assalamu'alaikum, Aisyah. Aku datang mengunjungi mu hari ini, semoga kamu di sana tidak akan pernah lupa sama aku. Dan aku sudah mengembalikan mas Yulian kepadamu. Semoga kalian bahagia di surga-Nya Allah.”


“Aisyah, aku pamit dulu ya! Dan aku janji, aku akan menjaga anak-anak kita seperti kamu yang sudah menjaga mereka dengan sepenuh hati. Assalamu'alaikum.”


Setelah itu Khadijah menaburkan sisa bunga yang ada di ranjang nya ke makam keluarga Aisyah. Setelah usai, Khadijah pun kembali pulang dengan perasaan yang masih sama, sulit diartikan.


Bukannya itu sudah sangat jelas akan sulit diartikan bukan? Kita sebagai manusia memang takut dengan rasa kehilangan, tetapi kita sebagai manusia juga tidak bisa berbuat apapun selain menerima dengan ikhlas. Karena semua akan kembali kepada Allah meskioin kita tidak tahu kapan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Alhamdulillah, sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu para tamu datang.” Arumi bernapas lega, setelah dibuat lelah seharian akhirnya acara itu akan segera tiba.


“Terimakasih, karena kalian sudah membantu selama ini. Kalian selalu ada buat aku,” ucap Khadijah.


Arumi menghampiri Khadijah dan menatap Khadijah dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan Arumi selalu berusaha untuk menghibur Khadijah agar melupakan kesedihan yang mungkin saja masih menyelimuti nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semua tamu berdatangan. Papa Adhi, Arjuna, Ahtar, Alex dan Abdullah yang berdiri di depan menyambut tamu yang sudah tiba di sana. Setelah semua sudah berkumpul acara inti pun telah digelar. Membaca surat-surat dan doa untuk para leluhur yang sudah tiada. Setelah selesai, dilanjut dengan acara makan bersama. Lalu, pembagian makanan yang akan dibawa pulang oleh para tetangga dan juga santrai sekaligus tamu yang diundang.


Suasana kembali sepi, hanya ada keluarga dan sahabat seperti Tristan, Arumi dan Abdullah yang masih tinggal di sana. Tetapi, esok paginya mereka harus kembali ke Edinburgh, karena mereka mempunyai amanah yah hatus tetap dijalankan sebagaimana Yulian sudah merintis nya dengan susah payah dulu.


“Setelah ini pasti kita akan lama lagi bertemunya. Kalian baik-baik di sana ya!” ucap Khadijah.


Malam itu, sebelum melepas rasa lelah keluarga dan para sahabat masih berkumpul bersama diruang keluarga yang cukup luas. Dan obrolan pun bergulir menemani kebersamaan mereka.

__ADS_1


“Kalau waktu lebaran tiba, kita akan usahakan untuk datang lagi kesini.” Arumi mengulas senyumnya.


“Oh iya, Hafizha kamu mau lanjut kuliah di Medan atau bagaimana?” tanya Humaira.


“Tidak kok kak, aku mau kuliah di Kairo. InsyaAllah aku mau memperdalam islam, siapa tahu aku dapat jodoh di sana nanti. Kan, keren itu!” jawab Hafizha sambil memggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Semua pun seketika tertawa, merasa lucu saja dengan kejujuran Hafizha. Tetapi, sangat disayangkan tak ada lagi sosok ayah yang akan mendampingi pertumbuhannya hingga dewasa. Namun, Hafizha berjanji pada dirinya sendiri akan tetap menjaga marwah nya seperti apa yang sudah diajarkan Yulian selama ini.


“Dek, masih kecil jangan mikirin lelaki. Apalagi jodoh,” ketus Ahtar.


“Memangnya kenapa, Bang? Abang iri ya kalau nanti Hafizha dapt jodoh duluan? Tidak seperti Abang...” Hafizha menghentikan ucapannya.


“_bujang lapuk,” sambung Arjuna seraya tertawa.


Seketika semuanya kembali tertawa, hanya Ahtar saja yang tidak tertawa. Dan ucapan Arjuna sungguh membuat Ahtar menohok hatinya. Tapi ya, mau bagaimana lagi. Yang namanya jodoh tidak akan pernah tahu kapan akan datang dan dengan siapa kita akan bersanding.


“Tak apalah bujang lapuk. Asalkan nanti dapat yang lebih sholehah... seperti Bunda dan Almarhum Umi. Keduanya sama-sama sholehah,” sahut Ahtar dengan percaya diri.


Khadijah yang merasa disebut namanya sedikit menampilkan senyum. Bahagia sejenak. menyelimuti hatinya dan menyisihkan sedikit rasa sedih yang masih menyelinap di sana. Khadijah tak akan pernah membayangkan jika sikap Ahtar dan Arjuna akan tetap sama meskipun Yulian sudah tidak lagi menjadi suaminya. Dan saat ini Khadijah pun menjadi janda.


“Aamiin,” pekik semuanya bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam yang sangat tenang, membuat Khadijah merasakan damainya malam dalam hembusan angin yang berhembus dengan lembut. Dari atas balkon Khadijah menatap langit yang ditaburi banyak bintang. Dan pandangannya terkunci pada satu bintang yang bersinar dengan amat terang. Begitulah angkasa, akan terlihat menarik dan indah jika aurora menebar di sana.


“Bintang itu bersinar dengan sangat terang. Jika, bintang itu kamu, Mas. Aku akan menceritakan banyak hal tanpa kamu mendampingiku.”


“Hari ini tepat hari ke-tujuh kamu pergi dan menghilang dari semesta. Dan hari ini setelah kesedihan sempat menyelimuti hati setiap orang tetapi, obrolan dari mereka telah mengundang tawa. Tawa yang akan membuat kita semakin erat.”


“Aku rindu sama kehadiran kami, perhatian, kelembutan dan segala hal yang pernah kamu lakukan kepadaku, cinta yang kamu. genggam selama di dunia.”


“Terimakasih, selama ini kamu telah menjaga cinta itu untukku. Terimakasih telah membuat hari-hari ku semakin berwarna. Dan terimakasih untuk segalanya.”


Khadijah berbicara sendiri, seolah ia sedang mencurahkan apa yang ada dalam benaknya kepada bintang yang paling terang malam itu. Dan saat Khadijah mengalihkan pandangannya ke bawah, ia melihat Ahtar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2