Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 65 “TC”


__ADS_3

“Arumi, aku mau bicara sama kamu. Bisakah kita bicara empat mata saja?”


Setelah usai makan siang Khadijah mendekati Arumi dan memintanya untuk bicara empat mata saja. Karena Khadijah tidak bisa menyimpan rasa itu sendirian saja, sedangkan Khadijah sudah tahu betul Humaira menyimpan perasaan terhadap Ahtar. Dan perasaan itu terlihat sudah terlalu dalam, Khadijah mampu merasakan sebagai seorang perempuan.


“Ada apa Khadijah?” tanya Arumi memastikan.


Saat berada di dalam kamarnya, Khadijah mengatakan apa adanya tentang pengamatannya selama ini. Ia tidak mampu memendam perasaan itu, bahkan Khadijah takut jika saja Humaira akan merasakan yang namanya patah hati saat Ahtar tidak memiliki perasaan ataupun memginginkan hubungan yang serius dengannya nanti.


“Kalau begitu aku akan mengatakannya pada Humaira. Dia... harus tahu diri siapa sebenarnya Dia.”


“Arumi, bukan seperti itu cara kamu memberitahukan kepadanya. Dia masih remaja yang baru saja beranjak dewasa. Bukankah kamu tahu bagaimana perasaan cinta itu tumbuh dalam hati kita yang datang secara tiba-tiba tanpa kita memintanya dan tanpa kita bisa menghindarinya.”


“Aku tahu, Khadijah. Tapi...”


“Sudahlah Arumi, kita pasrahkan saja kepada Allah. Cukup pinta Humaira untuk tidak terlalu dalam merasakan cinta.”


Arumi dan Khadijah sama-sama mengangguk, mereka saling percaya jika mereka mampu mendidik anak mereka ke jalan yang benar.


Arumi dan keluarganya berpamitan karena malam sudah semakin melarut, tak baik bagi Atumi tetap berada di sana dan membiarkan Humaira melihat Ahtar meskipun hanya dalam bingkai foto saja.


“Assalamu'alaikum,”


“Wa'alaikumsalam.” Jawab seluruh keluarga dengan serempak.


Tepat pukul setengah sebelas malam Ahtar dan Hafizha baru pulang dari Tattu Edinburgh. Tidak ada gurat wajah kemarahan dari Yulian ataupun Khadijah, karena mereka tahu Ahtar akan menjaga Hafizha. Meskipun begitu mereka sebagai orang tua tidak akan pernah lepas kendali begitu saja. Yulian dan Khadijah akan membatasi cara berteman dan pergaulan di luar sana.


Setelah menyalami Yulian, Khadijah, Cahaya dan Arjuna, Ahtar dan Hafizha ikut bergabung duduk di ruang tamu. Dan obrolan ringan telah bergulir begitu saja, karena hanya di malam minggu saja mereka bisa mengobrol sepanjang waktu sampai malam pun tidak terasa sudah pukul dua belas malam.


“Hubby, Neng mau dong dibacain surat Al-Kahfi. Atau... surat yang lainnya juga boleh.” Khadijah menarik kedua ujung bibirnya dengan sempurna.


Setelah beberapa bulan bermalam di rumah sakit, membuat Yulian dan Khadijah tidak bisa leluasa untuk berduaan. Dan malam itu adalah malam pertama Khadijah kembali ke rumahnya, Yulian pun tidak ingin melewati kesempatan dengan cuma-cuma, sehingga ia melakukan apa yang dipinta Khadijah.


Yulian beringsut untuk mendapatkan kenyamanannya saat tidur setelah mendapati Khadijah yang terpejam seusai dibacakan surat Al-Kahfi oleh Yulian.


...****************...


“Ana uhibbuka fillah.”


Berulangkali kalimat itu hadir dalam mimpi Ahtar, membuatnya susah tidur setelah malam memasuki peraduan. Sehingga ia harus terbangun dan memutuskan untuk menunaikan sholat tahajud di malam itu agar hati dan pikirannya damai.


“Ya Allah... hamba tahu jika rasa cinta dan suka itu sudah tercipta sedari dulu. Bahkan jodoh hamba pun sudah Kau tuliskan dalam kitab abadi-Mu, akan tetapi ijinkanlah aku bertemu dengannya sekali saja atas petunjuk-Mu.”


“Jika itu adalah Humaira, maka dekatkanlah kami dengan cara yang mulia. Tetapi... jika itu bukanlah Dia, maka jauhkanlah kami dari fitnah yang keji. Aamiin...”


Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, tetapi Ahtar masih saja belum merasa kantuk dan kedua netranya masih terjaga dengan sempurna. Pikirannya pun masih terngiang akan mimpi yang selalu hadir dalam setiap malamnya.


“Sebenarnya... siapa wanita itu? Kenapa Dia... seperti bukan Humaira? Argghhh... Ya Allah, kendala cinta serumit ini?”


Karena tidak bisa tidur Ahtar memutuskan untuk memeriksa ulang data pasien yang harus diperiksa hati itu. Menatap jantung setiap orang yang berobat kepadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khadijah hanya bisa memandangi Yulian saat Yulian masih membaca mushaf dengan lantunan yang begitu merdu. Membuat hati dan jiwa Khadijah merasa damai walaupun hanya mendengar saja.


“Kenapa Neng tidak tidur, hmm?”

__ADS_1


“Neng tadi kabangun, Hubby. Mungkin sudah biasa bangun di jam segini. Tapi sayangnya... Neng tidak bisa menjalankan ibadah dan menghadap Allah secara privasi.”


“Sabar ya, pasti jika sudah tiba waktunya diperbolehkan, Neng bisa sepuasnya menghadap Allah.” Yulian mengusap puncak kepala Khadijah.


“Iya Hubby, Neng akan menikmati masa nifas Neng. Insyaa Allah, hanya empat puluh hari saja.”


Yulian mengangguk, lalu ia mengajak Khadijah untuk kembali tidur. Karena jam masih terlalu malam untuk melakukan aktivitas pagi.


Dan pada pukul empat pagi Yulian beringsut, ia ingin melakukan aktivitas pagi yang akan dimulai dari sesi dapur. Pagi itu Yulian akan masak beberapa makanan yang bisa disajikan untuk. sarapan bersama. Di mana Yulian memasak sup tulang, tom yum seafood dan tumis brokoli. Masakan sederhana tetapi memiliki gizi yang cukup dan baik untuk dikonsumsi.


“Tuan Yulian, Tuan kenapa ada di dapur sepagi ini?”


Bik Inem merasa terkejut saat mendapati Yulian yang memakai celemek dan bahkan bau masakan itu sudah menguar ke udara, membuat perut seketika keroncongan.


“Wah, kelihatannya enak itu, Tuan. Sini biar bik Inem yang bantu menaruh di atas meja.”


Bik Inem meletakkan satu persatu hasil masakan Yulian di atas meja makan. Dan setelah di rasa semua sudah siap, bi Inem dan Yulian membersihkan tubuh untuk menunaikan sholat subuh saat mereka mendengar adzan telah dikumandangkan.


“Neng, bangun yuk! Sudah jam lima loh ini.”


Sesekali Khadijah mengerjap-ngerjapkan matanya, menyempurnakan kesadarannya sebelum melakukan aktivitas di hari itu. Dan saat Khadijah sedang berada di kamar mandi, Yulian mendapatkan telpon dari dokter yang menangani Abizzar, di mana dokter itu mengabarkan bahwa Abizzar sudah diperbolehkan untuk pulang pada hari senin siang. Karena hari ini masih hari minggu, semua dokter sedang berlibur.


“Alhamdulillah...” pekik Yulian.


Air mata meluruh saat momen yang dinantikan akhirnya sebentar lagi akan segera terwujud, berkumpulnya keluarga besar adalah momen paling berharga baginya.


“Kenapa Hubby kok senyum-senyum sendirian seperti itu? Apa Neng ada yang aneh dalam berpakaian?” tanya Khadijah memastikan.


“Tidak kok, Neng. Neng itu cantik, sangat cantik. Bahkan istri Nabi pun tidak bisa menandinginya.” puji Yulian kepada Khadijah.


“Iya... iya... Hubby tahu, tapi Hubby punya berita penting yang akan membuat Neng bahagia.”


Khadijah membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Rasa penasaran pun muncul dalam hatinya, dan setelah Yulian mengatakan berita itu jelas kebahagian dan rasa syukur tiada tara begitu kentara dari Khadijah.


Sarapan bersama telah digelar. Dan seluruh anggota keluarga telah dikejutkan dengan masakan yang berbeda.


“Bang Juna, bang Ahtar, kak Cahaya... apa kalian tahu siapa yang masak ini?” tanya Hafizha yang membuat ketiga kakaknya itu saling pandang.


Dan ketiga kakaknya hanya menghendikkan bahu, lalu mereka kembali menatap makanan yang tidak pernah di makan dalam rumah mereka. Meskipun masakan itu sederhana, tetapi bik Inem ataupun Khadijah tidak pernah membuat masakan seperti itu, kecuali tumis brokoli.


“Kenapa kalian hanya berdiri saja? Kenapa tidak langsung duduk?” Sapa Khadijah.


Dan ke empat anaknya hanya menatap makanan yang berjejer di atas meja. Sehingga membuat pandangan Khadijah beralih ke meja makan.


“Ini... bukannya sop tulang, tong yum seafood dan tumis brokoli? Siapa memasak? Apa bik Inem?” tanya Khadijah kepada ke empat anaknya. Dan Mereka hanya menghendikkan bahu saja.


Khadijah seketika memanggil bik Inem, tetapi bukan untuk mengajaknya ikut sarapan pagi melainkan untuk bertanya siapa yang sudah masak masakan itu. Dan bik Inem pun menjawab dengan menyebut nama Yulian.


“Kata Tuan, ini makanan yang spesial untuk keluarganya. Bik Inem juga tidak tahu, malahan bik Inem tidak diijinkan untuk membantu masak. Cuma diijinkan membantu menyiapkan di atas meja saja.” Terang bik Inem dengan jujur.


Semuanya seketika membulatkan kedua mata mereka dengan sempurna. Mereka benar-benar tidak tahu apa rencana Yulian dengan semua itu. Bukan maksud anak dan istrinya tidak suka dengan menu sarapan pagi ini, tetapi terasa aneh saja. Mana masaknya banyak pula.


“Assalamu'alaikum, selamat pagi semuanya.” Ujar Yulian menyapa.


“Wa'alaiakumsalam.”Jawab serempak.

__ADS_1


“Pagi ini Abi sengaja memasak masakan itu, karena Abi ingin mengundang seseorang pagi ini. Mungkin... sebentar lagi juga akan datang.”


Ke empat anakanya dan juga Khadijah nampak bingung, mereka saling tatap sembari menghendikkan bahu mereka. masing-masing. Karena mereka benar-benar tidak tahu siapa tamu yang diundang sepagi ini. Membuat mereka semakin penasaran.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam dari luar.


“Wa'alaikumsalam,” jawab seluruh anggota keluarga Yulian dengan bersamaan.


Bik Inem seketika berjalan menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu kepada tamu yang sengaja diundang oleh Yulian. Membuat Khadijah, Ahtar, Arjuna, Cahaya dan Hafizha semakin merasa penasaran.


Tidak terdengar suara derap kaki yang melangkah, tetapi tidak lama kemudian tamu yang sengaja diundang telah memasuki ruang makan. Lalu, menyapa keluarga Yulian dengan sangat ramah, tidak mengurangi rasa sopan dan santun.


“Ikutlah sarapan bersama kami, Humaira. Pasti tadi kamu belum sempat sarapan, kan?” ajak Yulian.


“Iya, makanlah bersama kami... Nak.” Sambung Khadijah.


Humaira menurut, ia mengambil duduk di dekat Hafizha, tepatnya di depan Ahtar. Dan hal itu membuat Humaira merasa tidak enak hati serta merasa sedikit senang saat tatapannya tertuju langsung ke arah Ahtar.


Semua keluarga sedang melahap masakan yang dihasilkan oleh Yulian. Terasa lezat, tidak kalah lah dengan masakan para koki di restoran ternama.


“Maafkan Abi, jika Abi sudah memulai pembicaraan saat kita semua sedang makan bersama. Tapi, Abi mau bilang sama kalian semua jika... Humaira akan tinggal disini sementara waktu.”


“Uhuk... uhuk... uhuk...”


Seketika Ahtar tersedak makanan saat sedang mengunyah nya.


“Pelan-pelan, dek. Ini minum dulu!” Arjuna memberikan segelas air putih kepada Ahtar.


“Gluk... gluk... gluk...” Segelas air pun sudah habis tidak tersisa.


Dan Yulian menjelaskan kenapa Humaira akan tinggal di rumahnya selama beberapa waktu, karena Tristan harus bertemu dengan klien besar di Amerika Serikat, wajib bagi Arumi ikut dengannya. Sehingga Humaira harus tinggal sementara waktu di rumah Yulian, sebagai ganti Yulian tidak bisa ikut dengan Tristan.


“Semuanya sudah jelas, dan setelah ini Humaira harus pergi ke suatu tempat untuk mengerjakan tugas kuliah. Jadi... Abi minta tolong kepada Ahtar untuk menemani Humaira.”


“Maaf Abi, Ahtar tidak bisa. Ahtar dan Humaira jelas bukan makhram. Jadi, tidak wajib bagi Ahtar untuk menemaninya.” Tegas dan berkharisma.


“Biar Hafizha saja yang menemani, nanti di antar sama Om Abdullah.” Hafizha menawarkan diri.


Khadijah merasa benar apa yang dikatakan Ahtar, sehingga ia menyetujuinya. Dan Humaira tidak bisa menolak akan hal yang sudah disetujui oleh Khadijah, akan dirasa aneh jika Humaira tetap ingin Ahtar yang mengantarnya.


Mobil pun dilajukan dengan kecepatan sedang oleh Abdullah menuju ke Central Mosque. Masjid yang dibangun dengan dana dari Saudi Arabia, satu-satunya masjid di Edinburgh yang memang dari awal dibangun sebagai masjid. Masjid ini sangat internasional, di sana bisa melihat beraneka ragam jenis kelompok latar belakang Negara, dan madzhab fiqih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Hubby, Neng perlu bicara. Dan Ahtar, Bunda juga ingin bicara dengan kamu.” Khadijah menatap tajam Yulian dan Ahtar.


“Hubby, Neng mau bertanya apa maksud Hubby meminta Ahtar menemani Humaira? Seharusnya Hubby tahu bagaimana posisi mereka saat ini.” Tegas Khadijah.


“Iya, kenapa Abi meminta Ahtar untuk menemaninya. Ahtar ingin kejelasan dari maksud Abi.” Sambung Ahtar yang diselimuti dengan rasa penasaran.


Yulian menarik nafas panjang, ia tahu betul saat ini posisinya sedang berada dalam persidangan antara ibu dan anak. Dan Yulian akan membutuhkan waktu panjang untuk menjelaskan maksud dan tujuannya yang meminta Ahtar untuk menemani Humaira. Sedangkan yang kebanyakan orang tahu, Yulian selalu menerapkan untuk menjaga sikap dan martabat seorang lelaki di hadapan wanita yang dicintainya sekalipun.


“Abi hanya...”


Yulian menjelaskan semua maksud dan tujuannya kepada Khadijah dan Ahtar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2