
Khadijah mengangguk. Dan kini tawa bahagia telah menyelimuti mereka saat melihat pemandangan sebuah taman yang terhiasi dengan rerumputan yang hijau. Bahkan mereka selalu berswafoto dalam setiap momen dan pemandangan di Taman Meadows, Edinburgh.
**********
Yulian dan Khadijah pagi itu tidak melakukan aktivitas setiap pagi bersma keluarganya, karena ada sesuatu hal yang harus mereka lakukan bersama Tristan dan juga Arumi.
Di sebuah ruangan yang dikunci dengan rapat, Yulian tengah mengajukan pertanyaan kepada seorang anak lelaki yang bernama William, yang tengah melakukan aksinya selama dua malam di supermarket mini milik Yulian itu sendiri.
“Wahai anak muda, kamu memiliki tujuan apa sehingga berani mengambil beberapa barang yang bukan hakmu?”
William hanya diam dengan seribu bahasa, ia tidak bergeming dari tempat duduknya. Hanya kemarahan yang ia pendam saat menatap tajam Yulian yang duduk di hadapannya.
“Baiklah, jika kamu tidak mau mengatakan apa tujuanmu, tidak apa-apa.” Yulian mengulas senyum. “Siapa namamu?”
“Untuk apa kamu menanyakan namaku? Apa kamu ingin melaporkan aku ke polisi? Silahkan saja kalua begitu, aku akan menaggungnya.” Ketus William.
William memang anak remaja yang kurang akan kasih sayang kedua orang tuanya. Karena semenjak usianya menginjak lima tahun, kedua orang tuanya cerai. Sehingga keluarganya yang utuh seketika bercerai berai, tidak ada lagi kasih sayang dari ayah maupun ibunya, karena mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Hingga akhirnya kehidupan William kurang akan pendidikan dan sopan santun terhadap orang yang lebih tua darinya. Bahkan menjadikan dirinya sebagai anak berandalan.
“Wahai anak muda, usiamu mungkin hampir sama dengan putra kami. Tidak mungkin rasanya jika kami akan tega melaporkan kamu ke polisi. Dan lebih baik kamu katakan apa tujuan dan motif kamu melakukan hal yang tidak seharusnya kamu lakukan, siapa tahu kami bisa membantu.”
Khadijah berusaha untuk membujuk William dengan segala cara dan susah payah Khadijah melakukan akan hal itu. Tapi ujungnya, tidak ada jawaban apapun dari William. Bahkan William tidak menyebutkan namanya kepada Khadijah, Yulian, Arumi dan Tristan.
“Biar Hubby yang membujuknya.”
“Bagaimana kalau hasilnya sama saja, tidak ada jawaban dari pemuda itu.”
“Tidak ada salahnya kita mencoba sekali lagi, Tristan. Kita manusia yang hanya bisa melangitkan do'a, dan tanpa perjuangan kita tidak akan mendapatkan hasilnya. Hanya Allah SWT yang mampu membolak-balikan hati manusia.”
Khadijah menyetujui apa yang telah dikatakan Yulian. Tanpa ada sisi perjuangan maka tak akan pernah ada hasil jika hanya berdo'a saja. Dan manusia adalah tempatnya salah dan dosa, yang mampu menghakimi semua itu hanyalah Allah SWT saat manusia itu sendiri berada di akhirat.
__ADS_1
“Dengarkan saya baik-baik, karena hanya sekali saya akan mengucapkannya. Nama saya Yulian Admajaya, pemilik toko yang sudah kamu ambil beberapa barangnya secara diam-diam. Tapi asal kamu tahu, saya tidak menyimpan amarah sedikitpun kepadamu. Karena saya tidak berhak menyimpan kemarahan itu kepadamu, hanya Allah lah yang akan menghukummu. Tapi ... jika kamu bertaubat maka ... Allah akan mengampunimu.”
“Dan kenapa saya menanyakan namamu? Itu karena saya ingin mengenalmu, bagaimana pun juga saya lebih tua daripada kamu. Dan jika kamu mau, kamu boleh memanggil saya Abi, sebagai Ayahmu.”
“Sekarang terserah kamu! Jika kamu masih diam tidak mau bicara ... apalah daya saya jika itu membuatmu mengunci pintu hatimu. Pilihan ada ditanganmu.”
William menatap tajam mata teduh Yulian. Bukan hanya Yulian saja, melainkan Tristan, Khadijah dan Arumi ikut ditatap secara bergantian. Dan begitu kentara kemarahan masih tersimpan saat sorot mata William yang memerah, bahkan tangannya pun mengepal erat.
“Brakk...”
William seketika berdiri dan menggebrak meja dengan begitu keras. Tatapannya menajam, bagaikan tatapan penuh kebencian terhadap Yulian.
“Sudah aku bilang ... aku tidak akan menjawab satu pun pertanyaan yang kamu ajukan itu.”
Dengan kemarahan yang membuncah William tidak berpikir panjang, ia meraih vas bunga yang terbuat dari keramik lalu melemparnya dengan sembarangan. Tanpa memikirkan lebih panjang lagi, dan alhasil vas bunga itu mengenai perut Khadijah. Sehingga Khadijah merasakan sakit seketika itu juga sembari memegangi perutnya.
“Neng Khadijah...”
Darah itu begutu kentara saat, karena saat itu Khadijah mengenakan gamis polos berwarna coklat susu. Dan Yulian tidak berpikir panjang lagi, ia langsung menggendong Khadijah untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
“Tristan, cepatlah sedikit!” Pinta Tulian yang dipenuhi dengan rasa khawatir.
Darah segar terus mengalir dan Khadijah terus merintih kesakitan. Hal itu membuat Yulian benar-benar merasakan khawatir, terlintas sejenak masa hamil Aisyah yang dipenuhi dengan rintangan. Dan Yulian tidak ingin jika Khadijah dan bayi yang ada di dalam kandungannya itu mengalami bahaya.
“Aww ... sakit, Hubby!” rintih Khadijah berulangkali.
“Sabar ya, Neng. Tahan dulu, baca istighfar bersama Hubby ya! Meminta pertolongan kepada Allah SWT.” Yulian mengusap puncak kepala Khadijah.
Khadijah mengangguk, dan rintihannya teralihkan dengan lantunan istighfar yang diucapkan bersama Yulian. Dan Yulian selalu membimbing Khadijah untuk memperbanyak do'a.
__ADS_1
*********
“Aku ... aku tidak bermaksud untuk melukai wanita itu. Aku ... bagaimana ini, Tuhan?”
William mulai merasa takut, meskipun tidak sengaja melakukan hal itu tetapi Khadijah tetap terluka hingga mengalami pendarahan. Tubuh William bergetar karena saking takutnya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Hanya bayangan polisi dan jeruji besi yang melintas dalam pelupuk matanya. Karena ia takut jika Yulian akan melaporkannya ke kantor polisi dengan laporan kekerasan. Apalagi jika Yulian akan menyangkut pautkan kasus pencurian yang sudah dilakukannya, maka dapat dipastikan William akan mendekam di penjara entah berapa lama.
“Apa ... sebaiknya aku mengaku saja kepada Bapak itu? Dan memohon kepadanya untuk tidak melaporkan aku ke polisi.”
Akhirnya dengan segera William menyusul Yulian dan rombongan ke rumah sakit.
**********
“Abi, kenapa dengan Bunda?” tanya Arjuna yang ikut merasa panik.
“Ceritanya panjang, Juna. Sebaiknya kamu sekarang bantu periksa Bundamu dan dede bayinya, karena darah terus mengalir Juna.”
“Baiklah, Abi.” Arjuna mengangguk. “Suster ... siapkan brangker sekarang juga! Dan bawa pasien ke ruang UGD.”
Seketika Arjuna menangani pendarahan Khadijah dan melakukan pemeriksaan keseluruhan. Sedangkan Yulian, ia berdiri mematung sembari menatap pintu ruang UGD yang terlihat jelas dengan adanya sedikit kaca yang terbuka.
“Yulian, duduklah! Aku tahu kamu khawatir dengan Khadijah, tapi jangan terlalu seperti ini. Bukankah ... kamu bilang ada Allah yang akan selalu ada untuk kita. Lalu, mengapa kamu hanya berdiri di sini tanpa melangitkan do'a?”
“Aku ... bukan tidak ingat dengan kata-kata ku sendiri, Tristan. Tapi ... aku hanya tidak ingin jika ... seuatu hal yang tidak aku inginkan akan terjadi kepada mereka. Karena aku pernah mengalaminya...”
“Terserah kamu saja, Yulian. Aku ijin pergi dulu ke mushola.” Tristan menepuk pelan pundak Yulian yang meluruh.
Langkah pun telah di pilih Tristan. Karena jam sudah menunjukkan waktu untuk sholat dzuhur, di mana Tristan segera menunaikan ibadah sholat dzuhur yang di ekori Arumi saat menuju ke mushola rumah sakit.
“Abi, maafkan Juna. Karena Juna akan mengatakan hal yang membuat kita bersedih semua.”
__ADS_1
Arjuna keluar dari dalam ruang UGD. Lalu ia menyampaikan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukannya kepada Yulian, Abinya sendiri.