
“Selesaikan semuanya urusan pertemuan dan yang lainnya di sini bersama Abdullah. Dan aku akan mengurus kantor di Medan. Jika kalian memerlukan sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku.”
Yulian memberikan beberapa aset penting dan saham kantor dan toko sekaligus butik yang ada di Edinburgh kepada Tristan dan Abdullah. Bahkan Yulian meminta kepada Arumi dan istri Abdullah untuk mengurus butik yang ada di sana. Bukan maksud Yulian tak mampu lagi mengurusnya, tetapi itu diberikan semata karena persaudaraan lebih berarti daripada hanya sekedar sahabat. Yulian mempercayai jika Tristan, Arumi, Abdullah dan istri Abdullah mampu menjaga amanah tersebut.
”Jika ini keputusanmu kami akan mengurusnya dengan sebaik mungkin. Jika ada kabar apapun di Medan jangan lupa kabari kami di sini. Kami akan datang seperti kamu yang selalu datang di saat kami membutuhkan.” Tristan menerima amanah tersebut, begitu juga dengan Abdullah.
“Terimakasih! Dan aku pasti akan merindukan kalian,” ujar Yulian.
Lalu ketiganya saling berpelukan, layaknya teletubbies yang megeratkan persaudaraan mereka dengan berpelukan. Dan hal itupun mengundang tatapan dari semua karyawan maupun karyawati di sana, tetapi Yulian, Tristan dan Abdullah tak menggubris tatapan mereka.
Abdullah kembali mengantarkan Yulian pulang, tetapi sebelum itu Yulian ingin mampir ke tempat Zuena tinggal. Sebuah kos yang pernah Zuena tunjukkan saat Yulian bertanya dulu. Tetapi, setelah tiba di sana kos itupun nampak sepi, seperti tidak ada penghuni di dalamnya.
“Abdullah, kira-kira apa mereka sudah pindah ya?”
“Entahlah! Aku juga tidak tahu pasti. Tapi... untuk apa kamu ingin menemui mereka terutama gadis itu?”
“Aku ingin bertanya sesuatu hal tentang Dia sebelum aku berangkat nanti.” Tatapan Yulian terus menyorot tempat kos itu, seakan masih mencari keberadaan Zuena dan Adam di sana.
“Jangan bilang kalau kamu tetap akan menikahkan Ahtar dengan Dia. Aku... tidak yakin jika Dia wanita yang tepat untuk Ahtar.” Suara Abdullah terdengar menekan.
“Kenapa harus risau dengan masalah jodoh, Abdullah? Jodoh itu ada di tangan Allah, bahkan sudah di catat sebelum kita dilahirkan. Lagipula... aku sudah tahu siapa Zuena.” Yulian tersenyum tipis.
“Siapa memangnya Dia?” tanya Abdullah dengan nada kepo.
Yulian hanya mengendikkan bahu, lalu berlalu meninggalkan Abdullah yang masih berpikir keras memikirkan tentang siapa Zuena, sedangakn Yulian sudah masuk mobil dan siap untuk melajukannya.
Tin... Tin... Tin...
__ADS_1
Yulian memencet tombol klakson sampai membuat Abdullah terkejut dan terperanjat.
“Ikut masuk atau tetap ingin disini?”
“Astaghfirullah... Ya masuk lah. Masa iya kamu tega ninggalin aku disini sendirian. Mana tidak ada orang satupun lagi, serem.” Abdullah bergidik ngeri lalu masuk ke mobil.
Yulian melajukan mobilnya dengan pelan, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat kos itu. Saat melihat seorang wanita paru baya tengah berdiri di pelataran rumahnya yang sederhana, baru lah Yulian menghentikan mobilnya.
Yulian menghampiri wanita itu hendak bertanya tentang keberadaan penghuni kos yang ada di ujung seberang. Karena rumah wanita itu tepat di hadapan tempat kos yang ditunjukkan Zuena beberapa hari lalu. Hanya saja harus berseberangan dengan jalan raya.
“Permisi, Ibu!” sapa Yulian.
Wanita itupun menoleh ke pusat suara, hingga tatapannya pun bertemu dengan tatapan Yulian. Dan seolah tatapan wanita itu sulit untuk diartikan.
“Ada apa?” tanya wanita itu to the point.
Wanita itu tidak langsung menjawab, justru tatapannya semakin menajam dan seolah tengah mencari tahu tentang lelaki yang berada di hadapannya saat itu. Hal itupun membuat Yulian dan Abdullah hanya saling pandang saja.
Sudah hampir sepuluh menit berlalu, tetapi wanita itu masih setia dengan diamnya. Dan terlihat dari mimik wajah wanita itu yang tidak menyukai dua orang yang dimaksud oleh Yulian.
“Pergilah! Jangan pernah kalian mencari tahu tentang siapa mereka. Tempat itu hanya sekedar tempat singgah saja bagi mereka, jika sudah melakukan pekerjaan haram itu mereka akan berpindah tempat. Dan sebelum kalian atau... keluarga kalian yang menjadi korban selanjutnya lebih baik kalian pergi sekarang!” ujar wanita itu, lalu berlalu.
Kembali Yulian hanya saling pandang saja dengan Abdullah. Melihat wanita itu pergi Yulian pun masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga membuat Abdullah merasa ngeri saat angin saja seolah ditabrak oleh Yulian.
Wushhh...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
“Bunda tidak pernah mengharapkan apapun dari kamu, Nak. Hanya saja Bunda akan berpesan layaknya seorang Ibu.”
“Bunda harap kamu bisa bijak dalam. memilih pasangan, jangan lupa sholat istikharah setiap malam. Jika sudah waktunya tiba, ajukan khitbah untuk memiliki gadis itu seutuhnya dan tentunya... secara halal.”
Begitu lembut dalam setiap tutur kata yang disampaikan Khadijah kepada Ahtar. Begitu halus tanpa menyinggung seorang Ahtar yang memang tengah bimbang dalam menanti jodoh_yang tak kunjung datang menghampiri hidupnya.
“Ahtar tahu apa maksud Bunda, tapi... nampaknya hati Ahtar merasa yakin dengan pilihan pertama, Ahtar tidak akan meng-khitbah Humaira.” Hati Ahtar memang menolak keras Humaira masuk dalam hidupnya.
“Nak! Dengarkan Bunda baik-baik! Ikutilah kata hatimu, karena kata hati tak akan pernah berbohong. Jika hatimu sudah mantap dengan keberadaan Zuena, jangan ditunda-tunda lagi. Itupun tidak baik untukmu maupun Zuena.” Khadijah mengulas senyumnya.
Ahtar menghela napasnya sejenak, lalu hanya anggukan kecil yang mampu diberikan kepada Khadijah sebagai tanda mengerti. Senyum pun terulas dengan manis di bibirnya saat Khadijah memutuskan untuk kembali ke rumah lebih dulu.
“Ahtar akan mengingat pesan Bunda_menjaga dan menjalin tali persaudaraan yang erat dengan bang Juna dan Hafizha. Meskipun mereka bukanlah saudara kandungku, tapi aku merasa sangat dekat dengan mereka. Mereka... segalanya.”
Gambaran masa kecil bersama Arjuna terlintas kembali dalam memori Ahtar. Begitu juga dengan masa kecil Hafizha, yang tidak mudah bisa dilupakan bagi seorang kakak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Yulian, kenapa kamu malah ke gereja? Buang-buang waktu saja.Tapi... kamu tidak ingin ikut masuk ke dalam, kan?” tanya Abdulkah penasaran.
Yulian tidak menjawab pertanyaan Abdullah, yang dilakukannya hanya menatap dan mengedarkan pandangannya ke geraja di hadapannya itu. Abdullah pun merasa kesal dengan Yulian, karena bagi Abdullah itu hanya mem-buang-buang waktu saja. Apalahi hanya sekedar ingin mencari tahu tentang keberadaan Zuena.
‘Ahtar juga sih, kenapa juga bikin kisahnya rumit sama gadis tidak jelas seperti itu. Harusnya sama sih Humaira saja, lebih aman dan sholehah.’ Abdullah mengumpat kesal di dalam hati.
Yulian terus berdiri sembari menyandar di mobilnya, mengamati keadaan di luar gereja. Dan sesekali Yulian menatap jam yang melingkar di tangannya_lima belas menit sudah Yulian berdiri di sana. Tetapi, sampai detik itu juga Yulian tidak mendapatkan apapun yang diharapkan olehnya.
Bersambung...
__ADS_1