Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 21


__ADS_3

’Kemana Khadijah pergi?’ tanya Yulian dalam hati.


Yulian tidak mendapati keberadaan Khadijah setelah kembali masuk ke dalam masjid_beberapa saat menerima panggilan telepon yang mendesak dari pihak perusahaan. Dan akhirnya Yulian memberanikan diri untuk bertanya kepada Kyai Hasyim tentang keberadaan Khadijah.


”Maaf Kyai, kemana Khadijah pergi?” tanya Yulian tanpa mengurangi sopan dan santun.


”Ada apa kamu mencarinya, Nak Yulian? Bukankah kalian tidak memiliki hubungan apapun? Dan saya sudah mengatakan kepada nak Yulian tadi, untuk tidak mengulangi hal yang menimbulkan fitnah.” Yulian seketika terdiam.


Dibalik tembok, kembali Abdullah tertawa setelah mendengar ucapan Kyai Hasyim yang diajukan kepada Yulian. Dan seolah Abdullah merasa bahwa Yulian pantas mendapatkan peringatan secara langsung dari Pak Kyai, mengingat sudah seringkali Abdullah memberikan nasihat kepada Yulian tetapi, hasilnya tetap saja nihil.


’Semoga saja pertemuanmu dengan Pak Kyai mampu mengubah pendiriaanmu yang konyol itu, Yulian.’ batin Abdullah.


”Saya ... sebenarnya saya ... ingin mengajukan lamaran kepada Khadijah, Pak Kyai. Saya ingin membina hubungan yang sakral dengan Khadijah, tapi saya juga tidak tahu Khadijah akan menerima atau tidak.” Kyai Hasyim pun tersenyum tipis mendegar tujuan Yulian yang baik.


”Atas dasar apa yang membuat Nak Yulian yakin ingin meminang Khadijah?”


Kembali Yulian terdiam dengan seribu bahasa. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Kyai Hasyim, karena ia sendiri tidak yakin perasaan cinta untuk Khadijah. Sedangkan ia mengajukan lamaran Khadijah hanya ingin menikahinya saja tanpa ada rasa cinta yang tumbuh dalam hatinya. Dan itupun juga ia lakukan karena tak ingin ada pertikaian apaoun dengan Arjuna dan Ahtar.


’Yulian, bagaimana kamu akan menjawabnya? Mampukah kamu berkata jujur kepada Kyai Hasyim?' batin Abdullah.


”Karena saya ingin mencari pendamping hidup, Kyai. Saya ... menyukai Khadijah.” Kembali Kyai Hasyim tersenyum.


”Jika kamu menginginkan Khadijah untuk menjadi pendamping hidupmu, maka perjuangkan Khadijah. Luluhkan hatinya dalam cinta.” Yulian menatap Kyai Hasyim penuh dengan tanda tanya.


'Apa mungkin ... Kyai Hasyim tahu kalau aku tidak cinta kepada Khadijah? Dan sekarang memintaku untuk berjuang terlebih dahulu demi cinta. Apa aku harus mencintai Khadijah, Ya Allah?’ gumam Yulian.

__ADS_1


”Itu pesan saya kepada Nak Yulian, jangan sia-siakan Khadijah tanpa cinta. Khadijah itu wanita yang baik, meskipun dulu mempunyai masa lalu yang hitam ... tapi kita tidak boleh mencoreng kebaikannya.” Sungguh ucapan Kyai Hasyim menghunus hati Yulian.


Setelah berkata sedemikian kepada Yulian, Kyai Hasyim pun pergi dan meninggalkan Yulian yang nampak merenungi setiap lontaran yang didengarnya dari Kyai Hasyim. Membuat hati Yulian menciut, ketika kembali mengingat kata yang menghunus hatinya.


Dalam lamunannya, Yulian mengingat dengan sadar bahwa ia sudah meremehkan bahkan tidak menganggap bagaimana perubahan Khadijah. Hanya memakai cadar yang menutup tubuhnya saja yang terlihat di mata Yulian. Namun, hati Khadijah sedikitpun tidak dihiraukan olehnya.


"Apa ini titik kesalahanku dalam menimang semuanya? Apa aku sudah sebelah mata memandang Khadijah?” tanya Yulian dengan lirih.


”Itu benar Yulian, kamu memang hanya sebelah mata memandang Khadijah. Tidak pernah mencari tahu bagaimana pengorbanannya dulu. Bagiku ... tidaklah mudah seorang ibu melepaskan anak yang dilahirkannya begitu saja.” Yulian mengarahkan pandangannya ke Abdullah yang baru saja hadir.


Abdullah sudah tidak tahan lagi melihat kebodohan Yulian, meskipun dibilang seorang duda muda dan kaya, memiliki pangkat sebagai CEO terbesar di Indonesia maupun di Edinburgh, tetapi hatinya kosong tentang wanita. Karena yang tertanam hanya nama Aisyah, istri pertamanya yang sudah lama meninggal dunia.


”Abdullah,” ucap Yulian lirih.


”Iya, ini aku. Aku sudah bermalam di dalam mobil dan bahkan aku sudah mendengar semuanya saat kamu bersama Khadijah dan Kyai Hasyim.” Yulian menatap tajam Abdullah.


"Tidak. Tapi Allah lah yang merencanakan takdirmu, Yulian. Mempertemukan kamu kembali dengan Khadijah, mungkin ... Allah tahu perjuangan Khadijah semasa dulu, tidak mau menerima permintaan Aisyah untuk menikah denganmu. Jika itu bukan Khadijah, entahlah! Mungkin saja banyak wanita yang mengiyakan permintaan Aisyah tanpa memikirkan perasaan kamu dan juga Aisyah.”


”Bukalah sedikit hatimu! Lukuhkan Khadijah dengan cinta, karena Khadijah berhak mendapatkan cinta, bukan hanya permainanmu saja.”


Abdullah memilih untuk meninggalkan Yulian yang masih duduk bersimpuh di dalam masjid. Dan Yulian menghadap kembali kepada Tuhan, meminta yang terbaik untuk masa depannya melalui serangkaian do'a yang terlantun.


”Ya Allah, aku tidak bermaksud untuk menyakiti hati seorang perempuan mana pun. Jika aku sudah menyakiti hati Khadijah, maka ampunilah aku. Aku tidak bermaksud untuk memberikan luka di hatinya, Ya Allah.”


”Ya Allah, aku pasrahkan hanya kepada-Mu sebagaimana jalan takdirku nanti. Permudahkanlah jalanku jika memang Khadijah pantas menjadi tempatku untuk berlabuh.”

__ADS_1


Setelah mengaminkan do'nya, Yulian keluar dari masjid lalu masuk ke dalam mobil. Mobil pun dilakukan dengan kecepatan sedang, menuju ke rumahnya untuk membersihkan tubuh yang sudah dari kemaren belum ia rawat dengan benar. Karena Yulian harus mengurus Khadijah saat berada di rumah sakit.


Sesampainya di rumah Yulian bergegas menuju ke kamar dan menuju ke kamar mandi. Di bawah kucuran air shower yang dingin. Yulian membasahi seluruh tubuhnya. Terlihat begitu mempesona dengan perut bak roti sobek, poster tubuh yang tinggi dan wajah yang tampan. Tidak menampakkan aura duda yang sudah menua, cukup umurnya saja yang semakin menua.


’Mungkin saja aku ... memang harus menghapus masa laluku bersama Aisyah untuk membuka lembaran baru.’ batin Yulian.


Setelah usai menyegarkan tubuhnya, segera Yulian mengambil kemeja panjang, celana hitam, jas hitam dan tidak lupa dasinya sebagai pelengkap kegagahannya. Dengan terburu-buru Yulian memakai semua pakaiannya. Lalu, ia pun menuruni anak tangga untuk segera melanjutkan aktivitasnya ke kantor.


”Bwahahaha...”


Tawa Arjuna pun pecah melihat pakaian yang dikenakan Yulian. Sungguh hal itu membuat Yulian merasa bingung dan seketika menghentikan langkahnya.


”Kamu kenapa tertawa seperti itu, Juna? Menatap Abi seperti itu pula.” Arjuna sungguh terpingkal hanya melihat tingkah absurd Yulian.


”Abi ... kenapa celananya belubah menjadi pendek? Telus ... kenapa warnanya hijau muda ada gambar bunganya lagi. Lucu loh, Abi.” Seketika Yulian melihat cara ia berpakaian.


Malu, jelas terlihat diwajah Yulian setelah menyadari apa yang sudah dipakainya itu. Kemeja panjang, jas hitam, celana boster berwarna hijau muda yang bermotif bunga dan dasi orange. Karena terburu-buru saat memakai baju, akhirnya ya... seperti itu. Memilukan sekali cara berpakaian Yulian dan sukses membuat keluarganya tertawa terbahak.


’Yulian, apa yang membuatmu bertingkah bodoh seperti ini?’ desah Yulian dalam hati.


”Yulian ... kamu tidak sedang memikirkan sesuatu hal, bukan?” tanya Abdullah.


”Tidak. Aku hanya ... ini pakaian sedang tren jaman sekarang. Kenapa Abdullah, kamu iri?”


”Tidak.” Abdullah menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


”Abi, mana ada tren jaman sekarang memakai boster bermotif bunga seperti itu? Kenapa tidak sekalian saja pakai boster bermotif spiderman. Hahahaha...”


Kembali semuanya tertawa terbahak memenuhi ruangan itu, begitu memekik telinga. Sedangkan Yulian hanya menunduk lalu perlahan melangkah dan kembali ke kamarnya.


__ADS_2