
Untuk Ahtar dan Zuena akan ada lanjutannya sendiri ya! Ditunggu saja.
Suara adzan subuh yang menggema telah membangun dua pasutri yang baru dimabuk asmara itu. Khadijah bangun terlebih dahulu untuk mandi wajib sebelum melaksanakan sholat subuh. Sedangkan Yulian sendiri memang sudah bangun, tetapi ia belum juga beranjak dari tempat tidurnya.
‘Malam yang indah, terimakasih sayang.’ Yulian bermonolog dalam hati.
Tak hentinya senyum di bibir Yulian surut, terus mengembang dengan sempurna saat menayangkan kejadian semalam yang dipenuhi dengan hasrat dan cinta. Meluapkan kepuasan hingga benar-benar merasa kelelahan.
Lima belas menit kemudian Khadijah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Membuat Yulian menatap dengan tatapan tak biasanya.
“Kenapa Hubby menatap Neng seperti itu?”
“Emm... mau lagi tidak, Neng?” tanya Yulian to the point.
“Ishh... masa iya maunya itu terus, mana masih pagi juga. Toh, baru semalam loh melakukannya itu.” Khadijah mendelik sebal.
Khadijah pergi meninggalkan Yulian yang masih duduk di atas ranjang, diabaikannya Yulian yang masih ingin bergelut manja. Itupun dilakukan oleh Khadijah bukan berarti sudah bosan atau hal lainnya. Tapi Khadijah harus menyiapkan beberapa hal yang akan dibawa ke Medan nanti.
‘Kamu terlalu lucu dan... manis, sungguh aku tak ingin kehilangan kamu Neng, kecuali jika maut lah yang memangakan memisahkan kita nanti.’ Yulian bermonolog dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khadijah menyiapkan sarapan di dapur bersama bik Inem dan Cahaya, sedangkan Hafizha sudah pasti ia masih membaca mushaf di kamarnya. Arjuna membantu Garda menyiapkan peralatan sekolah dan Yulian sendiri masih menemani Abizzar di kamar. Sedangkan lelaki muda yang masih jomblo itu masih merajuk di depan layar laptopnya sepagi ini.
“Cahaya, selama Bunda nanti di Medan tolong jaga Ahtar dan Hafizha sebagai saudaramu,” ujar Khadijah.
“Iya, Bun.” Cahaya mengangguk. “Bunda, Abi, Opa Alex dan Abizzar semoga selamat sampai tujuan. Dan jangan lupa kabari kita nanti kalau sudah sampai di Medan.”
__ADS_1
Khadijah menganggap Cahaya bukan hanya sekedar menantu, tetapi layaknya putri kandung yang sudah diasuh sudah lama olehnya. Sedangkan usia mereka pun sebenarnya tak terpaut jauh, hanya beda tiga tahun saja. Bayangkan, Khadijah itu masih muda.
“Haduh, bik Inem jadi sedih lihat Neng tidak tinggal lagi disini. Dan pastinya... bibik akan rindu berattt sama Neng.” Bik Inem menghampiri Khadijah yang masih memeluk Cahaya.
Pelukan itupun dilerai, laku Khadijah beralih ke bik Inem yang sudah dianggapnya sebagai seorang Ibu. Senyum manis telah terlukir di bibir Khadijah, meskipun tak nampak tetapi mampu dilihat dari matanya yang menyipit.
“Bik Inem yang sabar ya! InsyaAllah, sekitar satu atau bulan lagi kita akan berkumpul bersama di Medan. Pasti bik Inem akan senang bisa berkunjung lagi ke makam Aisyah. Iya kan, Bik?”
“Iya, Neng. Bukan maksud bik Inem apa-apa tapi... memang bik Inem rindu juga sama Non Aisyah,” ungkap bik Inem dari lubuk hatinya.
“Ya sudah, bik Inem sabar saja. Tunggu sampai anak-anak selesai mengurus perpindahan dan sampai Hafizha lulus sekolahnya.” Khadijah mengusap lembut lengan bik Inem.
Tak dapat dipungkiri jika sebuah perpisahan memang akan terasa berat untuk dijalani setiap manusia yang tinggal di dunia. Tapi itu yang sudah menjadi keputusan dari seorang pemimpin dalam rumah tangga, di mana Yulian memutuskan untuk kembali ke Medan.
Dan tepat pukul sebelas siang nanti Yulian, Khadijah, Alex dan Abizzar akan berangkat ke Bandara Edinburgh Raya.
Sarapan dilangsungkan dengan penuh khidmat, tak lupa disertai dengan rasa syukur atas pemberian Allah SWT di pagi itu. Dan setelah usai sarapan Garda dan Hafizha pun berangkat sekolah di antar oleh Abdullah, asisten sekaligus sahabat Yulian yang masih setia menemani Yulian sambil detik itu juga.
“Mengapa tidak, sobat. Masuklah! Aku akan mengantarkan kamu sampai tujuan dengan selamat,” ujar Abdullah dengan cengiran.
Seketika itu pula Garda dan Hafizha tertawa melihat tingkah Abdullah yang selalu absurd, tetapi terkadang memiliki sikap bijak di saat yang tepat.
Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang, karena pagi itu jalan raya masih belum dipenuhi dengan kendaraan bermesin lainnya, sehingga tidak akan terjebak kemacetan seperti di Jakarta. Bisa dibayangkan kan, bagaimana padatnya jalan raya di Jakarta saat pagi hari dan juga sore hari.
“Kakek, Garda berangkat sekolah dulu, ya! Nanti Garda akan ikut mengantarkan Kakek juga ke Bandara.” Senyum pun mengembang di bibir Garda.
“Baiklah! Kakek akan menunggu Garda, tapi ingat. Jangan lupa belajar yang benar!”
__ADS_1
Yulian mengusap puncak kepala Garda dengan acak, tapi hal itu sangat disukai oleh Garda karena merasa disayang oleh kakeknya. Setelah menyalami Yulian, Abdullah dan Hafizha, Garda pun masuk ke halaman sekolahnya. Dan selanjutnya mengantarkan Hafizha sampai di depan gerbang sekolahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khadijah tengah sibuk dengan beberapa pakaian yang akan dibawanya pake Medan. Karena akan menetap di Medan hampir semua baju dimasukkan ke dalam koper. Bukan hanya baju Khadijah saja, tetapi baju Yulian dan Abizzar pun hampir keseluruhan juga di angkut dan dimasukkan ke dalam koper yang berbeda.
“Alhamdulillah sudah selesai. Sekarang tinggal bertemu dengan Ahtar mumpung Dia sedang cuti kerja hari ini.”
Khadijah pun melangkah, mencari keberadaan Ahtar yang dapat dipastikan sedang berada di kamarnya.
Khadijah mengetuk pintu secara pelan dan tidak lama kemudian Ahtar pun membukanya.
“Bunda. Ada apa, Bun ke kamar Ahtar? Apa ada sesuatu yang Bunda butuhkan sama Ahtar?”
“Iya, Bunda ingin bicara sebentar sama kamu, Nak. Apa kamu bisa melaungkan waktumu sebentar dan mengobrol dengan Bunda? Tapi... jika tidak bisa tidak apa-apa, Bunda tidak akan mengganggu kamu.”
“Tentu dong Bun bisa, mau bicara di mana?”
“Kita mengobrol di taman depan bagaimana? Hanya sebentar saja,”
Ahtar pun mengangguk, lalu mengekori Khadijah yang sudah berjalan di depannya. Tidak sampai lima menit mereka pun sampai di taman tersebut, lalu mencari duduk yang nyaman untuk mengobrol di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Zuena, apa kamu masih akan melakukan pekerjaan haram itu lagi?”
“Entahlah! Jika aku berhenti sekarang juga, itu akan terlalu beresiko untuk mereka. Kamu sendiri Adam, bukankah mereka bergantung kepadaku? Jika aku tidak melakukan pekerjaan ini lagi, mereka tidak bisa mendapatkan uang yang cukup untuk menghidupi keluarga mereka.”
__ADS_1
Di dalam rumah yang megah bak istana Zuena dan Adam tengah mengobrol kan hal yang amat penting. Pekerjaan yang mereka lakukan hampir lima belas tahun itu kini sedang membuat mereka gelisah.
Bersambung...