
Para tim dokter malam itu akan kembali dihadapkan dengan suasana yang amat menegangkan. Mereka harus menjaga ke-fokusan mereka demi menyelamatkan pasien atas nama Yulian Atmajaya.
Seseorang yang amat berjasa
seseorang yang tak pernah mengenal kata lelah dalam berjuang tentang segala hal yang memang ingin dicapai olehnya
Seseorang yang memiliki sifat lembut, cinta dan kasih sayang terhadap keluarga terutama, istrinya Khadijah.
Seseorang yang kini hanya bisa terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan beberapa alat medis yang memang harus dipasang di tubuhnya.
Kini, nyawa Yulian tengah beradu antara hidup kembali atau akan mengahadapi kematian. Hidupnya sedang dipertaruhkan, dan semua orang harus pasrah dengan apa yah akan terjadi pada detik berikutnya.
“Siapkan semuanya! Kita mulai sekarang.” Dokter memberikan intruksi, tanda jika operasi besar itu akan segera dimulai.
Konsentrasi mereka pusatkan saat lampu yang menempel di atap awan-awan bernuansa putih itu sudah menyala dengan terang. Kerja keras mereka lakukan, hingga membuat mereka semua mengeluarkan keringat di pelipis dan punggung mereka.
Ting...
Mesin monitor yang menghubungkan detak jantung telah berbunyi dengan begitu nyaring, hingga memekik telinga yang ada di dalam ruangan itu. Dan seketika dokter mengambil alat denyut jantung, yang akan ditempelkan ke dada Yulian yang bidang. Dan pada hitungan ketiga dokter memberikan kejut jantung untuk meng balikan detak jantung Yulian, tetapi... tidak ada perubahan sama sekali dalam layar monitor itu.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun.”
Dokter itupun menutup mata Yulian, lalu perawat membantu untuk melepaskan semua alat medis yang terpasang di tubuh Yulian. Selanjutnya, kain putih tekah menutupi seluruh tubuh Yulian yang sudah terbujur kaku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Khadijah masih melakukan hal sama, mondar-mandir di depan tuang operasi dengan rasa khawatir yang terus singgah dalam benaknya. Rasa khawatir ituoun tidak mudah hilang sebelum Khadijah dapat memastikan jika Yulian sudah di luar kata ‘baik-baik saja’, tetapi ... entahlah!
Di tengah-tengah situasi yang menegang, tiba-tiba pintu ruang operasi telah terbuka. Sepercik harapan baik tekah singgah dalam semua orang yang ada di sana.
“Dokter, bagaimana kondisi suami saya? Pasti operasinya berhasil, kan?” todong Khadijah.
Dokter itupun tidak langsung memberikan jawaban. Dokter itu menatap wajah setiap orang yang ada di sana, setelahnya... hanya menggelengkan kepala.
“Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, Tuhan lebih menyayangi pasien.”
Mendengar penuturan dari dokter seketika Khadijah memberontak dengan segala emosinya. Khadijah tidak bisa mengontrol diri, karena rasa tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.
“Tidak. Tidak mungkin jika suami saya telah tiada. Anda berbohong,” sangkal Khadijah.
“Maafkan kami, itu diluar kuasa kami. Saya permisi!”
Ahtar juga tidak bisa menahan kesedihannya, tetapi ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata, karena sebagai lelaki Ahtar harus bisa menenangkan adiknya dan juga Bundanya. Saat itu Ahtar memeluk erat tubuh Hafizha yang sudah tidak bisa membendung air matanya.
Sedangkan Arjuna, ia melampiaskan kemarahan dan kesedihan yang beradu menjadi satu dengan menghantam tembok, beberapa kali Arjuna memberi tinjuan ke tembok bernuansa putih itu sampai tangannya terluka.
“Cahaya, ini semua tidak benar kan, Nak? Abi kamu masih hidup, kan? Dan kita sebentar lagi akan menjalani ibadah puasa bersama, pasti akan terasa menyenangkan.” Tatapan Khadijah masih kosong, pikirannya kembali memutar setiap kata yang diucapkan oleh Yulian _ yang sudah disusun oleh keduanya.
Cahaya berusaha menenangkan Khadijah dalam kehancuran dan kerapuhan yang mengguncang Khadijah malam itu. Dan Khadijah merasa tidak adil, semesta tidak memihak kepadanya untuk membiarkannya hidup lebih lama dengan lelaki yang dikirimkan Tuhan dalam hidupnya. Karena pasalnya, Khadijah baru saja mendapatkan kebahagiaan dari sebuah keluarga kecil yang dibangun bersama Yulian. Tapi, kenyataan telah menampar keras Khadijah malam itu.
“Bang, kenapa Abi pergi secepat ini? Bukankah Abi bilang akan selalu menemani kita hingga kita mendapatkan kesuksesan? Tapi kenapa? Hiks... hiks... hiks...”
__ADS_1
“Sabar dek, inilah takdir yang diluar kuasa kita. Kita tidak tahu bagaimana takdir membawa kita semua, dan kita juga tidak tahu berapa umur manusia di dunia. Kita harus sabar menerima ujian duka ini, dek. Kita harus berusaha ikhlas.”
Ahtar mengusap punggung Hafizha yang masih merutuki kesedihannya. Hafizha merasa tidak percaya jika Abinya telah tiada, sedangkan baru saja tadi siang Abinya telah memberikan kejutan terindah dengan hadiah yang diberikan.
Khadijah pun mendekati brankar yang di atasnya ada tubuh Yulian yang sudah terbujur kaku saat brankar itu didorong oleh perawat untuk dibawa ke ruang pemandian jenazah.
“Hubby, bangun! Jangan tinggalin Neng sendiri disini! Lihat! Kami semua menunggu Hubby untuk kembali berada di tengah-tengah kami dan berkumpul bersama lagi. Ayo, bangun! Hubby.”
Khadijah memeluk tubuh dingin itu, sesekali mencium pipi Yulian dengan harapan jika Yulian akan bangun setelah mendaptkan dekaoan hangat darinya. Tetapi, lagi-lagi Khadijah telah tertampar dengan kenyataan yang ada. Raga Yulian tidak akan kembali menyatu dengan tubuh yang sudah terbujur kaku.
Melihat Yulian yang tetap menutup mata dengan rapat, Khadijah merasa dunianya benar-benar telah hancur dan runtuh berkeping-keping. Bagaikan kaca yang sudah hancur tetapi tidak bisa untuk disatukan kembali menjadi kaca yang utuh.
“Maaf, kami harus membawa jenazah untuk segera dimandikan.”
“Tunggu! Kenapa harus terburu-buru? Kami keluarganya, berhak untuk apapun, bukan? Dan saya meminta jenazah Abi saya dimandikan di kediaman kami.” Tegas dan penuh penekanan.
Arjuna tidak rela jika Yulian harus dimandikan di rumah sakit, karena itu kurang leluass bagi anak dan pihak keluarga yang lain untuk ikut memandikan. Tanpa menunggu waktu yang lama, Arjuna mengajukan persetujuan kepada pihak rumah sakit, dan rumah sakit oun menyetujui akan hal itu. Sehingga jenazah Yulian bisa segera dibawa pulang dengan mobil ambulans khusus jenazah.
Khadijah memutuskan untuk menemani Yulian di dalam mobil jenazah yang ditemani oleh papa Adhi. Sedangkan Arjuna dan Ahtar kembali mengendarai mobil mereka masing-masing. Dalam mobil jenazah Khadijah terus menitihkan air mata dengan derasnya, hingga membuat mata teduh itu sayu dan sembab. Rasa tidak percaya masih menyelimuti hati Khadijah, bayangan tentang Yulian masih memutar dalam. otaknya.
“Apa kamu tahu, Hubby. Dunia Neng hancur saat ini. Kenapa Hubby harus pergi, kenapa? Apa Hubby sudah lelah hidup bersama Neng? Hiks... hiks... hiks...”
“Sabar Khadijah, ambil hikmah dibalik duka yang kita hadapi saat ini. Jika kamu bersedih seperti ini, pasti Yulian tidak menyukai hal ini. Bukankah Yulian tidak suka dengan air mata yang menagisinya?”
Khadijah mengangguk, ia berusaha menyeka air mata yang masih menetes, tetapi tetap saja. Air mata itu tidak bisa ditahan. Perasaannya benar-benar berkecamuk, semesta memang membiarkan kesedihan menyelimuti hati Khadijah dan keluarga besar Yulian.
__ADS_1
Yulian, lelaki itu benar-benar telah tiada. Menutup usianya di kala masih belum memasuki usia menua. Meninggalkan istri dan anak-anak nya yang sangat dicintainya. Begitulah takdir telah membawanya kembali terkubur dengan semesta. Kembali kepada sang Pencipta.
Bersambung