
Yulian menarik nafas panjang, ia tahu betul saat ini posisinya sedang berada dalam persidangan antara ibu dan anak. Dan Yulian akan membutuhkan waktu panjang untuk menjelaskan maksud dan tujuannya yang meminta Ahtar untuk menemani Humaira. Sedangkan yang kebanyakan orang tahu, Yulian selalu menerapkan untuk menjaga sikap dan martabat seorang lelaki di hadapan wanita yang dicintainya sekalipun.
“Abi hanya...”
Yulian menjelaskan semua maksud dan tujuannya kepada Khadijah dan Ahtar. Akan tetapi Khadijah menolaknya, karena apa yang direncanakan Yulian justru akan menjebak Ahtar di dalamnya.
“Neng tidak setuju dengan rencana Hubby. Jika Hubby ingin menguji seberapa besar Ahtar menjaga diri dan pandangannya bukan seperti ini caranya. Ini akan menimbulkan pembicaraan dari para tetangga yang nantinya berujung fitnah.”
“Iya Abi, coba saja jika tadi Humaira tetap menginginkan Ahtar menemaninya bagaimana? Atau... sekedar berharap terlalu banyak, hal itu saja sudah berdosa.”
“Ini yang Hubby minta dari kalian. Terima kasih, Neng Khadijah tetap mengajarkan adab seorang lelaki yang menjaga hati perempuan kepada Ahtar, meskipun Ahtar bukan anak kandung Neng.”
“Dan Ahtar, Abi juga berterima kasih karena kamu sudah menjaga dengan baik apa yang Abi ajarkan.”
Yulian mengangguk, lalu kedua ujung bibirnya tertarik dan menciptakan senyum yang sempurna. Yulian berdecak kagum dengan Khadijah, walaupun sebagai ibu sambung tetapi kasih sayangnya tidak pilih-pilih.
Kembali mereka melakukan aktivitas seperti biasa, Ahtar kembali merajuk di kamar. Dan tidak ada hal lain yang akan dilakukannya selain menatap data pasien dan hasil CTscan pasien yang akan di operasinya. Sedangkan Yulian, ia menemani Khadijah ke rumah sakit menjenguk Abizzar. Karena rindu begitu bergelut di hati Khadijah, membuatnya tidak sabar ingin segera bertemu.
“Neng tidak menyangka jika tadi ... semata-mata ingin menguji kekompakan Neng dengan Ahtar.” Khadijah tersipu malu.
“Emm...” Yulian mengangguk. “Sekali lagi Hubby sangat berterima kasih kepada Neng yang sudah memberikan kasih sayang dan pendidikan yang layak untuk anak-anak.”
“Itu sudah kewajiban Neng, lagipula... Dia anak Aisyah, istri pertama Hubby. Anak Neng saja dirawat dengan kasih sayang yang tulus. Lalu, mengapa Neng tidak bisa melakukannya. Jika Aisyah di posisi Neng saat ini, pasti akan melakukan hal sama.”
Yulian mengulas senyumnya, lalu mengusap lembut puncak kepala Khadijah. Meskipun tertutupi jilbab syar'i nya, tetapi Khadijah mampu merasakan cinta yang tulus dari seorang Yulian untuknya.
Yulian dan Khadijah memasuki lobi rumah sakit, lalu mereka menelusuri lorong rumah sakit menuju ke ruang khusus bayi. Di sana Khadijah tiada hentinya memandangi bayi mungilnya yang kini berat badannya sudah bertambah. Membuat Abizzar sedikit menggembul pada usianya.
“Sayangnya Bunda, besok kita akan bersama. Bunda dan Abi akan membawa kamu pulang dan berkumpul bersama dengan kakak-kakak kamu nantinya.” Khadijah tersenyum.
“Neng, tidak menyangka ya kalau kita sudah punya anak. Kita berkembang biaknya cepat membuahkan hasil.” Yulian nyengir.
Seketika Khadijah menoleh ke arah Yulian yang berdiri di sampingnya. Rasa malu tiba-tiba saja hadir saat bayangan aksi brutal Yulian menjemaah kebagian tubuh yang terlarang melintas begitu saja. Khadijah tidak menyangka jika kehamilan nya yang kedua tak lain dengan Yulian. Lelaki yang dulu pernah hadir dalam hidupnya, walaupun sekilas saja.
“Suster, boleh tidak jika saya menimang putra saya?” tanya Khadijah pada suster penjaga.
”Boleh, Bu. Sebentar, saya akan menggendong putra ibu keluar.”
Suster itupun bergerak untuk mengambil Abizzar dari inkubator. Setelah itu menggendongnya keluar dan dipindahkan ke dalam gendongan Khadijah. Sesekali Khadijah mencium pipinya, lalu membacakan sholawat sembari menanti Yulian yang sedang menerima panggilan dari Tristan.
Dan ketika hari sudah hampir sore Yulian mengajak Khadijah untuk pulang, karena Khadijah harus istirahat. Jika mereka tinggal di Indonesia, mungkin saja ada masa di mana seorang perempuan yang baru melahirkan tidak boleh bepergian jauh kecuali ada hal yang begitu mendesak.
“Mandilah sebelum menjelang maghrib, Neng.” Yulian membantu Khadijah menyiapkan pakaian dan lainnya.
“Iya, Hubby. Tapi Neng maunya... di mandiin sama Hubby. Bantuin lepas plasternya ya!” ucap Khadijah yang bergelayut manja.
Bukan waktu semasa hamil saja Khadijah ingin dimanja oleh Yulian, bahkan setelah melahirkan saja Khadijah tetap ingin dimanja, disayang dan diperhatikan selayaknya pasangan anak muda yang tengah dimabuk kasmaran. Begitu halnya dengan Yulian, ia selalu melakukannya dengan senang hati.
Setelah sekitar dua puluh menit membantu Khadijah mandi, Yulian pun berganti mandi. Lalu mereka menjalankan sholat ashar bersama.
“Neng mau makan malam dengan apa, hmm?” tanya Yulian memastikan.
__ADS_1
“Apa saja Neng mau. Yang penting bisa buat melancarkan ASI Neng nantinya. Hubby harus ingat, besok Abizzar sudah bisa pulang.” Khadijah mengulas senyum.
“Iya, Hubby ingat akan hal itu kok, Neng. Bagaimana dengan sayuran saja?”
Khadijah manggut-manggut, ia menyukai hal yang membuat Yulian selalu memberikan yang terbaik untuknya. Dan hal itu mampu membuat nyaman hati Khadijah, tidak ingin rasanya terlalu lama jauh dengan suami tercintanya itu.
Saat Yulian dan Khadijah menuruni anak tangga secara bersama bau masakan telah menguar ke udara. Membuat Khadijah merasa lapar saat itu juga. Dan rasa penasaran pun begitu menguak dalam diri Yulian dan Khadijah.
“Siapa yang sedang memasak? Bukannya tadi bik Inem lagi keluar dan sedangkan Cahaya sedang pergi bersama Arjuna dan . Lalu...?” ujar Khadijah yang menggantung ke udara.
“Sudah jelas itu Humaira, Neng. Biarkan saja apa yang ingin Dia lakukan, kita lihat saja. Jika tidak berlebihan kita tidak perlu menegurnya.” Yulian mengusap punggung Khadijah.
Khadijah mengangguk, lalu mereka kembali melanjutkan langkah dan langsung menuju ke ruang makan. Melihat apakah di sana sudah ada makanan yang disajikan dari hasil masakan Humaira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Dek, siapa sih yang masak? Baunya... harum sekali,” ujar Ahtar.
“Mana Izha tahu bang, kan dari tadi di kamar sama bang Ahtar.” Hafizha menghendikkan bahu.
Hafizha kembali mengerjakan tugas sekolahnya, karena besok ada ujian sekolah yang akan dilakukan selama beberapa hari. Dan Hafizha tidak ingin jika nilai ujiannya mendapat nilai yang jelek, alias tidak mau kalah sama kedua kakaknya yang selalu mendapatkan nilai tertinggi.
“Tok... tok... tok...” Suara pintu diketuk secara pelan.
“Sayang, Izha... yuk makan malam.” Tidak lama kemudian suara Khadijah terdengar dari luar.
Karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam di Skotlandia, Khadijah pun memanggil anak gadisnya untuk segera ikut makan malam.
Khadijah pun pergi dari kamar Hafizha setelah mendengar suara anak gadisnya itu, lalu ia beralih ke kamar Ahtar. Namun tak ada sahutan dari dalam, akan tetapi Khadijah tahu dimana keberadaan Ahtar. Seperti biasa Ahtar di kamar Hafizha sebelum jam makan malam berlangsung dan Ahtar membantu Hafizha dalam mengerjakan PR yang sekiranya Hafizha merasa sulit untuk mengerjakannya.
“Anak ini, biarpun bukan saudara kandung tetapi rasa sayang kamu kepada Hafizha tulus.” Ujar Khadijah mengulas senyum.
Dan terciptanya hubungan keluarga yang eray membuat Khadijah merasa bahagia, tak lelah mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah karena sudah memberikan keluarga yang bisa saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain.
Tidak lama kemudian seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan. Dan semua mengambil duduk di kursi masing-masing, seperti biasa mereka mengenyatkan pantat dengan nyaman.
“Hubby mau diambilkan lauk apa?” tanya Khadijah.
Ada beberapa masakan yang dihilangkan di atas meja. Ayam panggang dan ayam goreng tidak pernah ketinggalan untuk selalu disajikan.
“Hubby mau ... ayam panggang saja sama sayurnya.” Tunjuk Yulian ke salah satu lauk.
Khadijah pun bergerak untuk mengambilkan sesuai yang Yulian minta. Tidak lupa pula segelas air putih sudah siap di atas meja, tepatnya di setiap sisi kanan masing-masing.
Setelah melayani Yulian, Khadijah beralih ke Hafizha. Bukan bermaksud Khadijah memanjakan Hafizha, tetapi ia hanya ingin menebus kesalahan selama ua pergi meninggalkan Hafizha begitu saja. Meskipun Khadijah tahu, ia tidak bisa membuat Hafizha mengingat masa kecilnya tanpa seorang ibu.
“Bang Ahtar mau... di ambilkan apa?” tanya Humaira saat memandang Ahtar yang hendak mengambil nasi dan lauknya.
“Maaf, saya bisa ambil sendiri. Kamu tidak perlu repot untuk mengambilkannya.” Tegas Ahtar dengan datar.
Ahtar memalingkan wajahnya dari pandangan Humaira, dan Ahtar segera menyelesaikan makannya agar tidak selalu membuat dosa bagi Humaira. Karena mbak penulis mengakui ketampanan Ahtar selalu membuat kaum wanita ingin melihatnya meskipun hanya dengan satu lirikan saja dan membuat hati setiap wanita meleyot.
__ADS_1
“Ahtar mau permisi dulu, karena masih ada kerjaan yang harus diselesaikan.” Ahtar pun beranjak dari tempat ternyaman nya.
“Izha juga mau kembali ke kamar, mau lanjut belajar.”
Hafizha berlari mengikuti Ahtar yang sudah sampai di kamarnya. Dan Hafizha membohongi semua orang, karena merasa penasaran ia pun ikut masuk ke dalam kamar Ahtar.
“Bang, sepertinya... Kak Humaira itu suka deh sama Abang.” Ujar Hafizha sembari menutup pintu.
Ahtar tidak menghiraukan apa yang dikatakan Hafizha dan ia tetap fokus dengan selembar kertas hasil Ctscan milik pasiennya yang harus ia operasi besok pagi. Dan diamnya Ahtar membuat Hafizha merasa jengkel.
“Bang, respon dikit napa. Malah diam saja, disini Izha itu mau ngomong sama Abang. Kalau Izha... tidak terlalu suka sama kak Humaira.”
Seketika Ahtar menoleh ke arah Hafizha yang sedang duduk di muka bibir kasur. Lalu ia menatap bagaimana wajah Hafizha yang merasa jengkel dengan adanya Humaira di sana. Dan itu membuat Ahtar merasa tertarik ingin mendengarkan celoteh panjang Hafizha tentang Humaira.
“Memangnya kenapa kamu tidak suka, hmm?”
“Idihhh, jadi kepo kan bang Ahtar.” Hafizha mencebik.
“Bukan kepo, Izha. Abang hanya sekedar ingin tahu saja, toh kata mbak penulisnya juga boleh kalau hanya ingin mengorek informasi sedikit. Tidak memandangnya dengan lantang.” Ahtar mengucapkan sedatar mungkin.
Izha pun manggut-manggut, membenarkan apa yang dikatakan Ahtar. Setelah itu Hafizha menceritakan rasa ketidaksukaannya kepada Humaira. Memang benar cara berpakaian Humaira jauh lebih tertutup daripada Hafizha yang masih remaja. Apalagi di jaman era modern seperti ini membuat anak gadis mengenal hijab yang lebar dan menutupi dada itu sulit. Apalagi cadar, di mata anak muda sekarang mungkin sudah terlalu abai dan acuh, hanya beberapa saja yang masih mengikuti ajaran Sayyidatina Fatimah Azzahra.
“Izha memang menyukai cara berpakaian kak Humaira yang tertutup, tapi bagi Izha itu namanya tetap saja memeperlihatkan rasa sukanya terhadap lelaki secara berlebihan. Percuma saja memakainya.”
“Hust, tidak boleh berkata seperti itu. Jika perilakunya belum baik, maka adek tidak boleh menilai pakaian yang dipakai Humaira. Karena itu bukan kesalahan pakaiannya. Mengerti.” Ahtar mengulas senyum.
“Terus bagaimana dong cara menyikapi kak Humaira itu. Adek yakin, Abang pasti merasa risih juga kan, kak Humaira ada disini.” Hafizha menatap lekat Ahtar.
Ahtar menghembuskan nafas panjangnya, memang benar ia merasa tidak suka dengan kehadiran Humaira di dalam rumahnya. Tetapi ia juga tidak bisa berbuat apapun, karena atidak mungkin membiarkan Humaira tinggal di rumah sendirian. Justru membuat bahaya bagi Humaira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Nang tidak suka dengan sikap Humaira yang berlebihan. Menampakkan rasa sukanya terhadap Ahtar dengan begitu kentara. Sungguh... Neng merasa malu sendiri Hubby saat di ruang makan tadi.” Umpat Khadijah.
“Sudahlah Neng, Hubby minta jangan terlalu dipikirkan. Buatkan Ahtar sendiri yang memberikan ketegasan terhadap Humaira. Ahtar sudah dewasa, Hubby yakin Dia bisa mengatasinya.”
“Sekarang Neng harus istirahat, sudah malam. Besok kita siap-siap ke rumah sakit dan menjemput Abizzar.”
Khadijah mengangguk, lalu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah gosok gigi dan berwudhu. Begitu halnya dengan Yulian, ia tidur disamping Khadijah dan mengelus lembut puncak kepala Khadijah.
“Neng, tidak terasa ya sudah malam lagi. Waktu begitu cepat berlalu. Padahal Hubby pengennya waktunya berhenti saat sama Neng. Ya... seperti ini.” Khadijah terkekeh.
“Ya Hubby minta saja sama mbak penulisnya, minta diperpanjang waktunya pas adegan kita.” Yulian terkekeh geli mendengar permintaan Khadijah. Yang dirasa ada benarnya juga meminta perpanjang waktu kepada mbak penulis.
Kedua pasangan yang dibilang sudah tidak muda lagi, kini telah terlelap dalam peraduan malam. Siap menyambut pagi dengan senyuman dan tidak lupa dengan rasa syukur yang selalu dilantunkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ana uhibbuka fillah...”
Kembali Ahtar memimpikan kalimat itu yang diucapkan oleh seorang wanita, tetapi wanita itu jelas bukan Humaira. Bahkan cara berpakaian pun tidak tertutup layaknya Humaira yang memakai cadar. Dan mimpi itu membuat Ahtar selalu terbangun di sepertiga malam. Dalam dua rakaat istikharah nya Ahtar meminta kepada Allah untuk dipertemukan dengan gadis itu secepatnya.
__ADS_1