
Lima belas menit sudah berlalu, Khadijah pun sudah wangi dengan aroma khas pewangi detergen, bukan parfum dan semacamnya. Karena Khadijah tidak mau menyemprotkan wewangian yang akan menimbulkan sifat tabarruj selama hidup di dunia. Di mana wanita memang menutup seluruh aurat mereka, tetapi menjadi dosa saat mereka menyemprotkan wewangian yang diciptakan dari parfum secara berlebihan.
“Semoga saja acara nanti malam dilancarkan, Aamiin!”
Khadijah menyunggingkan senyum di balik cadar nya, meskipun tidak terlihat dengan jelas tetapi begitu kentara saat mata Khadijah menyipit.
Khadijah menggendong Abizzar ke bawah yang diikuti Yulian dari belakang seraya membawa kereta dorong yang sudah dibeli beberapa hari lalu. Dan sengaja kereta dorong itu dikeluarkan untuk merebahkan tubuh mungil Abizzar di sana saat Khadijah membatu menyuaun acara aqiqah dan tasyakuran untuk Abizzar.
“Bagaimana Abdullah, apakah sudah kamu belum kambing yang kemarin kita lihat bersama?”
“Kamu tenang saja, Yulian. Semua sudah beres.” Abdullah menunjuk ke arah dua kambing yang sudah diiaktnya.
Yulian tersenyum puas dengan hasil kerja Abdullah dan sekarang saatnya Abdullah harus mengantarkan Hafizha untuk sekolah. Karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh di kota Skotlandia. Sedangkan Arjuna hari itu ia mengambil libur, karena ingin membantu Cahaya dan juga Khadijah dalam merangkai susunan acara yang akan dilangsungkan nanti malam.
“Ahtar mohon ijin berangkat dulu, karena Ahtar ada jadwal operasi jam sembilan nanti. Tak apakan, Bunda... Abi?”
“Nak, apa kamu tidak sarapan dulu? Ini sudah siap loh untuk sarapan bersama.” Khadijah mendekati Ahtar yang sudah siap untuk bekerja.
“Iya, Ahtar. Sebaiknya kamu ikut sarapan dulu walaupun hanya sedikit. Jangan biarkan perutmu kosong saat menjalankan operasi nanti.” Yulian menepuk pelan perut Ahtar.
Dan Ahtar pun tidak bisa menolak ajakan kedua orang tuanya itu, lalu ia mengambil duduk seperti biasa. Ketika semua sudah berkumpul barulah Yulian membacakan do'a sebelum makan yang di aminkan oleh seluruh anggota keluarga. Setelah usai pembacaan doa acara sarapan bersama dilangsungkan.
”Ya sudah, Ahtar berangkat dulu!”
Ahtar menyalami Yulian, Khadijah, Juna, Cahaya dan bik Inem. Sedangkan saat berhadapan dengan Humaira, Ahtar hanya menangkup kan tangannya di atas dadanya dan ia juga sangat menjaga pandangannya.
“Assalamu'alaikum,” ucap salam Ahtar.
“Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh,” balas semuanya serempak.
Ahtar pun keluar dan menuju ke halaman depan di mana ia memakirkan motor yang sudah di panasi olehnya tadi pagi. Setelah itu ia segera melajukan motor sport nya dengan kecepatan sedang. Dan saat itu ada sepasang mata yang tiada hentinya menatap kepergian Ahtar sampai tidak terlihat lagi dalam pandangannya.
‘Sungguh, aku tidak bisa memendamnya terlalu lama. Ya Allah sesungguhnya aku tidak ingin menjadi hamba-Mu yang memendam kemunafikan, karena itu akan menjadi sebuah dosa. Tapi aku juga bingung, karena aku tidak bisa menjaga nafsu yang ingin menyelimuti hati ini.’
Humaira berlari menuju ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang masih berada di atas nakas. Dan ponsel pun ia genggam dengan begitu erat, bahkan jantung Humaira tiba-tiba berdebat hebat.
‘Ya Allah, berikanlah aku ijin-Mu.’
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bunda, bagaimana jika kita pasang dekorasinya di sebelah sana saja? Lalu nama Abizzar kita susun secara rata.” Cahaya menunjuk ke arah sisi ruang yang cukup nyaman bagi tamu undangan saat mengikuti acara.
“Boleh juga, Cahaya. Ya sudah, mari kita atur bersama.” Khadijah mengangguk mengiyakan.
Khadijah dan Cahaya pun menuju ke ruang itu. Lalu segala yang mereka bawa pun telah disusun rapi ke sisi tembok sesuai yang mereka rencanakan tadi. Sedangkan kaum lelaki mereka mengurusi dua ekor kambing yang akan disembelih sesuai dengan syari'at islam sebagai persyaratan dalam acara aqiqah untuk laki-laki.
“Abi, bantu Om Abdullah memegangi kaki kambingnya,” pinta Arjuna.
“Baiklah!”
Semua bekerja keras dengan gotong royong agar acara aqiqah yang akan diselenggarakan bisa segera usai atas ijin Allah yang akan melancarkan segala urusan yang baik. Dan mereka semua telah disibukkan dengan segala susunan acara nanti. Mempersiapkan segalanya dengan penuh kematangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Dokter, bagaimana jika suami saya tidak selamat nanti? Karena saya tahu kondisi jantungnya yang bermasalah.” Seorang wanita paru baya mendatangi Ahtar dengan binar mata sendu.
Rasa khawatir dari seorang istri saat suaminya tengah dilanda sakit keras memang tidak bisa dipungkiri bahkan ditutupi. Dan wanita paru baya itu memperlihatkan rasa khawatirnya saat operasi akan dilangsungkan oleh Ahtar.
“Wahai Ibu, saya tahu saya hanyalah seorang dokter yang bisa mengobati pasien saya. Tapi itu semua atas kehendak dan ijin Allah, jika itu bukan kehendak-Nya maka Allah yang berhak mengambil kembali raga suami Ibu.”
“Ibu, saya rasa Ibu adalah seorang muslimah. Pasti Ibu tahu apa yang harus Ibu lakukan saat ini. Meminta kepada Allah agar suami Ibu bisa sembuh melalui saya.”
__ADS_1
Dengan tutur kata yang lebut dan tidak mengurangi sopan santunnya, Ahtar mencoba meyakinkan Ibu Malika untuk mempercayai takdir Tuhan. Karena sebesar apapun usaha tim medis yang menjalankan operasi di bawah pimpinan Ahtar akan sia-sia jika Allah sudah berkehendak lain.
“Iya, Dokter memang benar. Saya akan berdoa kepada Allah untuk melancarkan operasi nya dan semoga saja suami saya bisa sembuh.” Ibu Malika mengangguk.
Ahtar memasuki ruang operasi dan meminta anggotanya untuk bersiap. Dan sudah tiga jam lamanya Ahtar berdiri demi menyelamatkan nyawa pasiennya, hingga Allah pun mengijinkan Ahtar menyembuhkan pasiennya itu.
“Alhamdulillah,” pekik Ahtar.
Akhirnya pekerjaan Ahtar yang menguji adrenalinya sudah usai. Kini ia mencuci tangannya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang semula ia pakai.
‘Humaira? Mengapa begitu banyak pesan darinya? Ya Allah, aku tidak berani membukanya. Tapi... tidak baik juga jika aku mengabaikannya.’
Humaira mengirim lima pesan ke nomor ponsel Ahtar. Dan sederet pesan itu membuat Ahtar merasa penasaran dengn isinya. Dengan bacaan basmalah Ahtar membuka satu persatu pesan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Alhamdulillah, akhirnya kambingnya sudah selesai dibersihkan. Sekarang tinggal diserahkan ke Paman Malik untuk segera dimasak.” Arjuna bernafas lega.
Arjuna, Yulian dan Abdullah membawa potongan kambing itu ke dapur dan diberikan kepada Malik yang berprofesi sebagai juru masak yang amat handal. Setiap masakan yang diciptakan memiliki khas tersendiri bagi paman Malik.
“Apa perlu dibantu?” tanya Yulian memastikan.
Yulian menatap Khadijah dan Cahaya yang masih sibuk saat mendekorasi setiap sudut rumah dengan beberapa bunga, lalu kaki Yulian pun melangkah hendak menawarkan bantuan kepada mereka. Karena Yulian tidak ingin jika istrinya terlalu sibuk hingga mengabaikan Abizzar yang masih berada di atas kereta dorong.
“Tidak kok, Abi. Ini hanya tinggal sedikit, tinggal membenahi bunga nya saja.” Terang Cahaya kemudian.
“Ya sudah, para wanita yang baik ... silahkan kalian mundur agar kami para lelaki nisa. menggantikan posisi kalian. Lihatlah Neng Khadijah, Abizzar mungkin sudah lelah berada di kereta dorong. Dan Cahaya, lihatlah bik Inem, sedari tadi sudah menjaga Garda.” Yulian menunjuk ke arah dimana anak kecil itu berada.
Barulah kedua wanita hebat itu menyadari akan kelalaiannya, setelah menyadari hal itu keduanya merutuki kebodohan yang sudah mereka perbuatan. Dan seketika Khadijah serta Cahaya meraih Abizzar dan Garda dalam gendongan mereka.
“Maafkan Bunda ya, sayang. Bunda sudah lalai... sekarang waktunya kamu minum susu dulu,” ucap Khadijah.
“Ya Allah, Dia lelaki yang baik. Lelaki yang mampu menjaga hati dan sikap wanitanya yang terkadang pencemburu. Dan aku sebagai wanitanya telah beruntung.” Khadijah tiada hentinya menatap Yupian dengan tatapan penuh cinta di dalamnya.
Yulian, Arjuna, Abdullah dan juga Ahtar menyalami semua tamu yang sudah hadir di kediaman Yulian untuk mengikuti acara aqiqah dan tasyakuran. Dan saat itu mereka semua telah dikejutkan dengan kehadiran papa Adhi.
“Assalamu'alaikum,” ucap salam dari Papa Adhi.
“Wa'alaikumsalam,” jawab seluruh seisi rumah dengan serempak.
Seketika Yulian, Arjuna, Ahtar dan Abdullah menyalami papa Adhi yang sebagai tetua. Dan tidak lama kemudian acaranya pun dilangsungkan dengan beberapa bacaan surat pendek dan sholawatan.
Saat acara makan bersama dengan para tamu undangan netra Humaira lagi-lagi mencari keberadaan Ahtar. Dan rasa penasaran begitu membuncah karena pesan yang dikirimnya ke ponsel Ahtar tidak ada satupun balasan dari pujaan hatinya itu.
‘Bang Ahtar, kenapa pesan ku tidak kamu balas satupun? Apa kamu tahu Bang, hatiku gelisah.’ Humaira bermonolog dalam hati.
“Kak, cari siapa kok celingukan seperti itu?”
Pertanyaan Hafizha sungguh membuyarkan lamunan Humaira. Bahkan pandangannya pun segera dialihkan, lalu Humaira menoleh ke arah di mana Hafizha berdiri di sisi kanannya. Karena Humaira tidak ingin jika Hafizha tahu bahwa ia tengah mencari keberadaan Ahtar yang entah dimana Ahtar mengambil duduk.
“Eh... kamu itu ya paling suka mengagetkan kakak.” Humaira berpura-pura dengan alasan alibinya.
“Ya... bukan maksud Izha mau ngagetin kak Humaira sih, tapi Izha lihat kak Humaira celingukan kayak mencari seseorang begitu. Jadi ya Izha tanya saja kak Humaira mencari siapa?”
“Tidak, kok. Kakak tidak sedang mencari siapapun, hanya memastikan saja jika semua tamu sudah kebagian makanan. Tidak enak kan, nanti jika ada yang belum kebagian makanannya.” Humaira memberi alasan dengan alibinya.
“Tapi, itu bukan tugas kita untuk memantaunya, Kak. Ada Abi, bang Juna, bang Ahtar dan Om Abdullah di sana. Pasti mereka tahu jika ada yang belum kebagian makanan. Kak Humaira tidak perlu repot kok.” Apa yang diucapkan Hafizha begitu menohok Humaira.
“Iya... ya...” Humaira nyengir.
“Kak Humaira makan saja gih, minta sama Paman Malik ya! Izha mau ke kamar dulu, belajar biar pintar.” Hafizha menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Humaira mengangguk, lalu kembali mencari keberadaan Ahtar setelah Hafizha dapat dipastikan tidak lagi di sampingnya. Namun hasilnya nihil, karena Humaira tidak dapat menemukan keberadaan Ahtar. Hingga akhirnya ia pun merasa lelah berdiri di sisi tembok yang menjadi jarak antara dapur dengan ruang tengah.
“Paman Malik, aku mau minta makanannya lagi satu. Ada yang belum kebagian makan soalnya.” Terang Ahtar yang pergi ke dapur menemui paman Malik.
“Baiklah, Nak Ahtar.” Paman Malik manggut-manggut.
Paman Malik segera mengambilkan makanan seperti yang sudah dibuat sebelumnya. Dan ketika Ahtar menoleh dengan membawa nasi itu tanpa sengaja ia menabrak Humaira hingga kuahnya tumpah dan mengenai cadar Humaira.
”Maaf, saya tidak sengaja.” Ahtar menundukkan pandangannya.
“Tidak apa-apa kok, Bang. Mungkin saya saja yang kurang hati-hati, jalan tidak melihat.” Humaira membersihkan kotoran dari bekas kuah daging kambing yang mengenai cadar nya.
Tanpa sepatah katapun Ahtar meninggalkan Humaira di dapur, karena Ahtar tidak mau jika orang yang belum kebagian makanan menunggunya terlalu lama. Kasihan juga kan, jika tamu itu dilanda kelaparan yang tidak bisa ditahan.
‘Begitu dinginnya hatimu, Bang. Apa kamu menganggap ku tidak pernah ada? Begitu sulitnya untuk memintamu menyapaku.’
Humaira menatap punggung Ahtar yang kian menghilang dalam pandangannya. Dan kembali Humaira dikagetkan dengan kehadiran Hafizha, yang suka muncul secara tiba-tiba dan pergi sesuka hati.
Hafizha bagaikan hantu cantik yang baik, seperti yang ditulis mbak penulis nya. Wkwkwk...
“Mbak, ayo makan! Ambil sana gih, mumpung belum malam. Kalau sudah malam tidak boleh makan berlebihan.” Hafizha nyengir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Sini Neng, biar Hubby saja yang gendong Abizzar. Neng tinggal makan saja, tuh Hubby sudah bawain makanannya.”
Hati Khadijah kembali merasa senang atas perhatian kecil yang diberikan Yulian. Dan malam itu Khadijah merasa bahwa hidupnya sudah jauh lebih baik daripada dulu, luntang lantung mencari tempat tinggal untuk menghindari keberadaan Alex yang terus mencarinya.
‘Ya Allah, terima kasih akan selalu aku ucapkan sebagai rasa syukurku. Karena Engkau sudah memberikan ku kesempatan hidup untuk menikmati kebahagiaan setelah perjalanan yang begitu sulit untuk menuju bahagia itu.’ Khadijah bermonolog dalam hati.
Khadijah tidak akan berhenti memperhatikan Yulian yang begitu sabar menggendong Abizzar yang tak kunjung tidur. Dan hati Khadijah ikut merasa adem saat mendengar Yulian membacakan sholawat kepada Abizzar agar segera tidur.
“Kalamungkodimalla Yumallu sama uhu, tanazzaha angkauli wa fikli waniyati.” Sholawat itu terus dilantunkan oleh Yulian sembari menggendong Abizzar.
Namun, kedua mata Abizzar masih terjaga dengan sangat terang. Membuat Yulian merasa bingung sendiri harus dengan cara apa untuk membuat Abizzar lekas tertidur.
“Assalamu'alaikum,”
Papa Adhi mengucapkan salam ketika hendak masuk ke kamar Yulian. Dan setelah mendengar suara papa Adhi dari luar dengan segera Khadijah membukakan pintu. Setelah itu Khadijah menyalami papa Adhi untuk menghormati orang yang lebih tua darinya.
“Bolehkah Papa masuk?” tanya Papa Adhi memastikan.
“Silahkan masuk saja, Pa.” Khadijah membukakan pintu kamarnya dengan lebar.
Papa Adhi pun masuk ke dalam kamar. Lalu menyapa Abizzar yang masih dalam gendongan Yulian.
“Sini, biar Papa yang menggendongnya.”
Yulian pun memberikan Abizzar ke dalam gendongan Papa Adhi.
“Lha matanya saja masih terjaga dengan terang kok disuruh tidur ya, Le. Sini, kakek saja yang gendong cucunya, ya!”
Dengan senyum yang terus mengembang Papa Adhi tiada hentinya mengajak Abizzar mengobrol. Bahkan sesekali Abizzar merespon yang diucapkan Papa Adhi dengan senyuman. Dan perlahan Papa Adhi akhirnya berhasil menidurkan Abizzar dengan melantunkan beberapa bacaan surat pendek.
“Papa mau istirahat, Papa merasa begitu lelah.” Papa Adhi mengulas senyum.
Yulian dan Khadijah mengangguk, membiarkan Papa Adhi pergi ke kamarnya yang hendak beristirahat. Karena malam itu jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam di kita Skotlandia.
Yulian dan Khadijah pun merebahkan tubuh mereka di atas ranjang, karena kantung mata Khadijah tidak bisa menahan kantuk yang mendera. Meskipun tadi sudah tertidur sedikit, tetapi rasa lelah tidak bisa menipu wajah Khadijah hingga kantuk pun datang. Begitu halnya dengan Yulian.
Bersambung...
__ADS_1