Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 134 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

“Ya Allah... jangan Engkau uji lagi rumah tanggaku dengan rasa cemburu.”


Yulian mecoba menghampiri Khadijah dengan segala keberaniannya. Yulian pun siap menghadapi Khadijah jika rasa cemburu tiba-tiba menyeruak hatinya.


“Neng.” Yulian melingkarkan lengannya di perut Khadijah.


Kehadiran Yulian tidak bisa dirasakan oleh Khadijah, karena terlalu fokus menatap foto Aisyah dari masih kuliah hingga sudah memiliki sebuah butik yang dinamakan Aisyah Galery_yang ada di Medan. Bahkan ada juga sederet foto keluarga Aisyah dan keluarga Yulian yang begitu bahagia dengan tawa yang memperindah nya.


“Hubby, ngagetin Neng saja.” Khadijah terperanjat.


“Kenapa harus kaget seperti itu? Neng harusnya bisa merasakan kehadiran Hubby dong, lah ini kenapa kok bengong?” tanya Yulian berpura-pura tidak tahu.


Tanpa membalikkan tibuhnya Khadijah berkata, “Istri pertama itu... akan selalu di hati. Karena Dia lah yang sudah memenuhi seluruh hatimu, iya kan, Hubby? Seperti Aisyah, sampai saat ini Neng yakin jika Aisyah masih menjadi pertama dan terakhir di dalam kehidupan serta di hati Hubby, iya, kan?”


Deg...


Hati Yulian tercubit saat mendengar ucapan Khadijah, rasa nyeri begitu saja menusuk hingga sanubari. Akan tetapi, dengan segenap keberanian Yulian menggenggam ruas jemari Khadijah yang sempat dilerai.


“Neng, apa saat ini sedang... cemburu?”


“Buat apa cemburu? Bukankah, itu sudah pasti kebenarannya.” Khadijah tersenyum tipis, dalam hatinya menahan kepedihan dan kenyataan yang sesungguhnya.


Yulian menghela napas panjang, ia sudah mengambil resiko dan bersiap jika cemburu benar menyelimuti hati Khadijah. Dan benar saja, meskipun Khadijah mengelak tetapi, Yulian tahu akan hal itu.


“Tidak usah membohongi hati sendiri, Neng. Lagipula... Hubby tahu kok, jika saat ini memang Neng cemburu.”


Khadijah membisu, tidak merespon apa yang diucapkan oleh Yulian. Tetapi, dengan sabarnya Yulian tetap berada di samping Khadijah. Dan kembali Yulian menjelaska sesuatu hal yang kerap sekali Yulian katakan kepada Khadijah saat merasa cemburu seperti itu.


“Sini, Neng! Lihat Hubby.” Yulian menarik lengan Khadijah hingga tatapan mereka pun bertemu.


Bukan hanya bertemu saja, tetapi netra keduanya saling mengunci satu sama lain. Sehingga akan terlihat jelas jika Yulian membohongi Khadijah dalam setiap ucapan yang akan dilontarkan.


“Memang benar apa yang Neng katakan semua itu. Dulu, Aisyah memang menjadi wanita yang Hubby perjuangkan, Hubby cintai dan wanita yang selalu di hati. Tetapi, Aisyah sudah kembali memenuhi panggilan Allah SWT, dan sebagai manusia biasa bukankah kita tidak mengharapkan apapun lagi dari orang yang sudah tiada?”


“Dan masalah menduda sampai dua tahun, itu bukan berarti hati Hubby tidak mulai terbuka. Hanya saja... Hubby memikirkan bagaimana masa depan anak-anak, terutama... Hafizha.”


“Hubby hanya ingin mencari wanita_pendamping hidup yang bukan hanya sekedar mencintai diri ini saja, tetapi juga anak-anak. Hingga akhirnya Allah menghadirkan rasa percaya untuk mengkhitbah wanita sepertimu... Neng.”


Dalam diamnya Khadijah mendengarkan setiap kata demi kata yang diucapkan Yulian dari dalam sanubari nya. Dan Khadijah mempercayai akan hal itu, karena mata Yulian mengisyaratkan tentang kebenaran.


“Neng, percaya kan, sama Hubby?”

__ADS_1


Khadijah mengangguk, ia tidak mau kehilangan Yulian sama sekali. Dan Khadijah menepis rasa cemburu itu, Khadijah juga tahu bagaimana oantasnya seorang Aisyah di dalam hati Yulian. Hanya saja yang namanya cemburu pasti akan ada. Seperti Siti Aisyah istri Rosulullah yang merasa cemburu saat Rosul terus menyebut nama Khadijah, istri pertamanya.


Angin malam telah berhembus, menerpa wajah Khadijah hingga menyadarkannya jika jendela belum ditutup. Lalu, langkah pun diambil Khadijah untuk menutup jendela, setelah itu Yulian meminta Khadijah untuk segera lekas istirahat, karena malam yang sudah kian melarut.


“Sini! Tidur di samping Hubby. Sudah lama juga Hubby tidak melakukannya lagi.”


Khadijah mengangkat sebelah alisnya, ia tak mengerti apa yang dimaksud Yulian. Jika Yulian ingin meminta hal istimewa itu lagi, sangat di rasa itu tidaklah mungkin. Karena Yulian hanya rebahan di atas ranjang saja, tidak melakukan hal semacam kecupan bibir.


“Ayo, Neng! Sini, dekat Hubby.” Yulian menepuk kasur.


Tidak ada alasan lain untuk menolak, Khadijah pun merebahkan tubuh di samping Yulian. Dan setelah itu Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah seraya membacakan doa serta sholawat nariyah.


Setiap perlakuan Yulian mampu membuat Khadijah merasa nyaman, terlindungi, dicintai, dikasihi dan seolah kini Khadijah yang menjadi ratu di hati Yulian dan di kehidupan Yulian.


Dengan seiring waktu yang berjalan Khadijah pun terlelap dalam tidurnya. Dan selang berikutnya Yulian juga ikut tertidur, tidak memikirkan sunyi nya malam di kota Medan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kita sholat berjamaah dulu, setelah itu kita lanjut makan malam.” Arjuna memberikan titah kepada istri, adik-adiknya dan bik Inem.


Semua mengangguk, tanda setuju dengan apa yang dikatakan Arjuna. Setelah Yulian sebagai pemimpin di keluarga itu tidak ada, kini Arjuna lah yang harus menggantikan posisi itu untuk mengajarkan, mengayomi serta melindungi keluarganya.


Sholat maghrib pun telah digelar secara berjamaah. Dan setelah itu semua beralih ke meja makan yang berada di dekat dapur. Semua makanan sudah tersedia di sana dengan rapi_siap untuk dijadikan santapan makan malam mereka.


Makan malam telah usai, mereka pun tak luput dari bacaan alhamdulillah sebagai rasa syukur. Arjuna memutuskan untuk membantu Cahaya dan bik Inem membersihkan meja makan sekaligus mencuci piring kotor sisa makanan mereka tadi.


Hafizha menuju ke kamarnya hendak mengerjakan PR sekolah, karena besok harus dikumpulkan. Begitu juga dengan Garda, harus belajar agar mendapatkan nilai yang selalu bagus. Dan itulah harapan semua orang tua, kan?


Dan sedangkan Ahtar, jangan ditanya lagi apa yang dilakukan oleh pemuda itu. Pastinya Ahtar kembali ke rumah sakit hendak melakukan operasi jantung. Berkutat dalam aktivitas pembedahan, karena itulah yang menjadi pekerjaan Ahtar setelah lulus kuliah di Korea Selatan.


“Are all ready?” tanya Ahtar kepada perawat.


“Yes, are all ready, Doctor.” Perawat itupun mengangguk.


Lampu telah menyala dengan amat terangnya, dan itu tanda jika operasi sudah dimulai. Ahtar meminta pisau bedah dan alat lainnya yang dibantu tim operasi khusus jantung.


Ketajaman mata selalu menjadi hal utama saat operasi masih berlangsung. Benar-benar pekerjaan yang menguji adrenalin, bukan?


‘Ternyata... Dia sedang melakukan operasi malam ini. Apa aku bisa menemuinya setelah operasi itu? Bagaimana kalau Dia menolak?’ monolog Zuena.


Di koridor Zuena berdiri, tepatnya dibalik tembok yang menjadi persimpangan antara ruang operasi dengan ruangan menuju rawat inap itu Zuena terus mengamati apa yang dilakukan Ahtar. Rasa rindu, itulah yang menjadi alasan seorang Zuena datang ke rumah sakit malam hari. Bukan untuk menemani Adam check up bulanan.

__ADS_1


“Kalau rindu yang ketemu saja, toh jiga ada aku. Dan pastinya kamu hapal sama Dokter Ahtar, Dia tidak akan mau jalan berdua saja dengan yang bukan makhram nya.”


Suara berat itu menganggetkan Zuena, hingga membuat Zuena seketika berbalik. Lalu menghembuskan napas panjangnya, karena merasa terkejut.


“Apa-an sih, sok tahu banget kamu, Dam. Lagipula... sejak kapan kamu ada disini?”


“Sejak tadi, setelah kamu mendapatkan telepon aku merasa curiga jika kamu akan melakukan pekerjaan itu lagi. Tapi... itu benar, kan?” Adam berbalik bertanya.


“Buat apa kamu ingin tahu akan hal itu? Bukankah kamu sudah... berhenti. Jadi, bukan urusan kamu lagi jika aku tetap melakukan pekerjaan itu.”


“Ah sudahlah! Lebih baik aku berangkat menjalankan misi ku sekarang daripada meladeni kamu yang tidak penting.”


Zuena pun memutuskan untuk pergi dengan pakaian serba hitam, tidak lupa juga dengan topi yang dijadikan Zuena sebagai penutup wajahnya. Zuena tidak mempedulikan lagi apa yang dikatakan Adam, ia benar-benar harus tetap menjalankan pekerjaan itu. Jika berhenti seperti yang Adam lakukan, maka akan banyak anggotanya yang terlantar. Namun sayangnya, pekerjaan itu haram jika terus dilakukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat pukul 02.00 malam Yulian terbangun hendak melakukan sholat tahajud. Mengingat Khadijah yang selalu merajuk jika tidak ikut dibangunkan, Yulian memutuskan untuk membangunkannya saja daripada mendapatkan amukan nanti.


“Neng! Bangun yuk, sholat tahajud dulu.” Yulian menepuk pelan pipi Khadijah yang tertutupi oleh rambutnya yang panjang.


Khadijah beringsut secara perlahan, matanya pun mengerjap sesekali dan lalu, perlahan Khadijah mengumpulkan kesadarannya.


“Apa... sudah subuh ya, Hubby?”


Yulian mengulas senyum, lalu berkata, “Belum Neng, tapi sholat tahajud.”


“Oh...” Khadijah hanya ber oh kepanjangan.


Yulian meminta Khadijah untuk mengambil wudhu terlebih dahulu, setelah itu baru lah Yulian yang bergantian. Setelah keduanya siap, dua rakaat malam telah ditunaikan bersama.


“Allahu akbar,” ucap Yulian sebagai Imam.


Khadijah yang sebagai makmum mengikuti dari shaf belakang. Dan hak itu dilakukan sampai selesai. Setelahnya... Yulian mengajak Khadijah untuk membaca mushaf bersama.


Banyak hikmah yang mampu ditangkap dalam. kehidupan rumah tangga Yulian dan Khadijah. Meskipun Khadijah menjadi istri kedua Yulian, tetapi tidak pernah sekalipun Yulian membandingkannya dengan Aisyah-istri pertamanya. Bahkan Yulian memperlakukan Khadijah layaknya istri pertama.


Dalam kehidupan rumah tangga bukan hanya kebersamaa saja yang mampu tercipta, tetapi di sana harus bisa saling melengkapi, menghargai satu sama lain, menjaga hati, mencoba mengerti dan selalu ada dalam keadaan duka maupun suka.


“Masih dua jam lagi untuk subuh, Neng mau lanjut tidur atau mau melakukan hal lain?”


“Neng mau menata foto itu boleh, Hubby?” tunjuk Khadijah pada beberapa foto yang menempel di sisi tembok.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2