Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 36


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan yang cukup rumit, akhirnya Yulian dan dua sahabatnya sampai juga di kantor. Karena ada pertemuan penting dengan klien di jam pagi, Yulian dan Tristan segera masuk ke ruangan mereka untuk memeriksa beberapa dokumen yang harus dibawa. Sedangkan Abdullah, ia dengan setia menunggu di dalam mobil, sesekali keluar untuk mencari udara segar.


”Bagaimana, Tristan? Apa sudah kamu siapkan dokumen yang kamu salin kemaren?”


”Sudah. Sekarang kita berangkat saja ke kantor Mr. Yuda, takutnya kita sampai kesana malah kesiangan.” Yulian menganggukkan kepalanya untuk membenarkan apa yang dikatakan Tristan.


Setelah dirasa semua sudah siap untuk pertemuan pagi itu, keduanya kini menuju ke tempat parkir. Dan di sana Abdullah sudah siap untuk segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan penuh kehati-hatian, agar tidak terjadi sesuatu hal seperti saat perjalanan menuju kantor tadi.


”Ingat Abdullah, hati-hati! Jangan nge ... rem mendadak seperti tadi.” Ujar Yulian penuh penekanan.


”Iya-iya. Ini juga sudah hati-hati dan serba pelan.”


Tristan hanya tertawa mendengar percakapan Yulian dengan Abdullah. Ingin rasanya ia ikut nimbrung, tetapi beberapa berkas di atas pangkuannya harus disusun dengan rapi. Sehingga tak ada waktu untuk mengurusi Abdullah yang berdebat dengan Yulian.


Setelah hampir setengah jam melakukan perjalanan, kini mereka tiba di kantor Mr. Yuda. Seorang CEO besar yang memiliki banyak properti barang antik. Dan dalam pertemuan kali ini Yulian akan membeli beberapa barang tersebut untuk di jual lagi di Indonesia setelah barangnya sampai di kantor miliknya yang berada di Indonesia, tepatnya di Medan.


Kehadiran Yulian disambut dengan hangat oleh Mr. Yuda dan asisten pribadinya, Jennifer. Dan dengan segera Yulian mengatakan tujuan utamanya kepada Mr. Yuda dalam pertemuannya itu.


”Bagaimana, Mr. Yuda. Apakah Anda setuju dengan pengajuan proposal perusahaan kami?”


”Sepertinya ... ide yang bagus. Tapi ... alangkah baiknya sekarang kita melihatnya secara langsung. Agar lebih puas untuk pak Yulian dan juga pak Tristan.” Yulian dan Tristan mengiyakan ajakan Mr. Yuda.


Mereka berjalan menelusuri sisi gedung yang banyak akan benda antik di sana. Bukan hanya benda antik saja, ada juga beberapa lukisan yang banyak teepajang di sana. Terlihat begitu indah saat Yulian memandang salah satu lukisan yang menarik perhatiannya.


”Mr. Yuda, bisakah saya membeli lukisan ini?” tanya Yulian yang memiliki antusias tinggi.


Tristan menautkan alisnya saat melihat dengan benar bagaimana lukisan itu tergambar. Bahkan Tristan memandang antara Yulian dengan lukisan itu secara bergantian, dan Tristan merasa aneh dengan pilihan Yulian saat itu.

__ADS_1


”Yulian, bagaimana bisa kamu memilih lukisan primadona seperti ini?” bisik Tristan.


”Diam saja kamu, Tristan. Aku hanya ingin memajang nya di kamarku saja. Agar terlihat indah dan mengena bagi Khadijah.” Tristan menautkan kembali kedua alisnya, ia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Yulian.


Mr. Yuda menunjukkan dua lukisan yang memiliki gambar sama, seorang lelaki dan perempuan yang sedang menggendong seorang bayi mungil yang begitu lucu. Dan akhirnya Yulian kepincut untuk membeli lukisan itu. Bahkan kedua lukisan itu dibeli nya secara tunai tanpa perantara. Sehingga lukisan itu bisa dibawa pulang saat itu juga.


Hari yang sudah berganti siang membuat Yulian dan Tristan merasa lapar. Sehingga mereka memutuskan untuk mencari tempat makan yang dekat dengan kantor Mr. Yuda. Dan setelah menemukan tempat makan yang cukup nyaman, segeralah mereka memesan makanan untuk dijadikan santapan siang mereka.


”Pak Yulian, Pak Tristan. Apa kalian sedang makan disini juga?”


”E ... iya, Mrs. Jennifer. Apa Mrs. Jennifer juga makan siang disini?” Tristan berbalik bertanya.


”Yes. Saya selalu makan siang disini, karena ini adalah tempat favorit saya. Emm ... ngomong-ngomong bolehkah saya duduk disini? Saya lihat ... kursinya sudah penuh semua.”


Tristan dan Yulian memandang keseluruh tempat duduk yang ada untuk memastikan bahwa yang dikatakan Jennifer itu benar apa adanya. Karena mereka tidak mau jika akan timbul masalah saat mereka duduk bersama Jennifer. Dan setelah memastikan, ternyata benar. Tak ada bangku kosong lain untuk dijadikan tempat duduk Jennifer. Sehingga mau tidak mau Yulian dan Tristan mengijinkan Jennifer bergabung dengan mereka.


Dengan rasa bahagia Jennifer duduk di tengah antara Yulian dan Tristan. Bahkan tiada hentinya Jennifer menarik dua ujung bibirnya, sehingga terlihat begitu manis. Namun, jiwa Yulian dan Tristan tak akan pernah tergoda dengan kecantikan yang dimiliki Jennifer. Meskipun tubuh dan bodynya seperti bentuk lengkukan gitar yang aduhai, tapi Yulian dan Tristan tak berminat untuk sekedar melirik nya.


”Selamat makan, Mrs. Jennifer.” Tawar Tristan setelah makanan yang dipesan sudah di antar oleh pelayan.


”Oh iya, terima kasih, Pak Tristan. Dan selamat makan pak Yulian.”


Terdengar miris saat nada bicara Jennifer seperti dibua-buat manja untuk menggoda Yulian. Karena Jennifer terlihat menyukai Yulian saat pada pandangan pertama. Sedangkan Yulian merespon sikap Jennifer saja tidak, apalagi untuk menjatuhkan hati, sangatlah tidak mungkin. Karena Yulian sudah menuliskan nama Khadijah dalam lebuk hatinya yang dalam.


”Oh my God, maaf sebelumnya Pak Yulian. Ada sesuatu di ujung bibir Pak Yulian.”


Jennifer mengambil selembar tisu lalu diusapkan di ujung bibir Yulian untuk menghapus sisa makanan yang menempel di sana. Dan hal itu mampu dilihat oleh Khadijah, karena di saat yang tepat Khadijah berada di kafe itu tengah bersama Arumi.

__ADS_1


'Yulian, siapkan mentalmu dan perbesar sabarmu. Karena akan ada perang dunia antara kamu dengan Khadijah. Bukan hanya kalian saja, siap-siap juga untuk pasangan Tristan dan Arumi.’ bisik penulis kepada Yulian dan Tristan.


Khadijah dan Arumi yang tidak sengaja melihat keberadaan suami mereka dengan perempuan lain seketika langkah cepat mereka lakukan untuk segera bertemu. Dan sesampai di bangku Yulian, Khadijah menatap tajam Yulian yang sesaat saling pandang dengan Jennifer.


”Astaghfirullah hal azim.” Seketika Yulian menepia tangan Jennifer yang masih mengusap ujung bibirnya.


’Khadijah, kenapa Dia bisa sampai disini?’ tanya Yulian dalam hati.


Ada desir kemarahan yang mengobar di dalam tubuh Khadijah dan Arumi saat melihat kedekatan suami mereka dengan perempuan yang tidak diketahui sama sekali oleh mereka. Dan dengan sikap yang cukup profesional Khadijah bersa Arumi mampu membuat Jennifer pergi dari bangku makan itu.


”Oh, ada siapa ya...?”


”Oh, perkenalkan. Nama saya Jennifer, bisa dipanggil Jenni.” Ujar Jennifer sembari menyodorkan tangannya kepada Khadijah dan Arumi untuk bersalaman.


”Khadijah, pengajar di salah satu Universitas Islam di sini.”


”Dan saya Arumi, meneger di Gallery Aisyah. Kami sangat senang bertemu Anda disini.”


”Oh tentu. Tapi ... apa kalian sebelumnya mengenal saya?”


Sejenak Khadijah dan Arumi saling pandang, lalu mereka menjawab pertanyaan Jennifer secara bersamaan. Sehingga membuat Jennifer terkejut lalu pergi.


”Tidak. Kami hanya mengenal suami kami.”


”Suami?”


”Iya, suami kami yang kamu goda ini. Dan lebih baik, Anda pergi dari sini sekarang juga.” Ketus Arumi.

__ADS_1


Melihat tajamnya tatapan Arumi dan Khadijah, Yulian dan Tristan serasa bergidik ngeri. Tak tahu lagi apa yang akan terjadi di antara mereka setiba di rumah nanti. Dan rencana Yulian dengan lukisan yang sudah dibelinya tadi apakah akan sia-sia saja? Dan penulis pun juga tidak tahu bagaimana nasib dia lekaki itu, karena cerita selanjynya masih dalam perancangan. Wkwkwk...


__ADS_2