
Dengan usaha yang amat tinggi dari seorang Khadijah, Abizzar akhirnya merasa kenyang. Setelah kurang lebih lima belas menit berada di ruangan Khadijah, kini Abizzar harus kembali lagi masuk ke inkubator.
‘Apa aku harus mengatakan tentang Humaira kepada Ahtar? Jika Humaira memang memiliki perasaan yang berbeda denganya?’ batin Khadijah.
Khadijah tidak melepaskan pandangannya yang ditujukan kepada Ahtar. Dan tanpa disadari Yulian mengetahui hal itu, lalu menghampiri Khadijah dan duduk di samping brangker.
“Kenapa Neng terus menatap Ahtar? Apa makanannya tidak enak terus Neng marah sama Ahtar?”
“Tidak Hubby, bukan seperti itu. Emm... Ahtar itu kan tampan, masa iya tidak ada yang naksir? Kan, tampannya tak kalah sama Abinya.” Khadijah tersenyum malu.
“Ohhh... baru tahu kalau suami Neng ini tampan, hmm? Tapi Neng, Hubby selalu mengajarkan kepada anak-anak untuk selalu menjaga diri meskipun mereka itu laki-laki. Dan mereka juga harus menjaga hati serta menjaga marwah seorang perempuan. Jika mereka salah dalam. melangkah, maka akan fatal jadinya.” Terang Yulian dengan lirih.
Khadijah manggut-manggut dan membenarkan ucapan Yulian. Tapi hati Khadijah masih mengganjal dengan sikap Humaira, tatapan itu seperti ada cinta di dalamnya. Namun, Khadijah tidak mau gegabah dan mengatakan semua itu kepada Arumi dan Tristan maupun semua orang. Seperti apa yang dikatakan Yulian, jika salah melangkah maka akan fatal.
Sejenak mereka semua terlalu fokus dengan obrolan yang sedang mereka bicarakan. Dan di saat keseruan masih menemani mereka tiba-tiba Ahtar mengudarakan suara.
”Ahtar ingin mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengan kalian semua.” Ujar Ahtar datar.
Seketika mereka menatap Ahtar lalu saling pandang satu sama lain dengan menghendikan bahu mereka masing-masing. Karena mereka tidak tahu siapa yang ingin bertemu.
“Permisi! Selamat siang, semuanya.” Ujar William setelah masuk ke dalam ruangan.
William merasa canggung dan takut, karena setiap orang yang berada di dalam sana menatapnya dengan tatapan nanar. Sulit diartikan antara tatapan suka, benci maupun marah.
“Sa ... Saya datang ke ... sini hanya ... ingin meminta maaf kepada kalian semua.” Ujar William terputus-putus.
“Namamu siapa? Apa Yulian sudah tahu nama kamu? Dan bagaimana bisa kamu datang bersama dengan Ahtar?” tanya Tristan tiada henti.
__ADS_1
“Namanya... William, Abi sudah tahu kok, Om. William ini sudah menjadi teman Ahtar. Dan tadinya William tidak mau Ahtar ajak kesini, karena merasa takut dan malu.” Ahtar mengulas senyum.
Ternyata bukan kemarahan yang dihadapi William saat berada di tengah-tengah keluarga Yulian dan para sahabatnya. Justru canda dan gelak tawa membuat William merasa nyaman dan tidak takut lagi. Bahkan William tidak akan membayangkan bagaimana berada di dalam jeruji besi. Karena Khadijah meyakinkan nya yang tidak akan membawa kasus apapun untuk dilaporkan ke pihak yang berwajib.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ahtar, boleh Bunda bicara sebentar denganmu?” tanya Khadijah saat semua orang sudah tidak ada di ruangannya.
“Boleh, Bunda. Ada apa?”
“Tapi jangan salah paham ketika Bunda bertanya. Hanya saja Bunda tidak ingin kamu menyakiti hati seorang wanita.” Begitu lembut dan penuh kebijakan.
“Menyakiti hati seorang wanita? Siapa wanita yang Bunda maksud?” Ahtar mengerutkan keningnya.
“Humaira. Bunda rasa... Dia menyimpan perasaan yang berbeda terhadapmu, Nak. Apa benar jika kamu tidak memiliki calon, hmm?”
Keduanya sejenak terdiam dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Dan tidak. lama kemudian Khadijah kembali mengudarakan suara nya untuk memberikan penuturan kepada Ahtar. Meskipun hanya sebagai ibu sambung, tetapi mengingatkan hal baik kepada seorang anak itu wajib. Apalagi jika Arjuna dan Ahtar sudah menganggap bahwa Khadijah bagaikan ibu kandungnya sendiri.
“Ahtar, dengarkan Bunda tentang sesuatu hal. Bunda tahu bagaimana persis masa lalu Bunda yang sangat kelam. Dan di masa Bunda remaja bahkan memasuki usia dewasa, Bunda tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Hanya setelah bertemu dengan Abi mu Bunda baru merasakannya.”
“Tapi sebagai seorang wanita, Bunda bisa merasakan apa yang dirasakan Humaira saat Bunda tahu tatapan yang diberikan kepadamu ada arti di dalamnya. Bunda juga sudah membahas hal ini kepada Humaira. Dan Bunda memintanya untuk melakukan sholat tahajud dan istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah.”
Sejenak Khadijah menghela nafasnya secara pelan. Lalu Khadijah meminta kepada Ahtar untuk meminta petunjuk kepada Allah, jika saja mereka akan berjodoh maka nama mereka pun sudah tertulis dalam buku Lauhul mahfudz. Buku yang akan selalu abadi.
“Baiklah, Bun. Ahtar akan melakukan apa yang Bunda sudah sarankan. Dan... Ahtar juga tidak tahu jika Humaira memiliki perasaan lebih terhadap Ahtar.” Ada rasa sedih dan takut, jika saja Ahtar akan membuat hati Humaira terluka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Malam yang datang dan kembali dalam peraduan. Di atas sajadah Ahtar melangitkan do'a, ia. menengadahkan tangannya dan menyebut nama Humaira dalam setiap do'anya. Setelah usai menjalankan sholat dua rakaat Ahtar kembali menerobos alam mimpi yang membuatnya bertemu dengan sang bidadari. Namun, wanita yang sering datang ke dunia mimpi Ahtar tidak memiliki ciri-ciri wanita seperti Humaira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Persiapkan segalanya, Cahaya. Abi akan membawa Bunda pulang hari ini, tapi tidak dengan Abizzar.”
“Baik, Abi. Ini Cahaya sedang bersama bik Inem membereskan kamar Abi.”
Percakapan melalui udara pun telah diakhiri dengan ucapan salam. Dan setelah lima hari berada di rumah sakit, kini Khadijah sudah diperbolehkan untuk pulang. Akan tetapi tidak dengan bersama Abizzar, karena Abizzar harus berada di dalam inkubator sampai berat badannya memasuki tiga kilo lebih. Sedangkan saat ini Abizzar masih memiliki berat badan dua kilo lebih tujuh ons, sedikit lagi memasuki tiga kilo.
“Abizzar sayang, anak Bunda... Bunda pulang dulu ya sayang. Besok Bunda kembali lagi kesini untuk Abizzar. Bunda akan selalu merindukanmu, sayang.”
Tangis Khadijah pecah saat mendengar suara tangis Abizzar yang seolah tidak rela jika sang ibu meninggalkan nya sendiri di sana. Dan itu membuat hati Khadijah terhunus belati tajam, sekilas bayangan di masa lalu kembali memutar di memorinya.
“Bunda janji, Bunda akan menjemputmu kembali. Bunda tidak akan mengulangi kesalahan yang fatal. Hiks... hiks...”
“Neng, kita pulang untuk sementara waktu. Nanti akan ada Arjuna dan Arumi yang stand by disini menunggu Abizzar. Kamu tenang saja, mungkin beberapa hati lagi kita bisa berkumpul bersama.”
“Aamiin...”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah dirasa sudah rapi, Cahaya dan bik Inem berlanjut ke dapur untuk membuat hidangan makan siang. Meskipun Arjuna dan Ahtar tidak bisa ikut makan bersama, tetapi wajib bagi mereka menyiapkan makanan di meja makan.
Bersambung...
Lauhulmahfudz (bahasa Arab : لَوْحُ المَحْفُوظٍ, translit. lauḥul maḥfūẓ ) adalah Kitab tempat Allahmenuliskan segala seluruh catatan kejadian di alam semesta. Lauhulmahfudz disebut di dalam Al-Quran sebanyak 16 kali. Ayat kesembilan dari Surah Al-Hijr : إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (translit. "Kami telah menurunkan Dzikir, dan Kami akan memeliharanya").
__ADS_1
Itu muncul dalam Al-Qur'an langsung di Surah Al-Buruj yang menghubungkannya dengan Al-Qur'an itu sendiri. Hal ini juga muncul dalam ayat-ayat lain secara tidak langsung dengan ungkapan seperti "kitab", "imam yang jelas" dan "ibu dari kitab ". Ada kebosanan lain yang ditafsirkan menurut keyakinannya.