Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 120 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Dua pesan yang masuk itupun seketika membuat Khadijah membelalakkan kedua matanya. Bahkan rasa tidak percaya membuat Khadijah memperlihatkan ponselnya kepada Cahaya, kebetulan pagi itu keduanya masih berkutat di dapur henfak menyiapkan sarapan pagi.


”Bun... ini maksudnya apa ya? Abi... kenapa bersama wanita? Dan siapa pula wanita itu?” tanya Cahaya yang ikut tidak mempercayai foto yang baru saja masuk ke ponsel Khadijah.


Ada hawa panas yang menjalar ke tubuh Khadijah, seperti kobaran api cemburu yang menguasai Khadijah dan merasa amarahnya telah memuncak. Hingga detik itu juga Khadijah segera menghubungi ponsel Yulian.


[Maaf nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan.]


Sudah beberapa kali Khadijah mencoba menghubungi Yulian tetapi hasilnya sama saja, nomor Yulian tidak bisa dihubungi. Khadijah pun semakin dikuasi oleh kobaran api cemburu.


“Kemana sih kamu, Hubby? Jangan-jangan... masih asik berduaan lagi sama itu perempuan?” terka Khadijah.


“Bunda tenang dulu, ya! Emm... siapa tahu saja Abi sedang sibuk, tapi tidak dengan perempuan itu tadi. Siapa tahu saja Abi sedang ada pertemuan dengan rekan bisnisnya di sana.” Cahaya berusaha menenangkan Khadijah.


Khadijah menoleh setelah mendengar ucapan Cahaya dan tak selang lama Khadijah meminta Cahaya untuk mendorong kursi rodanya ke kamar.


Semua masakan sudah disiapkan di meja makan, hanya tinggal menunggu seluruh penghuni di rumah itu untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


“Bik Inem, kok sepi di dapurnya? Bunda sama kak Cahaya kemana?”


“Bu Khadijah ada di kamarnya, Non cantik. Kalau mbak Cahaya mungkin... masih menyiapkan pakaian den Arjuna.” Bik Inem menjawab sambil mengingat-ingat keberadaan keduanya.


“Oh...” Hafizha hanya ber Oh saja.


Setelah itu disusul lagi Garda yang sudah terlihat keren dengan seragam sekolahnya, tak lupa gelang jam selalu melingkar di pergelangan tangan Garda. Meskipun masih di bangku sekolah dasar Arjuna maupun Cahaya mengajarkan Garda untuk selalu tepat waktu sekaligus berpenampilan rapi.

__ADS_1


“Aunty, Nenek Khadijah kemana? Garda belum melihatnya pagi ini,” celetuk Garda.


Meskipun jarang bersama dengan Khadijah tetapi Garda selalu menceritakan apa yang dilakukan selama sekolah kepada Khadijah. Sehingga keakraban keduanya telah tercipta, bukan hanya Garda saja tetapi Abizzar pun juga sama.


Semua anggota telah berkumpul dan masing-masing mengambil duduk di kursi setiba di ruang makan. Hanya saja Khadijah tidak ikut sarapan bersama. Karena Khadijah hanya membutuhkan Yulian saat itu.


“Kemana Bunda?” tanya Arjuna. sebagai anak pertama.


“Bunda... ada di kamarnya. Kemungkinan besar Bunda sedang cemburu sama Abi, soalnya... Bunda mendapatkan pesan dan pesan itu ada foto Abi bersama seorang wanita yang Cahaya sendiri tidak memgenalnya, Mas.”


“Ya salam... Cobaan apalagi ini? Belum juga kelar masalah kemaren malah ditambah lagi foto Abi.” Arjuna tepok jidat.


“Biar Hafizha saja yang bujuk Bunda, Bang.” Hafizha mengangguk lalu ia beranjak dari kursinya menuju ke kamar Khadijah.


Hafizha tersenyum memperlihatkan lengkungan yang indah dari bibir mungilnya ketika melihat Khadijah tengah melihat foto pernikahannya dengan Yulian.


“Kenapa? Bunda kangen sama Abi?”


Suara Hafizha berhasil membuat Khadijah terkejut, tetapi Khadijah hanya tersenyum saja membalas pertanyaan Hafizha. Dan Khadijah juga mengakui bahwa dirinya memang merasa rindu yang membuat pilu terhadap Yulian_yang jauh diseberang.


“Tidak ada seorang istri yang tidak merindukan suaminya, Nak. Meskipun ada rasa benci ataupun marah pasti akan merasa rindu. Dan benci seeta amarah itulah yang menguji cinta keduanya untuk lebih kokoh dalam menjalani biduk rumahtangga.” Khadijah mengulas senyum.


Hafizha merasa lega karena Khadijah tidak menyimpan amarah atas foto yang baru saja dilihat. Dan acara sarapan pagi telah dilaksanakan dengan suasana gembira dan ceria. Selalu diselingi rasa syukur untuk menciptakan rasa khidmat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


“Astaghfirullahalazim...” Yulian tepok jidat.


“Kenapa kamu? Apa... ada masalah sama proyek kita yang tadi?” tebak Tristan.


“Tidak.” Yulian menggeleng. “Hanya saja... Foto kita terbidik dengan rapi saat bersama wanita tadi.”


Tristan segera mendekat dan melihat bagaimana foto yang terbidik tentang dirinya bersama Bella, asisten Mr. Bara saat pertemuan di restoran tadi.


“Tidak. Oh My God...” Tristan mangap sembari geleng-geleng kepala.


Tristan tidak bisa membayangkan jika saja Arumi dan Humaira tahu kebersamaannya dengan Bella. Jika Arumi tahu pasti akan ada api cemburu yang menbakar hati Arumi. Dan dapat dipastikan jika Tristan tidak dibiarkan tidur di kamarnya.


Setelah makan sebentar di restoran Tristan dan Yulian segera kembali ke hotel. Setiba di hotel Yulian kembali mengutak-atik ponselnya untuk memastikan betul foto itu jika saja Khadijah belum tahu.


“Kenapa ada sepuluh panggilan tidak terjawab dari Khadijah? Ada apa dengannya? Atau jangan-jangan...” Yulian menerka-nerka dalam hati.


Nama Khadijah telah dipencet untuk melakukan panggilan. Satu panggilan saja sudah terhubung, dengan suara yang begitu lembut dan amat pelan Khadijah membalas salam dari Yulian. Bahkan tak ada nada amarah yang keluar dari Khadijah di seberang.


“Hubby kapan pulangnya? Masa iya satu minggu lagi?”


“Sabar ya, Neng! Kemungkinan kalau tidak tiga hari lagi ya... paling lamanya satu minggu. Sabar dikit ya, Neng!”


“Iya, Hubby. Neng selalu sabar kok nungguin Hubby pulang. Biarpun rasa rindu Neng bebguyu besar Neng akan berusaha menahannya.”


Panggilan pun telah diakhiri karena Khadijah ingin menjenguk

__ADS_1


__ADS_2