Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Mempertahankan Perasaan


__ADS_3

Ervan duduk disebuah kursi yang tidak jauh dari gedung kampusnya. Wajahnya memerah menahan amarah dan air mata. Rasanya dia benar benar kecewa pada Maira yang mengabaikan perasaan nya. Ervan tahu jika ada yang disembunyikan oleh gadis itu. Dia tidak bisa marah, meski dia begitu kecewa, tapi dia tahu bagaimana Maira. Maira tidak bisa dipaksa, memaksanya sama saja tidak akan membuahkan hasil. Dan yang harus dia lakukan saat ini adalah membiarkan nya tenang terlebih dahulu. Meski perasaan nya sediri yang harus menahan sesak dan kecewa.


Ervan tidak mungkin melepaskan Maira begitu saja. Hubungan yang mereka jalani sudah dua tahun lamanya, dimulai saat mereka sama sama masuk kekampus ini. Maira adalah cinta pertamanya dan begitu pula sebaliknya. Jadi Ervan mengerti bagaimana sifat Maira. Dia tahu jika saat ini Maira pasti memiliki masalah yang cukup rumit. Bukan kali ini saja mereka putus hubungan, tapi sudah beberapa kali. Namun tidak pernah lama, hanya seminggu setelah itu mereka pasti balikan lagi. Tapi ini sudah sebulan lebih, dan mereka juga putus tanpa alasan yang jelas. Tentu saja Ervan tidak akan membiarkan nya begitu saja. Dia pasti akan mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.


....


Sejak dari jam pertama hingga siang ini, Maira telrihat lebih banyak melamun dikelasnya. Bahkan dia selalu ditegur oleh dosen yang mengajar dihari itu. Dan hal itu tentu membuat Nindi dan Putri begitu heran melihatnya. Wajah Maira benar benar terlihat lesu dan tidak bersemangat. Entah apa yang telah terjadi pada nya, tapi Putri dan Nindi juga tidak bisa memaksa Maira untuk bercerita.


Saat ini mereka sudah duduk dikantin kampus, menikmati makan siang mereka yang sudah lama tidak dirasakan oleh Maira. Namun seperti tadi, Maira lebih banyak diam dan hanya mengaduk aduk makanan nya saja.


"Mai" seru Nindi tiba tiba, membuat Maira langsung terkesiap kaget


"Dimakan dong, ngembang tu mie lo" kata Nindi sambil menunjuk mie bakso milik Maira


"Gak selera banget gue" jawab Maira dengan begitu lesu


"Dih biasa nya paling cepet abis kalau makan ini" sahut Nindi yang kembali menyantap makanan nya


Maira hanya diam dan menghela nafas lesu. Dia menegakkan kepalanya, namun tiba tiba pandangan matanya langsung menangkap sebuah tatapan mata tajam dari ujung sana. Maira langsung mematung dan menatap mata tajam itu dengan sendu. Namun tidak lama karena dia sungguh tidak sanggup jika masih harus memandang wajah itu. Rasa rindu dan rasa bersalah yang begitu besar selalu muncul diotak nya, membuat hati Maira benar benar tidak berdaya.


Putri yang menyadari gelagat aneh Maira langsung menoleh kearah belakang nya, dan dapat dia lihat jika Ervan yang kini ternyata tengah menatap Maira tidak berkedip.


Putri menghela nafasnya sejenak dan kembali memandang Maira yang sudah tertunduk dan menatap nanar mangkok bakso nya.


"Mai" panggil Putri.  Maira langsung mendongak dan menatap Putri, begitu pula dengan Nindi yang sedari tadi fokus pada makanan nya


"Jangan siksa hati lo sendiri. Gue tahu lo pasti lagi punya masalah yang cukup rumit saat ini kan. Tapi coba jangan cuma diem, diem lo itu gak bisa nyelesain masalah" kata Putri begitu dalam


Mendengar perkataan Putri yang seperti itu membuat Maira kembali tertunduk untuk menyimpan air matanya yang ingin keluar lagi.


"Selain gue sama Nindi, Ervan adalah salah satu orang yang paling ngertiin lo. Dan gue juga tahu kalau Ervan gak pernah berbuat sesuatu hal yang diluar batas. Ini pasti keputusan sepihak dari lo yang mutusin diakan??" tuding Putri, dan Maira semakin tidak bisa berkata apapun sekarang, karena semua perkataan Putri memang benar adanya.


"Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kita udah dewasa Mai, bukan anak SMA yang labil lagi. Kalau lo udah gak cinta sama dia, lo omongin baik baik. Tapi kalau masih cinta coba jangan kayak gini"  tambah Putri lagi

__ADS_1


Nindi langsung mengusap bahu Maira yang tampak bergetar, dan ternyata dia sudah menangis sekarang. Perkataan Putri terasa begitu menusuk, tapi memang benar adanya. Jika dia hanya diam, masalah nya akan semakin rumit dan tidak akan pernah selesai.


Dia begitu mencintai Ervan, dan hanya ada Ervan didalam hatinya. Tapi jika Ervan tahu dia sudah menikah, apa Ervan masih mau pada Maira? Sepaling tidak menunggu sampai perjanjian dengan dokter Danar selesai.


Maira menarik nafas nya dalam dalam. Bayangan dokter Danar seketika langsung muncul dibenaknya. Dokter tampan yang tanpa sengaja menjadi suaminya. Dan kini pandangan Maira menoleh pada Ervan yang masih memandang nya dengan lekat. Dan hati Maira kembali seperti diremas remas saat ini.


Dia dan Ervan saling mencintai satu sama lain, banyak impian yang akan mereka bangun bersama. Tapi dengan dokter Danar, mereka tidak saling cinta dan tidak ada tujuan dalam pernikahan mereka selain perpisahan, itu fikiran Maira.


Maira mengusap air matanya dengan kasar. Dia memandang kearah Ervan dengan lekat, namun dengan pandangan mata yang terlihat berubah.


Ya, dia sudah bertekad, dia harus memperjuangkan cintanya. Dia tidak bisa mengabaikan Ervan yang sudah dua tahun ini menemaninya. Dia hanya perlu bersabar untuk tiga bulan saja bukan. Dan selama itu jika Ervan tidak tahu maka semua pasti akan baik baik saja. Tapi, apakah begitu???


Maira langsung beranjak dari duduknya, membuat Putri dan Nindi langsung melihat nya dengan bingung.


"Gue pergi duluan" kata Maira yang langsung pergi dari kantin itu, meninggalkan bakso nya yang sama sekali belum ada disentuhnya.


"Loh, Mai!!" Nindi langsung memanggil Maira dan berniat menyusulnya namun Putri langsung mencegahnya.


"Udah biarin aja" ujar Putri


"Gak akan, udah ada Ervan. Tenang aja" sahut nya


"Sok tahu lo" dengus Nindi yang kembali duduk ditempatnya


"Udah deh makan aja, lagian lo pasti juga betah disini" kata Putri lagi


"Kenapa?" tanya Nindi yang terlihat masih kesal


"Noh liat, pangeran lo" dagu Putri langsung mengarah kebelakang Nindi, membuat Nindi mau tidak mau juga memutar kepalanya. Matanya seketika melebar sempurna bahkan berbinar dengan indah melihat Brian yang ternyata ada dikantin itu juga, sepertinya dia baru makan siang.


"Waaahhh...... my prince" gumam nya dengan begitu bahagia. Dan Putri kembali menghela nafas jengah melihat nya. Dia kini berada diantara drama para sahabat sahabat nya. Yang satu sedang galau, yang satunya lagi sedang puber. Entah dosa apa yang telah dia perbuat hingga bisa bersahabat dengan dua makhluk abstral ini.


...

__ADS_1


Maira berjalan keparkiran dimana motornya berada. Jam kuliahnya sudah usai dan dia ingin pergi kesuatu tempat sekarang.


Hatinya benar benar dibuat luluh lantak saat ini, sehingga apapun yang dilakukannya tidak ada yang benar, dan ini semua gara gara dokter tampan itu.


Hampir setengah jam dia mengendarai motor pemberian dokter Danar. Dia tiba disebuah taman kota tempat kenangan nya bersama dengan Ervan jika mereka bolos kuliah. Ya, dia nakal, dan dia akui itu. Dan Ervan tidak pernah melarang nya melakukan apapun, bahka lelaki itu selalu menemaninya melakukan apapun yang Maira mau.


Senyum Maira langsung mengembang saat melihat pohon tempat favorite nya bersama Ervan. Bahkan nama mereka masih terukir jelas dipohon itu.


Tangan Maira mengusap ukiran nama itu dengan penuh perasaan. Air matanya kembali menetes lagi sekarang. Jika saja tidak ada dokter Danar dikehidupannya, pasti hubungan nya dengan Ervan akan tetap baik baik saja sekarang. Jika saja dokter Danar tidak menikahinya, pasti dia dan Ervan masih bisa bersenang senang dan melakukan apapun yang dia mau. Bolos kuliah jika bosan, pergi healing kepuncak bukit dan gunung, dan main diclub sampai larut malam. Ya, Maira benar benar merindukan semua itu.


Maira duduk dan bersandar dibatang pohon tua yang lumayan besar, wajah nya dia telungkupkan diantara lengan nya yang bertumpu pada lutut yang dia lipat.


"Maafin aku Van. Aku udah ngerusak semua impian kita" gumam Maira yang kembali menangis terisak sekarang. Hatinya benar benar sesak, karena bagaimanapun dialah yang telah mengkhianati janji mereka.


"Aku rindu kamu, rindu banget " isak Maira benar benar terdengar pilu


Maira benar benar menangis dibawah pohon kenangan itu, bahkan pundaknya terlihat naik turun dan sedikit bergetar karena menahan isak tangis nya.


Namun tiba tiba Maira terkesiap kaget saat tubuhnya ditarik oleh seseorang, orang itu memeluk Maira dengan begitu erat dan penuh perasaan.


Tanpa dilihat, Maira sudah tahu siapa yang datang dan memeluknya. Aroma tubuh ini adalah aroma yang sangat Maira rindukan. Tangan Maira langsung saja melingkar ditubuh orang itu


"Ervan...maafin aku Van, maaf" gumam Maira ditengah tengah isak tangis nya yang semakin menjadi dalam pelukan Ervan, yang ternyata datang dan menyusulnya.


"Aku cinta banget sama kamu Mai" ungkap Ervan yang masih memeluk tubuh Maira dengan erat, seakan dia ingin meluapkan segala rasa yang telah tertahan selama sebulan ini


"Aku juga cinta kamu" balas Maira


"Jangan menghilang lagi" pinta Ervan


"maaf" jawab Maira


Dibawah pohon kenangan itu mereka saling memeluk dan melepaskan segala beban dihati masing masing. Tidak, Maira tidak bisa melukai hati lelaki ini. Maira mencintainya, dan dia akan memperjuangkan cinta nya. Pernikahan nya??? Hanya tiga bulan, dan setelah itu semua akan selesai.

__ADS_1


Tapi


Bisakah semudah itu???????


__ADS_2