
Mata Maira dan Nindi berbinar saat melihat Putri yang memakai gaun pengantin nya. Meski belum terpoles make up, tapi dia sudah kelihatan begitu cantik. Apalagi dengan tubuhnya yang tinggi, gaun pengantin sederhana yang akan dia pakai diacara resepsi nya nanti nampak melekat indah ditubuhnya saat ini.
"Masha Allah.... cantik sekali calon istri aku" ucap Dika yang ternyata baru datang bersama dokter Danar.
Putri tersenyum simpul mendengar itu. Bahkan wajahnya langsung merona. Padahal tadi ketika dua sahabat nya yang menggoda, Putri biasa saja.
"Cantik dong. Anak Tante yang tomboi ini sangat anggun sekarang" sahut mama.
Dika tertawa dan langsung menyalami punggung tangan mama Putri. Begitu pula dengan dokter Danar.
"Kok kalian barengan Dateng nya?" tanya Maira yang kini mencium punggung tangan suaminya.
"Barengan dong, pengantin baru mana boleh sendirian. Pamali" ucap Dika.
Nindi langsung berdecak jengah mendengar itu.
"Itu kalau tinggal seminggu lagi kak. Masih ada tiga Minggu lagi kalian nikah. Kakak juga masih berkeliaran diluar kok" sahut Nindi.
Mereka langsung tertawa lucu mendengar itu.
"Iya ya... ya gimana gak berkeliaran. Namanya juga cari modal buat bahagian calon istri aku" jawab Dika seraya memandang Putri yang nampak tersenyum malu.
Gadis yang terkesan jutek dan cuek ini jika sudah jatuh cinta memang nampak berbeda.
"Aaaa so sweet banget " ucap Maira seraya memeluk lengan dokter Danar dengan gemas.
"So sweet so sweet. Itu tangan tolong dikondisikan" sahut Nindi terdengar kesal.
Putri dan Dika langsung tertawa melihat nya.
"Suka suka aku dong. Kan suami aku" jawab Maira seraya mengedipkan sebelah matanya.
Nindi melengos dan berpura pura bersedih.
"Nasib banget yang jomblo" gumam nya.
"Coba dicari. Supaya gak jomblo terus. Padahal dulu Tante berfikir nya kamu duluan dari pada Maira dan Putri " ucap mama Putri yang saat ini masih melihat lihat pakaian Bridesmaids untuk Maira dan Nindi juga untuk sepupu Putri yang lain.
"Iya kan Tante. Soalnya Nindi yang paling centil. Ini malah Putri duluan" sahut Maira.
"Jodoh gak ada yang tahu sayang. Semua rahasia Allah" ucap dokter Danar seraya mengusap kepala Maira dengan lembut.
"Nah bener itu. Jodoh ditangan Allah. Dan Tante cuma bisa berdoa semoga anak anak Tante mendapatkan jodoh yang terbaik" sahut mama Putri lagi.
__ADS_1
"Aamiin" jawab mereka semua. Dan yang paling kencang adalah suara Nindi. Seraya dia yang membayangkan satu wajah yang kini berada jauh dipandangan matanya.
Satu bumi yang sama, tapi terasa begitu jauh hingga tangan tak lagi sampai untuk meraih. Hanya doa yang mampu saling mereka lemparkan satu sama lain.
"Udah Dik, giliran kamu sana" ujar mama Putri setelah mereka saling bercanda sejak tadi.
"Oke Tante" sahut Dika yang langsung berjalan menuju kamar ganti.
"Uuuuhhh cakep banget deh Put. Apalagi kalau ditambah makeup. Pasti pangling" ucap Nindi yang kini mendekati Putri. Sementara Maira dan dokter Danar beralih kesofa. Maira sudah tidak bisa terlalu lama berdiri. Kakinya sering sakit.
"Aku gugup banget kalau ingat nanti" ucap Putri.
Nindi tertawa dan memandang Putri dari cermin besar didepan mereka.
"Relaks... buktinya si Maira biasa aja tuh" jawab Nindi.
"Maira kan beda. Gimana sih" gerutu Putri.
Nindi kembali tertawa. Dia senang sekali menggoda Putri. Bahkan terkadang kerap kali membuat Putri kesal. Nindi hilang ingatan, mereka terasa sepi, dan ketika Nindi telah sembuh kembali, mereka terkadang dibuat kesal oleh kelakuan dan tingkah nya.
Tapi ya... nama nya persahabatan. Sudah pasti ada pahit dan manisnya. Yang terpenting adalah bagaimana cara mereka untuk bisa saling mengerti dan melengkapi.
Disofa ..
"Mas... udah ih, Maira gak enak dilihatin yang lain" ucap Maira
"Enggak apa apa. Kalau dibiarin nanti malah tambah parah. Lagi pula mereka juga sedang sibuk. Kamu ngapain aja dari tadi kok bisa bengkak gini?" tanya dokter Danar yang masih memijat kaki Maira dengan lembut.
Maira tersenyum getir memandang dokter Danar.
"Maira keasikan coba baju buat acara nanti mas. Kesana kemari jadi lupa kalau lagi hamil" jawab Maira.
Dokter Danar menghela nafas dan menggeleng pelan.
"Perut sudah besar begini masih juga lupa" sahut dokter Danar.
Maira langsung tertawa getir mendengar itu.
"Padahal tadi udah Tante ingetin Lo Danar. Cuma kamu tahu lah Maira bandel banget. Cuma jawab iya Tante, iya Tante aja" sahut mama Putri yang ternyata mendengar perbincangan mereka.
"Maira keasikan Tante" jawab Maira.
"Maira memang bandel Tante. Susah banget dibilangin" ucap dokter Danar seraya mencubit gemas hidung Maira.
__ADS_1
Maira mengerucutkan bibirnya sekilas.
"Nanti kalau acara Putri, kandungan Maira udah masuk bulan kedelapan ya" tanya mama Putri
"Iya Tante. Sudah lewat mungkin." jawab dokter Danar.
"Kamu gak bisa dong jadi Bridesmaids nya Putri nanti" sahut Nindi pula yang ternyata datang dan menyerahkan pakaian Maira.
"Enggak dong. Ya kali aku jalan disamping Putri dengan perut besar gini." jawab Maira.
"Yah... jadi aku sama siapa dong" ucap Nindi yang terlihat lesu
"Kan masih banyak sepupu sepupu Putri yang lain Nin" sahut mama Putri.
"Iya sih Tante, tapi kan kami itu udah cocok nya bertiga terus" jawab Nindi.
"Yasudah lah, mau gimana. Aku juga nikah dulu ya sendirian" sahut Maira.
"Itu karena kamu yang gak ngundang. Jangankan ngundang, ngabarin aja enggak" gerutu Nindi terlihat kesal. Mereka bahkan sudah mengabaikan dua sejoli yang kini sedang saling pandang kagum didepan cermin mereka.
"Ya salahin nih suami ganteng aku. Nikah ngajak nya maksa" jawab Maira.
Dokter Danar terkekeh dan mengusap gemas kepala nya.
"Kalau gak dipaksa gak mau ya kan dokter" sahut Nindi
"Benar. Itu saja banyak sekali drama nya" jawab dokter Danar
"Maira emang penuh drama dia" sahut Nindi
Membuat Maira langsung mencebikkan bibirnya.
Kini mereka beralih pada Putri dan Dika yang nampak tertawa dan malu malu disana.
"Itu orang berdua udah gak inget kita lagi apa ya" protes Nindi.
"Bukan gak ingat Nin. Kayak nya kamu aja yang dari tadi sewot terus. Lagi pms?" ledek Maira seraya menurunkan kakinya dari pangkuan dokter Danar.
"Gimana gak sewot. Aku jomblo sendiri disni. Kalian pada mesra mesraan gitu" ucap Nindi dengan wajah sedih nya. Namun itu yang membuat Maira dan dokter Danar juga mama Putri tertawa lucu.
"Kan ada Tante. Tante juga sendirian gak ada pasangan" sahut mama Putri.
"Ah Tante.... beda itu"
__ADS_1