
Hari ini adalah hari wisuda Brian. Juga hari terakhir nya berada dikampus. Dan bukan hanya hari terakhir berada dikampus, melainkan hari terakhir dia berada di Jakarta. Karena besok, Brian sudah akan pergi ke Newyork untuk melanjutkan studi S2 nya disana.
Brian nampak gagah dengan jas formal yang dia kenakan. Acara wisuda baru saja selesai. Dan baju toga nya juga sudah dia lepas.
Orang tua Brian duduk dan bergabung bersama para orang tua yang lain, sedangkan Brian nampak menoleh kesana dan kemari mencari keberadaan seseorang.
Apakah dia tidak akan datang hari ini?
Apakah mereka tidak akan bertemu lagi?
Sepaling tidak, untuk sebuah kalimat perpisahan.
Brian menghela nafasnya dengan pelan. Memandang kearah dokter Danar dan Maira yang sedang bercakap cakap dengan para petinggi perusahaan.
Ya dokter Danar datang untuk memberikan kata sambutan untuk mereka, juga memberikan penghargaan bagi mahasiswa berprestasi. Karena memang dia adalah pemegang saham terbesar di universitas itu. Dan acara penting seperti ini memang lah memerlukan kedatangan nya.
Brian baru saja selesai berfoto ria untuk mengambil kenangan bersama teman teman nya. Dia malas sebenarnya, tapi untuk yang terakhir kali, dia memaklumi.
Brian duduk disebuah kursi, tidak jauh dari ruang auditorium dan tempat orang tuanya berada. Helaan nafasnya cukup berat.
Padahal beberapa hari yang lalu, saat pertunangan Dika dan Putri, Brian sudah mengatakan jika hari ini adalah hari terakhirnya berada dikampus dan di Indonesia. Setelah itu, Brian tidak akan kembali dalam waktu yang lama.
Pilihan Brian atas permintaannya pada Nindi waktu itu untuk menikah dengannya, belum dibahas Nindi sampai saat ini.
Apa gadis itu melupakannya?
Atau memang dia tidak ingin menikah dengan Brian?
Bukankah sejak dulu Nindi menyukainya?
Lalu.... kenapa sekarang jadi begini ketika dia sudah berharap.
Helaan nafas Brian cukup berat.
Memang benar perkataan dokter Danar. Tidak seharusnya mengharapkan apapun pada seorang manusia.
Berharap lah pada Allah yang maha mempunyai segalanya.
Tapi Brian hanya lah manusia biasa yang baru belajar untuk memperbaiki akhlak untuk lebih baik. Sedikit banyaknya, jauh didasar hatinya yang munafik ini, dia masih mengharapkan kedatangan Nindi.
Jika tidak ingin berkata sesuatu tentang hubungan mereka kedepannya, sepaling tidak mereka bisa mengucapkan kalimat perpisahan untuk terakhir kali sebelum berpisah.
"Melamun apa. Pulang yuk. Udah selesai kan. Mama dan papa udah nunggu tuh!"
Suara dokter Kemala, kakak Brian langsung membuat Brian sedikit terkesiap.
Brian tersenyum tipis dan mengangguk. Sekali lagi dia memandang kearah gedung fakultas ekonomi, namun tidak ada juga seseorang yang dia harapkan muncul dari sana.
"Menunggu gadis itu?" tanya dokter Kemala
"Sepertinya dia lupa" jawab Brian.
"Jika berjodoh, pasti bertemu lagi" ucap dokter Kemala seraya mengusap pundak kekar adiknya.
Brian hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menuju keorang tua nya yang telah menunggu nya untuk kembali.
"Kak Brian, selamat untuk wisudanya ya. Semoga setelah ini semakin sukses" ucap Maira yang berjalan mendekat kearah mereka.
"Terimakasih" jawab Brian dengan senyum tipisnya.
"Kamu akan berangkat hari ini juga?" tanya dokter Danar
Brian mengangguk
"Iya mas. Jam tiga sore ini" jawab Brian
__ADS_1
"Hati hati disana, jangan lupa akan semua kewajiban mu" ujar dokter Danar. Dia juga sudah menganggap Brian sebagai adiknya sendiri.
"Insha Allah mas.." jawab Brian.
"Om.. Tante, maaf. Saya dan Maira tidak bisa ikut mengantar ke Bandara. Perut Maira sedikit kram" ungkap dokter Danar.
"Tidak apa apa nak. Lain kali ajak istri kamu kerumah. Kamu sudah lama tidak main kerumah kan" ujar mama Brian
Dokter Danar mengangguk dan tersenyum, begitu pula dengan Maira. Orang tua dokter Kemala benar benar baik pada suaminya. Dan ternyata mereka sudah cukup dekat. Bahkan Maira masih bisa melihat jika sebenarnya dokter Kemala pasti masih menyimpan rasa pada suaminya ini.
Tapi dia cukup salut dengan dokter Kemala, dia benar benar bisa menjaga pandangan dan sikapnya.
"Jaga kandungan kamu baik baik ya nak. Jangan terlalu lelah. Kata Kemala sudah hampir lima bulan kan" tanya mama dokter Kemala seraya mengusap perut Maira dengan lembut.
"Iya Tante, terkadang Maira yang bandel, masih pengen main" jawab Maira dengan tawa kecilnya, membuat mama dokter Kemala juga ikut tertawa.
"Wajar, kamu masih muda. Tapi tetap harus ingat kandungan" sahut mama dokter Kemala lagi.
"Iya Tante" jawab Maira.
"Jika begitu kami pamit dulu ya, dua jam lagi pesawat Brian sudah akan berangkat" ucap mama Brian lagi.
"Iya Tante, maaf ya, gak bisa ikut ngantar" jawab Maira
"Enggak apa apa. Kami ngerti kok" sahut papa dokter Kemala pula.
"Hati hati dijalan Tante, om" ucap Maira seraya mencium punggung tangan kedua orang tua dokter Kemala. Bergantian pula dengan dokter Danar.
"Iya nak, kami pergi dulu. Assalamualaikum" pamit mama dokter Kemala
"Waalaikumsalam" jawab Maira dan dokter Danar
"Saya berangkat mas" Brian langsung menjabat tangan dokter Danar.
Dokter Danar mengangguk dan menepuk sekilas pundak kekar itu.
"Aamiin insha Allah" jawab nya
"Maira... saya titip salam untuk dia" kini Brian beralih pada Maira yang mengangguk dan tersenyum.
"Mama Nindi sedang sakit kak. Mungkin karena itu dia tidak bisa datang. Kakak jangan marah ya" ucap Nindi
Namun Brian langsung tersenyum tipis dan menggeleng.
"Dia tidak bilang pada saya, dan saya juga tidak bisa menjenguk mama nya sekarang" sesal Brian
"Enggak apa apa kak. Mereka pasti mengerti" jawab Maira
"Ayo, nanti kamu terlambat" ajak dokter Kemala
Brian mengangguk pelan.
"Maira, jangan lupa datang besok untuk cek kandungan kamu ya" ujar dokter Kemala sebelum pergi dari sana.
"Pasti dokter" jawab Maira.
Hingga akhirnya, Brian dan dokter Kemala mulai pergi menyusul orang tua mereka.
Namun tiba tiba...
Ketika akan masuk kedalam mobil, seruan seseorang langsung menghentikan langkah Brian.
"Kak Brian!!!"
Nindi berlari dari arah luar gedung dengan tergesa-gesa. Bahkan hijab yang dia pakai terlihat melambai seiring dengan langkah kaki nya yang berjalan dengan cepat.
__ADS_1
Brian menoleh kearahnya, dan langsung tersenyum melihat kedatangan gadis yang dia tunggu.
Begitu pula dengan dokter Kemala.
"Pergilah, temui sebentar." ujar dokter Kemala.
Brian mengangguk dan langsung turun kembali dari mobil. Sedangkan mobil kedua orang tuanya sudah pergi lebih dulu.
Nafas Nindi terengah engah. Bahkan dia terlihat menenggak air liur nya yang mengental.
"Huh... untung gak telat" gumam nya.
"Kenapa kamu tidak bilang jika mama kamu sakit" tanya Brian.
Nindi tersenyum dan menggeleng seraya memperhatikan penampilan Brian yang begitu gagah dengan jas formal nya. Masha Allah, tampan sekali.
"Mama sakit tiba tiba kak, jantung nya lemah dan pagi tadi baru dibawa kerumah sakit. Jadi maaf, aku benar benar gak bisa hadiri wisuda kakak hari ini" ungkap Nindi begitu menyesal.
"Enggak apa apa. Aku juga minta maaf karena gak bisa jenguk mama kamu. Penerbangan aku sebentar lagi" ungkap Brian
"Kakak langsung pergi hari ini?" tanya Nindi, wajahnya berubah sendu.
Brian mengangguk pelan
"Aku sudah bilang padamu kemarin" jawab Brian.
Nindi tertunduk dan menghela nafasnya dengan berat.
Namun setelah itu dia langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah kotak kecil bewarna hitam.
"Kakak hati hati disana ya, jaga diri baik baik. Pertemuan kita hari ini mungkin hanya sebatas ini. Tapi terimakasih untuk semua yang udah pernah kakak lakuin ke aku" ungkap Nindi
"Ini untuk kakak, buka nya nanti aja ketika kakak udah sampai disana." Nindi langsung menyerahkan kotak itu pada Brian.
Brian menerima nya dengan hati yang sendu. Sepertinya niat untuk memiliki Nindi masih terlalu jauh. Untuk sekarang, mungkin mereka memang hanya sebatas mengagumi satu sama lain.
"Terimakasih. Kamu juga jaga diri kamu disini" kata Brian pula.
Nindi mengangguk dan tersenyum. Namun matanya terlihat berair sekarang.
"Aku ingin mengembalikan ini padamu" Brian mengeluarkan sesuatu dari balik jas nya.
Mata Nindi melebar melihat itu.
"Buku diary" gumam nya dengan begitu terperangah
Brian tersenyum dan mengangguk
"Semoga jika kita bertemu lagi, perasaan kamu masih sama" harap Brian
Nindi memandang Brian dengan lekat, namun hanya sekilas saat tangan nya meraih buku dari Brian.
Sejak kapan buku ini ada pada Brian????
"Aku pergi" pamit Brian yang langsung membalikkan tubuh nya.
Nindi terkesiap dan kembali memandang Brian yang ingin masuk mobil.
"Kak" panggil Nindi
Air mata sudah mengalir diwajahnya
"Hati hati" ucap nya begitu lirih.
__ADS_1
Dan untuk yang pertama kali. Brian tersenyum dengan lebar dan mengangguk, meski matanya juga berkaca kaca melihat Nindi yang terlihat menangis melepas kepergian nya.