
Pagi ini Maira bangun dengan begitu malas. Dia masih berada ditempat tidurnya dan berguling kesana dan kemari. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Dan matanya masih benar benar mengantuk, rasanya dia ingin tidur saja hari ini. Tapi dia ingat, jika hari ini dia sudah harus masuk kuliah setelah sebulan lebih dia mengambil cuti.
Maira memiringkan tubuhnya dan memandang dokter Danar yang sudah terlihat rapi dengan setelan kemeja biru muda dan celana hitam. Rambutnya terisisir rapi dan begitu klimis, khas seorang dokter yang begitu tampan dan menawan. Namun sayangnya ketampanan itu belum mampu membuat Maira merasa tertarik padanya.
Dokter Danar terlihat sedang mengemasi berkas berkas dan entah apa lagi barang barang yang dia masukkan kedalam tas kerjanya. Maira hanya memandang nya saja tanpa ingin bertanya.
Dokter tampan yang entah kenapa bisa menjadi suaminya. Padahal Maira hanya gadis biasa, bahkan sedari dulu Maira tidak pernah mengharapkan suami yang memiliki status tinggi dan juga kepribadian yang begitu disiplin seperti dokter Danar. Karena dia sadar jika dirinya hanyalah seorang gadis pemalas yang tidak bisa apa apa. Nilai kuliahnya saja bisa dibilang rendah dan dibawah rata rata. Melihat dokter Danar yang seperti ini membuat nya sadar dan semakin percaya, jika dia memang tidak akan pernah cocok menjadi istrinya. Kehidupan mereka begitu jauh dan sangat berbeda.
"Kamu tidak ingin mandi?" pertanyaan dokter Danar langsung mengejutkan Maira yang masih asik memandanginya sejak tadi
Maira langsung bangun dan duduk ditempat tidur dengan rambut yang acak acakan, dia memang tidak pernah perduli dengan penampilan.
"Mandilah, nanti kamu telat. Saya tunggu dimeja makan" ucap dokter Danar lagi. Dia langsung keluar meninggalkan Maira yang hanya mendengus saja.
Maira beranjak dan menurunkan kedua kaki nya seraya mencari dimana keberadaan ponsel nya.
"Kemana ya, perasaan malam tadi......." Maira langsung terkesiap dan melebarkan matanya saat mengingat apa yang terjadi tadi malam
"Perasaan tadi malam gue tidur disofa luar kan, terus kenapa bisa tidur dikamar aja" gumamnya tampak bingung. Dahinya begitu mengkerut mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Karena seingatnya malam tadi dia berbaring disofa luar dan malas untuk masuk kedalam kamar karena ada dokter Danar dikamar ini.
"Gak mungkin kan gue tidur sambil jalan kekamar" gumam Maira lagi. Matanya melirik kearah meja nakas disamping tempat tidurnya, dan ternyata ponsel nya terletak rapi disana bersama beberapa barang barang yang yang lain.
"Ck, bodo amat lah. Mungkin gue emang ngelindur" gumam nya lagi dan langsung saja beranjak kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sementara didapur kecil mereka, dokter Danar terlihat sedang membuat sesuatu untuk sarapan nya dan Maira. Tangan kekar itu tampak sedang memanggang dua buah roti diatas pemanggang. Ya, dia ingin membuat roti panggang dengan selai cokelat dan keju sebagai toping nya. Ditemani dengan dua gelas teh hijau yang aromanya sungguh menyegarkan.
Tidak lama setelah dia selesai membuat sarapan, Maira juga tiba didapur itu. Pandangan mata Maira langsung tertuju kemeja makan kecil mereka dimana dokter Danar sudah duduk dikursi sembari menikmati teh hijau buatannya.
"Sarapan dulu" ajak dokter Danar pada Maira yang masih berdiri diambang pintu.
"Saya mau langsung pergi aja" jawab Maira yang langsung memutar tubuhnya
"Maira" panggil dokter Danar begitu lembut namun dengan nada yang sedikit ditekan, membuat langkah kaki Maira langsung terhenti dan kembali memandang dokter Danar dikursinya
"Saya malas dokter. Saya tidak biasa makan pagi" ucap Maira nampak kesal
"Biasakan sarapan pagi mulai sekarang, tidak baik untuk kesehatan kamu. Magh kamu juga bisa kambuh nanti" kata dokter Danar
"Yang merasakan juga saya" jawab Maira begitu ketus
"Saya tahu, Tapi duduklah dulu, setidaknya makan dulu sedikit. Atau kamu mau saya mengantarkan bekal kekampus kamu nanti siang?" tanya dokter Danar dengan senyum simpulnya.
Maira langsung melebarkan matanya mendengar itu. Dia langsung melengos dan berjalan kearah meja makan dengan kaki yang dia hentakkan kesal. Langsung menghempaskan tubuhnya dan duduk didepan dokter Danar yang tersenyum menatapnya.
"Jangan licik dokter. Sudah saya bilang bukan, jangan campuri urusan saya, apapun itu" kecam Maira menatap benci pada dokter Danar yang hanya tersenyum dan langsung menyerahkan piring berisi sepotong roti dengan selai cokelat dan keju pada Maira. Maira menatap roti itu dengan mata yang memicing. Itu adalah roti favorite nya, bagaimana dokter Danar bisa tahu?
__ADS_1
"Makanlah, kamu akan menjalani hari yang cukup berat hari ini. Tubuhmu perlu energi" ujar dokter Danar yang sama sekali tidak mengindahkan ucapan Maira. Dia kembali menyesap tehnya dan menikmati roti bagiannya.
Maira menatap nya dengan kesal, dia langsung mengambil rotinya dan memakan nya penuh nafsu seraya menatap dokter Danar yang terlihat santai saja.
Ya, semakin cepat dia menghabiskan makanan nya, maka semakin cepat pula dia pergi dari hadapan dokter Danar yang selalu membuatnya kesal ini.
Maira mengernyit heran saat tiba tiba dokter Danar menyerahkan sebuah kartu padanya. Mulut Maira masih terus mengunyah namun matanya memandang dokter Danar dengan lekat.
"Ini untuk kamu, kamu bisa gunakan untuk keperluanmu" kata dokter Danar
"Enggak perlu" tolak Maira langsung. Dia tidak kekurangan uang sekarang.
"Maira.... ambilah, ini nafkah saya untuk kamu, tidak baik jika ditolak" kata dokter Danar lagi
"Tidak perlu dokter, saya punya uang sendiri dan sudah lebih dari cukup. Saya tidak butuh lagi uang dari dokter" jawab Maira begitu kesal. Entah dia yang kesal, atau dokter Danar yang kesal sekarang, karena lelaki itu terlihat menarik nafas nya dalam dalam.
Dia menatap Maira dengan pandangan teduh dan senyum lembut nya seperti biasa, mencoba untuk terus bersabar dengan sikap keras kepalanya Maira.
"Saya tahu kamu punya uang, bahkan sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan kamu sendiri. Tapi uang itu bisa kamu simpan untuk kebutuhan kamu yang lain. Dan uang dari saya bisa kamu pergunakan untuk kebutuhan kamu sehari hari" ungkap dokter Danar begitu sabar
"Dokter ini kenapa sih, sa....." perkataan Maira langsung terhenti ketika dokter Danar langsung memotongnya
"Jika tidak ingin kamu pakai tidak apa apa, tapi kamu harus tetap menyimpan nya" kata dokter Danar seraya mendekatkan kembali kartu itu pada Maira
"Didepan ada motor dan mobil, kamu bisa memilih ingin memakai yang mana" kata dokter Danar lagi, namun baru saja Maira ingin membuka mulutnya , dokter Danar sudah kembali membuatnya terbungkam.
"Jangan lagi menolak, kamu hanya tinggal pilih. Jika kamu tidak ingin, maka saya bisa mengantar jemput kamu setiap hari" ujar dokter Danar sembari mendekatkan dua buah kunci kehadapan Maira.
Maira menatapnya dengan kesal, dia langsung meraih kunci motor dengan kasar dan segera beranjak pergi meninggalkan dokter Danar yang hanya menggelengkan kepala melihatnya.
...
"Menjengkelkan, baru satu hari tapi udah buat makan hati aja." gerutu Maira. Dia berjalan keluar rumah , dan dapat dia lihat satu buah mobil dan satu buah motor matic terparkir rapi disana. Maira mengernyit bingung memandang nya, perasaan semalam dua benda ini belum ada disini, dan Maira benar benar dibuat bingung dengan itu, sejak kapan datang nya?
Namun dia langsung membuang perasaan itu dan segera pergi kekampus, karena jika berada berlama lama dirumah dia bisa semakin stres.
Diperjalanan menuju kampus, fikiran Maira kembali mengingat tentang dokter Danar. Selama dua minggu dirumah mertuanya, dokter Danar tidak secerewet ini, bahkan mereka jarang sekali berbicara banyak. Dokter Danar hanya cerewet untuk menyuruhnya shalat saja, selebihnya memang tidak ada yang mereka bicarakan. Tapi kenapa setelah hanya tinggal berdua dia begitu mengatur kehidupan Maira?
Tentu saja itu membuat Maira benar benar kesal. Selama ini dia hidup tanpa diatur oleh siapapun, termasuk ayahnya sendiri. Maira hidup sesuai dengan keinginan nya sendiri. Dan sekarang, dokter Danar malah dengan berani berani nya mengatur tentang kehidupannya. Bahkan Maira sampai tidak bisa memilih apapun lagi, perkataan dokter Danar benar benar tidak bisa ditolak.
Maira benar benar membenci dokter itu. Dia berharap waktu tiga bulan akan segera berakhir agar dia bisa segera pergi menjauh dari kehidupan dokter Danar.
Tidak terasa tiga puluh menit dia mengendarai motor nya kini dia sudah memasuki area kampus dimana dia berkuliah selama ini.
Maira memarkirkan motornya didepan parkiran kampus. Dia membuka helm nya dan memperhatikan kampus itu dengan pandangan nanar. Maira menarik nafasnya dalam dalam, terasa sungguh berat sebenar nya untuk kembali berkuliah. Tapi untuk keluar pun dia juga tidak bisa, berada dirumah sepanjang hari juga bukan lah hal yang nyaman lagi untuk sekarang. Benar benar pilihan yang sulit.
__ADS_1
Maira turun dari atas motornya dan meletakkan helm nya diatas kaca spion motor. Dia sedikit merapikan rambutnya, namun teriakan dua orang gadis langsung membuatnya terkesiap.
Maira kembali menarik nafasnya dalam dalam, membalikkan tubuh dan langsung tersenyum getir melihat kedua sahabatnya yang berdiri memandang nya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Mati deh gue" gumam Maira seraya berjalan mendekat keara dua gadis yang terlihat memicingkan mata mereka menatap Maira
"Ternyata lo masih hidup ya" serang seorang sahabat Maira yang berwajah jutek dan ketus, Maira hanya tersenyum getir dan merapikan rambutnya dengan canggung. Dia tahu kedua sahabatnya ini pasti kecewa karena dia menghilang tanpa kabar sudah begitu lama
"Hai guys" sapa Maira dengan senyum yang terasa kaku, dia jadi takut sekarang. Apalagi memandang wajah jutek Putri.
"Lo bener bener keterlaluan Mai. Lo ngilang kemana ha?? Lo gak tahu kita udah nyariin lo kesemua daerah di Jakarta. Lo gak tahu kita itu khawatir sama lo, ngilang gitu aja gak ada kabar" gerutu Nindi dengan begitu kesal namun dengan mata yang berkaca kaca
"Maafin gue. Gue...." perkataan Maira langsung terhenti oleh Putri
"Gue apa ha?? Lo bener bener keterlewatan Mai. Nomor gak bisa dihubungi, kosan lo juga udah sepi. Lo anggep kita ini apa" seru Putri dengan wajah yang benar benar kesal. Pasal nya Maira menghilang dan tidak ada kabar sama sekali. Sebagai sahabat tentu mereka juga begitu khawatir dan kecarian dengan Maira yang menghilang begitu saja.
"Gue balik kampung, bokap gue meninggal" ungkap Maira dengan nada suara yang bergetar menahan tangis. Kedua sahabatnya langsung tertegun ditempat mereka
"Kenapa lo gak ngabari kami Maira" sergah Nindi yang langsung memeluk Maira
"Lo gak nganggep kita sahabat lo lagi Mai" timpal Putri yang juga ikut memeluk Maira. Mendapat perlakuan seperti ini membuat Maira tidak dapat menahan tangis nya
"Maaf" lirih nya dengan isak tangis yang tidak lagi bisa dia bendung
"Kenapa gak ngabari kami coba, kami kan bisa nemeni lo disana" kata Nindi yang juga ikut menangis
"Lo gak boleh sedih sendiri Mai, kita sahabatkan, seharusnya lo berbagi sama kami" timpal Putri pula
Maira hanya diam dan terus menangis dalam rangkulan kedua sahabatnya. Bagaimana dia ingin memberitahu jika masalah nya bukan hanya itu saja. Semua begitu rumit, dan Maira tidak ingin mereka tahu.
Mereka saling memeluk dan menangis diparkiran kampus itu. Saling melepas rindu dan tidak perduli jika anak anak lain memperhatikan mereka dengan heran. Sedari dulu, dunia kampus hanya ada mereka dan mereka tidak pernah memperdulikan yang lain nya
"Maafin kami Mai, maafin kami yang gak ada saat lo lagi sedih" ucap Nindi sembari mereka melepaskan rangkulan masing masing.
"Kami memang sahabat yang gak berguna" gumam Putri pula
Maira langsung menggeleng dan menatap sahabat nya itu bergantian. Rasanya dia ingin menceritakan segala kegundahan hatinya pada mereka, namun sungguh dia belum siap untuk itu
"Bukan salah kalian, gue yang salah karena gak ada ngasih kabar. Maafin gue" ucap Maira. Nindi dan Putri kembali memeluk Maira dengan erat
"Lain kali lo harus ngasih kabar gimana pun keadaan lo ya Mai" pinta Nindi dan Maira langsung mengangguk dan tersenyum menatap kedua sahabat nya
"Maira" panggil seseorang, membuat Maira langsung melepaskan pelukan kedua sahabatnya dan menoleh keasal suara
"Ervan...." lirih Maira
__ADS_1