Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kebersamaan Di Mesjid Tua


__ADS_3

Siang itu di mesjid tua ....


Pemandangan yang benar benar selalu bisa menyejukkan mata dan hati. Mesjid tua yang berada dipinggiran kota Jakarta. Selalu bisa menjadi tempat yang selalu dirindukan.


Setelah ada drama kedatangan Erika tadi, akhirnya Maira dan yang lain bisa sampai ditempat ini. Mereka tiba disaat hari sudah masuk waktu dhuhur. Jadi mereka semua memutuskan untuk shalat bersama sama.


Setelah selesai shalat, Mereka langsung menuju sebuah tempat makan yang berada tidak jauh dari mesjid itu. Masih di dekat area mesjid. Tepat nya dibawah bukit yang menjadi tempat rekseasi untuk melihat taman bunga.


Rumah makan yang seperti saung dan juga berbatasan dengan danau hijau yang terdapat dibelakang mesjid. Sehingga pemandangan nya nampak begitu indah dan membuat selera makan langsung memuncak. Apalagi di saat tengah hari begini yang memang perut sudah lapar dan meminta untuk di isi.


Para lelaki memesan bebek bakar yang menjadi khas rumah makan itu. Sedangkan Maira dan kedua sahabatnya memesan seafood tumpah yang baunya terasa menggiurkan. Apalagi disajikan dengan nasi panas. Uhh... benar benar menggugah selera.


Dokter Danar memimpin doa makan mereka siang itu. Dan langsung saja, makanan yang masih hangat dan ditemani dengan teh es dingin membuat mereka langsung menikmati makanan nya.


Kecuali Maira...


Dia tidak memakan nasi, dia hanya memakan seafood nya saja. Sungguh, melihat nasi sudah seperti melihat hal yang paling menakutkan dalam hidupnya.


"Kamu beneran gak pakai nasi Mai?" tanya Putri


Maira menggeleng, dia masih asik menikmati kerang nya.


"Gak, lagi musuhan sama nasi" jawab Maira.


"Tapi kenapa badan kamu gak kurus kurus juga" sindir Putri.


Maira langsung mendengus mendengar itu.


"Gimana mau kurus, nasi gak dimakan, cemilan yang lain masuk semua" jawab nya. Membuat Putri dan Nindi langsung tertawa mendengar itu.


Beruntung nya Maira, jika kali ini dia tidak mual melihat nasi didekat nya. Karena jika biasanya, untuk melihat nya saja Maira sudah mual.


"Nindi tidak apa apa memakan itu mas?" tanya Brian tiba tiba.


Dia melirik khawatir pada Nindi yang memakan seafood dengan bumbu dan rempah yang begitu kental.


"Tidak apa apa, tapi jangan terlalu banyak ya" ujar dokter Danar pada Nindi.


"Siap dokter" jawab Nindi, seraya dia yang tersenyum dan melirik sekilas pada Brian.


"Ehmmm perhatian banget" sindir Dika.


Brian langsung mendengus dan kembali melanjutkan makan nya.


"Emang kakak yang gak perhatian, tuh si Putri susah buka kepiting" sahut Maira seraya melirik Putri yang juga melirik mereka berdua.


Dika tersenyum dan melirik kearah dokter Danar yang terlihat tenang.


"Ada pawang Mai, gak berani" bisik Dika


Maira dan Nindi langsung tertawa mendengar nya. Sedangkan dokter Danar hanya melirik nya sekilas.


"Kalau mau perhatian, nanti setelah menikah" ujar dokter Danar.


"Lama banget mas mikirnya. Saya sih udah nunggu dari kemarin" jawab Dika.


"Tuh Put... kode" sahut Maira


"Masih kuliah kali. Gak bisa apa nunggu setahun lagi" jawab Putri tanpa sadar. Hingga sedetik kemudian dia langsung terkesiap dan memandang Maira yang sudah tertawa kembali.


"Nah kak Dik. Udah kelihatan hilal nya kan..Sabar, setahun lagi kami lulus kuliah. Setelah itu langsung gas" ucap Maira.


"Alhamdulillah ya Allah.... akhirnya doa ku dikabulkan" seru Dika begitu girang.


Brian dan dokter Danar hanya menggelengkan kepala nya dengan jengah melihat kelakuan Dika.


"Dih... aku juga belum tahu. Iya kalau gak berubah fikiran" sahut Putri.


"Gak akan. Aku pastikan. Sepertiga malam ku hanya menyebut namamu" ucap Dika begitu mendramatisir.


Dan sungguh, makan siang mereka siang itu hanya dipenuhi dengan kekonyolan Dika yang memang ceria dan banyak omong, tidak seperti Brian yang dingin, dan juga dokter Danar yang penuh wibawa.


Untung ada Dika.


Jika tidak, pasti jalan jalan mereka kali ini akan terasa hambar...


"Mas .... mau" ucap Maira saat melihat dokter Danar yang ingin memakan sisa daging di tulang bebek itu.


"Udah habis sayang, tinggal tulang" jawab dokter Danar seraya menunjukkan paha bebek nya.

__ADS_1


"Gak papa, Maira mau" ucap Maira yang langsung merebutnya dari tangan dokter Danar.


"Kita pesan lagi aja ya" tawar dokter Danar. Namun Maira menggeleng dengan cepat dan menikmati sisa tulang dokter Danar.


"Emang kalau lagi ngidam, apapun masuk ya Mai" ucap Putri yang baru selesai makan.


Maira mengangguk dengan cepat.


"Enak banget, Masha Allah..." ucap nya dengan begitu aneh. Ya aneh Dimata yang melihat, hanya tinggal tulang dan sedikit daging, apa yang enak???


"Serem banget ngidam nya. Coba ngidam minta mobil atau rumah, kan mantep" sahut Dika.


"Udah punya dia, bahkan gak kurang lagi" sahut Putri.


Maira langsung mengangguk dengan cepat.


"Kalau gitu minta intan, emas dan permata. Biar bisa dijual, dari pada minta tulang" ucap Dika.


"Kamu kira anak saya mau buka usaha didalam perut" sahut dokter Danar. Lama lama dia juga ikut kesal melihat Dika.


"Ya siapa tahu mas. Kan lebih elegan gitu ngidam nya" jawab Dika dengan tawa cengengesan nya.


"Mas... boleh jalan jalan kesana, berdua" pinta Brian tiba tiba.


Membuat mereka langsung menoleh kearah nya.


Dokter Danar memandang tempat yang di tunjuk Brian. Diarea danau hijau didalam mesjid.


"Kamu mau pergi bersama Brian?" tanya dokter Danar pada Nindi.


Nindi yang sejak tadi hanya diam kini memandang pada Brian yang memandang nya dengan lekat. Namun hanya sebentar.


"Jika boleh dokter" ucap Nindi, namun dengan senyum malu.


"Boleh kok, yakan mas" Maira malah menyahut dengan tulang yang masih ada ditangan nya.


Dokter Danar mengangguk pelan.


"Ingat aturan nya" ujar dokter Danar pada Brian


"Baik mas" jawab Brian dengan senyum tipis nya.


"Ayo" ajak Brian pada Nindi.


Nindi mengangguk dan langsung menoleh pada Maira dan Putri.


"Aku pergi dulu ya" pamit Nindi


"Iya, pergi lah. Jangan lupa pulang tapi" goda Putri.


"Kak Brian, jangan dibikin sakit lagi" seru Maira.


Brian hanya mengangguk dan memandang Nindi yang turun perlahan dari atas saung.


Dan setelah itu mereka langsung berjalan beriringan menuju area mesjid kembali.


"Kalau saya boleh juga kan mas. Lihat taman bunga di atas" kini giliran Dika yang bertanya.


Dan sungguh, Maira benar benar heran melihat orang orang ini. Kenapa takut sekali pada suami nya.


Putri memandang Dika dengan ragu. Apalagi ekspresi dokter Danar yang tidak bisa di tebak.


"Jika sepi turun lagi" ujar dokter Danar.


"Siap mas. Ada orang kok, tadi saya sudah lihat" jawab Dika


"Yuk Put" ajak Dika


Putri terdiam


"Dari pada disini, kamu mau jadi obat nyamuk" kata Dika lagi.


Putri langsung memandang Maira yang mengangguk.


"Pergilah, Aku mau mesra mesraan bareng suamiku" ucap Maira


Putri mendengus jengah dan langsung turun dari saung.


"Jangan mau di apa apakan Dika Put" ujar dokter Danar tanpa memandang Dika dan Putri. Dia masih sibuk mencuci tangan Maira sekarang.

__ADS_1


Dika dan Putri langsung tertawa mendengar itu.


"Gak akan dokter, kami pamit dulu" pamit Putri


"Memang nya saya mau ngapain. Baru Deket doang udah ditabok" gumam Dika yang langsung mengikuti Putri.


Maira hanya tertawa saja melihat mereka.


"Mereka kayak nya takut banget sama mas" ucap Maira seraya mengusap tangan nya dengan tisu.


"Tidak tahu" jawab dokter Danar yang menyingkirkan piring piring mereka kepinggir


"Uuh udah kenyang, mata Maira jadi ngantuk" ucap Maira yang langsung menyandarkan kepalanya di bahu dokter Danar.


"Sebentar lagi ya. Kan baru sudah makan. Memangnya kamu tidak ingin berjalan jalan seperti mereka?" tanya Dokter Danar seraya mengusap mulut Maira.


"Enggak, enak disini aja. Pemandangan nya udah nyaman buat santai" jawab Maira.


"Nanti kalau udah sorean, baru turun cari jajanan dibawah ya mas" pinta Maira lagi


"Iya.. mau jajanan apa memang nya?" tanya dokter Danar


"Banyak, terutama telur gulung sama cilok" jawab Maira.


Dokter Danar hanya tertawa saja menanggapi nya.


Sedangkan Brian dan Nindi kini sudah masuk dan berdiri memandang danau hijau yang nampak tenang siang itu. Ganggang hijau dan juga bunga teratai yang menghiasi permukaan danau cukup menambah kesan estetik nya.


"Nindi" panggil Brian


Nindi langsung menoleh pada Brian.


"Jika kamu sudah lulus kuliah nanti, aku ingin melamar kamu" ucap Brian.


Nindi tertegun mendengar itu.


"Secepat itu?" tanya Nindi


"Kamu tidak suka?" tanya Brian pula. Sepertinya dia langsung to the poin tanpa berbasa basi terlebih dahulu. Membuat Nindi langsung tertunduk dan bingung harus menjawab apa.


"Aku sudah jatuh hati padamu. Dan aku ingin menjadikan kamu menjadi milikku" kata Brian lagi.


"Tapi aku bahkan belum mengingat apapun. Masih samar samar kak" ungkap Nindi


"Suatu hari nanti ingatan kamu pasti kembali" sahut Brian


"Bagaimana jika tidak pernah kembali?" tanya Nindi yang kini memandang pada Brian.


Brian tersenyum tipis dan menggeleng.


"Aku tetap akan melamar kamu untuk menjadi istriku" jawab Brian terlihat begitu yakin.


"Bulan depan aku wisuda, dan akan menyambung S2 ku di London. Jadi kamu bisa memilih, menikah dengan ku dan ikut bersamaku ke London, atau kita tunangan dulu dan tunggu aku kembali baru kita menikah" ungkap Brian.


Nindi semakin bingung mendengar itu.


"Kakak gak tanya bagaimana perasaan aku sama kakak?" tanya Nindi.


Brian tersenyum dan menggeleng.


"Aku sudah tahu" jawab Brian


Nindi mematung.


"Mau ingatan kamu kembali ataupun tidak, aku yakin, perasaan kamu tetap sama seperti dulu saat kamu masih sehat" ungkap Brian.


Nindi mendengus senyum dan memandang jauh ke danau hijau itu.


"Sudah kah kakak yakin dengan perasaan kakak. Aku gak ingin kakak hanya ingin mengikatku karena aku yang sakit dan terlihat menyedihkan seperti ini" ucap Nindi.


Namun Bria menggeleng pelan.


"Kamu mungkin lupa. Jika dulu aku pernah bilang, jika aku hanya akan dekat dengan perempuan yang akan menjadi istriku kelak. Maka dari itu, kamu begitu senang ketika aku mulai menerima kamu untuk mendekat padaku" ungkap Brian


"Aku tidak suka mengumbar perasaan. Jika aku suka, maka aku akan meminta langsung. Sekarang pilihan ada ditangan kamu. Kamu masih bisa berfikir untuk sebulan kedepan sebelum aku pergi nanti" ucap Brian.


Nindi memandang Brian dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.


Benarkah yang dikatakan Brian ini. Meski dia belum mengingat apapun. Kenapa hatinya terasa begitu bahagia???

__ADS_1


__ADS_2