Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kenapa Bukan Yang Diharapkan


__ADS_3

Maira duduk dengan lesu ditaman dekat parkiran kampus bersama kedua sahabatnya. Tas mereka berceceran dibawah kaki masing masing. Wajah kusut mereka menyiratkan jika saat ini mereka memang sedang dalam masalah besar.


Mereka bertiga baru saja keluar dari ruangan kepala rektor setelah dimintai keterangan habis habisan tentang perkelahian mereka bersama Erika. Dan sialnya tentu saja mereka langsung terkena sanksi. Belum jelas sanksi apa yang akan mereka dapatkan, tapi sudah dapat dipastikan mereka pasti akan langsung didepak dari universitas ini. Mereka tahu bagaimana kelakuan Erika, dia selalu saja mengadu pada ayahnya yang merupakan salah satu pemilik saham dikampus mereka.


"Coba aja kalau kalian tadi gak ikut ikutan, kalian pasti masih aman sekarang" ucap Maira memandang Putri dan Nindi bergantian. Dia duduk ditengah tengah antara mereka berdua


Putri mendengus seraya mengusap lengan nya yang sedikit memerah akibat terkena pukulan teman Erika


"Berisik deh Mai, gue gak mungkin biarin lo ngelawan mereka sendiri" jawab Putri


"Bener, kalau dikeluarin yaudah sih. Gue bisa langsung kerja aja disalon nyokap gue. Gak pusing lagi gue sekolah" sahut Nindi pula. Tubuhnya bersih tidak ada luka ataupun memar, hanya kepala nya yang sakit karena dijambak oleh teman Erika. Berbeda dengan Maira yang seluruh tubuhnya benar benar berantakan. Lengan nya banyak luka cakaran, diwajahnya juga ada beberapa, kalau memar jangan ditanyakan lagi. Bahkan pinggang nya sudah berdenyut sekarang.


"Iya, sekolah cuma buat liat kelakuan ulet bulu yang makin jadi" dengus Putri


Maira mengerucutkan bibirnya sekilas. Dia mengusap tangan nya yang terasa perih. Dia tidak apa apa keluar, tapi dia benar benar menyayangkan kedua sahabat nya ini. Walaupun mereka orang kaya, tapi bagaimana dengan orang tua mereka???


"Gedeg banget gue didalem tadi ngeliat mereka yang memutar balikkan fakta begitu. Lo kenapa sih gak mau bela diri?" tanya Putri memandang Maira dengan kesal


Maira menghela nafasnya dengan pelan lalu memandang kearah Putri


"Percuma ngebela diri Put, lo gak liat semua yang ada disana itu temen rekan bokap nya semua. Mau kita bener juga percuma. Apa lagi anak nya udah gue buat bonyok. Gak nuntut ganti rugi aja udah syukur" jawab Maira


"Iya, tapi udah pasti kita besok dapet surat DO"sahut Nindi seraya tertawa getir.


"Maafin gue" ucap Maira dengan wajah sedih nya


"Bukan salah elo Mai, ini mau kita. Kuliah gak ada elo berasa hidup tanpa make up. Gak lengkap" jawab Nindi membuat Maira dan Putri langsung mendengus senyum. Mau kesal tapi itu Nindi


"Yaudah lah, jangan difikirin. Satu keluar semua keluar" sahut Putri pula.


"Kalian memang sahabat baik gue. Sayang banget sama kalian" ucap Maira


Putri dan Nindi langsung memeluk Maira dengan haru. Mana mungkin mereka membiarkan Maira berjuang sendiri menghadapi kelakuan Erika dan teman teman nya. Mereka yang paling tahu dari dulu bagaimana Erika yang selalu mengusik Maira. Bukan hanya karena Ervan, melainkan hal hal lain yang sepertinya membuat Erika selalu merasa iri.


Tiba tiba seseorang datang dan membuat mereka langsung melepaskan pelukan mereka. Maira memandang datar pada Ervan yang terlihat terengah engah


"Maira, gimana tadi didalem?" tanya Ervan langsung.


"Mereka gak bakalan ngeluarin kamu kan?" tanya nya lagi


Putri langsung mendengus kesal memandang Ervan


"Ngapain lo nanya nanya. Udah siap lo nenangin Erika ha? Ngapain lo kemari? Bukan nya nanya gimana keadaan cewe lo, ini malah lebih mentingin orang lain" gerutu Putri


"Tau nih, lo gak lihat apa. Nih luka Maira lebih parah gara gara cewe gatel itu. Memang gak punya hati lo Van" serang Nindi pula. Mereka benar benar kesal melihat Ervan. Setelah keluar dari ruangan rektor tadi, Ervan bukan nya mendekati dan bertanya keadaan Maira, dia malah terdiam saat Erika menangis dan memeluknya. Siapa yang tidak kesal. Maira memang tidak berkata apapun, dia langsung pergi meninggalkan Ervan dan Erika


Ervan mengerjap perlahan dan dia langsung memandang wajah dan tubuh Maira yang memang penuh luka dan juga memar. Dia tidak memperhatikan itu tadi


"Mai, kamu baik baik aja" Ervan ingin menyentuh Maira namun Maira langsung menghindar


"Kita pulang yuk" ajak Maira yang langsung beranjak dan meraih tas nya. Entah kenapa dia malas berdebat seperti biasa dengan Ervan. Dia benar benar kecewa dengan lelaki ini


"Mai, jangan marah dong. Aku bisa apa Erika yang tiba tiba dateng dan nangis meluk gitu. Ada paman nya juga tadi disana" ungkap Ervan


Maira mendengus senyum sinis dan menggeleng


"Terserah" jawab Maira yang langsung beranjak namun Ervan segera meraih lengan nya. namun Ervan langsung terkesiap dan melepaskan lagi lengan Maira saat gadis itu meringis kesakitan

__ADS_1


"Mai aku antar kamu kerumah sakit ya" ujar Ervan


"Aku mau pulang aja" sahut Maira


"Kalau gitu aku antar" ucap Ervan


Namun tiba tiba...


"Ervan!!!!" panggil seseorang membuat mereka semua langsung menoleh keasal suara. Ternyata Erika yang berdiri diujung jalan dan memandang Ervan dengan wajah yang sangat menyebalkan bagi Maira


"Nah pilih, mau nganter Maira atau dia?" sinis Putri


Ervan terlihat begitu bingung sekarang. Tadi mama Erika menghubungi nya untuk mengantar Erika pulang, tapi Maira.....


"Sudahlah, memang hubungan kita gak akan bisa kayak dulu lagi" ucap Maira yang langsung pergi meninggalkan  Ervan


"Maira, jangan marah. Tolong ngertiin aku" pinta Ervan namun Maira terus berjalan meninggalkan nya dan diikuti oleh Putri dan Nindi


Ervan ingin mengejar Maira, namun lagi lagi teriakan Erika membuat langkah kaki nya terhenti. Ervan menggeram dan langsung membalikkan tubuhnya kearah Erika.


Sedangkan Maira hanya bisa tersenyum getir melihat Ervan yang lebih memilih bersama Erika. Yah, dia tahu Ervan mencintainya, tapi jika masih ada Erika, maka hubungan mereka tidak akan pernah baik baik saja. Seharusnya Maira mengerti itu


"Udah jangan difikirin laki laki kayak gitu Mai" ujar Putri


"Enggak kok" jawab Maira dengan lesu


"Kita kerumah sakit ya Mai, gue anterin" ajak Nindi, apalagi dia melihat wajah Maira yang sudah mulai pucat


Maira terdiam, namun dia juga tidak punya pilihan lain. Pulang sendiri dengan ojek atau taksi rasanya dia tidak akan sanggup. Tubuhnya sudah terasa sakit semua sekarang. Namun belum lagi dia menjawab, tiba tiba sebuah mobil BMW X4sports berwarna putih metalik berhenti tepat didepan mereka. Membuat ketiga gadis itu langsung terkejut. Untung saja Putri tidak langsung memaki karena kesal


Mata Maira langsung terbuka lebar, karena tahu siapa pemilik mobil ini. Kenapa dokter Danar menjemputnya?? Dan kenapa pula dihadapan teman temannya??? Sudah lah, sepertinya dia memang tidak bisa lagi menyembunyikan apapun sekarang. Tapi tidak saat ini, nanti setelah dia tenang, dia akan menjelaskan nya pada kedua sahabatnya. Sekarang dia pergi saja dulu, jangan sampai satu kampus heboh melihat ini


"Gue udah dijemput, gue duluan ya guys" pamit Maira


"Dijemput?, itu jemputan lo?" tanya Putri dan Nindi bersamaan


"Iya, nanti gue jelasin semua nya. Gue duluan" pamit Maira yang langsung membuka pintu mobil. Dan terang saja siapa dibalik kemudi itu langsung terlihat oleh mereka.


Maira tersenyum dan langsung menutup pintu mobil, dan mobil itu langsung melaju dengan cepat meninggalkan Putri dan Nindi yang terperangah tidak percaya.


"Itu...itu dokter ganteng kan" gumam Nindi dengan wajah yang masih begitu terkejut


"Kenapa Maira bisa sama dokter itu????" gumam Putri pula


Sungguh, sekarang mereka benar benar penasaran dengan Maira. Sebenarnya apa yang sudah disembunyikan oleh sahabat mereka itu????????


....


Setengah jam kemudian, Maira dan dokter Danar sudah tiba dirumah mereka. Maira langsung terbaring disofa kecil mereka dengan wajah lelah dan sakit nya. Sejak diperjalanan tadi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut dokter Danar. Maira heran sebenarnya, tapi dia juga tidak ingin bertanya. Tubuhnya sudah lemas dan sakit semua.


"Mandi dulu Maira" ujar dokter Danar yang datang dari dalam kamar mereka.


"Sudah saya siapkan air hangatnya" ucap dokter Danar. Dia kelihatan nya juga baru selesai mandi


"Saya gak mandi deh dokter. Pedih" ucap Maira yang masih memejamkan matanya


Mata dokter Danar memperhatikan seluruh wajah dan tubuh Maira yang penuh luka. Dia menghela nafas dan menggeleng pelan. Kesal sebenarnya, tapi bagaimana lagi.

__ADS_1


"Mandi lah, setelah itu shalat. Nanti saya kasih obat. Kalau tidak dibersihkan nanti akan inveksi" ujar dokter Danar.


Dan entah kenapa Maira yang biasa nya selalu membangkang dan menggerutu, kini malah langsung beranjak dan hanya menghela nafasnya saja. Dia berjalan dengan sedikit kepayahan karena pinggang nya yang terhantuk ujung meja tadi kini berdenyut begitu ngilu.


Dokter Danar tersenyum tipis melihat nya, tidak tahan sakit tapi sudah mau berkelahi.


Maira mandi dengan cepat seraya menahan pedih diwajah dan lengan nya. Dan benar saja pinggang nya yang terhantuk meja kini sudah membiru dan bengkak. Erika benar benar keterlaluan. Sudah sakit tertimpa tangga pula, begitu peribahasa yang cocok untuk Maira. Sudah menahan sakit, Ervan malah lebih memilih pergi bersama Erika. Menyedihkan memang.


Setelah selesai mandi, seperti biasa dia shalat ashar bersama dokter Danar. Dan lagi lagi hati yang tadinya terasa panas dan emosi kini sudah mulai membaik dan jauh lebih tenang.


Setelah selesai shalat Maira langsung membuka mukenah nya, namun tubuhnya sedikit oleng karena pinggang nya yang sakit dia tahan sejak tadi. Maira langsung memejamkan mata saat dia merasa tubuhnya akan jatuh dan membentur lemari, namun yang terjadi tubuh nya langsung ditangkap oleh dokter Danar yang bergerak dengan reflek.


"Kenapa?" tanya dokter Danar tampak khawatir, dia membantu Maira untuk berdiri dengan tegak namun tidak melepaskan nya


"Pinggang saya sakit" jawab Maira seraya meringis dan mengusap pinggang nya, sebelah tangan nya masih memegang lengan dokter Danar


"Yasudah duduk sini" ajak dokter Danar yang membantu Maira untuk ketempat tidur mereka


Maira langsung duduk dan bersandar diranjang nya,kaki nya masih dia biarkan menggantung dilantai. Dia benar benar menahan sakit saat ini. Dokter Danar langsung beranjak dan mengambil peralatan medisnya didalam lemari dan kembali duduk disamping Maira.


Maira hanya diam saat dokter Danar langsung memeriksa luka luka nya. Dan dapat dia dengar jika dokter Danar menghela nafasnya dan memadang wajah nya yang juga terluka


"Tidak tahan sakit, tapi malah sok hebat" ucap dokter Danar seraya mengeluarkan sebuah botol salep dari dalam tas


Maira mengerucutkan bibir nya dengan kesal mendengar nya


"Dari mana coba tahu kalau saya berkelahi" tanya Maira seraya melihat dokter Danar yang membuka penutup botol itu dan mengoleskan sedikit dijarinya


"Tahulah, luka kamu sudah menjawab semua nya" jawab dokter Danar, dan dia langsung mengoleskan salep itu di lengan Maira


"Aauuhh pedih dokter" seru Maira yang langsung menjauhkan lengan nya dari dokter Danar


"Tahan sebentar, ini memang perih. Tapi akan cepat memulihkan luka" jawab dokter Danar


"Gak usah deh. Biar aja nanti sembuh sendiri" sahut Maira


"Kamu mau luka nya membekas dan gak ilang?" tanya dokter Danar


Maira mencebikkan bibirnya dengan mata yang sudah berkaca kaca. Salep ini benar benar pedih, padahal baru sedikit. Tapi jika berbekas, dia juga tidak mau, apalagi diwajahnya


"Tahan saja. Kalau tidak diobati bisa inveksi" ucap dokter Danar


Maira mengangguk patuh dan memejamkan matanya saat dokter Danar kembali mengoleskan salep itu dilukanya. Luka nya memang tidak lebar dan dalam, tapi semua orang pasti tahu jika luka bekas cakaran memang benar benar pedih.


Maira sedikit terkesiap dan membuka matanya perlahan saat hembusan nafas dokter Danar terasa mendinginkan lengan nya. Maira mengerjapkan mata saat melihat wajah dokter Danar dari dekat. Dokter Danar mengobati lengan Maira seraya meniupnya perlahan. Setelah kedua lengan nya selesai, kini dia beralih kewajah Maira membuat Maira kembali terkesiap.


"Sudah seperti cakaran binatang buas saja" gumam dokter Danar seraya mengoleskan perlahan salep itu diwajah cantik istrinya


Maira meringis dan sesekali menjauhkan wajahnya dari tangan dokter Danar


"Uuuh sakit dokter" rengek Maira benar benar tidak tahan lagi, bahkan matanya sudah sangat berair menahan rasa perih dan juga pedih


"Sedikit lagi, tahan sebentar" ujar dokter Danar. Dia tidak tega sebenar nya, tapi jika tidak diobati maka wajah mulus ini akan cacat nantinya


"Perih" Maira mulai terisak sekarang. Dokter Danar tersenyum tipis dan menggeleng, dia mendekatkan wajahnya dan meniup wajah Maira dengan pelan dan lembut. Dan tentu saja itu membuat isak tangis Maira tertahan. Bukan hanya isak tangis nya yang tertahan, melainkan juga nafasnya karena hembusan nafas dokter Danar membuat nya menjadi canggung sekarang. Tapi sungguh meskipun begitu, dia merasa lebih baik.


"Sudah enakan?" tanya dokter Danar seraya mengusap air mata itu dengan lembut

__ADS_1


Maira mengangguk cepat dan langsung memalingkan wajahnya dari dokter Danar. Kenapa perlakuan seperti ini dia dapatkan dari dokter Danar??? Kenapa bukan Ervan???


__ADS_2