Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Terungkap


__ADS_3

Maira menggeliatkan tubuhnya, panas matahari yang masuk melalui celah jendela yang terbuka membuat dia merasa silau. Maira mengernyit dan memandang kamar itu yang nampak kosong. Entah dimana penghuni yang selalu mengganggu tidurnya itu.


Maira mendongak dan melihat jam beker yang ada diatas meja nakasnya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Sudah siang sekali ternyata. Subuh tadi dia kembali dibangunkan oleh dokter Danar untuk shalat subuh, dan setelah shalat, Maira kembali tertidur karena tubuhnya yang benar benar tidak enak. Sekarang saja dia masih merasa demam dan sedikit pusing, namun sudah tidak separah semalam.


Tiba tiba pintu terbuka, dan dapat Maira lihat dokter Danar membawa sesuatu ditangan nya. Sebuah nampan berisi makanan. Dokter Danar sudah kelihatan rapi dengan kemeja bewarna biru muda nya. Ditambah dengan rambutnya yang tersisir rapi, sangat tampan. Jika Nindi melihat ini, pasti matanya akan segar sekali. Diakan pecinta pria tampan.


"Bangun dulu ya, cuci muka, sesudah itu sarapan. Kamu harus minum obat lagi" ujar dokter Danar sembari meletakkan nampan nya diatas meja nakas Maira


"Dokter mau kerja?" tanya Maira seraya beranjak dan duduk ditempat tidur. Dia mengusap kepala nya yang masih pusing


Dokter Danar tersenyum mendengar nya, tumben tumbenan sekali Maira bertanya. Biasanya dia tidak akan perduli.


"Tidak, tapi saya mau pergi keluar sebentar nanti" jawab dokter Danar


Maira hanya mengangguk dan mengusap wajah nya. Entah kenapa malam tadi dia seperti bermimpi sesuatu. Dia bermimpi jika dokter Danar yang menjaga nya sepanjang malam. Membuat tubuhnya terasa nyaman dan memijat kepalanya yang pusing.


Maira merasa dia memang sedang bermimpi, karena ketika dia bangun dokter Danar tidak ada didalam kamar.


Maira sedikit terkesiap saat dokter Danar menyentuh wajahnya


"Masih hangat, jangan mandi dulu. Cuci muka saja dan gosok gigi. Ayo" dokter Danar langsung membantu Maira untuk berdiri, karena subuh tadi juga Maira masih benar benar sempoyongan, bahkan dia hampir jatuh ketika ingin mengambil air wudhu, untung saja dokter Danar mengikutinya, jika tidak Maira benar benar akan jatuh dan pingsan lagi dikamar mandi.


"Saya bisa sendiri dokter" ucap Maira


"Yakin?" tanya dokter Danar


Maira langsung mengangguk dan melepaskan tangan dokter Danar. Dia berjalan perlahan kekamar mandi dan dokter Danar hanya membiarkan nya saja. Setelah memastikan Maira memang bisa sendiri. Dokter Danar membereskan tempat tidur Maira. Dia mengganti alas kasur yang lembab terkena keringat. Sembari bekerja, dokter Danar tersenyum sendiri jika mengingat malam tadi. Untung saja dia bangun lebih awal sehingga Maira tidak menyadari jika mereka tidur berdua malam tadi. Yah, istri kecilnya itu memang sangat polos. Jika tidak karena demam, mungkin dokter Danar tidak akan pernah bisa merasakan memeluk apa yang sudah menjadi milik nya itu.


Beberapa menit kemudian Maira sudah keluar dari dalam kamar mandi. Dan dia langsung duduk disisi tempat tidur yang sudah rapi. Dokter Danar benar benar telaten dan sangat rajin. Sebenarnya Maira cukup salut padanya.


Maira langsung memandang makanan diatas meja, semangkuk bubur dengan toping lengkap. Terlihat masih hangat dan baunya juga menggoda. Tapi, dia benar benar tidak berselera untuk makan sekarang.


"Makanlah, setelah itu minum obat" ujar dokter Danar yang baru masuk dari luar. Dia baru saja dari dapur meletakkan alas kasur mereka yang kotor.


"Gak selera" jawab Maira dengan lesu


Dokter Danar tersenyum, dia meraih kursi meja belajar Maira dan mendekatkan nya kehadapan Maira. Maira memandang nya dengan heran. Apa lagi ketika dokter Danar meraih mangkuk bubur itu dan menyendokkan nya sedikit


"Buka mulut kamu" pinta dokter Danar


"Dokter, saya bisa sendiri" sahut Maira yang terlihat terkejut


"Kalau menunggu kamu makan, buburnya bisa dingin, gak enak lagi. Cepatlah" perintah dokter Danar


"Dokter pemaksa sekali" gerutu Maira yang masih terlihat ragu untuk membuka mulutnya


"Kamu pilih makan atau saya suntik lagi" kata dokter Danar


Maira mencebikkan bibirnya dan mau tidak mau akhirnya dia membuka mulutnya perlahan dan menerima suapan dokter Danar yang langsung tersenyum senang


Wajah teduh dokter Danar benar benar membuat Maira sedikit tersentuh, apalagi dengan semua yang dia lakukan. Sejak semalam dokter Danar selalu mengurus nya dengan baik. Dia bahkan lebih perhatian dari Ervan yang malah lebih memilih memperdulikan Erika. Apa karena dokter Danar suaminya ya????


Maira terus menerima setiap suapan yang diberikan oleh dokter Danar, namun matanya juga tidak lepas dari wajah tampan itu. Yang jika diperhatikan memang benar benar tampan. Bahkan Ervan masih kalah jauh, padahal dia adalah anak orang kaya. Namun dokter Danar, dia tampan, dan tampan nya terlihat berseri, mungkin karena dia tidak pernah lepas dari air wudhu yang selalu dia jaga.


"Sudah dokter" ucap Maira yang langsung memalingkan wajahnya


Dokter Danar mengangguk dan memberikan Maira air minum


"Lain kali jangan seperti ini lagi ya. Jangan berkelahi jika hanya membuat kamu rugi sendiri" ujar dokter Danar seraya mengeluarkan beberapa butiran obat dari dalam botol nya


"Biar aja, yang penting saya udah puas" jawab Maira

__ADS_1


Dokter Danar tersenyum dan menyerahkan obat itu pada Maira


"Gak kapok kamu, udah luka, badan demam, pinggang sakit" ungkap dokter Danar


"Seharusnya jangan dilawan, orang sabar itu disayang Allah" kata dokter Danar lagi


Maira mendengus gerah mendengar nya, dia langsung melahap tiga butir obat itu sekaligus dan meminum airnya


"Sabar juga ada batasan nya dokter. Lagian besok saya juga udah gak akan ngeliat muka dia lagi. Jadi yaudah" jawab Maira dengan wajah kesal nya


"Kenapa gak liat dia lagi?" tanya dokter Danar


"Ya udah jelas kan. Siapa yang berani ngelawan anak pemilik kampus. Udah pasti di DO" jawab Maira dengan helaan nafas yang lesu


Dokter Danar mendengus senyum dan membereskan meja itu kembali.


"Belum tentu juga. Perjalanan kamu masih panjang. Kamu gak akan di DO semudah itu" jawab dokter Danar yang langsung beranjak dan meraih nampan diatas meja


"Sok tahu banget." dengus Maira


"Memang nya kamu gak mau kuliah lagi" tanya dokter Danar memandang Maira yang mengerucutkan bibirnya


"Ya mau lah. Dirumah aja gak enak tahu. Biarpun saya gak pinter pinter amat. Tapi saya juga punya cita cita" jawab Maira dengan ketus


"Yasudah, kalau gitu lanjutkan cita cita kamu. Selagi bisa" jawab dokter Danar yang langsung berlalu keluar kamar meninggalkan Maira yang langsung mendengus dan memasang wajah jelek nya.


"Lanjutkan cita cita. Gimana mau dilanjutin kalau hidup gue udah berantakan gini. Udah nikah muda, ditambah gak bisa kuliah lagi. Sial amat emang" gerutu Maira yang langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, namun tiba tiba dia langsung meringis karena pinggang nya yang terasa nyeri dan masih sedikit bengkak malah terhantuk pinggiran tempat tidur


"Pinggang sialan, sakit banget lagi" gumam nya dengan menggeliatkan sedikit tubuhnya mencari posisi yang aman


"Maira..." panggil dokter Danar yang lagi lagi masuk kedalam kamar


Maira hanya diam karena dia masih menahan sakit


"Iya, lama juga gak papa. Kayak anak kecil aja takut dirumah" gerutu Maira yang mulai lagi. Ya, dan jika sudah seperti ini dokter Danar tahu jika Maira memang sudah lebih baik. Dia sudah sanggup menggerutu sekarang.


"Mungkin siang saya sudah pulang. Kamu mau kirim apa, saya tidak sempat memasak" tanya dokter Danar


"Apa aja" jawab Maira begitu singkat


Dokter Danar tersenyum dan mengangguk


"Yasudah, saya pergi dulu. Kalau ada apa apa kamu bisa menghubungi saya" ujar nya lagi


"Hmm" gumam Maira yang masih belum membuka matanya


"Assalammualaikum" pamit dokter Danar seraya mengusap wajah Maira sekilas dan langsung pergi meninggalkan Maira yang tampak tertegun dan membuka matanya.


Maira langsung menoleh kearah pintu dimana punggung dokter Danar baru saja menghilang dari sana. Dan dia meraba wajahnya, bekas sentuhan dokter tampan itu masih terasa jelas. Dan entah kenapa tiba tiba darahnya terasa berdesir merasakan sentuhan hangat ini. Rasanya dia pernah merasakan ini, ya malam tadi. Maira langsung memiringkan tubuhnya menghadap kearah jendela, tempat biasa dokter Danar duduk dan shalat. Rasanya malam tadi dia juga bermimpi seperi ini, ada seseorang yang mengusap wajah nya, memeluknya, bahkan mengusap punggung dan pinggang nya yang sakit. Apa itu bukan mimpi ???? Apa itu nyata dan dokter Danar yang melakukan nya????


Maira menghela nafasnya dengan pelan. Dia jadi merasa bersalah sekarang. Dokter Danar adalah lelaki yang sangat baik. Sedangkan dia, dia cuma gadis yang tidak tahu diri. Meski dia kesal dengan dokter Danar karena menikahinya dengan terpaksa, tapi semua perlakuan dokter Danar selama ini selalu sabar menghadapi nya. Maira jadi bingung sekarang. Jika dokter Danar terus menerus seperti ini, apa dia sanggup menyakiti hati dokter itu terus, karena bagaimanapun hati Maira masih terikat pada Ervan.


drrrt drrt drrt


Suara getaran ponsel langsung membuyarkan lamunan Maira. Dia terkesiap kaget dan langsung beranjak untuk meraih ponsel yang ada diatas meja. Nama Nindi langsung tertera disana. Dan tanpa berfikir apapun Maira langsung mengangkat nya.


["Rumah lo yang mana? kita udah dikomplek perumahan Indah Sari nih"]


deg


Jantung Maira langsung berdetak dengan cepat mendengar perkataan Nindi. Mereka sudah disini, lalu...apa dia harus mengungkapkan semuanya sekarang??? Secepat ini???

__ADS_1


["Maira!!!! lo denger gue gak sih?"]


Seruan Nindi langsung membuyarkan lamunan Maira. yah, tidak punya pilihan lain. Dia memang tidak bisa menyembunyikan apapun lagi dari sahabatnya sekarang. Apalagi setelah ini mereka tidak bisa lagi bertemu setiap hari bukan?


"Lo sama siapa?"


["Sama Putri lah, sama siapa lagi. Cepetan, udah kering nih kita nunggu"]


"Yaudah, rumah gue, rumah nomor 72" jawab Maira. Dan dia langsung mengernyit saat panggilan itu langsung dimatikan begitu saja oleh Nindi


Maira menghela nafas nya dan melemparkan ponsel nya keatas kasur. Dia segera beranjak dan keluar dari dalam kamar untuk menunggu kedua sahabat nya itu didepan rumah.


Dan baru saja dia membuka pintu, sebuah mobil bewarna merah milik Nindi sudah ada didepan pagar rumah nya.


Putri turun dari dalam mobil dan langsung membuka pagar itu, membiarkan mobil Nindi memasuki garasi milik dokter Danar


"Gila ya, nyonya gak mau lagi bukain pintu pager" gerutu Putri yang terlihat kesal berjalan kearah Maira.


Maira tertawa kecil seraya mengusap pinggang nya yang berdenyut


"Pinggang gue sakit banget Put, jalan kesana gak sanggup gue" jawab Maira


"Pucet banget muka lo, demam?" tanya Putri yang memperhatikan wajah Maira, bahkan bekas luka cakaran itu masih terlihat jelas


"Kerumah sakit aja deh Mai. Liat tuh luka cakarnya, mana diwajah lagi" ujar Putri seraya menyentuh wajah Maira


"Udah diobatin kok" jawab Maira


"Iya, bahkan diobatin sama dokter nya langsung" jawab Nindi yang baru keluar dari mobilnya. Ditangan nya terlihat membawa sesuatu


Maira hanya tersenyum saja menanggapinya


"Yuk masuk" ajak Maira


Putri dan Nindi langsung mengikuti langkah kaki Maira kedalam. Mereka langsung duduk disofa mungil ruang tamu Maira


"Mana sepupu lo Mai?" tanya Nindi


Sedangkan Putri masih memperhatikan rumah itu dengan aneh


"Lo yakin tinggal berdua sama sepupu lo. Ini rumah kecil lo Mai. Kamar cuma satu pula" kata Putri yang memandang Maira dengan curiga


"Iya juga ya, terus kenapa semalem bisa pulang bareng dokter Danar??" tanya Nindi lagi


Maira tampak meringis dan mengusap luka diwajahnya, dia jadi bingung mau menjelaskan nya dari mana.


"Mai, lo bilang lo mau ngejelasin sesuatu sama kita" tuntut Nindi


"Lo gak mau nyembunyiin sesuatu dari kita lagi kan Mai?" sahut Putri pula


Maira menghela nafasnya perlahan dan memandang kedua sahabatnya bergantian


"Kalau gue bilang, kalian janji jangan kasih tahu siapapun ya" pinta Maira dengan ragu. Dan sungguh itu membuat Putri dan Nindi menjadi bertambah penasaran


"Cepetan deh, jangan buat kita penasaran" Nindi benar benar sudah tidak sabar, Apalagi melihat wajah Maira yang begitu ragu dan takut. Begitu pula dengan Putri, dia bahkan sudah menduga hal hal yang aneh sekarang.


"Sebenarnya, gue udah nikah" ungkap Maira


"What!!!!" seru Nindi langsung


"Sama dokter Danar" tambah Maira yang langsung memejamkan matanya saat mendengar seruan dari Putri dan Nindi yang begitu terkejut

__ADS_1


"Dokter Danar????????????"


__ADS_2