
Erika langsung oleng saat melihat papa dan mamanya yang sudah bersimbah darah. Bahkan mama nya sudah memucat dan menguning karena tidak lagi dialiri darah.
Rasanya seperti mimpi melihat ini, tapi ratapan kesedihan kakak nya membuat Erika sadar jika ini benar nyata.
Erika hampir terjatuh jika saja Ervan tidak menahan tubuhnya.
"Erika" gumam Ervan.
Erika menggeleng pelan dengan air mata yang sudah deras membasahi wajahnya. Jantung nya berdenyut ngilu seperti halnya dengan pinggang nya yang semakin tidak menentu.
"Papa Van... papa" gumam Erika.
Kakak Erika juga menangis meraung dalam dekapan suami nya. Mereka berjalan membawa brankar yang membawa tuan Jonas keruang IGD.
"Sabar" ucap Ervan.
Namun Erika menggeleng dan langsung terkulai lemas dalam dekapan Ervan. Rasa sakit di pinggang dan kenyataan yang diterima nya ini bersatu menjadi satu hingga membuat Erika tidak bisa lagi menahan nya.
"Ya Allah... Erika"
Ervan panik, dia langsung mengangkat tubuh Erika dan membawanya masuk kedalam rumah sakit. Meminta pada beberapa orang perawat untuk menangani Erika. Apalagi dengan wajahnya yang sudah sangat pucat membuat Ervan semakin cemas.
Berniat membawa Erika kerumah sakit untuk berobat, namun yang terjadi malah mendapatkan kenyataan menyakitkan seperti ini.
Bahkan Ervan yang orang lain saja ikut terpukul dan bersedih melihat kedua orang tua Erika yang sudah tidak berdaya dengan keadaan yang mengenaskan seperti itu. Apalagi Erika.
...
Sementara di tempat pesta pernikahan Putri.
Maira dan Nindi masih asik duduk seraya menikmati makanan mereka. Mereka baru saja selesai shalat Maghrib, dan kini acara sudah dimulai kembali.
Maira memandang dokter Danar yang sedang menerima telepon disudut dekat tempat makanan. Wajahnya terlihat begitu serius dan terkejut. Entah siapa yang menghubungi nya. Apa pasien baru nya? Tapi kan belum jadwal kemoterapi.
"Nelpon siapa sih, serius amat" tanya Nindi
"Gak tahu" jawab Maira.
Mereka kembali memandang kearah pintu masuk dimana Putri dan Dika sudah masuk ke dalam aula itu.
"Waah cantik sekali. Gila ya bisa berubah gitu dia" puji Nindi dengan wajah berbinar nya memandang Putri yang nampak cantik dengan gaun pengantin silver yang indah dan begitu memukau.
"Biasanya kita lihat dia gak banyak gaya dan make up. Tapi sekarang dia full make up. Jadi kelihatan banget cantik nya" ucap Maira.
Mereka langsung melambai kearah Putri saat Putri sudah berjalan didepan mereka.
"Uuuhhh bahagia banget aku sahabat aku udah menemukan kebahagiaan masing masing" gumam Nindi dengan mata yang kembali berkaca kaca. Entah sudah berapa kali dia menangis satu hari ini.
Maira langsung merangkul bahu Nindi dengan hangat.
"Allah sedang mempersiapkan yang terbaik buat kamu. Udah ah... mewek terus. Orang lagi bahagia juga" ucap Maira. Membuat Nindi langsung tertawa kecil dan mengusap matanya yang berair.
"Ya Allah... kamu gak tahu rasanya aku benar benar terharu banget Mai" sahut Nindi.
"Aku tahu... aku juga gitu kok" jawab Maira.
Hingga kedatangan dokter Danar membuat mereka langsung menoleh.
"Sayang... mas mau pamit ya" ucap dokter Danar langsung tanpa berbasa basi lagi. Membuat Maira dan Nindi langsung terkejut mendengar nya.
"Mau kemana mas?" tanya Maira dengan heran
"Kerumah sakit" jawab dokter Danar. Dan melihat wajah dokter Danar yang nampak lain, Maira jadi was was.
"Kerumah sakit?" gumam Maira.
Dokter Danar mengangguk pelan dan menghela nafasnya dengan berat.
"Ervan membawa Erika kesana" ucap dokter Danar
"Apa parah dokter?" tanya Nindi
"Entahlah. Tapi bukan itu saja yang penting. Tapi..." dokter Danar menghentikan perkataan nya sejenak dan memandang Maira dengan ragu. Membuat Maira dan Nindi sudah begitu penasaran.
"Orang tua Erika kecelakaan parah, dan ibunya meninggal ditempat"
deg
Maira dan Nindi langsung tertegun mendengar itu.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un " gumam mereka berdua.
"Mas serius" tanya Maira dengan mata yang berkaca kaca.
Dokter Danar mengangguk dan mengusap kepala Maira sejenak.
"Maka dari itu mas minta izin sama kamu untuk melihat keadaan mereka. Erika juga tidak sadarkan diri sekarang." ungkap dokter Danar
__ADS_1
"Maira ikut ya mas" pinta Maira. Namun dokter Danar langsung menggeleng dengan cepat.
"Jangan lah, sudah malam. Jika mau melihat, besok saja kita kesana ya. Sekarang, kamu disini saja dulu. Ibu sama ayah yang akan jemput kamu nanti" ujar dokter Danar.
"Iya Mai. Gak baik kamu hamil besar gini keluar malam malam, kerumah sakit lagi. Kita nunggu besok aja" kata Nindi pula.
"Tapi kasihan Erika" ucap Maira. Dia yang paling tahu rasanya kehilangan orang tua itu seperti apa. Rasanya dunia seakan runtuh dan tidak lagi indah. Benar benar sakit. Dan Erika pasti butuh dukungan. Tapi apa yang dikatakan Nindi benar juga, Maira sedang hamil besar saat ini. Dokter Danar juga pasti akan repot nanti.
"Mas janji akan cepat pulang" kata dokter Danar lagi. Hingga akhirnya mau tidak mau, Maira mengangguk pasrah.
"Mas hati hati ya" ucap Maira seraya mencium punggung tangan dokter Danar.
"Iya sayang. Kamu juga. Jangan lagi banyak jalan ya. Tunggu ibu sama ayah disini" Ujar Dokter Danar.
"Iya mas" jawab Maira.
Dan kini dokter Danar beralih pada Nindi.
"Saya titip Maira ya Nin. Jangan boleh kelelahan" pinta dokter Danar
"Siap dokter" jawab Nindi.
Dokter Danar tersenyum dan mengusap kepala Maira sekilas, dan setelah itu dia langsung pergi meninggalkan Maira yang memandang kepergian nya dengan pandangan sedih.
"Kasihan banget Erika. Dia pasti terpukul banget sekarang" gumam Maira.
"Iya, ibu nya meninggal dan udah pasti papa nya parah. Semoga baik baik aja deh. Aku juga khawatir sama keadaan nya" ucap Nindi.
Maira mengangguk dan menghela nafas berat.
"Kenapa disaat kita lagi senang senang tapi ada aja yang berduka ya" ungkap Maira.
"Memang begitu Mai. Setiap pernikahan pasti akan selalu ada berita duka" jawab Nindi.
...
Beberapa jam kemudian...
Dokter Danar baru saja selesai memeriksa Erika. Gadis ini masih tertidur dan juga belum sadarkan diri. Ervan meminta dokter Danar untuk menyuntikkan obat penenang padanya, karena Ervan benar benar khawatir jika Erika tidak bisa menahan perasaan sedihnya ditengah tengah rasa sakit yang dia derita.
Apalagi dengan kabar ibunya yang sudah meninggal, dan juga tuan Jonas yang saat ini dinyatakan kritis.
"Bagaimana dokter?" tanya Ervan saat dokter Danar sudah beranjak menjauh dari Erika.
"Keadaan nya cukup mengkhawatirkan Van. Ginjal nya sudah benar benar rusak parah. Memang belum diperiksa lagi, tapi dari gejala dan juga ciri ciri fisik Erika, semua sudah jelas." ungkap dokter Danar.
Ervan memandang sedih pada Erika.
"Untuk saat ini kita lakukan cuci darah dulu sebelum kita menemukan pendonor ginjal untuk nya. Lagi pula Erika masih dalam keadaan berduka. Dia pasti tidak akan mau untuk dioperasi " jawab dokter Danar.
Ervan langsung mengangguk pelan. Yah, tadi saja Erika begitu kekeh menolak untuk datang kerumah sakit. Apalagi untuk dioperasi dalam keadaan berkabung seperti ini. Sudah jelas dia tidak akan mau.
"Saya tinggal dulu, jika ada apa apa ada asisten saya yang stand by diruangan nya. Lagi pula Erika juga akan sadar besok pagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir dan bisa istirahat dulu" ujar dokter Danar seraya membereskan kembali peralatan nya.
"Iya dokter, terimakasih" ucap Ervan.
Dokter Danar tersenyum tipis dan langsung berlalu keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Ervan yang kini memandang Erika yang sudah nampak tenang dalam tidurnya. Tapi tidak tahu bagaimana jika dia bangun besok pagi. Erika sudah pasti akan kembali menangis.
Ervan langsung membaringkan diri disofa. Ingin pergi, tapi kenapa dia tidak tega seperti ini. Rasanya tidak ingin meninggalkan Erika sendirian, apalagi dalam keadaan seperti ini.
Dan akhirnya, Ervan memutuskan untuk tidur dirumah sakit setelah sebelumnya mengabari kedua orang tuanya jika dia tidak pulang dan berada dirumah sakit untuk menemani Erika.
Jujur lebih baik, meski ibunya benar-benar terkejut.
Ervan tertidur dengan pulas karena rasa lelah setelah seharian beraktivitas. Meski saat pagi dia langsung terbangun karena rasa dingin akibat hujan yang tiba tiba mengguyur pagi itu.
Ya, mendung dan hujan datang seolah mengiringi duka yang sedang Erika rasakan.
Disaat dia membutuhkan orang tua untuk menjadi tempatnya mengadu semua rasa takut dan rasa sakit ini. Tapi mereka malah harus seperti ini.
Bahkan disaat sadar, Erika sudah langsung meneteskan air mata. Membuat Ervan kembali bingung harus berbuat apa.
"Sabar... kamu harus berdoa untuk ibu kamu. Jangan diratapi" ujar Ervan. Saat ini mereka sudah berada dikamar mayat. Ketika bangun Erika memaksa untuk menemui ibu dan ayahnya.
"Aku sedih, bahkan aku belum ketemu sama mama lagi Van" ucap Erika seraya mengusap air matanya.
Ervan menutup kain yang menutupi jenazah ibu Erika. Dan setelah itu dia mendorong kursi roda Erika keluar. Mereka akan pergi melihat keadaan tuan Jonas.
"Semua sudah takdir Erika" ucap Ervan yang tidak tahu lagi harus berkata apa. Karena jika dia ada diposisi ini pun, mungkin Ervan tidak bisa untuk tetap tenang.
Ervan mendorong kursi roda Erika menuju ruang dimana tuan Jonas dirawat. Didepan ruangan itu sudah ada kakak Erika bersama suami nya. Dia memandang kedatangan Erika dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
Tapi baik Erika dan Ervan mengabaikan nya, karena Erika sudah tidak ingin ribut lagi dalam situasi saat ini.
Dan saat mereka tiba didepan ruangan itu, bertepatan dengan dokter yang memeriksa tuan Jonas keluar dari dalam sana.
"Nona Erika, apa ada yang bernama Erika disini?" tanya dokter lelaki itu.
__ADS_1
"Saya dokter" sahut Erika langsung. Membuat Ervan dan kakak Erika memandang nya dengan bingung.
"Tuan Jonas mencari anda. Anda bisa masuk kedalam nona. Keadaan nya benar benar lemah, tapi sejak saya masuk, dia hanya mencari anda" ujar dokter itu
Erika mengangguk pelan dan langsung beranjak dari kursi rodanya.
"Kuat?" tanya Ervan.
Erika mengangguk pelan dan berjalan perlahan masuk kedalam ruangan ayahnya.
Luna, kakak Erika memandang Erika dengan pandangan tidak menentu. Dia heran kenapa Erika memakai kursi roda dengan wajah yang begitu pucat. Terjadi sesuatu kah padanya?
"Nona Luna, anda juga bisa masuk. Sepertinya tuan Jonas ingin bertemu dengan anak anak nya karena dia juga menyebutkan nama anda tadi" kali ini perkataan dokter itu membuat Luna terkejut.
Dia juga langsung masuk kedalam menyusul Erika yang sudah lebih dulu ada didalam sana.
"Papa" panggil Erika begitu pelan. Hatinya benar benar sakit dan teriris perih melihat keadaan tuan Jonas yang begitu memprihatinkan.
Kepala dan beberapa bagian tubuhnya dibalut perban. Bahkan dia nampak lemah sekali.
Tuan Jonas membuka matanya perlahan dan langsung menoleh kearah Erika dengan lemah.
"Maafin papa" gumam nya terdengar seperti berbisik, namun Erika dan Luna masih bisa mendengar nya.
Erika menggeleng dengan air mata yang berlinang diwajahnya.
"Enggak, papa gak salah. Erika yang salah karena udah buat papa malu. Maaf pa, maafin Erika" ucap Erika seraya mengusap lengan ayahnya yang terasa dingin.
"Erika... kamu... kamu bukan anak kandung mama nak"
deg
Erika langsung tertegun mendengar itu.
"Kamu anak hasil kesalahan papa dulu" ungkap tuan Jonas.
Erika mematung, bahkan dia langsung jatuh terduduk diatas kursi yang memang ada disana.
Bukan anak kandung mamanya?
Benarkah ini?
Air mata semakin deras membasahi wajah Erika.
"Maaf" gumam tuan Jonas lagi.
Erika menangis dan tertunduk seraya meraba dada nya yang terasa sangat sakit.
Pantas...
Pantas saja jika selama ini mama nya tidak pernah bersikap baik bahkan selalu membandingkan dia dengan Luna. Jika kenyataan dia bukan anak kandung mama nya.
"Maafkan papa " gumam tuan Jonas lagi.
Erika menggeleng...
"Enggak pa. Enggak apa apa... Erika terima. Erika udah bahagia mama mau Nerima Erika dan sayang sama Erika" ucap Erika dengan Isak tangis yang dia tahan, membuat Luna langsung tertunduk dengan perasaan tidak menentu.
"Luna..." panggil tuan Jonas
Luna langsung mendekat kearah ayah nya.
"Berdamai ya nak" lirih nya dengan suara yang semakin menghilang.
Luna mengangguk pelan dengan air mata yang juga tidak lagi bisa terbendung.
Hingga setelah mengatakan itu, tuan Jonas nampak kesulitan bernafas membuat Luna dan Erika langsung panik dan khawatir.
"Papa" panggil Erika seraya mengusap dada tuan Jonas yang nampak naik turun. Sementara Luna langsung berteriak memanggil dokter.
Dokter masuk dengan cepat dan langsung memeriksa tuan Jonas. Namun nihil, tuan Jonas sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Papa!!!" Isak tangis langsung pecah memenuhi ruangan itu.
Luna menangis begitu kuat dan memeluk papa nya. Sedangkan Erika sudah jatuh terduduk diatas lantai dan menangis dengan perih disana.
"Erika... ikhlas" bisik Ervan seraya mengusap bahu Erika dengan lembut.
Erika mengangguk pelan, meski Isak tangis tidak bisa lagi dia tahan.
Kenapa harus berakhir seperti ini?
Kenapa harus berakhir dengan kenyataan yang begitu menyakitkan?
Dia bukan anak kandung ibunya. Lantas dia anak siapa?
Kenapa ayahnya pergi secepat ini sebelum dia menjelaskan semua tentang Erika.
__ADS_1
Ya Allah....
Dihari itu, suasana dirumah sakit benar benar berduka. Bahkan langit mendung dan gerimis yang turun masih terus mengiringi rasa sedih dan hancurnya perasaan Erika.