Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Tidak Semudah Itu


__ADS_3

Siang ini Maira dan kedua sahabatnya duduk dikantin kampus. Mereka baru saja selesai makan siang.


Hari ini pelajaran tidak begitu banyak, mereka hanya mengisi kelas selama dua jam. Selebihnya mereka lebih banyak bersantai.


"Dari tadi kayak nya semua orang pada ngeliatin kita deh, dari pagi tadi kita dateng" ucap Nindi seraya mengucau jus jeruk yang tinggal setengah.


"Biarin ajalah namanya juga artis kampus" kata Putri dengan wajah cuek nya.


"Mungkin karena kita yang masih hidup sampai hari ini kali. Mereka pasti juga heran kenapa kita masih bisa kuliah, dan malah Erika yang kena sanksi" ungkap Maira pula


Putri langsung mengangguk setuju.


"Mai, kayak nya emang dokter Danar deh yang kenal baik sama tu bos besar. Coba nanti Lo tanyain" ujar Nindi. Namun Maira menggeleng ragu. Sejak pagi tadi Nindi selalu saja membahas itu, mana mungkin kan dokter Danar punya teman seorang pengusaha.


"Mustahil banget Nin, gak mungkin lah. Dokter Danar itu kan dokter, udah pasti temen nya juga dokter semua. Yakali dia bisa kenal sama bos besar, lagian dia juga dari kota kecil sama kayak gue. Bokapnya aja cuma punya usaha hotel beberapa biji doang" ungkap Maira.


"Lo tahu apa sih Mai. Siapa tahu dia memang punya teman pengusaha. Secara kan dia dokter spesialis, pasien nya juga pasti bukan orang sembarangan" sahut Nindi yang masih yakin jika masalah ini ada sangkut pautnya dengan dokter Danar.


"Gak mungkin. Gue kenal semua saudara dokter Danar" kata Maira masih kekeh. Karena dia yakin dokter Danar tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini.


"Ck, udah lah, bikin pusing aja. Nanti juga lama lama tahu siapa. Kita cari tahu aja dulu sama orang tua kita. Nanti gue bakal tanya bokap gue. Siapa tahu dia kenal siapa pemegang saham terbesar di kampus kita" sahut Putri yang sudah jengah dengan perdebatan ini sejak tadi.


"Iya, bener. Pusing gue mikirnya" ucap Maira pula.


Nindi langsung mendengus kesal, dia sudah yakin jika dokter Danar pasti ada sangkut pautnya dengan masalah ini.


Nindi adalah seseorang yang suka sekali memperhatikan gerak gerik seseorang. Dan dengan melihat ekspresi dokter Danar, Nindi tahu jika dokter Danar begitu menyayangi Maira. Terlihat dari sikapnya. Meskipun Maira bilang mereka menikah karena terpaksa, tapi Nindi tahu jika dokter Danar menyayangi Maira dengan tulus, bukan karena terpaksa.


Jangan ragukan masalah hati pada Nindi.


Mereka sedikit terkesiap saat tiba tiba Ervan sudah ada didekat mereka dan langsung duduk disamping Maira.


Pemuda itu tersenyum manis memandang Maira yang masih terkejut memandang nya.


"Lo udah kayak hantu aja sih Van, ngejutin aja" dengus Putri


"Kalian serius amat ngobrol nya. Ngobrolin apa sih?" tanya Ervan yang langsung menyambar air minum Maira.


"Ervan, punya aku" ucap Maira sedikit cemberut.


"Haus banget yank, habis persentase Mr Petro " ungkap Ervan.

__ADS_1


"Yank yonk yank yonk" gumam Nindi tidak suka. Entah kenapa sekarang dia tidak suka melihat Ervan yang dekat dekat dengan Maira. Apalagi setelah tahu jika Maira sudah menikah, ditambah dengan sikap Ervan yang seperti tidak serius.


"Apaan sih Nin, sewot aja Lo sama gue" ucap Ervan.


"Emang, Lo gak bisa diharepin. Jangan kan perjuangin Maira. Disuruh nyari nama orang besar itu aja Lo gak tahu" gerutu Nindi


Maira langsung tertawa mendengar nya, apalagi melihat wajah Ervan yang tersenyum canggung, bahkan kekasih nya itu terlihat menggaruk kepala nya dengan frustasi.


"Iya iya, nanti gue tanya bokap gue deh, atau gak gue tanyak bokap Erika" kata Ervan dengan pasrah.


"Harus, Lo gak tahu kan kalau gue udah penasaran" dengus Nindi lagi.


"Kenapa juga mau tahu. Yang penting kan kalian udah aman, suka banget cari pusing kepala" ungkap Ervan


Putri langsung menampar bahunya dengan kuat membuat Ervan langsung meringis sakit.


"Apaan sih Put" tanya Ervan seraya mengusap bahu nya.


"Kalau gak bisa bales kebaikan orang, setidaknya tahu terimakasih. Santai amat lu jadi orang, gak tahu terimakasih." gerutu Putri


"Temen temen kamu kenapa jadi pada sanksi gini sih sama aku?" tanya Ervan pada Maira.


Maira langsung tersenyum miris dan memandang Putri dan Nindi bergantian. Namun kedua teman nya malah memandang Maira dengan lain. Kenapa lagi dengan mereka????


"Ya maaf, aku janji gak gitu lagi kok" ucap Ervan


Putri dan Nindi langsung mendengus gerah mendengar nya.


"Dasar buaya" sindir Nindi


"Anak kadal" sahut Putri pula


Maira mengulum senyum lucu mendengar nya, sedangkan Ervan langsung mendengus kesal.


"Yauda, kemarin kan kita gak jadi jalan. Gimana nanti pulang kuliah aja kita ke pantai?" ajak Ervan.


Putri dan Nindi langsung memandang Maira dengan lekat. Mereka menggeleng pelan menatap harap pada Maira.


Maira terperangah memandang kedua teman nya. Kenapa mereka melarang??


"Gak bisa, kita udah janjian hari ini mau belajar bareng" sahut Nindi dengan cepat.

__ADS_1


"Belajar?" tanya Ervan dengan heran. Sejak kapan mereka serajin ini???


"Iya, nilai Maira anjlok semua, jadi dia harus banyak belajar" sahut Putri pula


Maira langsung melebarkan matanya mendengar perkataan kedua sahabatnya. Apa apaan mereka.


Namun baru ingin membuka mulutnya, Nindi langsung beranjak dan menarik lengan Maira dengan cepat. Begitu pula dengan Putri.


"Kami pulang duluan Van, bye" ucap Nindi yang langsung menarik Maira


"Ehh Nin..." seru Maira yang langsung beranjak dengan terpaksa dan mengikuti langkah kaki Nindi dan Putri yang membawanya keluar dari kantin.


Ervan memandang mereka dengan aneh. Ada apa dengan sahabat Maira??? Kenapa mereka jadi membatasi hubungan nya dengan Maira seperti ini. Apa mereka masih marah karena Ervan yang lebih memilih membela Erika dari pada Maira??? Tapi kan mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


..


Sedangkan diluar kantin, Maira langsung melepaskan tangan Nindi dari lengan nya.


"Nin... apaan sih? kalian kenapa coba??" tanya Maira begitu heran.


Nindi memandang Maira dengan lekat.


"Plis deh Mai, buka mata Lo baik baik. Kalau Lo belum bisa nerima dokter Danar jadi suami Lo, setidak nya Lo hargai dia. Jangan mau aja diajak Ervan. Lo gak mau kan dokter Danar tahu" ujar Nindi


Maira tertegun mendengar itu.


"Lo harus mikirin akibat nya Mai kalau dokter Danar tahu" sahut Putri pula.


Maira menggeleng bingung, dia menyibakkan rambutnya sekilas dan menghela nafas perlahan.


"Gue tahu Nin, Put. Gue tahu. Gue udah bilang kan sama kalian, waktu gue sama dokter Danar masih ada dua bulan lagi untuk nentuin hubungan gue sama dia. Tapi gue juga gak bisa jauhin Ervan langsung. Hati gue gak Setega itu. Cinta gue masih sama dia. Kalian tahu kan" kata Maira begitu lugas


"Gue tahu Ervan selalu ngelakuin kesalahan, dan dokter Danar baik Dimata kalian. Tapi kan gak semudah itu. Kalian gak ngerasain apa yang gue rasa" tambah Maira lagi.


"Kami cuma ngingetin Mai. Kamu takut Lo nyesel" kata Putri.


"Gue tahu, tapi gue juga butuh waktu" sahut Maira. Matanya berkaca kaca sekarang.


"Ini gak semudah yang kalian fikirkan" kata Maira yang kini mulai menahan tangis nya.


"Mai..." panggil Nindi, namun Maira langsung menggeleng.

__ADS_1


"Gue mau pulang" ucap Maira yang langsung pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


Putri dan Nindi saling pandang bingung dan menghela nafas dengan berat.


__ADS_2