Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Bertemu Ervan Dan Orang Tuanya


__ADS_3

Pagi ini Maira bangun sedikit lebih siang. Setelah selesai shalat subuh tadi dia memutuskan untuk tidur lagi.


Dan sekarang dia baru selesai membersihkan dirinya. Jam sudah pukul delapan pagi, dan dokter Danar juga sudah mulai bekerja. Dia bilang pagi ini ada pasien yang ingin kontrol, jadi mungkin saja suami tampan nya itu sudah pergi keluar.


Maira memakai hijabnya didepan cermin yang memang sudah disediakan dokter Danar untuk dia berhias.


Namun tiba tiba matanya memandang keatas meja sofa. Ada sepiring roti bakar dan juga segelas susu.


Ah... suami nya ini benar benar pengertian dan tahu jika Maira memang sudah lapar bangun tidur begini.


Setelah rapi, Maira langsung berjalan kearah sofa dan duduk disana.


Dibawah gelas susu nya ada sebuah memo kecil.


Maira meraih nya dan membaca tulisan itu. Bibirnya langsung mengulas senyum melihat pesan cinta dari suami nya.


'Dihabiskan sarapan nya ya sayang. I love you Mairaku'


Maira tertawa kecil membaca memo itu.


Sejak kapan dokter Danar yang kaku dan disiplin itu bisa menjadi semanis ini. Ya ampun, Maira jadi tidak bisa berhenti tersenyum sekarang.


Akhirnya sembari memperhatikan kertas itu terus menerus, Maira menghabiskan sarapan nya dengan cepat. Dia memang sudah lapar, ditambah dengan pesan cinta dokter Danar. Membuat Maira semakin bersemangat pagi itu. Mood nya yang semalam berantakan, kini kembali membaik.


Dokter Danar memang suami terbaik.


Masha Allah... Maira benar benar beruntung mendapatkan suami seperti dia.


Semoga Allah senantiasa menjaga rumah tangga mereka.


Setelah selesai sarapan, Maira langsung pergi keluar dari ruangan itu dan tidak lupa dengan botol jus kiwinya. Menutup pintu dan menguncinya seperti pesan dokter Danar. Ya, karena ada Maira, ruangan dokter Danar kini menjadi ruangan yang tidak bisa dijamah oleh orang lain. Bahkan jika ada pasien yang ingin kontrol, kini dokter Danar sudah menyediakan tempat lain.


Untung saja rumah sakit ini milik orang tua dokter Kemala, jadi tidak akan ada yang melarang.


Maira berjalan menuju lift dimana dia akan turun ke lantai bawah untuk keruangan Nindi. Putri pasti sudah pergi kuliah sekarang, dan Nindi juga pasti hanya berdua bersama mamanya.


Ah Maira sudah tidak sabar untuk pulang kerumah. Untung saja besok Nindi sudah diperbolehkan pulang dan beristirahat dirumah. Maira cukup lega.


Bruk


"Auh... maaf maaf" ucap Maira seraya meringis dan memegangi bahu nya yang terasa sakit karena tanpa sengaja dia malah menabrak orang yang keluar dari dalam lift.

__ADS_1


Maira benar benar tidak melihat karena asik melamun.


Mata Maira langsung melebar ketika melihat ternyata yang Maira tabrak ada mama Ervan, dan... Ervan yang juga baru keluar seraya mendorong kursi roda ayahnya.


"Maira... kamu Maira kan" kata mama Ervan.


Maira langsung tersenyum canggung dan langsung mengangguk.


"Iya Tante. Maaf, Maira gak sengaja" ucap Maira seraya langsung meraih tangan mama Ervan dan mencium nya.


Ervan juga terkejut melihat Maira, tapi dia tidak berkata apa apa, hanya memandang Maira dengan pandangan yang tidak bisa di artikan.


Mama Ervan memandang Maira dari atas kebawah dengan pandangan yang terlihat heran namun juga sedikit sinis.


"Berubah banget penampilan kamu sekarang. Udah taubat" sindir mama Ervan.


"Mama" tegur Ervan


Maira hanya tersenyum seraya melirik Ervan sekilas dan memandang tuan Wira yang duduk dikursi roda.


"Gimana keadaan om, sudah lebih baik kan?" sapa Maira seraya meraih punggung tangan taun Wira dan mencium nya. Dia sama sekali mengabaikan perkataan mama Ervan.


"Kenapa kamu disini? sakit juga?" tanya mama Ervan yang sebenarnya penasaran.


"Enggak Tante, Maira disini..."


"Assalamualaikum, sudah datang ternyata tuan,.nyonya" sapa dokter Danar yang tiba tiba sudah datang saja.


Maira bahkan sampai terkejut mendengar suara nya.


Maira langsung memandang dokter Danar yang tersenyum memandang mereka semua. Terutama Ervan, karena lagi lagi dia harus bisa menahan hati nya yang sakit melihat ini. Apalagi ketika dia tahu jika sekarang Maira sudah hamil anak dokter Danar.


Sakit sekali rasanya.


"Waalaikumsalam dokter. Kamu baru saja sampai. Tapi malah ketemu teman Ervan disini. Jadi berhenti" jawab mama Ervan seraya memandang Maira dengan pandangan tidak suka.


Sejak dulu dia memang tidak menyukai Maira. Karena saat Ervan menjalin hubungan dengan Maira, putra semata wayangnya itu benar benar nakal. Sering bolos, sering berbohong, dan sering pulang pagi hanya karena ingin bersama Maira. Orang tua mana yang tidak marah jika seperti itu.


Dokter Danar tersenyum dan memandang Maira, dan yang membuat mama Ervan terkejut adalah, dokter Danar merangkul bahu Maira sejenak dan mengusap nya dengan lembut.


"Iya nyonya, kenalkan, jika teman Ervan ini adalah istri saya" ucap dokter Danar.

__ADS_1


Mata mama Ervan dan tuan Wira langsung terbelalak kaget mendengar itu.


"Istri?" seru mama Ervan tidak percaya.


Namun dokter Danar langsung tersenyum dan mengangguk.


"Ya, Maira istri saya. Benarkan Ervan" kini dokter Danar memandang pada Ervan yang langsung mengangguk dan tersenyum getir.


"Iya ma, Maira istri dokter Danar" sahut Ervan. Nada suara nya benar benar terdengar begitu getir.


Mama Ervan menggeleng tidak percaya. Bahkan dia memperhatikan Maira dengan lekat.


Bagaimana mungkin gadis nakal ini bisa menjadi istri dari dokter Danar. Yang bahkan jauh lebih baik dari pada putra nya sendiri.


"Sayang, kamu bisa keruangan Nindi sekarang, mas mau memeriksa tuan Wira dulu ya" ujar dokter Danar pada Maira. Dia mengabaikan pandangan terperangah mama Ervan.


"Iya mas" jawab Maira seraya meraih tangan dokter Danar dan mencium nya dengan penuh bakti. Dokter Danar juga mengusap kepala Maira sejenak.


Dan itu tidak lepas dari pandangan ketiga orang itu yang begitu terkejut. Berbeda dengan Ervan, dia langsung memalingkan wajahnya.


Sungguh, tidak sanggup hati nya melihat pemandangan menyakitkan ini.


Meski sudah rela dan menerima, tapi tetap saja, perasaan yang masih tersimpan didalam hatinya itu tidak bisa di abaikan begitu saja.


Masih sama dan masih begitu sakit.


"Maira permisi dulu Tante, om" pamit Maira pada mama Ervan dan tuan Wira.


Maira melirik Ervan sekilas, dan setelah itu, dia langsung pergi meninggalkan mereka semua.


"Ayo kita keruangan saya" ajak dokter Danar yang langsung mematahkan wajah terperangah mama Ervan.


Sungguh ini sangat sulit untuk diterima. Bahkan dia menolak dengan tegas Maira menjadi menantu nya. Tapi kenapa dokter Danar yang memiliki segalanya malah mau menjadikan Maira sebagai istrinya.


Astaga...


Sementara Maira sudah berada didalam lift. Dia mengusap perut nya yang tiba tiba menjadi mual. Entah kenapa bertemu dengan Ervan dan kedua orang tuanya malah membuat Maira mual. Untung saja dia tidak muntah didepan mereka tadi.


Huh...


Beruntung nya Maira dokter Danar datang tepat waktu, sehingga dia bisa mematahkan pandangan sinis dan perkataan remeh dari mama Ervan itu.

__ADS_1


__ADS_2