
Erika memandang Ervan yang sedari tadi terlihat tidak ingin menoleh kearahnya. Wajah Ervan terlihat canggung dan sedikit malu???
Dan lagi, Erika juga bingung tentang perkataan kakek tua tadi tentang lukisan bunga layu itu. Lukisan pertama Erika. Benarkah jika Ervan yang membelinya??
Ervan menyesap minuman gelas yang ada ditangan nya seraya dia yang memandang orang orang yang terlihat berlalu lalang didepan mereka. Karena saat ini mereka sedang duduk disebuah kursi dan sedang menunggu pesanan nasi goreng untuk Akbar dan Ayu.
"Van..." panggil Erika. Terdengar ragu.
"Hmm" gumam Ervan. Masih tanpa memandang pada Erika.
"Benar kamu yang membeli lukisan itu?" tanya Erika.
"Kenapa memang nya?" tanya Ervan. Masih saja terdengar ketus.
"Tidak apa apa. Itu lukisan pertama ku, masih sangat banyak kurang nya. Tapi itu lukisan yang sangat aku sukai" ungkap Erika.
Ervan nampak tertegun mendengar itu. Dia menoleh kearah Erika sekilas.
"Mana aku tahu jika itu lukisan mu" ucap Ervan.
"Setelah kamu tahu, kamu.... tidak akan membuang nya kan?" tanya Erika.
Ervan langsung mendengus kesal. Apa Erika berfikir jika dia setega itu hingga harus membuang lukisan nya.
"Aku sudah membeli mahal lukisan itu. Jika aku buang, bukankah itu sama saja mubazir dan membuang buang uang" sahut Ervan terdengar kesal.
Namun Erika malah tersenyum dan mengangguk.
"Jika kamu sudah tidak suka lagi karena tahu itu adalah lukisan ku, kamu bisa memulangkan nya padaku ya Van" pinta Erika.
Ervan memandang Erika sekilas, dan langsung memalingkan wajahnya saat penjual nasi goreng itu sudah memanggil mereka.
"Nih uang nya" ujar Ervan tanpa ingin membalas perkataan Erika barusan.
"Enggak usah, pakai uang ku aja" jawab Erika yang langsung beranjak dari duduk nya.
Namun lagi lagi Ervan malah menarik ujung hijab Erika hingga gadis itu terhenti dan memandang Ervan dengan bingung.
"Nih pak" Ervan beranjak dan langsung menyerahkan uang merah yang dia ambil dari saku celana nya.
"Kembalian nya ambil aja. Makasih pak" ucap Ervan yang kembali menarik Erika pergi dari tempat itu.
"Van... kenapa sih?" tanya Erika seraya menarik hijab nya dari tangan Ervan. Heran sekali dia melihat lelaki ini yang sejak pertama bertemu tadi sudah bersikap aneh.
__ADS_1
Erika jadi takut sebenarnya.
"Aku juga ingin berbuat baik, kenapa kamu melarang?" tanya Ervan pula.
"Aku enggak melarang, tapi kan aku ada uang juga. Kamu lihat tadi aku baru dapat uang" jawab Erika seraya berjalan disamping Ervan menuju motornya terparkir.
"Lagian juga cuma beberapa, gak mahal. Untuk adik adik aku juga" gumam Erika. Terdengar kesal. Ervan langsung tersenyum tipis mendengar gerutuan Erika.
"Sudah lah, ayo kita ke masjid dulu. Sudah ashar. Tidak usah cerewet" ujar Ervan.
Erika hanya bisa menghela nafas pasrah dan mengangguk pelan seraya mengikuti langkah kaki Ervan menuju sebuah mesjid kecil yang ada disekitar taman itu.
Dan akhirnya sore itu mereka bersama sama shalat ashar disana. Ada perasaan yang tidak bisa mereka jelaskan satu sama lain.
Tidak pernah sedekat dan seakrab ini, bahkan Ervan masih mengingat jika dulu dia paling malas dan paling jengah jika Erika sudah berusaha untuk mendekatinya dengan berbagai alasan. Apalagi jika mengajak nya untuk keluar, Ervan benar benar malas. Tapi anehnya, sekarang malah dia yang mengajak Erika.
Yah, hanya rasa simpati karena melihat keadaan Erika yang seperti ini. Begitu kan???
Melihat Erika yang sudah jauh berubah, bahkan Ervan seperti tidak mengenal nya sebagai Erika yang dulu. Ditambah dengan segudang masalah yang di alami Erika membuat Ervan semakin tidak tega untuk membiarkan dia sendirian. Apalagi dengan penyakit yang diderita oleh Erika.
Sebegitu kuatkah dia??
Padahal dia hanya sendirian.
Miris sekali kan.
Walau mungkin ini adalah akibat perbuatan nya yang dulu, tapi rasanya pembalasan dari Allah ini sudah melebihi kadar kejahatan yang dilakukan oleh Erika kan?
Dia yang sering mencari masalah dengan Maira, kini dia yang dijauhi oleh teman teman nya. Dia yang membenci Maira, kini malah dia yang dibenci oleh semua orang. Dan dulu dia yang mengagung agungkan jabatan ayahnya, kini malah dia yang terusir dengan begitu hina.
Yah, roda kehidupan berputar begitu saja. Tidak terbayangkan jika Erika akan seperti sekarang.
Dia sudah menerima karma atas perbuatannya dahulu, tapi beruntungnya, hatinya terbuka karena rasa sakit yang dia terima.
Masha Allah... Allah memang maha baik kan.
Ervan memandang Erika yang duduk termenung menunggu nya didepan teras mesjid. Ervan sedikit lama karena mendengar kajian dan nasehat dari beberapa ulama yang ternyata ada disana juga. Jadi Erika menunggu nya didepan.
Wajah gadis ini memang pucat dan layu, dan Ervan tidak meragukan lagi perkataan dokter Danar. Jika Erika memang sedang sakit dan tidak baik baik saja.
Dia sendirian dalam keadaan seperti ini. Pasti dia merasa ketakutan setiap saat.
Bertahun tahun Ervan mengenal Erika, dan dia tahu bagaimana sikap gadis ini. Gadis manja yang selalu hidup dibawah tangan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Dan sekarang, Erika sendirian menanggung rasa sakit dan kebencian orang orang.
Menyedihkan.
"Ayo" ajak Ervan.
Erika yang entah sedang melamunkan apa langsung terkesiap kaget. Dia mendongak dan memandang Ervan yang sudah berjalan ke motornya.
"Van... kamu tidak apa apa mengantar aku pulang lagi?" tanya Erika yang berjalan mendekat kearah Ervan.
"Enggak,.searah juga. Lagian aku juga mau ketemu sama Akbar. Udah janji bakal ngajarin dia belajar lagi" jawab Ervan.
"Tapi aku gak enak ngerepotin kamu terus" sahut Erika.
Ervan hanya memandang nya sekilas dan langsung naik ke motornya.
"Biasa aja. Lagian aku juga mau ketemu Akbar, bukan mau baik sama kamu" jawab Ervan.
Erika langsung tertegun dan tersenyum getir mendengar itu. Kenapa jahat sekali perkataan itu. Tapi... ya mau bagaimana lagi, sudah syukur Ervan tidak lagi menyalahkan nya kan.
"Sudah naik" ujar Ervan
Erika hanya mengangguk pelan dan langsung naik keatas motor Ervan. Namun dia sedikit meringis saat merasa jika pinggang nya tiba tiba berdenyut lagi. Bahkan Erika langsung tertunduk dengan gigi yang menggigit bibirnya agar rasa sakit itu berkurang.
"Kenapa?" tanya Ervan yang ternyata melihat ekspresi Erika dari kaca spion nya.
Erika menarik nafas nya dalam dalam dan menggeleng pelan.
"Enggak apa apa" jawab Erika, dengan suara yang terdengar begitu pelan.
Namun dapat Ervan lihat jika wajah Erika yang semakin pucat seperti menahan sakit.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Langsung mengajak Erika berobat???
Tapi tidak mungkin kan, Erika pasti tidak mau dan dia juga merasa aneh dan canggung, sebab dia yang dulu begitu membenci Erika tapi malah langsung perduli.
Apalagi melihat Erika yang sekarang, dia seperti menutupi semua yang dia rasakan dari orang lain. Bahkan jika dulu Erika selalu ingin menempel padanya, tapi kini Erika terlihat menghindar jika Ervan tidak memaksa.
Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana caranya untuk memberi Erika semangat agar dia bisa berobat dan sembuh lagi???
Ervan bingung.
__ADS_1