
Siapa yang menyangka jika perjalanan takdir tidak pernah terbayangkan oleh mereka semua. Hal yang dulu pernah menjadi sesuatu yang sensitif, kini terlihat sudah biasa bahkan ikut merasa senang dan bahagia melihat kebahagiaan mereka.
Ya, hari ini adalah hari pernikahan Erika dan Ervan. Pernikahan yang digelar disalah satu hotel mewah yang ada dikota itu. Pernikahan yang besar yang dihadiri oleh semua kalangan menengah keatas. Karena keluarga Ervan merupakan keluarga terpandang. Begitu pula dengan keluarga Erika.
Maira yang duduk dimeja tamu memandang kearah pelaminan dimana Ervan dan Erika sedang menerima tamu mereka.
Dulu dia begitu tidak suka melihat Erika yang selalu mendekati Ervan. Tapi kenyataan nya sekarang, mereka malah menikah.
Bukan rasa benci lagi yang Maira rasakan, tapi rasa bahagia karena Ervan juga sudah menemukan kebahagiaan seperti dirinya.
Mantan kekasih Maira dan juga orang ketiga dalam hubungan nya dulu. Lucu sekali jika dikenang kenang. Bahkan Maira masih ingat, dia yang berkelahi dengan Erika sampai wajah nya bonyok karena bertengkar memperebutkan Ervan.
Setiap hari tidak pernah tenang dan selalu saja ada yang diributkan dengan gadis itu. Tapi sekarang, semua telah berbeda. Mereka sudah menjadi teman dekat.
Maira benar benar bahagia melihat mereka. Karena pada akhirnya, Allah lah yang menentukan mereka akan bersama siapa.
Mau dipaksakan seperti apapun, jika tidak berjodoh, maka tidak akan bersatu juga. Tapi jika dipasrahkan pada sang pemilik takdir. Maka kita pasti akan mendapatkan yang terbaik dari yang baik.
Seperti Maira saat ini, dia yang menjalin hubungan dengan Ervan bertahun tahun, namun kenyataan nya jodoh nya adalah dokter Danar.
Dan Ervan yang begitu membenci Erika dulu, kini malah menjadi istri nya.
Takdir cinta yang begitu unik bukan.
Mau bagaimanapun manusia berencana, tapi jika Allah sudah berkehendak, manusia bisa apa.
Yang jelas, jodoh terbaik kita sudah disediakan oleh Nya. Hanya perlu menunggu dan memperbaiki diri untuk lebih baik.
Maira terkesiap saat sebuah tangan mengusap bahunya dengan lembut. Dia langsung menoleh, dan ternyata dokter Danar yang sedang memandang nya dengan pandangan nya yang teduh.
Ah... ini lah jodoh Maira. Jodoh terbaik yang Allah beri. Yang paling baik menjadi seorang suami.
Masha Allah...
"Sedang memikirkan apa?" tanya dokter Danar
Maira tersenyum dan menggeleng pelan. Dia kembali memandang keatas pelaminan dimana kini mereka sedang berfoto foto bersama para tamu dan beberapa keluarga Ervan dan Erika.
"Enggak ada, cuma gak nyangka aja, kalau ternyata Ervan sama Erika memang berjodoh" jawab Maira.
Dokter Danar langsung mendengus senyum mendengar itu.
"Jodoh sudah ada yang mengatur sayang" ucap dokter Danar.
Maira langsung mengangguk setuju.
"Gak nyangka banget sih emang. Padahal dulu kita selalu berantem sama dia. Tapi sekarang malah jadi teman" ucap Nindi yang datang dengan membawa es buah ditangan nya.
"Iya kan. Bahkan aku masih ingat waktu kita berantem sama dia Sampek bonyok" jawab Maira dengan tawa kecil nya. Membuat Nindi juga ikut tertawa.
"Bener banget Mai. Untung aja ada dokter Danar, jadi kita gak dikeluarin" jawab Nindi yang semakin tertawa lebar.
"Kalau gak gitu, bisa bisa kalian yang dikeluarin" sahut dokter Danar.
"Memang terbaik, suami Maira" ucap Maira yang langsung memeluk dengan gemas lengan kekar suami nya.
"Heleh... padahal waktu itu masih susah dideketin ya dokter" sindir Nindi.
Dokter Danar terkekeh lucu dan mengangguk pelan.
"Benar.. dia masih termakan pesona lelaki yang ada diatas sana" jawab dokter Danar seraya menunduk Ervan dengan dagu nya.
Nindi langsung terbahak sementara Maira tertawa malu.
"Kan sekarang udah gak lagi, udah cinta banget sama suami Maira yang tampan ini" ucap Maira seraya memainkan alisnya. Membuat dokter Danar mencubit gemas hidung Maira. Mana perduli mereka sedang berada dimana sekarang.
"Iya, cinta nya Sampek udah bucin banget ya dokter" ledek Nindi.
Maira mendengus senyum dan mengendikan bahunya.
"Cuma kalau lagi berdua gini bisa manja dan bucin. Kalau udah dirumah, kalah aku sama Aiza" jawab Maira.
Membuat dokter Danar dan Nindi kembali tertawa .
"Saingan kamu sih Mai. Tapi kenapa gak dibawa sih. Kan aku pengen ketemu" tanya Nindi
Maira menggeleng pelan dan mencomot es buah Nindi
"Mana dibolehin sama ibu. Lagian disini dia pasti gak betah. Masih kecil banget kasihan kalau dibawa bawa" jawab Maira.
"Iya juga ya" gumam Nindi.
"Kan bisa kamu yang kerumah." sahut dokter Danar pula. Maira langsung mengangguk setuju.
"Iya, kamu udah jarang kerumah sekarang" ucap Maira pula.
"Jarang gimana, baru juga seminggu yang lalu. Nanti kalau sering sering di kira aku naksir tukang kebun kamu lagi" jawab Nindi
Maira tertawa dan menggeleng.
__ADS_1
"Udah sibuk ngurus salon Tante ya?" tanya Maira.
Nindi langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya, gak ada kerjaan. Jadi dari pada bosan, lebih baik kerja. Hitung hitung belajar cari uang sendiri" jawab Nindi
"Bagus itu, dari pada galau karena Brian terus" sahut dokter Danar.
Nindi langsung mengerucutkan bibirnya sekilas.
"Walau lagi sibuk tetap ingat juga dokter" gerutu Nindi. Maira kembali tertawa geli mendengar itu.
"Sabar. Satu tahun lagi" jawab Maira.
"Mana ada satu tahun. Satu tahun tiga bulan lagi tahu" ralat Nindi.
"Gak terasa kok" jawab Maira.
"Terasa lah Mai. Bayar cicilan aja terasa, apalagi nunggu perasaan yang gak jelas. Huh.... menyedihkan" ungkap Nindi. Wajahnya terlihat sedih, tapi itu malah membuat Maira tertawa.
"Jika ada yang melamar kamu sebelum Brian kembali bagaimana?" tanya dokter Danar tiba tiba.
Maira dan Nindi langsung terdiam. Bahkan Maira langsung memandang Nindi dengan lekat. Benar juga yang dikatakan dokter Danar. Maira jadi ingin tahu.
Apalagi diusia mereka yang sudah dewasa seperti saat ini.
Nindi langsung meletakkan toples kue yang dia pegang keatas meja. Menghela nafasnya dengan berat dan memandang dokter Danar dan Maira bergantian.
"Menurut dokter bagaimana?" tanya Nindi pula.
"Kenapa malah balik bertanya?" tanya dokter Danar.
"Pasti bingung" sahut Maira.
Nindi tersenyum getir dan mengangguk pelan. Meski masih kata seandainya, tapi dia juga jadi membayangkan hal itu.
"Bingung sih, tapi.... saya masih tetap menunggu dia dokter " jawab Nindi akhirnya, membuat Maira langsung tersenyum simpul.
"Jika sudah lama menunggu, dan kalian tidak berjodoh, bagaimana?" tanya dokter Danar kembali.
"Mungkin baru akan mencoba membuka hati untuk yang lain. Bukan kah dokter yang bilang jika jodoh pasti akan bertemu. Untuk sekarang, saya masih selalu melangitkan doa atas nama nya. Berharap, jika takdir akan berpihak pada saya" jawab Nindi dengan begitu serius.
Dokter Danar langsung tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
"Saya suka dengan kayakinan kamu. Tapi tetap ingat, pasrah kan semuanya pada Allah. Jika dia yang terbaik, dia pasti akan kembali padamu" ucap dokter Danar.
Nindi langsung mengangguk dengan cepat.
"Semangat, semangat menunggu, dan semangat untuk memperbaiki diri" ujar Maira.
"Yah, itu yang memang harus dilakukan sampai nanti" jawab Nindi dengan tawa kecilnya, membuat Maira juga ikut tertawa.
"Oh iya, Putri mana nih, kenapa belum datang?" tanya Maira.
"Diakan lagi ngidam, jadi mungkin sorean nanti baru datang. Sama kayak kamu dulu, tapi sekarang, Putri kayak nya lebih parah. Mau nya tidur terus. Udah itu ngidam nya juga ada aja. Kadang kasihan kak Dika sampai kesana kemari cari kemauan istrinya" jawab Nindi.
"Itu memang sudah tugas suami" sahut dokter Danar.
"Iya sih, tapi mudah mudahan dia cuma ngerepotin suami nya aja. Jangan kayak istri dokter dulu nih, yang suka nya semua orang dibikin sibuk" ucap Nindi
Maira langsung tertawa lucu dan menggeleng, begitu pula dengan dokter Danar. Mereka jadi ingat bagaimana kegilaan Maira dulu saat mengandung Aiza. Semua orang terkena imbas nya. Dan terbukti sekarang, putri mereka juga suka sekali dekat dengan siapapun.
"Kan sekarang udah enggak lagi" jawab Maira.
"Kalau lagi pun, ogah aku nurutin nya" sungut Nindi.
Maira kembali tertawa dan menggeleng pelan.
"Udah ah, ngomel Mulu deh. Mending kita foto aja. Aku gak bisa lama lama ninggalin Aiza dirumah. Kasihan ibu" ujar Maira seraya membereskan barang barang nya.
"Yaudah yuk, udah mulai sepi juga" sahut Nindi.
"Yuk mas" ajak Maira pada Dokter Danar .
Dokter Danar hanya mengangguk saja dan langsung beranjak mengikuti Maira.
Mereka berjalan kearah pelaminan dengan Maira yang menggandeng lengan dokter Danar dengan mesra. Dilihat oleh semua tamu undangan yang hadir diacara itu. Dimana juga terdiri dari mahasiswa dan juga ada beberapa dosen yang di undang Ervan.
Sejak dulu, dimanapun dan kapanpun, pesona dokter Danar memang tidak bisa dialihkan. Mau bagaimanapun penampilan nya, tetap saja selalu mempesona Dimata para kaum hawa yang melihat.
Jika sedang memakai pakaian dokter dia terlihat berwibawa, maka disaat memakai batik seperti ini, membuat dia semakin mempesona. Aura yang dia miliki benar-benar membuat hati dan mata yang memandang tidak bisa teralihkan.
Betapa beruntungnya Maira mendapatkan sosok suami seperti dokter Danar. Yang sudah paket lengkap dan menjadi incaran para kaum hawa.
"Cieee yang sudah sah" goda Maira seraya memeluk Erika sekilas.
Erika tertawa dan mengangguk pelan.
"Terimakasih udah datang ya Mai" ucap Erika.
__ADS_1
"Datang dong, rugi aku kalau gak datang" jawab Maira dengan tawa kecilnya. Membuat mereka langsung ikut tertawa.
"Selamat, harus bisa menjadi suami yang bertanggung jawab dunia akhirat" ujar dokter Danar pada Ervan. Seraya dia yang menjulurkan tangan nya pada Ervan.
"Terimakasih dokter." jawab Ervan seraya menjabat tangan dokter Danar.
"Semoga cepat dapat momongan ya. Supaya bisa sahabatan anak anak kalian nanti" ujar Nindi yang kini memeluk Erika.
"Aamiin. Doain aja. Semoga kamu juga cepat nyusul ya" jawab Erika.
"Aamiin" jawab Nindi
"Selamat Van... gak nyangka bakal nikah juga" kali ini Maira beralih pada Ervan.
"Nikah dong, aku juga pengen bahagia seperti kalian" jawab Ervan membuat Maira tertawa sedangkan dokter hanya tersenyum tipis saja.
"Kalian pasti bahagia jika saling mengerti dan menerima" ujar dokter Danar.
"Tentu Dokter" jawab Ervan dengan cepat.
"Nah gitu dong, mantan sama suami akur. Kan adem lihatnya" goda Nindi.
Maira dan Ervan langsung tertawa. Lucu sekali jika mengingat ingat itu.
Sedangkan dokter Danar dan Erika hanya tersenyum saja.
"Emang dari dulu akur kali Nin" sahut Ervan.
"Oh iya ya, cuma kan pasti ada yang sakit hati dan ada yang nangis juga dulunya" goda Nindi lagi.
"Udah deh, berisik. Godain orang terus. Mending kita foto aja buat kenang kenangan " Ujar Maira. Dia sudah tidak enak melihat raut wajah Erika yang nampak lain. Walau bagaimana pun sekarang sudah tidak bisa saling menggoda lagi. Ada hati yang harus dijaga.
"Putri kok gak ada Mai, Nin?" tanya Erika.
"Gak ada, dia lagi ngidam. mungkin entar sore atau malam dia baru datang" jawab Nindi. Dan Erika langsung ber oh saja.
Dan pada akhirnya, mereka langsung berfoto bersama. Dengan beberapa kali sesi foto dan dengan bermacam macam gaya. Foto yang akan menjadi kenang kenangan untuk mereka dimasa yang akan datang.
Foto yang menandakan jika mereka adalah teman dekat hingga orang orang yang melihat foto ini tidak akan pernah tahu jika mereka pernah berselisih paham hingga menimbulkan kenangan yang cukup buruk.
Dan akhirnya, Maira dan dokter Danar kembali pamit untuk pulang. Mereka tidak bisa meninggalkan Putri mereka terlalu lama. Meski sudah ada ibu yang membantu merawat, tapi akan berdosa sekali jika mereka masih merepotkan ibu.
"Kami pamit pulang dulu. Kamu jangan terlalu lelah Erika. Kesehatan kamu masih perlu dijaga" ujar dokter Danar pada Erika dan Ervan bergantian.
"Iya dokter, terimakasih" jawab Erika. Sedangkan Ervan hanya tersenyum dan mengangguk saja.
"Kami pamit dulu ya. Bye" sapa Maira yang mengusap lengan Erika sekilas dan kembali menggandeng lengan dokter Danar untuk berjalan keluar gedung. Sedangkan Nindi masih berada disana, bersama teman teman kuliah yang datang.
Setelah kepergian Maira, Erika langsung menoleh pada Ervan. Suaminya ini terlihat masih memandang kepergian dokter Danar dan Maira.
Ah... kenapa Erika jadi cemburu begitu. Ada ada saja.
Dan tanpa berkata apapun lagi, Erika langsung duduk dikursi pelaminan nya. Karen sungguh, berdiri terlalu lama membuat pinggang nya terasa begitu berdenyut lagi.
Ervan terkesiap, dia juga langsung ikut duduk disamping Erika.
"Kenapa, sakit lagi pinggang nya?" tanya Ervan. Wajahnya terlihat khawatir. Dia mengusap pundak Erika dengan lembut.
"Enggak, cuma udah gak nyaman aja Van. Kelamaan berdiri kayak nya" jawab Erika.
"Yaudah, kamu duduk aja. Biar aku yang nyambut tamu" ujar Ervan.
Erika mengangguk pelan.
"Kalau sakit bilang ya, biar kita masuk aja" kata Ervan lagi.
"Enggak kok, masih kuat" jawab Erika.
"Benar?" tanya Ervan.
Erika tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
Ervan juga ikut tersenyum dan memandang wajah Erika dengan lekat. Wajah yang entah kenapa semakin kesini, semakin terlihat cantik. Apalagi hari ini, sangat cantik dalam balutan gaun pengantin dan juga riasan make up. Membuat Erika terlihat berbeda.
"Kenapa malah ngelihatin aku begitu?" tanya Erika.
"Kamu cantik" jawab Ervan
Blush
Wajah Erika langsung merona merah. Bahkan dia langsung memalingkan wajahnya dari Ervan. Membuat Ervan langsung tersenyum gemas.
"Aku ngomong jujur. Kamu cantik sekali. Terimakasih sudah mau menjadi istriku" ucap Ervan. Terasa begitu dalam dan penuh perasaan. Hingga membuat hati Erika begitu tersentuh.
"Aku yang berterimakasih karena kamu sudah menjadikan aku wanita yang paling bahagia didunia ini" jawab Erika.
Dan kali ini Ervan yang nampak tertawa malu. Perkataan sederhana tapi mampu menyentuh hati nya.
"Aku mencintai kamu" bisik Ervan.
__ADS_1
"Aku juga cinta kamu" balas Erika.