
Dokter Danar duduk dikursi seraya memandangi Putri dan Dika yang nampak berdiri canggung didepan mereka. Sedangkan Maira memandang Putri dengan lekat dan penuh arti.
Sepertinya memang ada sesuatu diantara mereka. Apalagi mereka yang begitu terkejut melihat kedatangan Maira dan dokter Danar saat ini.
"Kenapa berdua duaan didalam ruangan, Dika?" tanya dokter Danar.
Dika tersenyum canggung dan menggaruk pelipis nya yang tidak gatal.
Dia melirik kearah Putri yang kini berjalan dan duduk disamping Maira.
"Maaf mas. Kan pintu nya gak ditutup" jawab Dika mencoba berkilah.
"Tetap saja tidak baik berada diruangan berdua. Apalagi dilantai dua ini sepi" kata dokter Danar.
"Tahu nih, ngapain coba lo kesini. Tumben amat" sahut Maira pada Putri.
"Cuma nemeni kak Dika doang. Katanya dia mau ngambil sesuatu disini. Baru juga kita sampai. Beneran deh dokter. Kita gak ngapa ngapain" ucap Putri pada Maira dan dokter Danar.
"Lagian kenapa bisa sama kak Dika Lo?" tuding Maira lagi.
"Dari rumah sakit" jawab Putri dengan cepat.
"Beneran" tanya Maira lagi.
"Iyalah, nih surat keterangan nya ada kalau Lo gak percaya" sahut Putri.
Maira hanya mendengus gerah dan berdecak sinis.
"Yasudah lah, kamu bisa sama Putri dulu kan sayang. Mas mau ngecek showroom sebentar. Gak lama" ucap dokter Danar.
"Iya, Mai nunggu diluar aja kalau gitu" sahut Maira.
"Jangan jauh jauh, turun tangga juga hati hati" kata dokter Danar.
"Iya, siap. Kan ada Putri yang jagain" jawab Maira.
Putri memandang dokter Danar dan Maira dengan heran. Kenapa bisa seposesif ini sekarang?
Maira langsung menarik lengan Putri untuk keluar, meninggalkan dokter Danar bersama Dika untuk bekerja. Tidak tahu apa yang dikerjakan, bukan urusan dia juga.
Mereka memilih duduk dianak tangga. Karena tempat itu sepi. Dibawah cukup ramai dan Maira tidak suka.
Apalagi melihat tatapan para sales itu, membuat nya jengah saja.
Putri memandangi Maira dengan aneh. Pasal nya sejak tadi dia selalu memeluk botol besar itu dan meminum nya sesekali.
"Itu apaan?" tanya Putri.
"Jus kiwi" jawab Maira.
__ADS_1
"Sejak kapan Lo suka kiwi, bukan nya Lo paling anti sama buah asem itu?" tanya Putri.
"Sejak semalem. Dan ini yang menyelematkan hidup gue" jawab Maira.
Putri langsung meringis mendengar itu.
"Apaan sih Mai. Gue jadi serem tahu Deket Deket Lo. Mana gak lepas lepas dari tadi. Besar banget lagi tuh botol" ucap Putri.
Maira langsung tertawa mendengar nya.
"Kalau gak minum ini gue mual Put" jawab Maira.
Putri mengernyit kan dahinya sekilas, namun sedetik kemudian matanya langsung melebar memandang Maira.
"Lo hamil Mai?" tanya Putri.
Maira tersenyum dan langsung mengangguk dengan cepat.
"Hah.. serius" tanya Putri benar benar tidak percaya.
"Iya, terus Lo kira gue yang kayak gini karena udah gak waras gitu?" ucap Maira seraya tertawa memandang wajah terkejut putri.
Putri langsung memeluk Maira begitu senang, bahkan dia mengusap perut Maira yang masih rata.
"Wah berarti bentar lagi gue bakal jadi aunty dong. Gak nyangka banget gue" ungkap Putri begitu senang.
"Iya, baru juga empat Minggu" sahut Maira.
Maira kembali tertawa dan mengangguk, seraya mengusap perut nya.
Namun tiba tiba dia mengernyit saat melihat wajah Putri yang berubah murung.
"Kenapa?" tanya Maira.
"Apa gara gara Lo hamil maka nya Lo gak masuk kuliah, atau jangan jangan dokter Danar udah ngelarang Lo kuliah lagi?" tanya Putri.
Maira tersenyum dan menggeleng.
"Enggak kok. Beberapa hari ini gue morning sickness. Mual terus muntah muntah, maka nya gue gak masuk. Dokter Danar juga gak ngelarang gue kuliah, mungkin besok atau lusa kalau udah gak mual lagi, gue juga bakal masuk. Bentar lagi kan kita ujian" ungkap Maira.
"Beneran kan. Gak enak banget kuliah kalau gak lengkap" ujar Putri.
"Benerlah, selagi perut gue belum besar ya gue masih kuliah" jawab Maira.
Putri langsung tersenyum dan mengangguk. Namun lagi lagi dia terdiam dan memandang Maira dengan lekat.
"Jadi kenapa Lo gak mau kita datengi?" tanya Putri.
"Gue udah pindah rumah, gak disitu lagi" jawab Maira.
__ADS_1
"Terus kenapa? gak mau ngasih tahu kita gitu" sewot Putri.
Maira langsung berdecak kesal mendengar itu.
"Ibu mertua gue Dateng. Gue gak enak dong. Lo tahu sendiri lah gimana kalau kita udah ngumpul. Apalagi si Nindi yang ceplas ceplos begitu. Bisa habis gue" jawab Maira.
"Emang nya ibu mertua Lo galak ya" bisik Putri.
Maira langsung mengangguk dengan cepat.
"Galak banget, Lo gak tahu aja gimana dulu dia ngancem gue kalau sampai gue gak bisa jadi istri yang baik untuk anak nya" balas Maira yang juga ikut berbisik.
Memang menantu durhaka, dia malah menceritakan perihal ibu mertua nya.
"Terus terus" tanya Putri lagi. Dia juga semakin penasaran, sebab selama ini Maira tidak pernah bercerita tentang mertuanya.
"Dia bilang kalau gue gak boleh sia siain permata yang bakalan bisa bikin hidup gue berubah. Dia juga nyuruh dokter Danar cerain gue kalau sampai gue gak bisa jadi istri yang baik" jawab Maira.
Putri sampai terperangah tidak percaya.
"Tapi beruntung nya gue, waktu ibu Dateng, gue malah hamil. Jadi aman gue. Dia malah makin sayang sama gue. Ini aja jus buatan nya" kata Maira lagi.
"Enak banget dong Lo" sahut Putri
Maira langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya, anak gue ternyata bawa berkah" kata Maira seraya mengusap perut nya.
"Dan gue gak nyangka, ternyata Lo bisa buat anak juga" sahut Putri dengan tawa lucu nya, membuat Maira juga ikut tertawa.
"Sialan Lo. Udah tiga bulan lebih gue nikah, kalau gak beranak juga itu baru aneh" jawab Maira.
Putri langsung terbahak mendengar nya.
"Eh, tapi gue masih penasaran, kenapa Lo bisa sama kak Dika?" tanya Maira.
"Kan udah gue bilang gue kerumah sakit ngontrol tangan gue" jawab Putri seraya memalingkan wajah nya dari Maira.
Maira langsung tersenyum penuh arti memandang Putri.
"Pasti udah ada apa apa kan sekarang. Ngaku Lo" tuding Maira.
"Gak ada, sesuatu apaan?" tanya Putri seraya menampar tangan Maira dengan kesal.
"Jangan main rahasia rahasia an Lo Put. Atau gue tanyak langsung nih sama orang nya" ancam Maira.
"Mau tanyak apa. Orang kita belum jadian kok. Kak Dika malah mau nya kita langsung tunangan. Gila kan tuh orang" ungkap Putri tanpa sadar.
"Tunangan?" gumam Maira dengan wajah yang terperangah.
__ADS_1
Putri langsung meringis dan menepuk mulutnya yang kelepasan.
"Waaaaahh bagus dong itu. Biar cepet nyusul gue punya Dedek bayi" sahut Maira begitu girang. Tanpa tahu dibelakang mereka ternyata Dika dan dokter Danar mendengar itu.