
Maira duduk dengan pandangan tertunduk disebuah kursi taman kampus tidak jauh dari parkiran motor nya. Sedangkan Ervan masih menatapnya begitu lekat dan penuh makna. Sudah lima belas menit berlalu sejak Ervan menemui Maira diparkiran kampus tadi, tapi mereka belum ada berkata sepatah katapun hingga saat ini.
Maira dengan hati dan fikirannya yang begitu terasa gundah dan resah sekarang. Rasa rindu, cinta dan rasa bersalah yang begitu besar berkumpul menjadi satu dihatinya, hingga membuat dia begitu sulit untuk membuka mulut. Bahkan untuk menatap wajah lelaki pemilik hatinya ini saja dia begitu takut sekarang.
Rasanya dia ingin memeluk dan menangis seperti biasa pada Ervan, seperti ketika dia sedang ada masalah atau sedang gundah. Namun sekarang, dia tidak mungkin lagi bisa berbuat begitu, karena masalahnya yang cukup rumit. Maira telah mengkhianati cinta mereka.
"Sampai kapan kamu akan diam saja seperti ini Maira?" tanya Ervan akhirnya.
Maira terlihat menarik nafasnya dalam dalam. Dia harus apa sekarang? Dia begitu bingung.
Maira semakin tertunduk dan menggigit bibir bawahnya dengan mata yang telah berkaca kaca, bahkan nyaris penuh dan tumpah
"Satu bulan tiga hari kamu menghilang gak ada kabar. Kamu mutusin aku gitu aja, tanpa aku tahu salah aku dimana" ungkap Ervan. Nada suara nya terdengar begitu getir. Dia sedih, dia kecewa dan dia rindu, tapi sejak tadi Maira hanya diam dan terus diam.
"Apa aku punya salah sama kamu?" tanya Ervan. Maira langsung menggeleng lemah dan berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya, namun percuma
"Lalu kenapa kamu pergi dan mutusin aku Maira?" tanya Ervan lagi. Namun Maira masih diam, hanya air mata yang terus menerus jatuh menetes diwajahnya
"Maira jawab aku" seru Ervan yang sudah hilang kesabaran
Maira sedikit terkesiap, namun bukan nya menjawab dia malah semakin terisak dan menangis membuat Ervan semakin kesal dan bingung. Entah apa yang terjadi dengan Maira, tapi dia butuh penjelasan sekarang, bukan air mata nya
"Maira" panggil Ervan
"Maira lihat aku" Ervan menarik lengan Maira hingga membuat Maira langsung menghadap kearahnya dengan wajah yang sudah basah dengan air mata
"Maira..." panggil Ervan begitu lirih. Dan sumpah demi apapun, tatapan mata tajam yang begitu memikat itu sungguh membuat hati Maira benar benar tidak berdaya saat ini. Apa yang harus dia katakan pada Ervan sekarang. Ingin jujur, tapi Maira sungguh tidak siap untuk melukai hati lelaki yang masih menjadi pemilik seluruh hatinya itu. Tapi jika dia berbohong, apa itu baik?
"Maira, tolong jawab aku. Kenapa kamu seperti ini? Dua tahun sudah kita menjalin hubungan, dan kamu mengakhirinya dengan cara seperti ini. Apa semua yang kita lalui itu gak berarti buat kamu?" tanya Ervan menatap tajam mata Maira. Bahkan dapat Maira lihat jika mata Ervan juga sudah berkaca kaca sekarang. Dan itu membuat nya semakin merasa bersalah.
"Van... maaf....hiks" Maira terisak dan kembali menundukkan kepala nya
"Kamu udah gak cinta lagi sama aku?" tanya Ervan. Namun Maira langsung menggeleng pelan, hanya air mata yang menjawab bagaimana gundahnya hati Maira saat ini.
"Maira, kamu tahu aku cinta banget sama kamu. Aku tahu kamu juga cinta sama aku. Tolong jangan kayak gini. Kamu gak bisa mutusin hubungan kita semudah ini Maira" kata Ervan. Dia meraih tangan Maira dan menggenggam nya dengan lembut. Ervan bisa merasakan jika tangan Maira berkeringat dan mendingin karena dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak memecahkan isak tangis nya. Entah apa yang sebenar nya terjadi, Ervan tahu bagaimana Maira. Dua tahun berhubungan dia sudah cukup mengenal gadis ini. Maira pasti menyembunyikan hal cukup besar dari dia
"Maira" panggil Ervan lagi. Namun tetap saja Maira masih tidak sanggup untuk membuka mulutnya. Rasanya beban dihatinya benar benar berat hingga membuat dia begitu sulit untuk berkata apapun pada Ervan.
Ervan melepaskan genggaman tangan nya. Dia langsung berdiri dan memandang Maira dengan lekat. Namun matanya juga tidak bisa berbohong jika dia juga begitu sedih dan sakit melihat Maira yang hanya bisa menangis seperti ini.
__ADS_1
"Oke, kalau kamu udah gak mau ngomong lagi sama aku, kalau kamu memang udah gak mau lagi berhubungan sama aku. Semua janji kita, semua impian kita, dan semua kenangan kita selama ini, kayak nya memang gak ada artinya lagi sama kamu Mai" ungkap Ervan begitu kecewa, bahkan air mata sudah mulai menggenang dipelupuk matanya.
"Kamu gak tahu gimana sakitnya aku nahan rindu sebulan ini. Kamu gak tahu gimana bingung dan risaunya hati aku nyari dimana keberadaan kamu. Kamu gak tahu dan gak ngerti Mai. Kamu tahu gimana sayang nya aku sama kamu kan, tapi kamu malah buat aku kayak gini. Aku bener bener kecewa sama kamu" Ungkap Ervan begitu pedih. Dia memandang Maira yang mendongak menatapnya, namun Ervan langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Maira dengan wajah yang benar benar kecewa.
"Ervan" panggil Maira begitu lirih. Memandang punggung Ervan yang telah pergi dan tidak lagi berbalik arah
Maira langsung menangkup wajahnya dan menangis sejadi jadinya disana. Hatinya benar benar sakit dan begitu merasa bersalah. Dia bingung, dia tidak tahu harus apa. Sungguh jika boleh dibilang Maira masih belum rela untuk kehilangan Ervan.
"Maafin aku Van, maaf...." isak Maira begitu pilu
"Aku bingung..." Maira semakin menangis hingga tubuhnya bergetar pilu. Tidak perduli sedang berada dimana dia sekarang. Dia hanya ingin menangis dan terus menangis untuk meringankan sedikit sesak dihatinya
"Maafin aku...." gumam Maira terus menerus disela sela isak tangisnya
"Maira" panggil Nindi dan Putri yang sudah berada dihadapan Maira. Sedari tadi mereka mengintip Maira dari balik dinding gedung kampus itu. Dan mereka begitu heran dan juga ikut sedih melihat Maira yang menangis begitu kencang, bahkan mereka juga dapat melihat jika Ervan juga nampak begitu sedih dan marah.
Mereka berdua langsung duduk disamping kanan dan kiri Maira.
"Udah dong jangan nangis" pinta Nindi yang langsung merangkul dan mengusap tubuh Maira. Dan bukan nya diam, tangis Maira malah semakin menjadi mendapat perlakuan seperti itu.
"Malu tahu Mai diliatin orang" sahut Putri pula. Dia mengusap bahu Maira sembari memandangi sekeliling mereka dimana beberapa orang yang sedang lewat tampak mencuri pandang kearah mereka
"Lo kenapa sama dia? Putus?" tanya Putri
"Dia kayak orang gila tahu Mai, sebulan ini nyariin lo terus" kata Nindi dengan wajah sedihnya
Maira melepaskan pelukan Nindi dan langsung mengusap air matanya dengan kasar. Memandang kedua sahabatnya itu dengan isak tangis yang masih dia tahan
"Kalian putus?" tanya Putri sekali lagi, dan Maira langsung mengangguk sedih
"Kenapa Mai, apa Ervan selingkuh. Kalian kan baik baik aja selama ini?" tanya Nindi tidak percaya. Sedangkan Putri hanya menghela nafasnya dengan berat
"Dia baik kok, bahkan gak pernah buat salah sedikitpun sama gue" jawab Maira dengan suara serak dan sesunggukan nya
"Lah... terus kenapa dong?" tanya Nindi
"Gue.... gue gak mau nyakitin perasaan dia" jawab Maira yang kembali menangis dan menundukkan kepalanya
"Pasti ada yang lo sembunyiin dari kita kan?" tuding Putri menatap lekat wajah Maira yang terlihat sedikit salah tingkah sekarang. Dia menjadi tidak berani untuk melihat wajah kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Enggak" jawab Maira seraya mengusap kembali air matanya.
"Dua tahun lo Mai, dua tahun lo udah pacaran sama dia. Kenapa lo mutusin dia gitu aja coba?" tanya Nindi masih tidak percaya. Sedangkan Putri hanya memperhatikan Maira saja
"Gue....gue....." Maira kembali menangis jika mengingat kebersaman nya dengan Ervan. Dia benar benar tidak mampu berkata apa apa saat ini. Apalagi setelah melihat wajah Ervan yang begitu kecewa tadi. Sungguh hati Maira benar benar merasa bersalah.
"Udah udah. Kalau lo gak bisa cerita sekarang gak papa. Jangan dipaksain, tenangin diri lo dulu. Kita selalu ada buat lo" ucap Putri seraya mengusap kembali bahu Maira. Tapi dia tidak akan memaksa Maira untuk bercerita, karena sepertinya ini merupakan sesuatu yang begitu berat untuk Maira. Meskipun mereka baru kenal dua tahun ini sejak mereka sama sama masuk keuniversitas ini, tapi Putri sudah cukup mengerti bagaimana sifat Maira. Maira tidak akan pernah bisa berkata kata jika sedang bingung dan gelisah, ya seperti sekarang ini.
"Udah ya Mai. Nanti kalau udah tenang lo bisa cerita kekita" kata Nindi yang masih mengusap punggung Maira
Maira mengangguk pelan dan berusaha untuk meredakan tangis nya.
Lama mereka duduk ditaman kampus itu, menunggu Maira meredakan tangisan nya. Hingga satu jam kemudian barulah Maira tampak lebih tenang dan bisa meredam segala emosinya.
"Kita masuk?" ajak Putri. Dan Maira langsung mengangguk seraya mengusap wajah nya yang terasa lengket
"Liat, mata lo udah kayak kaleng sarden Mai" kata Nindi menunjuk mata Maira yang membengkak dan memerah
"Sialan lo" dengus Maira. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan
"Nih pakek bedak gue" Nindi menyerahkan sebuah pouch yang berisi alat alat make upnya
"Masih aja bawa ginian" sahut Maira yang langsung meraih pouch itu dan mengeluarkan isinya
"Nindi makin hari makin jadi. Lo gak tahu aja dia lagi ngincer senior kita" adu Putri yang terlihat paling judes dan paling datar diantara mereka
"Siapa?" tanya Maira sembari memoleskan bedak tabur diwajahnya yang sembab itu
"Kak Brian, mahasiswa baru dikampus kita. Cool banget Nai, meleleh banget gue ngeliatnya. Berasa gak bisa tidur kalau lihat wajah ganteng nya itu. Hihi..." ungkap Nindi dengan tangan yang langsung menangkup kedua pipinya yang merona
Maira langsung mendengus senyum sedangkan Putri terlihat berdecak sinis melihat kelakuan Nindi yang paling aneh diantara mereka.
"Mata lo kalau liat yang ganteng dikit langsung gitu" ucap Maira
"Padahal culun begitu" sahut Putri pula. Nindi langsung cemberut dan mengerucutkan bibirnya
"Lo mah anti cowo Put, jadi mata lo gak bisa mandang keindahan keindahan yang ada dikampus ini" ucap Nindi pada Putri yang tampak meringis geli, Sedangkan Maira hanya tersenyum dan menggeleng lucu melihat sahabatnya yang sangat berbeda karakter ini. Nindi yang begitu feminim dan penggila pria tampan, sedangkan Putri yang judes dan anti laki laki. Mereka berbeda, tapi mereka tetap satu tujuan
"Udah yuk ah pergi, kita udah terlambat sepuluh menit nih" ajak Putri yang langsung menarik lengan Maira, membuat Nindi yang sedang memoleskan sedikit liptin dibibirnya langsung terkesiap dan buru buru memasukkan barang barang nya dan mengejar kedua saabatnya itu.
__ADS_1
"Tungguin gue!!!!!!!!"