
Beberapa hari berlalu...
Suara goresan kuas sejak tadi tidak berhenti terdengar. Tangan lembut itu terus saja bermain di atas kanvas membuat sebuah lukisan yang indah. Meski hari sudah larut, namun Erika masih saja betah untuk menyelesaikan lukisan nya.
Lukisan sebuah pemandangan alam, dimana ada sebuah rumah kecil didekat telaga biru.
Awan jingga menghias disana, nampak begitu menenangkan dan begitu damai. Seolah itu adalah keinginan terbesar Erika untuk mendapatkan kehidupan yang seperti itu. Tapi apalah daya, jika dia harus menebus kesalahannya dengan hidup yang seperti ini.
Berjuang sendiri, menahan rasa sakit lahir dan batin, dan juga... menahan ketakutan yang tidak bisa dia ungkapkan.
Hanya pada Allah Erika mengadu tentang segala perasaan nya, hanya pada Allah dia berharap semoga dengan semua yang dia alami ini bisa menghapus dosa dosa nya.
Malam ini lukisan ini sudah harus jadi, karena besok Erika akan menjual nya lagi. Dia ingin membeli obat untuk pereda nyeri nya. Dia masih ingin bertahan sebentar lagi, setidak nya sampai dia mempunyai tabungan untuk Akbar dan Ayu.
Dan benar saja, malam ini Erika bergadang, bahkan dia tidur saat hari sudah hampir pagi.
Hari ini Akbar sudah sekolah, dia sudah besar jadi dia sudah berani pergi sendiri. Dan Erika begitu bersyukur karena Akbar begitu bersemangat untuk sekolah. Setidaknya hidup Erika bisa bermanfaat untuk orang lain.
Dia butuh teman disisa akhir hidupnya, sedangkan Akbar dan Ayu juga butuh seseorang untuk menjadi penopang hidup mereka. Dan Erika berharap, ketika dia pergi nanti kedua anak ini sudah bisa hidup lebih baik.
Ah... rasanya jika mengenangkan itu, Erika benar benar sedih dan takut.
Bekal dia pergi masih sedikit, apa yang bisa dia banggakan saat sudah dihadapan Allah nanti.
Sekarang, disisa waktu nya Erika hanya ingin memperbaiki diri, memperbaiki semua kesalahan yang pernah dia lakukan.
"Yu... kakak mau jual lukisan ini. Kamu dirumah berani gak?" tanya Erika pada Ayu yang sedang asik mewarnai buku gambar nya.
Ayu menoleh pada Erika sejenak, dan matanya kembali mengarah ke pintu luar.
"Berani kak. Kan udah siang" jawab Ayu
Erika tersenyum dan mengusap kepala Ayu dengan lembut.
"Kamu jangan kemana mana ya. Kalau lapar ambil sendiri didapur. Kakak udah beli makanan buat kamu dan kak Akbar untuk siang. Mungkin kakak pulang nya agak sorean" ujar Erika.
"Iya kak... pinggang kakak gak sakit lagi?" tanya ayu.
Erika menggeleng
"Enggak.. sudah sehat. Baik baik dirumah ya. Jangan keluar rumah" kata Erika
"Oke" jawab Ayu seraya tangan nya yang mengacungkan pensil warna nya.
"Assalamualaikum " pamit Erika
"Waalaikumsalam kakak. Dadaahhhh" Ayu melambaikan tangan nya mengiringi kepergian Erika
Erika tersenyum dan melambaikan tangan nya sekilas, dan setelah itu dia langsung pergi meninggalkan rumah nya.
Semoga saja kakek penjual lukisan itu ada ditaman biasa, sehingga Erika tidak perlu jauh jauh lagi ke galeri yang ada dipusat kota.
Erika pergi dengan menaiki angkutan umum seperti biasa. Ya, sekarang dia sudah terbiasa dengan angkutan umum maupun ojek online. Tidak ada lagi mobil mewah ataupun taksi. Sudah, hidup sederhana seperti ini jauh lebih baik.
Dan satu jam kemudian dia sudah berada ditaman tempat dia pernah menjual lukisan nya. Semoga saja kali ini lukisan nya laku lagi.
Erika berjalan perlahan sembari menahan perih dan panas dipinggang nya. Kakinya bahkan sudah terasa bengkak karena pinggang nya yang sakit.
Dan benar saja, ternyata kakek itu masih ada disana. Seperti nya dia juga baru datang.
"Assalamualaikum kakek" sapa Erika.
"Waalaikumsalam... oh kamu lagi. Mau jual lagi?" tanya kakek itu
__ADS_1
Erika tersenyum dan mengangguk. Dia langsung menyerahkan lukisan nya pada kakek itu. Lukisan yang dia bungkus memakai kain putih.
"Cepat sekali, padahal baru seminggu yang lalu kamu datang kemari kan" ucap kakek itu.
"Iya kek. Saya suka melukis, dan saya sangat bersyukur hobi saya ini menghasilkan" ucap Erika.
"Tentu saja, karya seni kamu bagus. Dan saya juga suka ini" ucap kakek itu yang masih mengamati lukisan Erika dengan lekat.
"Kedamaian" gumam nya.
Erika hanya tersenyum dan memandang kakek itu dengan haru. Dia benar benar bangga jika dia bisa mempunyai bakat terpendam yang akhirnya bisa menghasilkan.
"Sepertinya sejak kemarin kamu selalu melukis sesuatu yang bermakna. Sepertinya hidup kamu sedang tidak baik baik saja" ungkap kakek itu
Erika tertegun. Kenapa kakek ini bisa tahu. Batin nya.
"Benarkan perkataan ku?" tanya kakek itu dengan senyum simpulnya.
Erika hanya tersenyum tipis menanggapinya. Tidak mungkin kan dia mengadu.
Astaga...
"Yang ini aku suka. Dua juta rupiah. Bagaimana?" tawar kakek itu.
"Iya kakek. Saya mau. Itu sudah banyak" jawab Erika.
"Lain kali buatlah bingkai yang indah dan juga kanvas yang premium. Agar lukisan mu bisa dipajang di galeri. Jika begitu, hasil karyamu pasti akan lebih dihargai mahal" ujar kakek itu.
"Baik kakek. Nanti akan saya buat" jawab Erika.
Kakek itu mengangguk dan dia langsung menyerahkan uang nya pada Erika.
Alhamdulillah....
"Terimakasih banyak kakek. Saya pamit dulu. Semoga kakek selalu mau menerima lukisan saya" ucap Erika.
"Tentu saja. Lukisan kamu bagus, dan saya suka. Setiap haripun kamu mengantar. Saya terima. Bahkan lukisan kamu yang kemarin juga langsung terjual." ungkap kakek itu
"Benarkah?" tanya Erika dengan wajah bahagia nya.
"Ya, seorang pemuda nampak begitu tertarik dengan lukisan bunga layu mu. Dia menawar dengan harga mahal" jawab si kakek
"Alhamdulillah jika banyak yang suka" ucap Erika.
"Ya, semangatlah, dan terus berkarya. Meski hidup tidak mudah, tapi kamu bisa menuangkan segala perasaan mu kedalam hasil karya. Itu jauh lebih baik" ujar kakek itu.
Erika tertegun, namun sedetik kemudian dia langsung tersenyum dan mengangguk.
"Iya kakek. Kalau begitu saya pamit dulu." ucap Erika
"Ya" jawab kakek itu. Dia memandang kepergian Erika dengan senyum tipis nya. Sebagai seseorang yang sudah hidup lama dan banyak memakan asam manis nya kehidupan, dia tahu, jika Erika memang sudah menanggung beban yang cukup dalam. Terlihat dari binar matanya yang meredup.
...
Setelah mendapatkan uang hasil menjual lukisan nya. Erika langsung pergi ke rumah sakit. Dia ingin membeli obat untuk meredakan sakit nya.
Tidak ada rumah sakit lain yang lebih dekat dari tempat itu selain rumah sakit tempat praktek dokter Danar. Jadi mau tidak mau Erika tetap harus pergi kesana.
Dia ragu sebenarnya. Takut jika orang orang akan tahu tentang dia yang sekarang sudah menyedihkan. Apalagi jika sampai orang tua nya tahu. Bagaimana reaksi mereka ya?
Huh... sudah lah.. Mereka tidak akan perduli.
Meski rindu dan perasaan ingin bertemu, tapi tetap saja Erika tidak akan bisa menemui mereka. Mereka sudah membenci, dan bukan salah Erika jika sekarang dia menjauh.
__ADS_1
Tidak lama, setelah memeriksa keadaan nya lagi, Erika langsung menebus obatnya.
Dia tidak ingin berlama lama berada dirumah sakit itu. Karena jelas papa nya pasti masih dirawat disana.
Erika hanya bisa berdoa semoga papa nya cepat sembuh dan baik baik saja.
Ya, hanya doa yang bisa dia panjatkan untuk kedua orang tua nya.
Saat temu tidak lagi bisa, maka doa lah yang jadi penghantar baktinya.
Erika berjalan agak cepat untuk masuk kedalam lift. tapi lagi lagi dia merasa pinggang nya nyeri dan sangat sakit. Hingga dia berjalan menunduk dan masuk kedalam lift, tanpa melihat siapa yang ada didalam lift itu.
Erika memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya dalam dalam berharap rasa sakit itu mereda.
Dia bahkan langsung menyandarkan tubuhnya didinding lift. Dan disaat dia menegakkan kepalanya, Erika langsung tertegun saat pandangan matanya malah bertabrakan dengan pandangan mata Ervan.
Ya.. ternyata lelaki itu juga berada dalam lift yang sama dengan Erika
"Ervan" gumam Erika
Ervan hanya diam, dan memperhatikan Erika saja. Dia sehabis menebus obat ayahnya. Dan sekarang dia mau pulang , tapi malah bertemu Erika disini.
"Kenapa pingganmu?" tanya Ervan. Dia heran melihat wajah Erika yang pucat dan berkeringat dingin.
"Tidak apa apa" jawab Erika seraya dia yang memundurkan tubuhnya dan lebih memilih untuk berada dibelakang Ervan.
Rasanya sudah tidak lagi sanggup memandang wajah tampan mantan tunangannya ini.
Malu... rasa bersalah yang besar dan juga ... rasa rindu, semua bercampur menjadi satu.
Sakit dipinggang Erika semakin terasa. Dan dia segera mengambil obat yang dia tebus tadi.
Tangan nya bergetar menahan sakit, dan itu tak lepas dari ekor mata Ervan yang melirik nya.Bahkan bisa dia lihat jika Erika memakan obatnya dengan tergesa.
Ting
Bunyi pintu lift yang terbuka membuat perhatian mereka teralihkan.
Dengan sekuat tenaga nya Erika berjalan keluar mengikuti Ervan yang telah lebih dulu keluar.
Erika berjalan tertatih, karena sungguh rasanya sakit sekali.
Berjalan ke lobi dengan begitu pelan.
Ervan sudah berjalan duluan, mereka seperti orang asing yang sudah tidak lagi saling mengenal. Dan itu semakin membuat Erika bersedih.
Namun ketika akan menuruni anak tangga didepan lobi, langkah Erika malah oleng. Dia hampir terjatuh, bahkan Erika langsung memejamkan matanya karena dia merasa dia pasti akan membentur lantai sekarang.
Grep
Tidak....
Dia tidak terjatuh, tapi seseorang yang menangkap tubuhnya.
Mata sayu Erika terbuka, dan dia langsung memandang orang itu.
"Ervan...." gumam Erika.
Dengan ringisan diwajahnya dia langsung beranjak dari dekapan Ervan yang ternyata masih berada disana.
"Maaf" ucap Erika
Ervan hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Bahkan sampai Erika kembali berjalan tertatih meninggalkan dia yang masih mematung.
__ADS_1