Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Erika Pulih


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Operasi yang berjalan dengan lancar telah membuat Erika bisa mendapatkan ginjal yang lebih baik. Sekarang dia hanya tinggal pemulihan saja. Berharap ginjal itu akan cocok dan tidak lagi mengalami infeksi atau apapun yang mengganggu kedepan nya.


Semua orang yang mengharap kesembuhan Erika benar benar bersyukur dan merasa senang, karena sekarang Erika sudah jauh lebih baik.


Meski wajahnya masih pucat, tapi pucatnya bukan lagi pucat penyakit, melainkan pucat karena belum terlalu pulih.


Saat ini diruangan Erika terlihat ramai. Ada Nindi dan Putri yang datang menjenguk. Ya, Putri baru bisa datang menjenguk sekarang karena dia baru saja pulang berbulan madu dengan Dika di Bali. Hingga sekarang baru bisa menjenguk Erika.


Ervan dan Luna juga ada disana, mereka tidak pernah meninggalkan Erika dalam waktu yang lama.


Dan itulah yang membuat Ervan menjadi bahan ledekan Putri dan Nindi. Sebab mereka yang paling tahu bagaimana hubungan antara Ervan, Maira dan juga Erika dulunya.


Untung saja Maira tidak ada sekarang, dia sudah kesulitan berjalan jauh, jadi dokter Danar sudah tidak memperbolehkan dia lagi untuk pergi kemanapun.


"Udah lengket ya Van. Sampai gak mau pergi pergi juga" sindir Putri pada Ervan yang tengah berbaring disofa.


"Sirik amat sih. Kan gak ada yang marah" jawab Ervan.


"Iya memang gak ada yang marah. Cuma lucu aja, dulu ngehindar sekarang malah dia yang kayak nya gak bisa jauh" sahut Putri lagi. Membuat Nindi dan Luna langsung tertawa, apalagi melihat wajah malu Ervan.


"Kayak nya dia udah kepelet sama pesona kamu yang sekarang deh Rik" ucap Nindi pada Erika.


Erika tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Rasanya masih tidak menyangka jika mengingat dengan perkataan Ervan yang akan melamarnya.


"Sekarang kan beda. Gak sama kayak dulu lagi. Lagian udah sama sama dewasa juga" jawab Ervan.


"Iya, makanya cepat dihalalkan. Jangan digantung terus kayak jemuran. Entar diambil orang lagi tahu rasa kamu" ujar Putri dengan bahasa ketus nya itu.


"Nah bener itu. Jangan sampai nangis untuk yang kedua kali" sahut Nindi pula.


"Enggak akan. Nanti setelah Erika sembuh aku udah janji untuk ngelamar dia" jawab Ervan. Membuat Erika dan Luna langsung melebarkan mata mereka.


"Kamu serius Van?" tanya Luna


Ervan tersenyum canggung dan mengangguk pelan seraya kembali duduk dengan tegak dan mengusap sekilas tengkuk nya.


"Iya lah kak. Udah sejauh dan sedekat ini untuk apa kalau gak untuk dinikahi" jawab Ervan.


"Aaaaahhh itu baru lelaki sejati" ucap Nindi seraya mengacungkan jempol nya.


Sedangkan Erika nampak memandang Ervan dengan senyum haru dan rasa tidak percaya nya. Rasanya seperti mimpi indah di siang bolong. Seperti gurauan namun terdengar nyata, seperti hanya khayalan tapi akan menjadi kenyataan. Padahal untuk membayangkan saja Erika tidak berani.


Tapi sekarang, dia mendengar langsung dari mulut Ervan. Bahkan Ervan dengan berani nya berbicara langsung didepan kakak dan kedua teman nya.


Masha Allah..


Ervan tidak mungkin berbohong kan.


"Kalian doain aja yang terbaik." jawab Ervan


"Iya, biar gak sia sia perjuangan Erika dari beberapa tahun yang lalu" ucap Putri dengan begitu jujurnya. Membuat Nindi langsung menyikut lengan nya seraya memandang Erika yang nampak tersenyum dan tertunduk malu.


Perjuangan yang memalukan, berusaha untuk merebut yang bukan miliknya, hingga akhirnya mendapatkan Ervan, tapi tidak bertahan lama juga.


Menyedihkan.


"Jika kamu memang serius, sebaiknya kamu bicarakan dengan kedua orang tua kamu dulu Van. Setidaknya mereka harus tahu dan memberi restu. Mau bagaimanapun pihak kalian yang membatalkan pertunangan itu dulu" ujar Luna.


Ervan mengangguk dengan cepat.


"Iya kak. Semua sudah saya perhitungkan. Orang tua saya juga sudah setuju" jawab Ervan.


"Secepat itu?" tanya Nindi tidak percaya.


Ervan tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


"Belajar dari Maira dulu, kalau jodoh seseorang gak ada yang tahu. Mereka gak merestui hubungan aku dan Maira karena beranggapan kami tidak cocok. Namun kenyataan nya Maira malah mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku. Dan sekarang, ketika aku bilang aku akan melamar Erika, orang tua ku sudah tidak bisa berkata apapun. Hanya bisa merestui, karena jika kami berjodoh, bisa bilang apa" ungkap Ervan.


Membuat semua orang yang ada disana langsung mengangguk dan tersenyum.


"Ya, jodoh memang gak ada yang tahu. Tapi kalian memang cocok. Jadi jangan lagi ditunda" ucap Putri.


Luna langsung tersenyum dan mengusap lengan Erika yang ada disebelahnya.


"Ya, sesuatu yang ditunda tunda gak bakalan baik. Lagipula udah selesai kuliah juga" sahut Nindi.


"Cepat sembuh Rik. Biar kami jadi Bridesmaids kamu nanti" ujar Nindi pada Erika.


"Doain aja" jawab Erika dengan senyum malu nya. Dia masih tidak berani untuk banyak bicara. Entah kenapa semua masih terasa begitu canggung.

__ADS_1


Apalagi ketika melihat tatapan Ervan padanya, rasanya sungguh berbeda.


"Mulai sekarang, kamu harus bahagia. Cepat pulih dan sehat lagi. Biar bisa pulang dan ngurus semuanya " ujar Luna.


Erika terdiam, pulang kerumah. Tapi... bagaimana dengan Akbar dan Ayu?


Erika melirik pada Ervan sekilas dan kembali memandang kakak nya.


"Kak.... aku punya dua adik adik yang gak bisa aku tinggal" ucap Erika terdengar ragu. Namun Luna langsung tersenyum dan mengangguk.


"Aku tahu, Ervan udah cerita. Kamu kan bisa bawa mereka tinggal dirumah untuk teman kamu" ujar Luna.


"Boleh?" tanya Erika.


"Boleh lah. Rumah itu rumah kamu juga. Aku kan tinggal sama suamiku. Jadi kamu gak bakalan kesepian kalau ada mereka." jawab Luna.


Erika langsung tersenyum senang mendengar itu. Senyum yang selalu membuat Ervan juga ikut tersenyum.


"Jiaaahh gitu amat Mandang nya. Dosa tahu, bukan muhrim" ucap Nindi yang berada tidak jauh dari Ervan.


Ervan mencebikkan bibirnya dan nampak menghela nafas panjang. Sahabat Maira ini memang sejak dulu selalu saja suka menggoda.


"Yaudah kalau gitu kami pamit dulu ya Rik, udah mulai sore." ucap Putri pada Erika.


"Iya. Terimakasih sudah mau datang" jawab Erika.


"It's ok. Aku juga baru sempat kemari" ucap Putri seraya meraih tas nya di atas meja.


"Sibuk bulan madu ya Put" sahut Luna, membuat Putri tertawa malu.


"Iya kak. Semingguan lebih kayak nya. Maka baru bisa jenguk Erika sekarang" jawab Putri.


"Yah, dia senang senang sendiri kak. Gak mau ngajak ngajak kita" ucap Nindi


"Kalau ngajak kita bukan bulan madu namanya. Reunian" sahut Ervan. Membuat mereka semua langsung tertawa lucu.


"Tahu nih, ini ni gara gara kelamaan jomblo. Makanya sirik aja" ucap Putri.


Nindi langsung mencebikkan bibirnya sekilas.


"Aku sendiri yang jomblo, maka nya sedih banget. Berasa baper aja ngelihat kalian. Dulu Maira, habis itu kamu, dan sekarang Erika. Aaaahhh nasib banget emang" jawab Nindi begitu mendramatisir. Hingga membuat mereka yang ada disana tidak bisa untuk berhenti tertawa.


"Udah ah, lebay banget. Jodoh kamu lagi otw. Yuk pulang. Yang ada Erika gak bisa istirahat kalau kita berisik disini terus." ajak Putri yang langsung menarik lengan Erika.


"Daaaahh" Nindi melambaikan tangannya sebelum dia menghilang dibalik pintu.


Meninggalkan Ervan dan Luna yang hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan gadis itu. Selalu Nindi yang membuat suasana ramai. Dan tentu membuat suasana tidak canggung lagi.


Berbeda dengan saat Erika dan Ervan berdua. Mereka nampak canggung, apalagi ketika Ervan sudah bilang jika dia akan melamar Erika. Semua terasa berbeda.


...


Beberapa Minggu berlalu....


Kesehatan Erika sudah pulih kembali. Bahkan hampir sebulan dirawat dirumah sakit karena memang untuk mendapatkan penanganan yang tepat, kini Erika sudah bisa berjalan kembali. Meski berjalan juga belum terlalu bisa cepat. Karena Erika memang gadis yang sebenarnya tidak tahan sakit.


Apalagi karena rasa trauma itu, membuat dia selalu cemas hingga bekas operasi itu cukup lama sembuh.


Kata dokter Danar, pengaruh stress dan fikiran yang tidak menentu juga menentukan lambat atau cepatnya perkembangan kesembuhan Erika.


Hingga saat ini dia juga baru bisa pulang kerumah.


Lagi lagi...


Ervan tidak pernah absen dalam setiap kegiatan Erika. Bahkan hari ini seharusnya dia ada diperusahaan, namun karena Erika akan pulang, Ervan jadi meminta izin pada ayah nya untuk tidak masuk.


Dia lebih memilih untuk mengantar Erika pulang. Nindi juga ada, karena sekarang, teman nya hanya Erika. Kehamilan Maira sudah memasuki bulan nya, dan Putri juga masih sibuk dengan suaminya. Jadi Nindi tidak enak jika mengganggu kedua sahabatnya yang sudah bersuami itu. Dan dia lebih memilih untuk menemani Erika saja. Ya sebelum dia menikah dengan Ervan.


"Pelan pelan" ujar Ervan saat Erika turun dari mobil dan dibantu oleh Nindi.


"Bisa jalan sendiri?" tanya Nindi seraya merangkul lengan Erika.


"Bisa Nin" jawab Erika.


Sementara Ervan berjalan dibelakang mereka seraya membawa tas milik Erika.


Mereka berjalan masuk kerumah. Rumah yang sudah sangat lama tidak Erika datangi, rumah yang menjadi tempat kenang kenangan masa kecil hingga dia dewasa. Rumah yang menemani suka dukanya dahulu.


Rumah yang hanya tinggal menyisakan kenangan kedua orang tua nya yang sudah tidak lagi ada.


Meski perpisahan mereka cukup menyakitkan, namun Erika tetap tidak bisa menahan kesedihannya, jika dia begitu merindukan orang tua nya.

__ADS_1


Tiba tiba Erika terkejut saat pintu rumah terbuka, karena senyum Akbar dan Ayu yang langsung menyambut kedatangannya.


"Kakak!!!" seru mereka yang bahkan langsung memeluk Erika penuh rindu.


"Akbar... Ayu" gumam Erika seraya membalas pelukan kedua anak anak itu. Membuat Nindi langsung menjauh dan membiarkan Erika melepas rindu dengan mereka.


"Jangan kuat kuat ya. Kak Erika masih sakit" ujar Ervan seraya mengusap kepala Ayu.


Akbar dan Ayu langsung melepas pelukan mereka. Dan memandang Erika dengan mata yang berair.


"Kami rindu, kakak udah sehat kan?" tanya Akbar.


"Sudah, nih kakak udah bisa jalan lagi" jawab Erika.


"Kakak jangan sakit lagi" pinta Ayu seraya bibirnya yang menahan tangis.


"Enggak sayang. Kakak gak akan sakit lagi. Kakak kan mau main sama kamu" ucap Erika seraya menjulurkan tangan nya dan menggenggam tangan Ayu. Membawa mereka masuk kedalam rumah mewah nya.


"Kalian kok disini" tanya Erika lagi


"Kakak Luna yang jemput. Dia bilang kakak nunggu kami disini" jawab Akbar


"Iya, karena hari ini kamu pulang, jadi aku bawa mereka kemari. Makanya gak bisa jemput kamu dirumah sakit" ucap Luna yang baru datang dari dalam bersama seorang anak perempuan kecil seusia Ayu.


"Lintang" sapa Erika pada anak kecil itu.


"Hai aunty" Lintang langsung memeluk Erika sekejap dan setelah itu memandang Ayu dan Akbar bergantian.


"Ervan, Nindi, terimakasih ya udah mau bawa Erika pulang" ucap Luna pada Ervan dan Nindi.


Kini mereka semua duduk disofa ruang tamu yang ada disana.


"Santai aja kak. Aku juga gak ada kerjaan, bosen dirumah gak ada teman. Selagi Erika ada, mending Nemani dia" jawab Nindi.


"Kamu bisa sering sering kemari kalau lagi sepi dirumah" ujar Erika


"Tentu dong. Sekarang dua sahabat aku itu udah sibuk sama suami masing masing. Jadi aku kesepian deh" ucap Nindi dengan wajah sedihnya itu.


Ervan dan Luna langsung terbahak lucu.


"Namanya juga udah punya suami. Pasti lebih mengutamakan suami. Kamu juga gitu nanti kalau sudah nikah" jawab Luna.


"Tapi entah kapan" sahut Nindi dengan wajah cemberut.


"Sabar kali Nin. Brian juga masih panjang perjalanan. Apalagi dia punya tanggung jawab besar sama perusahaan keluarga nya" ucap Ervan.


"Iya kalau jodoh, kalau enggak. Ya belum kelihatan juga hilal nya" jawab Nindi


"Kalau gak jodoh paling nangis" ejek Ervan.


Puk


Satu lemparan tisu yang sejak tadi di genggam Nindi langsung mendarat didada Ervan. Membuat mereka yang ada disana langsung tertawa lucu, apalagi Akbar dan Ayu. Mereka terlihat geli melihat wajah kesal Ervan dan Nindi.


"Kayak kamu gak aja. Putus cinta nangis dipojokan" balas Nindi tidak mau kalah.


"Mana ada seperti itu" sanggah Ervan.


"Bohong banget" dengus Nindi.


"Bukan dipojokan Nin, tapi didalam kamar. Gak ada keluar kamar berhari hari" sahut Erika dengan senyum lucu nya.


Mata Ervan langsung melebar mendengar itu. Bagaimana Erika bisa tahu?


Nindi dan Luna semakin tertawa terbahak bahak.


"Erika..." tekan Ervan.


"Aku om Wira yang bilang" jawab Erika.


Nindi kembali terbahak dan menggeleng.


"Cengeng banget. Maka nya kalau cinta diperjuangin. Dan sekarang, kalau kamu lambat, bakalan nangis lagi kamu. Erika lebih cantik dan mempesona dari Maira. Jadi udah pasti banyak lelaki yang mau dengan nya" ujar Nindi dengan senyum nya yang terkesan menggoda.


"Enggak, dua Minggu lagi aku bakalan datang melamar" sahut Ervan dengan cepat.


Dan bukan nya terkejut, namun Luna dan Nindi malah semakin tertawa.


"Wah kak, takut banget dia" ucap Nindi pada Luna yang juga langsung mengangguk dengan cepat.


"Ya paling kalau Ervan bohong, aku udah siapin orang lain untuk Erika. Teman suami banyak yang suka dengan Erika" sahut Luna

__ADS_1


"Jangan dong kak. Masak iya aku bakal nangis lagi, patah hati lagi, cari yang baru lagi. Ah gitu gitu aja hidup. Yang ada jadi perjaka tua aku" ucap Ervan dengan wajah kesal nya.


__ADS_2