Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Apa Saya Tidak Akan Menyesal????


__ADS_3

Harum bunga mawar bercampur dengan bunga bunga lain membuat Maira benar benar terpesona dan tenang. Apalagi angin yang bertiup siang itu benar benar membuat dia merasakan ketenangan yang tiada tara. Selama ini sebelum bertemu dengan dokter Danar, jika mencari ketenangan, Maira pasti pergi ke diskotik atau pun mall untuk bersenang senang. Tenang memang, tapi tidak setenang ditempat ini. Entah apa yang membedakan nya, namun hatinya memang merasakan ketenangan yang begitu damai ditempat ini.


Maira berjalan menyusuri bunga bunga yang tersusun rapi disana. Mana perduli dia dengan pengunjung yang juga ada disana. Bahkan sebagian dari mereka terlihat berfoto ria. Maira lebih suka mengabadikan keindahan ini dengan mata nya, rasanya lebih puas dan indah. Dia mencari ketenangan disini bukan mencari kenangan.


Tangan nya terulur dan terus membelai bunga bunga yang ada disana. Senyum Maira juga tidak pernah pudar. Lagi lagi dia berfikir, jika tidak bersama dokter Danar, bisakah dia merasakan hal yang seperti ini???


Entahlah...


"Kamu suka tempat ini?" pertanyaan seseorang membuat Maira sedikit terkejut. Dia langsung menoleh pada dokter Danar yang ternyata sudah ada dibelakangnya. Entah sejak kapan dokter itu sudah ada disana. Maira bahkan tidak menyadari kedatangan nya. Apa dia terlalu asik memandangi bunga bunga ini???


"Dokter kenapa suka banget ngejutin saya" gerutu Maira seraya kembali berjalan mengitari kebun bunga itu.


Dokter Danar tersenyum mengikuti langkah kaki istrinya.


"Saya tidak mengejutkan kamu. Hanya saja kamu terlalu menikmati suasana jadi tidak menyadari kedatangan saya" jawab dokter Danar.


"Kita duduk disana, disana tempat nya lumayan sejuk dan nyaman" dokter Danar menunjuk sebuah pinggiran tebing dimana dihadapan nya terhampar danau hijau yang mereka lewati lagi.


Maira hanya mengangguk dan berjalan menuju tempat itu.


"Dokter sering ketempat ini?" tanya Maira.


"Beberapa kali, tapi tidak sampai keatas sini" jawab dokter Danar.


"Bersama siapa?" tanya Maira lagi.


"Kemala dan...."


"Perempuan berhijab yang pernah dokter temui diresto waktu itu?" tanya Maira yang langsung memotong perkataan dokter Danar.


"Iya" jawab dokter Danar


"Oh" Maira kembali melanjutkan langkah kaki nya.

__ADS_1


Dokter Danar mengernyit memandang Maira. Kenapa hanya begitu saja??? Tapi yasudah lah. Mungkin Maira memang tidak ingin tahu tentang dia.


Namun berbeda dengan Maira yang entah kenapa malah merasa hatinya menjadi aneh dan tidak suka mendengar dokter Danar menyebutkan nama dokter cantik itu. Aneh memang.


"Disini saja" ajak dokter Danar menunjuk sebuah batu besar yang pas untuk tempat duduk.


Maira mengangguk dan langsung duduk diatas batu itu. Benar kata dokter Danar, pemandangan dari atas sini benar benar indah dan menyenangkan. Hamparan danau hijau yang membentang luas nampak begitu indah, apalagi ditambah dengan tumbuhan teratai diatas nya.


"Ini" dokter Danar menyerahkan satu cup es kelapa untuk Maira. Maira langsung menyambut nya dengan senang hati. Dia juga sudah merasa haus, terakhir minum saat dikantin tadi.


"Dokter kenapa gak menikahi dokter Kemala saja?" tanya Maira tiba tiba. Dokter Danar yang sedang menyeruput es nya nampak sedikit terkesiap, namun wajah tenang nya tetap mendominasi.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya dokter Danar.


Maira menghela nafasnya dan menghadap kearah danau hijau itu dengan pandangan nanar.


"Bukankah dia seharusnya lebih cocok untuk menjadi istri dokter?" tanya Maira.


Dokter Danar tersenyum dan menggeleng pelan.


"Tapi..."


"Jika kamu belum bisa menerima saya. Tidak apa apa. Saya masih bisa bersabar untuk menunggu selama kamu masih menghormati saya sebagai suami kamu" ucapan dokter Danar langsung membungkam mulut Maira.


Maira memandang dokter Danar yang nampak tenang, namun dia tahu dibalik wajah tenang itu ada sedikit rasa kecewa yang mendalam. Wajahnya tidak setenang biasa.


"Kamu punya Allah kan. Kamu bisa meminta pada Nya Maira. Jika kamu menganggap saya bukan pilihan yang tepat, maka minta pada Allah untuk membuat hati saya lapang atas pilihan kamu" ujar dokter Danar lagi seraya membalas pandangan Maira.


Mata mereka saling bertatapan dengan lekat. Seperti saling mengungkapkan perasaan masing masing. Maira dengan keraguan nya, sedangkan dokter Danar dengan keyakinan hatinya.


"Tapi asal kamu tahu, saya tidak pernah sedikitpun ingin mengakhiri hubungan kita bagaimana pun sikap kamu terhadap saya. Hanya satu yang tidak bisa saya terima, ketika kamu tidak bisa menghargai saya sebagai suami kamu, maka disaat itu saya akan melepaskan kamu" kata dokter Danar lagi.


Maira langsung memalingkan wajah nya dan menunduk memandang es kelapa yang sedari tadi dia pegang.

__ADS_1


"Selama ini juga saya tidak pernah menghargai dokter. Bahkan untuk berbicara saja saya selalu melawan" gumam Maira.


Namun dokter Danar malah tersenyum mendengar itu.


"Bukan yang seperti itu yang saya maksud, saya tahu itu karena kamu belum bisa menerima saya" balas dokter Danar


"Jadi?" tanya Maira yang kembali memandang dokter Danar.


"Yang saya maksud adalah selama kamu menjadi istri saya, kamu berhubungan dengan lelaki lain, bertemu dan berdua duaan bersama yang bukan muhrim. Saya sudah selalu memperingati, dan jika kamu masih tidak bisa mendengarkan. Maka saya juga akan menyerah." ucap dokter Danar.


Maira langsung terdiam mendengar itu.


"Saya malu pada Allah karena tidak bisa mendidik istri saya dengan baik" tambah dokter Danar lagi.


Maira kembali tertunduk dengan pandangan getir.


"Maira...." panggil dokter Danar dengan lembut.


Maira kembali memandang suami nya itu. Suami yang jika dipandang selalu membuat hatinya tenang. Meski tidak ada cinta, tapi kenapa Maira selalu merasa tenang dan nyaman bersama dokter Danar?


"Jangan tutup hati kamu dengan kebahagiaan yang semu. Serahkan semuanya pada Allah ya. Kamu pasti bisa merasakan apa yang hati kamu mau sebenarnya" ujar dokter Danar. Perkataan yang selalu lemah lembut itu selalu bisa menusuk relung hati Maira.


"Apa jika saya menerima dokter saya tidak akan menyesal?" tanya Maira dengan ragu. Entah kenapa pertanyaan seperti itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Dokter Danar tersenyum dan mengusap kepala Maira sejenak.


"Saya tidak berjanji untuk selalu bisa membuat kamu bahagia, tapi saya berjanji akan menjadi suami yang baik untuk kamu. Saya juga masih belajar untuk menjadi orang yang lebih baik lagi" ungkap dokter Danar.


Maira menggigit bibir bawah nya dan kembali memalingkan wajahnya.


Dokter Danar dan Ervan. Dua orang lelaki yang ada didalam hidupnya.


Yang satu suami dan yang satu cintanya.

__ADS_1


Tapi bersama dokter Danar Maira merasa tenang meski semua terasa mengekang hidupnya. Sedangkan bersama Ervan, meski dia bahagia, namun ada saja yang menjadi ujian dalam hubungan mereka.


Apa dia bisa melepaskan cinta nya, apa dia bisa meninggalkan Ervan untuk dokter Danar?????


__ADS_2