Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Tujuan Hidup


__ADS_3

Masih tentang Erika....


Sudah beberapa hari berlalu. Erika masih bekerja di cafe seperti biasa. Demi untuk menunjang kehidupan nya kedepan. Tidak banyak yang dia harapkan sekarang. Dia hanya ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Entah sampai kapan dia akan bertahan hidup. Tapi selagi dia mampu, maka Erika akan memanfaatkan nya untuk lebih memperbaiki diri lagi.


Setiap pulang dari cafe, Erika selalu membawakan makanan untuk Akbar dan Ayu. Dua kakak beradik yang kini menjadi teman dan penghibur hati Erika. Kedua anak anak hebat ini ternyata mampu mengalihkan kesedihan Erika tentang nasib hidupnya yang begitu miris.


Setiap sore, dia selalu membawa makanan sisa dari cafe, bukan makanan sisa, hanya makanan yang tidak terjual dan sudah dingin. Tapi masih bagus dan layak makan. Jika membeli makanan setiap hari, uang Erika tidak cukup untuk itu.


Seperti sore ini, Erika berhenti tepat didekat taman kota dimana biasa Ayu menunggu kakak nya yang sedang mengamen.


"Ayu" panggil Erika


Ayu yang sedang bermain dengan boneka kecilnya langsung menoleh pada Erika.


"Kakak cantik" seru Ayu begitu girang. Dia bahkan langsung berlari mendekati Erika yang kini duduk dikursi taman.


"Lihat kakak bawa apa untuk kamu dan kakak kamu" Erika membuka kantung plastik yang dibawanya.


"Wah kue" seru Ayu dengan polosnya. Erika langsung tertawa mendengar itu.


"Bukan, bukan kue. Ini namanya pizza. Tadi kakak bawa dari tempat kerja kakak. Coba panggil kakak kamu. Kita makan sama sama" ujar Erika.


Ayu langsung mengangguk dengan cepat dan berlari kepinggir jalan. Dia nampak berteriak-teriak memanggil kakak nya yang masih mengamen.


Anak lelaki itu langsung menoleh dan segera berlari menuju adik nya.


Sungguh Erika benar benar terharu melihat kedua anak ini. Mereka terlihat begitu saling menyayangi satu sama lain.


"Kakak cepat pulang" sapa Akbar. Wajahnya kusam dan terlihat lelah.


"Iya, hari ini kakak memang cepat pulang. Ayo sini duduk. Kita makan sama sama ya" ajak Erika. Bahkan mereka langsung duduk diatas rerumputan hijau dibawah pohon rindang.


"Wah ini apa kak?" tanya Akbar


"Pisang" sahut Ayu.


Erika langsung tertawa mendengar itu.


"Bukan pisang Yu, tapi Pizza" jawab Erika.


" Oh iya itu. Hehe" Ayu tertawa lucu dengan giginya yang sudah ompong dibagian depan.


"Wah ini pasti mahal kak" ucap Akbar yang menerima sepotong pizza dari tangan Erika.


"Ini kakak dapat gratis dari tempat kakak kerja. Tapi maaf ya, ini udah dingin, gak enak lagi. Kalau beli uang kakak gak cukup. Tapi nanti kalau kakak udah gajian lagi. Kakak ajak kalian makan enak" ujar Erika.

__ADS_1


Akbar langsung tersenyum dan menggeleng.


"Kakak gak usah repot-repot. Ini udah enak sekali. Bahkan kalau gak ada uang, kami sering mungut roti bekas ditempat sampah" ungkap Akbar.


Lagi lagi Erika langsung tersentuh hatinya mendengar penuturan anak lelaki kecil ini.


"Mulai sekarang, jangan lagi ya. Kan sudah ada kakak. Nanti kakak bakal bawain makanan untuk kalian setiap hari." sahut Erika.


"Kakak baik banget" ucap ayu.


"Kakak cuma punya kalian" sahut Erika.


"Kakak juga anak yatim piatu seperti kami ya?" tanya Ayu dengan polosnya.


Erika langsung tersenyum getir mendengar itu.


Yatim piatu???


Tidak, dia masih punya orang tua. Lengkap, keluarga yang utuh dan bahagia.


Tapi dia sendirian dan sebatang kara sekarang.


"Sudah makan aja. Kamu ini banyak sekali bertanya" sahut Akbar pada adiknya. Sepertinya anak lelaki ini mengerti jika wajah Erika nampak sedih.


"Kalian mau gak tinggal sama kakak?" tawar Erika pada kedua anak ini.


"Mau kak mau" sahut Ayu dengan cepat.


Erika langsung tersenyum senang mendengar itu.


"Kak, Akbar gak enak kalau nyusahin kakak terus. Kakak udah baik sekali sama kami" ungkap Akbar.


"Kakak senang ketemu kalian. Kan udah kakak bilang. Kakak sendiri dan gak punya siapa siapa. Gak ada yang mau berteman sama kakak kecuali kalian. Dari pada kalian tinggal dibawah jembatan itu. Mending dirumah kakak aja. Rumah orang sih, tapi enggak tahu kapan dia pulang. Selagi dia gak ada, kita bisa numpang dirumah dia. Kakak bakalan senang banget kalau kalian mau ikut kakak" ujar Erika.


Ya, dia sudah memutuskan untuk mengajak kedua anak ini tinggal bersamanya. Meskipun sejak awal dia ragu, dia takut jika dia sakit, bagaimana dengan mereka.


Tapi ketika melihat mereka yang terlunta lunta seperti ini, Erika juga tidak tega. Bukan kah hidup bersama akan lebih baik. Mereka bisa saling tolong menolong nanti nya. Erika juga ingin mereka tidur ditempat yang layak, meskipun rumah itu juga sempit. Tapi setidaknya mereka punya tempat untuk bernaung.


"Mau ya" ajak Erika lagi.


"Tapi saya boleh tetap mengamen kan." pinta anak lelaki itu.


Erika tersenyum dan mengangguk.


"Boleh, tapi gak boleh minta minta dan mengemis. Kalian punya kakak sekarang, mau gimanapun lapar nya kita, kita gak boleh minta minta ya" ujar Erika.

__ADS_1


Akbar dan Ayu langsung mengangguk dengan cepat.


Erika langsung tersenyum bahagia melihat mereka. Akhirnya dia punya teman untuk saling berbagi kebahagiaan. Ya meskipun bahagia hanya dengan melihat tawa mereka.


"Yasudah, gimana kalau kita makan dirumah aja. Hari udah mulai sore, takut kehujanan" ajak Erika


"Tapi baju baju kami masih ada disana kak" kata Akbar seraya menunjuk sebuah tas yang ada dipinggir pembatas.


"Yasudah kita ambil, nanti kita cuci dirumah. Kakak juga ada beli pakaian untuk kalian ganti. Yuk" ajak Erika


Akbar langsung mengangguk senang. Dia berlari menuju tasnya sedangkan Erika menggandeng tangan Ayu untuk menyeberang jalan.


Tapi tiba tiba pandangan matanya tertuju pada sebuah pameran lukisan dipinggir jalan. Hingga dia sedikit tertarik untuk melihat itu.


"Kakak mau lihat itu?" tanya Ayu.


"Iya, kita lihat sebentar ya" jawab Erika


Ayu hanya mengangguk saja dan mengikuti Erika ketempat itu.


Lukisan yang terpajang rapi cukup indah dan bermakna. Erika sampai takjub melihat itu.


"Dilihat lihat neng, harga nya murah kok. Ini mau saya bawa ke galeri nanti malam" ungkap pria tua itu.


"Bapak punya galeri?" tanya Erika


"Punya bos saya. Saya cuma cari cari lukisan bagus aja" jawab nya.


Erika tertegun mendengar itu.


"Kalau saya jual lukisan, bapak mau beli?" tanya Erika


"Boleh, yang penting bagus dan bernilai seni. Bos kami nampung semua jenis lukisan. Apalagi yang bermakna tinggi" Jawab pria itu.


"Kalau saya mau jual, saya harus datang kemana pak?" tanya Erika.


"Datang aja ke galeri di jalan raya harapan. Disana pusatnya. Tapi kalau kejauhan, saya sering mangkal disini atau didekat taman Nasional. Neng bisa datang kesaya" ungkap pria itu.


"Oh baik pak terimakasih. Nanti saya pasti datang" ucap Erika.


Dia nampak begitu senang. Ini peluang juga untuk nya. Erika suka melukis, ini adalah bakat terpendam nya sejak dulu. Tapi karena ayahnya tidak menyukai itu, jadi Erika tidak pernah menampakkan nya. Semoga saja lukisan nya nanti menghasilkan dan bisa untuk biaya hidup mereka bertiga. Ya semoga.


Erika tidak lagi memikirkan kesehatannya yang sudah menurun, dia hanya ingin menghidupi Akbar dan Ayu. Mereka lebih membutuhkan sekarang.


Ya,.itu lebih baik dari pada membuang buang uang untuk berobat, yang bahkan dia sendiripun tidak tahu bisa sembuh atau tidak.

__ADS_1


Cuci darah setiap minggu, donor ginjal dan kematian. Rasanya begitu mengerihkan jika harus dibayangkan.


__ADS_2