Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Bertemu Nindi Dan Putri


__ADS_3

Nindi dan Putri mematung memandang Erika yang sedang duduk bersama dengan dua orang anak kecil. Dan yang membuat mereka tidak habis fikir adalah, penampilan Erika yang terlihat begitu berubah. Dia sudah berhijab dan memakai gamis sekarang.


Masha Allah...


Nindi dan Putri sungguh tidak percaya melihat ini. Sudah beberapa bulan mereka tidak pernah bertemu, dan mereka kira Erika pergi kuliah keluar kota atau keluar negeri. Tapi ternyata Erika masih ada disini, dengan penampilan yang sudah berubah pula.


Siang ini putri dan Nindi keluar untuk mencari cilok keinginan Maira. Dan tidak disangka mereka malah bertemu dengan Erika.


"Erika, ini kamu kan?" Tanya Nindi yang langsung mendekat kearah Erika.


Erika terlihat canggung dan tersenyum tipis memandang Nindi. Apalagi Putri yang memandang nya dengan wajah ketus nya itu. Membuat Erika benar benar tidak enak.


"Iya Nin" Jawab Erika.


"Kamu berubah banget. Masha Allah, aku sampai pangling Lo" ucap Nindi yang benar benar memandangi seluruh penampilan Erika.


Erika tersenyum getir dan tertunduk. Jika bertemu dengan Nindi, dia pasti ingat dengan perbuatannya waktu itu. Perbuatan yang menyebabkan dia masuk penjara dan membuat kehidupan nya berubah drastis seperti ini.


Tapi ngomong-ngomong, apa Nindi sudah ingat lagi...


"Kamu... sudah ingat lagi?" tanya Erika, cukup ragu.


Nindi mengangguk dan tersenyum.


"Udah, Alhamdulillah. Sehari waktu kamu datang menemui kami. Dihari itu juga aku ingat semuanya" jawab Nindi.


Erika tersenyum getir dan mengangguk pelan.


"Maafin aku ya. Gara gara aku, kamu jadi masuk rumah sakit" ucap Erika.


Akbar dan Ayu hanya diam dan memperhatikan Erika dan kedua gadis ini. Mereka takut saat melihat Putri yang memandang mereka.


"Gak apa apa. Aku udah lupain semuanya. Lagian aku juga yang teledor. Aku tahu kamu cuma mau gertak Maira aja, tapi karena aku panik, malah aku yang kepeleset dan jatuh" sahut Nindi.


Erika tertegun memandang Nindi.


Nindi tahu jika dia hanya mengancam? bukan benar benar ingin mencelakai Maira???


"Aku senang kamu mau berubah begini. Tapi kamu memang seperti ini kan? bukan mau ikut acara pengajian?" tanya Nindi. Dia memang cerewet, tapi itu membuat Erika tersenyum. Karena dengan cerewet nya Nindi, dia jadi tahu, jika gadis ini sudah mau memaafkan perbuatan nya dulu.


"Alhamdulillah.... aku masih belajar untuk jadi lebih baik lagi" jawab Erika. Sesekali dia melirik kearah Putri yang juga sudah berhijab.


Dan rasanya melihat mereka, Erika jadi sedih. Seandainya saja waktu bisa di ulang, mungkin dia pasti tidak akan melakukan kesalahan yang membuat dia benci oleh semua orang.


Rasanya sungguh tidak enak, apalagi ketika melihat tatapan benci dan sinis dari teman teman kuliahnya dulu.


Tapi Nindi dan Putri, entah karena mereka yang baik atau memang sudah melupakan. Pandangan mata mereka biasa dan tidak meremeh seperti yang lain.


"Siapa tuh?" tanya Putri seraya menunjuk Akbar dan Ayu.

__ADS_1


"Mereka adik adik ku" jawab Erika


"Sejak kapan kamu punya adik?" tanya Putri. Wajah ketus nya membuat Ayu dan Akbar takut.


Erika tersenyum dan mengusap kepala Ayu yang tertunduk takut.


"Sudah lama" jawab Erika sekadar nya.


"Adik angkat kamu ya?" tanya Nindi.


Dan Erika hanya mengangguk saja.


"Keren banget. Terus kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Nindi lagi


Erika terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Tapi....


"Ayah kamu masuk rumah sakit kan, kapan kapan kami mau jenguk deh, barengan sama dokter Danar" ucap Nindi


Dan ucapan Nindi itu membuat Erika tertegun. Ayahnya masuk rumah sakit?


Kapan?


Dan.... kenapa????


Putri memandang Erika dengan heran. Kenapa dia seperti terkejut begitu.


Erika nampak gelagapan. Akbar memandang Erika dengan bingung.


"Hei... kenapa Rik?" tanya Nindi pula.


Erika menggeleng dan tersenyum.


"Enggak. Enggak apa apa. Kalian disini ngapain? Jalan jalan aja? Tumben gak sama Maira?" tanya Erika yang langsung mengalihkan pembicaraan mereka.


Membuat Putri mendengus sinis. Nampak sekali dia mengelak. Dan entah apa yang sedang disembunyikan oleh gadis ini.


"Oh iya... jadi lupa. Kami mau beli cilok. Si Maira ngidam pengen makan cilok disini. Ya ampun. Yuk Put, ngamuk lagi nanti tuh anak" ajak Nindi


Putri hanya mengangguk pelan.


"Sampai jumpa dirumah sakit besok ya Rik. Kami pamit dulu. Assalamualaikum. Dah adik kecil" pamit Nindi seraya dia yang melambaikan tangan pada Ayu.


"Waalaikumsalam" jawab Erika.


Dia tersenyum memandang kepergian Nindi dan Erika.


Iri sekali rasanya melihat persahabatan mereka. Sejak dulu, Erika selalu ingin punya teman dan sahabat seperti Maira, Nindi dan Putri. Tapi kenyataan nya, dia hanya memiliki teman disaat senang saja, tapi dikala susah, semua orang menghilang dan malah berbalik menghujatnya.


Tidak seperti pertemanan ketiga gadis itu. Mereka senang bersama sama, susah pun mereka saling membela.

__ADS_1


Hebat sekali kan..


Seandainya saja dia bisa menjadi bagian dari mereka. Atau sepaling tidak bisa menjadi teman mereka. Mungkin Erika akan bahagia.


Tapi.... mana mungkin. Bisa dimaafkan oleh mereka saja, dia sudah beruntung.


Huh.... menyedihkan sekali memang hidupnya.


Maaf ya Allah... Erika lagi lagi mengeluh seperti ini.


Ah iya, Erika langsung terkesiap. Tadi Nindi bilang jika ayah nya masuk rumah sakit.


Sakit apa ayahnya? Apa jantung nya kumat lagi???


Wajah Erika berubah cemas sekarang.


"Kakak"


Suara Akbar membuat Erika terkesiap. Dia langsung menoleh pada Akbar yang terlihat memandang nya dengan heran.


"Itu tadi teman kakak?" tanya Akbar.


Erika tersenyum dan mengangguk pelan.


"Mereka bilang ayah kakak sakit. Kenapa kakak tidak menjenguk. Kakak masih punya ayah ternyata" ucap Akbar.


Erika tersenyum getir dan mengusap kepala Akbar.


"Nanti sore kakak mau jenguk. Sekarang kita pulang ya, kita beli perlengkapan sekolah kalian dulu" ajak Erika yang langsung beranjak dan berdiri dari bangkunya.


"Siang ini juga gak apa apa kak. Besok aja belanja nya" sahut Akbar.


Namun Erika menggeleng.


"Enggak apa apa, sekalian lewat. Yuk" ajak Erika lagi seraya dia yang meraih tangan Ayu.


Bukan tidak mau datang lebih cepat. Hanya aja Erika benar benar ragu. Dia harus datang menjenguk ayahnya atau tidak?


Erika takut dia di usir lagi. Rasanya benar benar sedih jika mengingat itu.


Dia rindu, bahkan sangat rindu. Tapi jika mengingat perlakuan kedua orang tuanya yang tega mengusir dia waktu itu, rasanya hati Erika benar benar sakit.


Sudah beberapa bulan berlalu. Dan seharusnya amarah mereka sudah mereda bukan.


Ya, diterima atau tidaknya, sore nanti Erika akan menjenguk ayahnya.


Semoga saja dia tidak di usir lagi oleh mereka. Karena sungguh, Erika juga sudah merindukan mereka semua.


Ayah, ibu dan kakak nya. Hidup diluar seperti ini juga membuat Erika merasa sepi dan sedih. Dia hanya beruntung sekarang, karena dengan kehadiran Akbar dan Ayu, bisa membuat hatinya sedikit terhibur.

__ADS_1


__ADS_2