Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Aku Akan Melamar mu


__ADS_3

Ervan mendorong kursi roda Erika menyusuri taman rumah sakit. Hari masih pagi dan cuaca juga cukup mendukung untuk berjemur dan mencari udara segar.


Setelah diperiksa oleh dokter Danar, Ervan membawa Erika keluar. Kebetulan pagi ini dia tidak kuliah lagi. Jadi bisa sedikit bersantai, meski siang nanti dia sudah harus pergi keperusahaan untuk menghadiri rapat Pertamanya mewakili tuan Wira.


Erika tersenyum saat melihat taman yang cukup indah dan luas ini. Dia baru tahu jika taman rumah sakit ini bisa seluas dan seindah ini.


Udara nya cukup segar, meski harus berbagi tempat dengan orang orang lain.


Masha Allah...


Sungguh, Erika sangat bersyukur karena dia masih diberi kesempatan untuk bernafas saat ini. Masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dan menikmati keindahan dunia meski hanya didalam area rumah sakit.


Selama ini, dia selalu tidak pernah bersyukur dengan nikmat sehat yang telah Allah beri, tapi sekarang, ketika sakit ini diberikan padanya, Erika jadi mengerti, betapa penting nya nikmat sehat dan juga udara yang selama ini dia hirup.


"Kamu suka?" tanya Ervan tiba tiba.


Erika tersenyum tipis dan mengangguk.


"Tempat nya cukup indah dan luas" ucap Erika.


"Ini adalah rumah sakit besar, jelas saja mempunyai taman seperti ini. Apalagi ini rumah sakit swasta milik perorangan. Jadi bisa diatur mau bagaimana" jawab Ervan.


"Milik keluarga dokter Kemala, dokter kandungan Maira" gumam Erika.


"Kamu tahu?" tanya Ervan.


"Nindi yang cerita" jawab Erika.


Ervan hanya ber oh saja. Dan dia membawa Erika menuju kesalah satu kursi taman yang ada disana. Ervan duduk dan menghela nafas nya sejenak, seraya matanya yang mengedar memandangi area taman itu.


Cukup ramai dengan orang orang yang berjemur. Dan semua hanyalah berisi pasien pasien dan para perawat.


"Kamu enggak kuliah Van?" tanya Erika. Membuat Ervan sedikit terkesiap.


"Enggak. Kan udah selesai ujian. Tapi siang nanti aku mau keperusahaan" jawab Ervan.


"Seharusnya kamu istirahat aja dirumah. Kamu setiap hari udah kemari Nemani aku" ujar Erika.


"Kamu gak suka aku temani?" tanya Ervan.


Erika menghela nafasnya dan menggeleng pelan. Bagaimana mungkin dia tidak suka ditemani, jika Ervan adalah salah satu semangat nya untuk sembuh. Ervan adalah obat dari rasa takut yang dia rasakan selama ini. Dan tanpa Ervan, mungkin Erika tidak akan ada disini sekarang.


"Bukan gak suka, cuma aku takut kamu dimarah sama Tante dan om lagi karena lalai sama perusahaan" ungkap Erika.


"Enggak lah. Setiap hari aku juga keperusahaan. Aku kan belum ada kerjaan disana, cuma belajar belajar sedikit doang. Nanti setelah tamat baru mulai kerja" ungkap Ervan.


"Kamu gak lanjut kuliah lagi?" tanya Erika.


"Kuliah, tapi mungkin ngelanjut disini aja sekalian ngurus perusaahan" jawab Ervan.


Erika langsung mengangguk dan kembali memandang kedepan, dimana dia melihat anak anak bermain disana.


Dan tiba tiba dia malah teringat Akbar dan Ayu.


"Van... kamu ada lihat Akbar dan Ayu lagi gak? Aku khawatir sama mereka" tanya Erika.


Ervan tersenyum dan mengangguk.


"Ada kok, semalam setiap kali pulang dari sini aku selalu sempatin lihat mereka. Uang yang kamu titipin juga udah aku kasih sama Akbar buat kebutuhan dia. Tapi masalah makan dan keperluan rumah udah diurus sama Bu Titi kok. Jadi aman" ungkap Ervan.


"Syukurlah, setelah operasi besok, aku udah pasti akan jarang ketemu mereka" ucap Erika cukup sedih.


"Nanti aku bawa mereka lagi kemari. Mereka juga rindu sama kamu. Bahkan Ayu juga udah nanyain kamu terus" jawab Ervan.


"Terimakasih " ucap Erika.


"Kamu harus mempersiapkan diri untuk besok. Jangan banyak memikirkan apapun" ujar Ervan.


"Iya..." jawab Erika.


Ya, besok adalah jadwal Erika untuk operasi ginjal nya. Beberapa hari yang lalu pendonor ginjal yang dicari Ervan sudah tiba, dan mereka sangat bersyukur jika ginjal milik orang itu cocok untuk Erika. Hingga setelah berbagai prosedur yang dilakukan, besok Erika sudah bisa mendapatkan ginjal barunya.


Meskipun saat ini Erika cukup takut untuk masuk ruang operasi. Rasa takut dan rasa trauma saat remaja dulu membuat dia benar benar tidak bisa tenang.


Rasanya ketakutan itu kembali lagi sekarang. Dulu, ketika berusia lima belas tahun, Erika dipaksa untuk mendonorkan ginjalnya pada sang kakak. Rasa sakit dan rasa takut itu masih begitu menghantui nya hingga sekarang. Hingga membuat Erika sebenarnya begitu ragu. Tapi mau bagaimana lagi, melihat Ervan, Nindi dan dokter Danar yang selalu mendukung nya, membuat Erika harus menyembunyikan ketakutan nya. Apalagi dengan kakak nya yang juga ingin dia sembuh, membuat Erika hanya bisa pasrah sekarang. Meski dia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.


"Kenapa kamu selalu gelisah begitu saat membahas operasi?" tanya Ervan tiba tiba, dan itu membuat Erika terkesiap.


Dia tersenyum kecut dan menggeleng pelan.


"Kamu takut?" tanya Ervan.


"Hal yang biasa kan?" tanya Erika pula.


Namun Ervan menggeleng dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Takut mu berbeda Erika. Aku tahu kamu takut, bahkan sangat takut. Sejak pertama kali aku melihatmu kesakitan, aku sudah tahu jika kamu memang ketakutan setiap saat kan" tuding Ervan.


Erika langsung menunduk dan menyembunyikan wajah sedihnya.


"Kamu harus percaya jika semua pasti baik baik saja" ujar Ervan


Namun bisa dia lihat jika Erika terlihat menghela nafasnya dengan berat.


"Entah lah, aku memang ingin berfikir seperti itu. Tapi rasanya, rasa sakit dan rasa takut itu masih sangat terasa hingga sekarang" jawab Erika. Bahkan tanpa Ervan tahu jika mata Erika berkaca kaca.


Karena demi apapun, dia benar benar trauma dengan ruang operasi. Untuk disuntik saja dia masih selalu ngerih, apalagi untuk dibedah. Rasa sakit setelah operasi, dan wajah wajah menakutkan dari semua dokter yang tega mengambil ginjalnya masih jelas terbayang di ingatan Erika.


"Hei... kenapa malah menangis?" tanya Ervan yang heran melihat reaksi Erika yang seperti ini. Bahkan tangan Erika sedikit bergetar dan saling meremas.


Ada apa dengan Erika?


Kenapa reaksinya seperti ini?


Setiap kali membicarakan operasi, dia pasti seperti ini. Ketakutan tidak menentu, padahal semua belum terjadi.


Erika mengusap air matanya dengan cepat.


"Aku... aku takut Van" ucap Erika. Bahkan nada suaranya terdengar bergetar.


"Erika... kenapa kamu jadi lemah seperti ini?. Tidak apa apa. Semua pasti baik baik saja" ujar Ervan.


Namun Erika menggeleng cepat, seraya tangan nya yang mengusap kembali air mata yang tidak ingin berhenti.


"Kamu tidak mengerti. Aku sudah berusaha untuk kuat. Tapi tetap saja, rasa sakit itu masih teringat jelas di kepalaku. Rasa sakit saat mereka mengambil ginjal ku dengan paksa." ungkap Erika dengan Isak tangisnya.


Ervan langsung mematung mendengar itu.


"Darah itu, pisau pisau itu, wajah wajah dokter itu, semua membuat aku takut. Aku takut Van. Rasanya sakit. Sakit sekali" ucap Erika lagi


Ervan memandang Erika dengan sedih.


Ya Allah...


apa Erika trauma dengan operasi itu? Operasi yang sebenarnya tidak dia inginkan?


"Hei.... lihat aku" pinta Ervan seraya mengusap bahu Erika yang bergetar menahan tangis.


Erika menggeleng dan malah menangkup wajahnya. Menangis dengan kuat disana.


"Erika...." panggil Ervan lagi. Rasanya ingin memeluk, tapi bukan muhrim. Ya Allah... Ervan harus bagaimana.??


Namun Erika menggeleng dan langsung memandang wajah Ervan.


"Aku ikhlas Van. Hanya saja, rasa sakit dan takut itu menghantui pikiran ku setiap malam" Jawab Erika.


Ervan tersenyum, dia langsung merogoh saku kemeja nya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


Sebuah tasbih...


"Ambil" ujar Ervan seraya menyerahkan tasbih itu pada Erika.


Erika masih menahan tangisnya dan memandang tasbih itu dengan heran.


"Ini agar hati kamu tetap tenang. Ingatlah Allah, dan minta perlindungan pada Nya setiap saat. Sebut nama nya dimana pun kamu berada. Insha Allah, bisa sedikit membantu mengurangi ketakutan kamu" ungkap Ervan seraya meletakkan tasbih itu ditangan Erika.


Erika memandang tasbih ditangan nya dengan pandangan sendu. Dan kembali memandang pada Ervan yang tersenyum begitu teduh. Seolah memang untuk menenangkan hatinya.


"Jika aku tidak ada nanti, kamu mau memaafkan segala kesalahan yang pernah aku lakukan kan Van?" tanya Erika


deg


Jantung Ervan serasa tertumbuk mendengar perkataan Erika.


Dia langsung memandang wajah sendu Erika dengan lekat.


"Kenapa berbicara seperti itu?" tanya Ervan terdengar tidak suka.


Namun Erika hanya menggeleng dan tertunduk memainkan tasbih yang sudah ada ditangan nya. Tasbih kedua pemberian Ervan.


"Kamu harus sembuh. Kamu tidak boleh menyerah. Kematian memang ada ditangan Allah, tapi kita sebagai hambanya, juga diwajibkan untuk berdoa dan berikhtiar" ujar Ervan.


Erika hanya diam, seraya mengusap air mata yang sejak tadi terus mengalir.


"Erika" panggil Ervan lagi saat Erika hanya terdiam.


"Erika lihat aku" pinta Ervan yang langsung berlutut dihadapan Erika. Membuat gadis itu langsung terkesiap kaget. Apalagi ketika Ervan memandang nya dengan lekat.


"Ervan" lirih Erika.


"Erika... maafkan aku karena sudah selalu berbicara kasar padamu dulu. Maafkan aku karena telah membuat cintamu menyiksa hatimu sendiri. Tapi sungguh, untuk kali ini, aku menarik kembali kata kata ku untuk membencimu" ucap Ervan.

__ADS_1


Erika memandang Ervan dengan bingung.


"Aku mohon, berjuanglah untuk sembuh" pinta Ervan, dengan segenap hatinya. Bahkan dia memandang wajah Erika yang pucat dengan begitu dalam.


"Berjuanglah untuk tetap hidup" kata Ervan lagi.


Membuat setetes air mata Erika kembali jatuh.


"Aku berjanji..... ketika kamu sembuh nanti, jika Allah mentakdirkan kita untuk bersama, aku akan melamarmu"


deg


Erika langsung terperangah mendengar itu. Bahkan dia langsung menggeleng dan tersenyum pedih mendengar perkataan Ervan


"Ervan... kenapa kamu berbicara seperti itu. Tolong jangan buat aku berharap Van" ucap Erika, namun terdengar begitu lemah dan tidak berdaya. Kata kata Ervan benar benar membuat dia seakan ingin terbang begitu tinggi, namun ketika jatuh, pasti rasanya akan begitu sakit.


"Aku serius Erika. Sejak dulu, dan sampai sekarang. Takdirku adalah kamu. Kita selalu dipertemukan dalam setiap situasi. Jika dulu kamu mengejar ku dengan cara yang salah, maka biarkan sekarang aku yang datang padamu dengan cara yang benar." jawab Ervan begitu serius.


"Ervan"


Erika kembali menangis mendengar itu. Menangis bahagia mendengar perkataan Ervan.


Benarkah ini?


Benarkah cintanya terbalas?


Ini bukan mimpi kan???


Kenapa rasanya indah sekali..


Ya Allah...


"Berjanji lah untuk sembuh. Aku akan menunggu mu sehat kembali. Tolong jangan kecewakan pengorbanan dan perasaan ku ini Erika" pinta Ervan.


Erika langsung mengangguk pelan dan tersenyum haru, meski air mata tidak lagi bisa dia tahan.


"Jangan menangis lagi, jangan takut lagi. Kamu tidak sendiri, aku bersama mu sekarang" ujar Ervan


Erika kembali mengangguk


"Berjanjilah untuk sembuh ya" pinta Ervan.


"Terimakasih Van... terimakasih" ucap Erika, namun terdengar hanya seperti bisikan saja.


Tapi Ervan langsung mengernyit, saat melihat Erika yang tiba tiba meringis dan menggenggam tasbih pemberian nya dengan kuat.


"Erika... ada apa?" tanya Ervan yang mulai panik.


Namun Erika hanya diam, dia memandang Ervan sekilas, dan beberapa detik kemudian dia langsung terkulai dan tidak sadarkan diri lagi.


"Astaghfirullah Erika..." Ervan langsung menahan tubuh Erika dan menyandarkan nya ke kursi roda. Tubuh Erika lemah, bahkan wajah nya pucat dan dibasahi oleh air mata. Membuat Ervan sedih dan begitu teriris melihat kesakitan Erika ini.


Tidak tahu sejak kapan, tapi sejak dia memutuskan untuk berdamai. Hati Ervan malah terus bersimpati pada nasib Erika. Hingga lama kelamaan, rasa simpati itu berubah menjadi sebuah harapan agar Erika bisa sembuh. Bisa kembali sehat dan terus ada didekat nya.


Munafik sekali kan...


Ya Ervan akui itu. Dulu dia begitu kesal pada Erika yang selalu mengganggu hubungan nya dengan Maira.


Bahkan ketika Maira yang menghilang sebulan karena menikah dengan dokter Danar, Erika lah yang selalu ada untuk Ervan. Bukan selalu ada tapi memang dipaksa ada.


Ervan kesal dan sangat kesal.


Bahkan kata cacian untuk gadis ini saat malam pembatalan pertunangan mereka masih Ervan ingat jelas.


Jika mengingat itu, dia menyesal. Sangat menyesal.


Karena benar kata pepatah. Jangan terlalu membenci sesuatu, karena bisa jadi kebencian itu akan menjadi bumerang untuk dirimu sendiri.


Dan sekarang terbukti, kebencian nya pada Erika malah berubah menjadi rasa takut kehilangan.


Allah memang maha membolak-balikkan hati.


Erika...


Dia benar benar berharap jika gadis ini akan bisa sembuh dan sehat kembali.


Dan akhirnya Ervan membawa Erika keruangan nya lagi. Erika benar benar sudah tidak sadarkan diri, karena memang tubuhnya beberapa hari terakhir ini sudah sangat lemah. Bahkan dokter Danar tidak meninggalkan Erika terlalu lama. Jika malam hari, asisten nya lah yang menjaga Erika. Takut takut keadaan nya akan drop seperti ini.


"Bagaimana dokter?" tanya Ervan saat dokter Danar telah selesai memeriksa Erika dan menyuntikkan sesuatu ketubuh Erika dibantu oleh asisten nya.


"Besok pagi pagi sekali jadwal operasi dimajukan Van. Saya takut Erika akan semakin lemah. Daya tahan tubuhnya semakin lemah, bahkan dia juga sudah tidak bisa sadar lagi sekarang" ungkap dokter Danar


Ervan langsung mematung mendengar itu. Apalagi saat asisten dokter Danar yang memasangkan alat bantu pernafasan pada Erika.


Ya Allah...

__ADS_1


Semoga Erika bisa bertahan. Sudah cukup rasanya sakit yang dia derita selama ini.


__ADS_2